Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Perjamuan Bulan Purnama
Malam itu, bulan purnama tidak berwarna kuning pucat seperti biasanya. Ia menggantung di langit seperti sebuah koin perak raksasa yang baru saja dipoles, memancarkan cahaya putih yang begitu terang hingga bayangan pepohonan tercetak tajam di tanah hitam.
Di halaman rumah Joglo, suasana sunyi mencekam. Tidak ada jangkrik. Tidak ada angin.
Alya berdiri di sisi pendopo, mengenakan kebaya putih bersih (bekas milik almarhumah ibu Seno) yang dipinjamkan padanya. Tangannya memegang baki kayu dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Di bahunya, Gulo duduk dengan tenang, mengenakan dasi kupu-kupu kecil dari kain perca—tanda bahwa dia juga siap melayani.
Di tengah halaman, Seno telah menggelar Tikar Pandan yang luas.
Di atas tikar itu, berdiri sebuah meja rendah (lesehan) yang panjang. Di atas meja, tertata tujuh mangkuk tanah liat kosong dan tujuh sendok bebek dari perak.
Di ujung meja, terdapat sebuah kursi kayu jati tua yang dibiarkan kosong. Kursi untuk Tamu Utama.
Seno sendiri berdiri di dekat tungku batu yang dipindahkan ke halaman. Dia mengenakan Surjan lurik dan blangkon motif Modang (motif api/semangat). Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, namun postur tubuhnya tegak laksana ksatria yang menyongsong takdir.
Dia sudah membersihkan diri, sudah berwudhu, dan sudah pasrah.
Pukul 23.59 WIB.
Tanah mulai bergetar halus.
Kabut tebal merayap masuk dari sela-sela pagar yang sudah hancur.
Bau anyir darah, bau belerang, dan bau tanah kuburan menyeruak masuk, melawan aroma wangi Bubur Suro yang mengepul dari Kendi Kyai Plered.
Tamu-tamu mulai berdatangan.
Yang pertama muncul adalah Raja Celeng.
Luka di lehernya (bekas tusukan Alya) masih mengeluarkan asap. Dia datang tidak sendiri, melainkan membawa pasukannya: puluhan siluman babi hutan yang mendengus lapar.
Mereka berhenti di batas halaman, mata merah mereka menatap kendi bubur dengan rakus. Air liur menetes dari taring-taring mereka.
Yang kedua adalah Genderuwo Ningrat. Dia berjalan santai menembus tembok, diikuti oleh kuntilanak-kuntilanak merah yang melayang di udara.
Yang ketiga, keempat, dan seterusnya...
Halaman rumah Joglo itu kini dipenuhi oleh demit dari seluruh penjuru Yogyakarta. Mereka adalah tentara bayaran Ordo Penagih Janji.
Tapi mereka tidak menyerang. Mereka bingung.
Mereka datang untuk perang, untuk membantai. Tapi mereka disambut dengan meja makan yang rapi.
"Apa-apan ini?" geram Raja Celeng. "Jebakan?"
Tiba-tiba, kerumunan hantu itu membelah diri. Mereka menunduk ketakutan.
Seorang pria berjas hitam berjalan melewati lorong yang terbentuk oleh barisan hantu itu.
Jaka.
Jaka tersenyum lebar, gigi putihnya berkilau di bawah sinar bulan. Dia berjalan santai menuju meja makan, lalu menatap Seno.
"Kreatif sekali, Tuan Seno," kata Jaka sambil bertepuk tangan pelan. "Kami datang membawa pedang, Anda menyambut kami dengan sendok. Apakah ini upaya diplomasi terakhir? Atau Anda sudah menyerah dan ingin menyogok kami?"
Seno tidak menjawab. Dia hanya menunjuk kursi-kursi kosong itu dengan tangan terbukanya. Silakan duduk.
Jaka tertawa. "Baiklah. Kami hargai keramahan ini. Lagipula, Bos Besar belum makan malam."
Jaka memberi isyarat tangan.
Raja Celeng, Genderuwo Ningrat, dan beberapa petinggi siluman lainnya maju dan duduk di tikar. Mereka duduk dengan kaku, canggung, dan tetap waspada.
Seno menoleh pada Alya.
Dia mengangguk pelan.
Sajikan.
Alya menarik napas panjang. Bismillah.
Dia berjalan maju membawa baki. Langkahnya gemetar, tapi dia tidak berhenti. Dia melewati barisan siluman yang menatapnya seperti menatap daging segar.
Alya meletakkan Kendi Kyai Plered di tengah meja.
Tutup kendi dibuka.
WUSHH...
Uap emas membumbung ke udara.
Aroma kehidupan murni meledak.
