Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA YANG PENUH KELUCUAN & KEHANGATAN
Setelah acara pernikahan berakhir dan semua tamu pulang, Riki dan Safa kembali ke rumah kontrakan kecil yang telah disiapkan sebagai rumah baru mereka.
Tempat ini telah dihiasi dengan sederhana namun romantis – lilin kecil menyala lembut, bunga mawar merah diletakkan di atas meja, dan seprai baru dengan warna putih bersih menghiasi tempat tidur.
Safa masuk ke dalam kamar dengan hati yang berdebar kencang, sedikit gugup namun penuh kebahagiaan.
Riki mengikuti di belakangnya dengan tangan yang membawa sebuah baskom berisi makanan penutup yang sudah disiapkan Bu Yanti – bubur sumsum dan wajik yang menjadi makanan kesukaan Safa.
"Aku tidak ingin malam pertama kita kosong perut ya," ucap Riki dengan senyum manis sambil menaruh baskom di atas meja kecil. "Bu Yanti menyuruh untuk memberikan ini buat kamu."
Safa tersenyum dan segera mengambil satu mangkuk bubur sumsum. "Wah enak banget rasanya sayang. Seperti biasanya masakan Bu Yanti selalu enak."
Mereka makan bersama sambil duduk di lantai karena kursinya belum sempat dipindahkan kesini. Sambil makan, mereka berbagi cerita tentang momen lucu yang terjadi selama acara pernikahan tadi hari.
"Kamu tahu tidak sayang," ucap Safa dengan tertawa. "Ketika kamu mau memasangkan cincin padaku, kamu hampir salah jari lho! Semua tamu pasti melihatnya."
Riki merasa sedikit malu tapi juga ikut tertawa. "Aku memang sedikit gugup. Rasanya seperti seluruh dunia sedang menatap kita berdua."
Setelah selesai makan, mereka mulai membersihkan tempat dan merapikan barang-barang yang baru saja mereka bawa.
Riki mencoba membantu memasangkan seprai dan bantal, namun dia salah memasang arah seprai hingga membuatnya kusut parah.
"Aduh sayang, kamu salah arah nih," ucap Safa dengan tertawa melihat Riki yang sedang berjuang dengan seprai. "Begini cara memasangnya yang benar."
Mereka bekerja sama menyusun tempat tidur hingga terlihat rapi dan nyaman. Setelah selesai, mereka duduk berdampingan di ujung tempat tidur, menikmati keheningan malam yang damai.
Riki mengambil tangan Safa dan melihatnya dengan mata yang penuh cinta. "Aku tidak pernah berpikir bisa memiliki kebahagiaan seperti ini dalam hidupku. Terima kasih telah mau menjadi istriku."
Safa menyandarkan kepalanya pada bahu Riki. "Aku juga sangat bahagia sayang. Semoga kita selalu bisa seperti ini – bahagia dan saling mencintai."
Mereka kemudian beranjak untuk beristirahat. Namun kelucuan kembali terjadi ketika Riki tidak sengaja menjatuhkan botol parfum yang baru saja dibelinya ke lantai, membuat parfum tumpah dan aroma wangi menyebar ke seluruh kamar.
"Ya ampun sayang! Parfum barumu tuh!" teriak Safa dengan panik sambil mencoba membersihkan noda di lantai.
"Gapapa lah sayang, " jawab Riki dengan tersenyum malu. "Sekarang kamar kita jadi wangi saja kan?"
Setelah semua hal diperbaiki, mereka akhirnya bisa beristirahat. Riki menutup lampu dan hanya menyisakan satu lilin kecil yang masih menyala lembut di sudut kamar.
Mereka berbaring berdampingan, dengan hati yang penuh kedamaian dan cinta. Riki mengelilingi pinggang Safa dengan lembut dan memberikan ciuman lembut di dahinya.
"Aku akan selalu menjagamu," ucap Riki dengan suara yang lembut. "Aku akan membuatmu bahagia setiap hari dalam hidup kita bersama."
Safa memeluk Riki dengan erat dan menjawab dengan suara yang penuh kasih. "Aku juga akan selalu mencintaimu sayang. Tidak ada yang lebih berharga darimu dalam hidupku."
Di tengah malam, Safa terbangun karena merasa haus. Dia beranjak perlahan agar tidak mengganggu Riki yang sedang tidur nyenyak.
Namun ketika dia hendak berdiri, dia tidak sengaja tersandung pada kaki meja dan membuat suara kecil.
Riki langsung terbangun dan melihatnya dengan khawatir. "Apa kamu baik-baik saja sayang? Ada apa?"
"Aku hanya merasa haus sayang," jawab Safa dengan sedikit malu. "Maaf ya mengganggumu."
Riki segera berdiri dan mengambil segelas air hangat yang sudah disiapkan di atas meja. "Tidak apa-apa. Ini kamu minum dulu ya. Kalau ada yang kamu butuhkan bilang aja ya."
Setelah Safa minum, mereka kembali berbaring dan segera tertidur kembali dengan pelukan erat.
Malam pertama mereka sebagai suami istri berjalan dengan penuh kelucuan kecil namun juga kehangatan yang mendalam.
Pada pagi harinya, Riki bangun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuk Safa.
Dia mencoba membuat telur mata sapi dan roti bakar, namun karena kurang terbiasa, telurnya terbakar dan rotinya menjadi terlalu gosong.
Ketika Safa bangun dan masuk ke dapur, dia melihat Riki sedang berdiri di depan kompor dengan wajah yang penuh kesusahan.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Safa dengan tertawa melihat hasil karya Riki.
"Aku mau membuat sarapan untuk kamu," jawab Riki dengan malu. "Tapi sepertinya aku belum bisa memasak dengan baik."
Safa mendekatinya dan memberikan ciuman lembut di bibirnya. "Yang penting kamu sudah berusaha sayang. Yuk kita masak bersama aja."
Mereka memasak sarapan bersama di dapur kecil yang penuh kehangatan. Meskipun makanan yang mereka buat sangat sederhana, namun rasanya sangat nikmat karena dibuat dengan cinta dan kerja sama.
Setelah sarapan, mereka duduk bersama di teras rumah sambil menikmati udara pagi yang segar. Mereka berbicara tentang rencana mereka untuk hari-hari mendatang – tentang bagaimana mereka akan bekerja sama menjalankan hidup rumah tangga.