Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
Amarah Ir. Herlambang Ahda membara seperti api yang disiram minyak. Wajahnya menghitam, rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang menahan murka yang nyaris meledak. Baru saja ia dengan pongah menyatakan akan merebut seorang perempuan, namun detik berikutnya justru perempuan itu menendangnya tanpa sedikit pun memberi ruang bagi harga dirinya untuk bertahan.
“Kau… kau perempuan murahan!” bentaknya dengan suara serak oleh emosi. “Aku bertanya untuk terakhir kalinya—kau ikut denganku atau tidak?!”
Namun teriakan itu jatuh ke ruang hampa. Natasya Dermawan sama sekali tidak menggubris kemarahan pria itu. Tatapannya tertuju penuh harap kepada Fauzan Arfariza, seakan dunia di sekelilingnya telah lenyap.
“Kak Fauzan,” ucapnya dengan suara melembut, nyaris meratap, “kali ini aku benar-benar salah. Aku tertipu oleh rayuan manisnya. Tolong… berikan aku satu kesempatan lagi. Mulai sekarang aku akan memperlakukanmu dengan baik, sungguh.”
Di masa lalu, saat ia masih bersama Fauzan Arfariza, setiap kesalahan Natasya Dermawan selalu berakhir dengan satu pola yang sama. Ia hanya perlu menundukkan kepala, mengakui kesalahan, merangkai beberapa kata manis—dan Fauzan pasti akan memaafkannya. Selalu begitu. Tanpa kecuali.
Namun ia lupa satu hal yang paling mendasar: masa kini tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu.
Dulu, mereka adalah sepasang kekasih. Kini, ikatan itu telah ia hancurkan sendiri. Pengkhianatan telah terjadi, dan hakikat kesalahan itu tidak lagi sama. Terlebih lagi, Fauzan Arfariza bukan lagi pemuda miskin yang dahulu hidupnya berkutat pada kesederhanaan.
Kini, ia adalah pewaris Restoran, penerus ajaran Leluhur Tua, seorang Dokter yang memahami keseimbangan dan kestabilan Energi Vital, serta menguasai rahasia Energi Murni yang bersemayam di terdalam yang tersembunyi dalam dirinya. Pandangan hidupnya telah berubah, wilayah jiwanya telah meluas, dan batas antara dirinya yang dulu dan kini telah terpisah oleh jurang yang tak terjembatani.
Bagaimana mungkin ia tidak melihat dengan jelas bahwa Natasya Dermawan melakukan semua ini bukan karena cinta, melainkan karena Rupiah?
Jika suatu hari ia kembali jatuh miskin, kembali terpuruk tanpa apa-apa, perempuan ini akan kembali menendangnya tanpa ragu—sama seperti yang pernah ia lakukan.
Nada suara Fauzan dingin, setajam bilah Pedang yang baru diasah.
“Natasya Dermawan, ada kesalahan yang tidak boleh dilakukan. Sekali terjadi, tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya. Hentikan sandiwaramu.”
Ia menatap lurus ke depan, tanpa emosi.
“Seperti yang kau katakan sendiri, mulai sekarang tidak ada lagi hubungan apa pun di antara kita. Kita berjalan di jalan masing-masing. Jangan lagi saling mengganggu.”
“Kak Fauzan, aku hanya bercanda,” kilah Natasya Dermawan dengan panik. “Jangan kau anggap serius. Aku masih mencintaimu!”
Namun di balik kata-kata itu, tersimpan angan-angan yang rapuh—mimpi menjadi perempuan kaya, hidup bergelimang Rupiah tanpa perlu bekerja keras. Ia masih menggenggam ilusi itu, meski kenyataan telah berkali-kali menampar wajahnya.
“Kau perempuan tak tahu malu!” teriak Ir. Herlambang Supriadi, amarahnya meluap tak tertahankan. “Dan kau, Fauzan Arfariza, orang miskin tak tahu diri! Ini belum selesai!”
Tak sanggup lagi menahan malu dan murka, ia berbalik dan pergi dengan langkah menghentak, meninggalkan ruangan bak badai yang berlalu.
Tianda Baskara, yang sejak tadi menjadi saksi bisu, menyadari bahwa keberadaannya tidak lagi pantas. Ia menundukkan kepala sedikit.
“Dokter Fauzan, saya masih ada urusan lain. Saya pamit dulu. Nanti saya akan mengirim manajer lain untuk mengelola restoran ini.”
Tanpa menunggu jawaban, ia segera pergi, seolah ingin menjauh dari pusaran emosi yang masih bergolak.
Kini, hanya tersisa dua orang di ruang privat itu.
“Kak Fauzan,” Natasya Dermawan kembali meratap, “maafkan aku sekali ini saja, sekali saja. Mulai sekarang, apa pun yang kau katakan akan kuturuti…”
Ia melangkah maju dengan tergesa, berniat menggunakan tubuhnya sebagai alat tawar-menawar terakhir. Namun Fauzan mendorongnya menjauh dengan gerakan tegas.