Para siluman itu tersentak. Mata mereka melebar. Hidung mereka kembang kempis.
Raja Celeng memajukan wajahnya, lidahnya menjulur panjang hendak menjilat kendi itu langsung.
TAK!
Seno memukul meja pelan dengan sutil kayunya.
Suaranya pelan, tapi energinya membuat Raja Celeng terpental kembali ke posisi duduknya.
Sabar.
Tiba-tiba, suhu udara turun drastis hingga mencapai titik beku. Rumput di halaman langsung memutih tertutup bunga es. Api obor di sekeliling halaman mengecil dan berubah warna menjadi biru pucat.
Jaka berhenti tersenyum. Dia mundur, membungkuk dalam-dalam ke arah kursi kosong di ujung meja.
Semua siluman lain langsung bersujud, menempelkan dahi mereka ke tanah.
Dari kegelapan malam, sebuah bayangan terpisah dari bayangan pohon beringin.
Bayangan itu merayap di tanah, lalu naik ke kursi kayu itu.
Bayangan itu memadat, membentuk siluet manusia yang mengenakan jubah hitam compang-camping.
Dia tidak punya wajah.
Di balik tudung jubahnya, hanya ada Kegelapan Absolut. Lubang hitam yang menyedot cahaya.
Sang Penagih.
Entitas kuno yang memegang kontrak jiwa Seno.
Tidak ada suara. Sang Penagih tidak bicara. Kehadirannya saja sudah merupakan suara yang memekakkan telinga batin.
Alya merasa kepalanya pusing, mual, ingin muntah. Ini adalah aura kematian murni.
Seno berjalan mendekati Sang Penagih. Dia tidak bersujud. Dia berdiri tegak sebagai koki yang melayani pelanggan.
Seno mengambil mangkuk tanah liat. Dia menyendokkan Bubur Suro Emas itu.
Tekstur bubur itu sempurna. Kental, lembut, dan bersinar. Beras Pari Alang, Bunga Wijayakusuma, dan Air Samudra telah menyatu menjadi Ambrosia (makanan dewa).
Seno meletakkan mangkuk itu di depan Sang Penagih.
Sang Penagih tidak bergerak.
Jaka, yang bertindak sebagai juru bicara, mendekat.
"Tuan kami bertanya," kata Jaka, suaranya kini tidak lagi arogan, tapi penuh rasa takut. "Apa nama hidangan ini? Apakah ini rasa keputusasaan? Atau rasa penyesalan?"
Seno mengambil papan tulis kecilnya dari balik surjan.
Dia menulis satu kata.
IKHLAS.
Jaka mengerutkan kening. "Ikhlas?"
Sang Penagih menggerakkan tangan bayangannya. Dia menyentuh sendok perak itu.
Dia mengangkat sesendok bubur emas itu ke arah lubang wajahnya.
Semua mata tertuju pada sendok itu.
Alya menahan napas.
Raja Celeng menelan ludah.
Bubur itu masuk ke dalam kegelapan tudung.
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tiba-tiba, Sang Penagih... bergetar.
Getarannya menular ke kursi, ke meja, ke tanah.
Dari dalam tudung hitam itu, terdengar suara. Bukan suara kata-kata.
Melainkan suara seperti retakan es di kutub utara.
KREK...
Cahaya emas dari bubur itu mulai berpendar dari dalam tubuh bayangan Sang Penagih. Sinar itu menembus jubah hitamnya yang compang-camping.
Cahaya itu menyebar, menerangi tulang-rusuk bayangan itu.
Sang Penagih melepaskan sendoknya. Klenting.
Dia berdiri. Tubuhnya yang tadinya membungkuk mengerikan, kini perlahan tegak.
Cahaya bubur itu membakar "kekosongan" di dalam dirinya.
Rasa Ikhlas—rasa menerima takdir tanpa menuntut, rasa memberi tanpa meminta kembali—adalah racun bagi makhluk yang hidup dari menagih janji. Tapi sekaligus... obat.
Sang Penagih meraung.
Suara raungannya bukan suara monster, melainkan suara paduan suara ribuan jiwa yang terperangkap di dalamnya.
"PANAS... INI MEMBAKAR... TAPI... HANGAT..."
Suara itu bergema di kepala semua orang.
Jaka panik. "Tuan! Muntahkan! Itu racun cahaya!"
Sang Penagih mengibaskan tangannya, memukul Jaka hingga terpental menabrak pohon.
"DIAM!"
Sang Penagih menatap Seno (meski tanpa mata).
"Kau..." suaranya bergetar. "Kau tidak memberiku makan rasa takut. Kau memberiku makan... kenangan."
Efek Bunga Wijayakusuma bekerja. Bunga yang memanggil memori masa lalu.
