Demi kebahagiaan sang kakak dan masa depan anaknya, Andrea rela melepaskan suami serta buah hatinya dan pergi sejauh mungkin tanpa sepengetahuan mereka. Berharap dengan kepergiannya Gerard dan Lucy akan kembali rujuk, namun rupanya itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya karena bayi lelaki yang ia tinggalkan itu kini tumbuh menjadi anak pembangkang yang merepotkan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~29
Perawat yang melihat pintu ruangan Andrea yang di kunci dari dalam oleh Gerard tampak bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka? Apa keduanya saling mengenal? Ingin sekali ia menggedor pintu tersebut atau berteriak minta tolong tapi ia tak tahu apa yang terjadi di dalam, karena belum tentu ada kekerasan di sana. Lagipula pria itu adalah investor yang akan membangun rumah sakit di daerahnya jadi tidak mungkin akan berbuat kriminal.
Sementara itu Andrea nampak terkejut ketika tiba-tiba Gerard masuk ke dalam ruangannya lantas di kunci pintunya dari dalam.
"A-apa yang kamu lakukan di sini?" Ucapnya seraya beranjak dari duduknya, ia pikir pria itu telah pergi dan takkan kembali hingga membuatnya sedikit bisa bernapas lega.
Gerard menatap miring wanita itu. "Apa semua ini adalah rencana busukmu?" Tudingnya seraya berjalan ke arahnya.
Andrea yang mendengarnya pun nampak tak mengerti, rencana busuk apa? Apa ini hanya alasan pria itu saja untuk mencari kesalahannya?
"Aku sedang sibuk, jika ada hal penting langsung saja katakan !!" Ucapnya, baginya masa lalu mereka sudah selesai jadi tak ada yang harus di bahas lagi. Sejak kepergiannya beberapa tahun silam ia sudah merelakan pria itu untuk kakaknya.
Gerard benar-benar geram saat ini. "Kamu pasti sengaja mendekati Jiro untuk merebutnya dariku kan?" Ucapnya kemudian.
"Jiro?" Andrea langsung memicing mendengarnya.
"Katakan apa dia ada di sini?" Andrea pun tak bisa menguasai dirinya ketika mendengar nama putranya di sebut lantas ia pun mendekati pria itu, benarkah putranya juga ikut datang kesini? Sungguh ia sangat merindukannya, meskipun rasanya ia tak pantas mengharapkannya mengingat perbuatannya dulu yang telah meninggalkannya saat masih bayi.
"Ck, jangan pura-pura tidak tahu bahkan dia sangat mengenalmu." Cibir Gerard menanggapi keterkejutan wanita itu yang ia anggap hanya kepura-puraan saja.
"A-apa?" Andrea nampak bingung, apakah anak kecil yang akhir-akhir ini menemaninya adalah putranya?
Andrea pun langsung mencari berkas data diri anak-anak yang melakukan terapi di kliniknya dan benar saja foto Jiro terpampang di berkas pribadinya sebagai putra Gerard Adrian mantan suaminya.
"Astaga kenapa aku tak menyadarinya?" Gumamnya penuh penyesalan, selama ini ia memang memberikan nama panggilan khusus pada bocah itu tanpa ingin tahu nama aslinya. Pantas saja ia seperti memiliki ikatan batin padahal belum pernah bertemu sebelumnya.
Gerard yang melihat itu pun nampak menggeleng sinis. "Apa berdrama menjadi keahlianmu sekarang?" Ucapnya mencibir.
Andrea langsung mendekati pria itu dan menatapnya dengan sinis. "Jika aku tahu dia putra yang pernah ku lahirkan dengan taruhan nyawa maka ku pastikan akan membawanya pergi jauh darimu," balasnya tak mau kalah dan tentu saja itu membuat Gerard langsung naik pitam.
"Kau?" Ucapnya menatap tajam wanita yang kini berdiri hanya beberapa senti di hadapannya tersebut.
Andrea sedikit pun tak merasa takut, ia sudah mencoba meredam perasaannya tapi pria itu terus memancingnya jadi kenapa tidak ia tanggapi saja. Apalagi ketika mengetahui bocah semanis Jiro adalah putranya dan keinginannya untuk memilikinya kini juga semakin besar.
Keduanya pun nampak saling menunjukkan egonya masing-masing tak peduli pada akhirnya mereka akan sama-sama terluka, karena hakikatnya kebahagiaan seorang anak adalah hubungan kedua orang tuanya yang baik bukan siapa yang paling baik.
"Sejak kamu pergi meninggalkannya kamu sedikit pun tak berhak memilikinya meskipun hanya dalam mimpi sekalipun, camkan itu !!" Tegas Gerard lantas berlalu pergi meninggalkan ruangan wanita itu sebelum ia tak bisa menahan dirinya.
Sepertinya ia harus segera kembali ke ibu kota sebelum Andrea merebut putranya darinya, wanita itu telah bahagia dengan kekasihnya jadi takkan ia biarkan mengganggu keluarganya lagi.
Sementara Andrea nampak memejamkan matanya, ia sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Tapi ia tak menyangka akan sesakit ini ketika pria yang ia cintai menatapnya dengan penuh kebencian.
"Tuan Gerard apa anda baik-baik saja?" Tanya Dokter Steve yang baru datang dan kebetulan melihat Gerard juga baru keluar dari ruangan Andrea.
Perawat yang sejak tadi nampak gelisah pun urung mengadukan mereka ketika melihat Gerard tiba-tiba keluar.
"Tentu saja saya baik dokter Steve, ini hanya luka ringan." Sahut Gerard beralasan.
"Syukurlah kalau begitu karena besok adalah hari yang sangat penting untuk kita," dokter Steve nampak lega karena acara peresmian sudah di siapkan jadi tak mungkin bisa di tunda lagi. Undangan pun sudah ia sebar kepada para perwakilan masyarakat dan juga pejabat setempat.
Setelah berbincang sejenak Gerard segera meninggalkan klinik tersebut dan dokter Steve masuk ke dalam ruangan Andrea.
"Ndre?"
Pria yang baru masuk itu pun nampak melihat Andrea termenung di kursinya, matanya sedikit sembab apa wanita itu baru saja menangis?
"Hai," Andrea langsung mengulas senyumnya menatap kedatangan pria itu.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dokter Steve ingin tahu, bukankah baru saja wanita itu memeriksa luka Gerard? Apa terjadi sesuatu dengan mereka, apa pria itu memarahinya?
"Hm, mataku sedikit berdebu sepertinya pria itu tadi membawa debu ke ruangan ini." Terang Andrea beralasan ketika melihat pandangan penuh tanya kekasihnya tersebut.
Mendengar itu pun dokter Steve nampak lega, di lokasi proyek memang sangat berdebu begitu juga dengan pakaian Gerard tadi.
"Syukurlah, apa kamu tahu siapa pria itu tadi?" Tanyanya kemudian, barangkali wanita itu belum tahu.
Andrea langsung menggeleng. "Sepertinya bukan orang sini apa dia seorang wisatawan?" Ucapnya berdusta.
"Dia tuan Gerard sayang, investor yang akan membangun rumah sakit kita." Sahut Dokter Steve dengan antusias.
"Benarkah?" Lagi-lagi Andrea pura-pura terkejut mendengarnya.
"Hm, makanya besok dandan yang sempurna nanti akan ku kenalkan kekasihku yang cantik ini padanya." Tukas dokter Steve berkelakar.
"Tentu saja," Andrea pun langsung mengangguk. Ia berharap besok akan bertemu dengan putranya kembali karena saat ini pasti bocah itu di larang untuk datang ke rumahnya.
Di tempat lain Gerard yang baru sampai penginapannya nampak mendatangi kamar putranya. "Serius sekali anak papa," ucapnya seraya melangkah mendekati bocah kecil yang sedang duduk di meja belajarnya itu.
Jiro pun langsung tersenyum menatapnya namun senyumnya kembali menyurut ketika melihat perban di lengan sang ayah.
"Papa terluka?" Ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan berlalu mendekati ayahnya yang kini duduk di tepi ranjangnya.
"Hanya luka kecil sayang, tadi papa kurang berhati-hati saat meninjau proyek." Sahut Gerard menjelaskan.
Jiro nampak khawatir ia takut terjadi sesuatu dengan ayahnya itu lantas di peluknya pria itu. "Aku akan merawat dan menjaga papa," ucapnya dan Gerard pun langsung tersenyum senang karena itu berarti putranya takkan memikirkan untuk menemui ibunya lagi.
oh iya thor meski sudah 5 ttahun lebih,apa gerard sudah menceraikan andrea