“Natasya Dermawan,” ucapnya dingin, “aku ulangi sekali lagi. Tidak ada hubungan apa pun di antara kita. Tolong jaga harga dirimu.”
Kekecewaan telah mencapai puncaknya. Sisa-sisa kasih sayang yang dulu pernah ada kini lenyap tanpa jejak, terkubur bersama kenangan lama.
“Apa yang kau lakukan? Fauzan Arfariza!” bentak Natasya Dermawan dengan nada tinggi.
Dalam posisi berdua seperti ini, tanpa sadar ia kembali pada sikap lamanya—merasa lebih tinggi, lebih berkuasa.
“Aku sudah minta maaf! Apa lagi yang kau mau? Selain aku, apa kau bisa menemukan pacar secantik ini?”
Saat itulah, sebuah suara lembut namun tegas terdengar dari arah pintu.
“Tentu saja dia bisa. Aku pacarnya. Dan aku jauh lebih cantik darimu.”
Setiap perempuan percaya dirinya paling indah, dan tak satu pun rela mengakui kekalahan. Natasya Dermawan hampir saja membalas dengan cercaan, namun saat ia menoleh, kata-kata itu mati di tenggorokannya.
Perempuan yang berdiri di sana… terlalu cantik.
Kecantikan yang membuatnya merasa kecil, membuat keberaniannya runtuh seketika. Di hadapan perempuan itu, pesonanya sendiri terasa pudar dan tak berarti.
Dialah Nora Ananta.
Hari itu, ia mengenakan gaun panjang bergaya Bohemian. Tubuhnya tinggi semampai, lekukannya anggun, bahkan lebih sempurna dari model internasional. Namun yang paling mencolok bukanlah sosoknya, melainkan wajahnya—cantik tanpa cela, sempurna dari segala sudut, bak pahatan Bacan surgawi yang tak tersentuh cacat.
“Kau… siapa?” tanya Natasya Dermawan dengan suara nyaris tak terdengar.
“Apa telingamu bermasalah?” jawab Nora Ananta sambil tersenyum tipis. “Bukankah sudah kukatakan? Aku pacar Kak Fauzan.”
Ia melangkah mendekat, lalu dengan santai menggandeng lengan Fauzan Arfariza, seolah hal itu adalah sesuatu yang paling alami di dunia.
“Mustahil… ini tidak mungkin!” teriak Natasya Dermawan.
Dalam benaknya, Fauzan Arfariza tetaplah pemuda miskin masa lalu. Bagaimana mungkin ia mendapatkan perempuan seistimewa ini?
“Kau tidak percaya?” Nora Ananta menaikkan alisnya. “Baiklah. Akan kubuktikan kepadamu.”
Tanpa ragu, ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi Fauzan dengan ringan.
“Bagaimana? Sekarang kau percaya?”
Fauzan sendiri tertegun. Ia paham Nora hanya membantunya keluar dari situasi sulit, sebagai balasan atas bantuan yang pernah ia berikan. Namun ia tak menyangka perempuan itu akan melakukannya sejauh ini.
Selama lebih dari setahun berpacaran dengan Natasya Dermawan, ia bahkan belum pernah merasakan sebuah ciuman. Ini adalah yang pertama. Tubuhnya seakan dialiri listrik, perasaan aneh namun menyenangkan menjalar, tak terlukiskan dengan kata.
Natasya Dermawan terdiam sesaat, lalu menjerit histeris.
“Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Kau pasti membayarnya untuk datang ke sini!”
Di dalam hatinya, rasa meremehkan Fauzan belum sepenuhnya hilang. Ia bersikeras bahwa pria itu tak mungkin menemukan perempuan yang lebih hebat darinya.
“Membayarku?” Nora Ananta tersenyum penuh percaya diri. “Baiklah, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Wakil Presiden Grup Ananta, mengendalikan aset bernilai triliunan Rupiah…”
“…dan ribuan karyawan berada di bawah komandoku. Menurutmu, adakah orang yang sanggup membayarku untuk berpura-pura seperti ini?”
Kalimat itu meluncur ringan dari bibir Nora Ananta, namun dampaknya bagi Indah Purnama bagaikan palu raksasa yang menghantam jiwanya tanpa ampun.
Seketika, suasana hatinya terjun bebas ke titik terdalam yang kelam.
Jika hanya soal kecantikan dan bentuk tubuh, ia sudah kalah telak. Jika hanya soal aura dan keanggunan, ia bahkan tak pantas berdiri sejajar. Kini, identitas dan kedudukan Nora Ananta pun menjelma gunung raksasa yang runtuh tepat di atas kepalanya, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih berusaha ia pertahankan.
Bagaimana mungkin ia bisa dibandingkan?
Fauzan Arfariza sama sekali tak ingin lagi membuang tenaga untuk perempuan itu. Ia menoleh kepada Nora Ananta dan bertanya dengan nada datar,
“Kapan kau datang?”
“Aku sudah cukup lama di sini,” jawab Nora lembut. “Sebagian besar yang terjadi antara kalian berdua, aku mendengarnya dari luar.”