Sang Penagih—yang dulunya mungkin adalah dewa atau raja yang jatuh dan dikutuk menjadi iblis penagih—tiba-tiba teringat siapa dirinya sebelum jatuh ke dalam kegelapan.
Dia teringat rasa menjadi manusia (atau dewa). Dia teringat rasa memiliki ibu. Dia teringat rasa pulang.
Tubuh Sang Penagih mulai retak. Cahaya emas memancar keluar dari retakan-retakan itu, menyilaukan mata.
Siluman-siluman lain di sekitar meja menjerit kesakitan karena cahaya itu. Mereka mundur, terbakar oleh aura suci yang memancar dari bos mereka.
Seno tetap berdiri tenang. Dia tahu masakannya berhasil.
Dia tidak membunuh Sang Penagih. Dia Mengeyangkan rasa lapar abadinya.
Sang Penagih mengangkat tangannya yang bercahaya. Dia merogoh dadanya sendiri.
Dia menarik keluar sebuah gulungan kertas kulit tua yang terbakar api hijau.
Kontrak Jiwa Seno.
Sang Penagih meremas kertas itu.
WUSH!
Kertas itu hancur menjadi debu emas.
"Lunas," bisik Sang Penagih. "Rasanya... cukup. Aku kenyang."
Cahaya meledak.
BLARRRR!
Alya menutup matanya, melindungi wajahnya dengan tangan.
Gelombang kejut angin menyapu halaman. Tikar terbang. Mangkuk-mangkuk terbalik.
Saat Alya membuka mata...
Kursi itu kosong.
Sang Penagih hilang.
Pasukan siluman juga hilang, terusir oleh ledakan cahaya tadi.
Hanya Jaka yang tersisa, berdiri di pinggir halaman dengan jas yang hangus separuh dan kacamata pecah.
Jaka menatap kursi kosong itu dengan tatapan tak percaya. Bosnya... pensiun? Atau naik tingkat?
Jaka menoleh ke Seno dengan tatapan benci.
"Kau... kau merusak tatanan," desis Jaka. "Tanpa Penagih, siapa yang akan mengurus hutang-hutang manusia?"
Seno tersenyum. Senyum paling lebar dan paling lepas yang pernah Alya lihat.
Seno membuka mulutnya.
Dia mencoba mengeluarkan suara.
"Per...gi..."
Suara itu keluar. Parau, serak, seperti pintu engsel karat yang dibuka paksa setelah 50 tahun. Tapi itu suara.
Seno bisa bicara.
Alya terpekik. "Bapak! Suaranya!"
Jaka mendengus. Dia tahu dia kalah telak. Tanpa dukungan Bos Besar, dia hanyalah manajer tanpa kuasa.
"Ini belum selesai, Koki," ancam Jaka sambil membetulkan dasinya yang miring. "Ordo kami punya banyak cabang. Kami akan kembali."
Jaka melangkah mundur ke dalam bayangan, dan lenyap.
Halaman rumah Joglo kembali sunyi. Cahaya bulan purnama bersinar terang, damai, tanpa gangguan kabut.
Seno ambruk ke tanah. Kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
"Pak Seno!" Alya berlari, menangkap tubuh tua itu sebelum menyentuh tanah.
Seno berbaring di pangkuan Alya. Wajahnya sangat pucat, tapi matanya bersinar bahagia.
Dia menatap langit.
Dia bebas.
"Al... ya..." bisik Seno susah payah.
"Jangan banyak ngomong dulu, Pak!" Alya menangis haru. "Simpen suaranya buat besok pesen bubur ayam!"
Seno tertawa lemah.
Tapi kemudian, dia menunjuk ke arah gerbang.
Di sana, berdiri sosok wanita samar-samar.
Bukan hantu. Bukan siluman.
Itu adalah Roh Ratna. Wanita di foto itu.
Dia datang menjemput? Atau hanya menyapa?
Ratna tersenyum pada Seno. Dia terlihat muda dan cantik, seperti di foto. Dia mengangguk pelan, lalu melambaikan tangan, seolah berkata: Terima kasih sudah menepati janji. Sekarang istirahatlah.
Roh Ratna menghilang.
Seno menutup matanya. Napasnya teratur. Dia tidak mati. Dia hanya tidur. Tidur paling nyenyak dalam 50 tahun terakhir.
Alya memeluk tubuh gurunya itu. Gulo ikut memeluk kaki Seno.
Di tengah malam purnama yang indah, di antara sisa-sisa bubur emas yang tumpah, mereka menangis dan tertawa.
Warung Tengah Malam telah menyajikan hidangan terakhirnya untuk Sang Penagih.
Dan rasanya... Manis.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.