Ia kembali menggandeng lengan Fauzan dengan penuh keakraban. Gerakan itu tampak alami, seolah keduanya memang telah lama berdiri berdampingan di dunia yang sama.
Lalu ia menoleh kepada Natasya Dermawan, senyumnya tipis namun mengandung makna yang dalam.
“Sejujurnya, aku justru harus berterima kasih padamu. Kalau bukan karena materialismemu yang tanpa pikir panjang, aku mungkin tak akan mendapatkan pacar sebaik Fauzan.”
Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir.
Ir. Herlambang Ahda telah pergi. Fauzan Arfariza sepenuhnya lepas dari genggamannya. Dan kini, seorang perempuan yang jauh lebih unggul berdiri di hadapannya, bukan untuk merebut, melainkan untuk menegaskan kekalahannya.
Tekanan itu menumpuk, menghimpit batin Natasya Dermawan hingga akhirnya—retak.
Ia menjerit histeris, suaranya menggema penuh kepanikan.
“Apa salahnya?! Apa salahnya mencintai uang? Perempuan mana yang tidak mencintai uang?! Apakah kau pikir semua perempuan sepertimu, terlahir dengan sendok perak di mulut?!
Aku hanya ingin hidup lebih baik! Apa salahnya itu?! Apakah itu dosa?!”
Fauzan Arfariza menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepala. Dalam hati, ia teringat sebuah pepatah lama: ketika seseorang merasa dirinya benar, Energi Vital-nya akan terasa kuat, bahkan saat ia sedang membela keburukan.
Perempuan ini, dengan ketidaktahuannya sendiri, mampu membungkus ketamakan dalam jubah kebenaran, lalu meneriakkannya seolah ia adalah korban dunia. Sungguh aneh, sungguh keterlaluan. Ia sendiri tak lagi mengerti bagaimana dahulu ia bisa mencintai perempuan seperti ini.
Dengan suara tenang namun tegas, ia berkata,
“Baik. Kehidupan seperti apa yang ingin kau kejar, itu urusanmu. Tidak ada hubungannya denganku.”
Ia menatap Natasya Dermawan untuk terakhir kalinya.
“Mulai sekarang, tidak ada lagi hubungan di antara kita. Pergilah.”
Kalimat itu singkat, namun bagai palu hakim yang mengetuk akhir sebuah perkara.
Natasya Dermawan akhirnya benar-benar memahami arti kehilangan segalanya. Ia menatap Fauzan dengan sorot mata penuh kebencian, seolah ingin menancapkan dendam ke dalam dadanya. Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.
“Sebentar.”
Suara Nora Ananta menghentikannya.
“Apa lagi yang kau inginkan?!” Natasya Dermawan berteriak dengan emosi meledak.
“Tidak banyak,” jawab Nora tenang. “Aku hanya ingin memberimu satu nasihat. Tidak apa-apa bersikap materialistis, tetapi setidaknya gunakan akal sehatmu. Jangan begitu mudah ditipu orang.”
Ia melangkah dua langkah ke depan, lalu menunjuk gelang permata—atau yang tampak seperti batu permata—di pergelangan tangan Natasya Dermawan.
“Benda yang kau pakai itu terbuat dari granit yang direbus dengan bahan kimia. Bukan hanya tidak berharga, tetapi juga berbahaya bagi tubuhmu. Jika dipakai dalam jangka panjang, bahkan bisa memicu kanker.”
Natasya Dermawan terdiam membeku. Detik berikutnya, ia berseru dengan wajah pucat.
“Apa? Itu tidak mungkin! Ini gelang Berlian yang diberikan Ir. Herlambang Ahda! Harganya lebih dari dua puluh juta rupiah, bahkan ada sertifikatnya!”
Malam pertama yang ia serahkan pada pria itu ditukar dengan gelang ini. Bagaimana mungkin semua itu hanyalah kebohongan murahan?
Nora Ananta tersenyum sinis, sorot matanya tajam.
“Biar aku jelaskan padamu. Dunia barang antik dan permata itu sangat dalam, penuh tipu daya. Keluargaku bergerak di industri batu mulia sejak lama. Menurutmu, ucapanku masih kalah terpercaya dibandingkan selembar sertifikat palsu?”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti paku yang menancap di kesadaran Natasya Dermawan.
Saat itu juga, ia menyadari bahwa semua yang ia banggakan—cinta, harta, status—ternyata hanyalah ilusi rapuh. Ia ditipu oleh pria yang ia kira kaya, meninggalkan pria yang sesungguhnya berdiri di puncak tak terlihat.
Di balik pintu itu, mungkin masih terbentang Wilayah kehidupan yang panjang. Namun bagi Natasya Dermawan, satu hal telah pasti:
ia kalah, sepenuhnya.
Dan di sisi lain ruangan, Fauzan Arfariza berdiri tenang, Energi Murni bersemayam stabil di terdalam yang tersembunyi dalam dirinya, seolah menandai bahwa satu bab masa lalu telah benar-benar tertutup—dan sebuah jalan baru telah terbuka di hadapannya.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT