NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Berusaha Lebih Mengenal

Keadaan rumah kembali sepi. Semua orang menempati kamar mereka masing-masing. Abi dan Anjani dulu sekamar, namun saat Anjani mengalami kecelakaan, dan membuatnya lumpuh, Anjani dan Abi sepakat untuk pisah kamar, Anjani merasa repot jika tetap sekamar. Kesepakatan keduanya, mereka setuju pisah kamar. Tak hanya itu, kelumpuhan yang dia alami menjadi alasan Anjani meminta Abi untuk menikah lagi, agar ada wanita sehat yang menemaninya di kamar itu.

Bermacam peralatan lengkap di kamar Abi, seperti tali seling dan perlengkapan lain yang memudahkan untuk memindahkan Abi dari kursi roda ke kasur, atau sebaliknya. Tak hanya ada di dekat ranjang, tali seling itu juga ada di kamar mandi, untuk memudahkan Abi melakukan kegiatannya secara mandiri. Walau dirinya duduk di kursi roda namun melakukan kegiatan kesehariannya bisa dia lakukan sendiri dengan mudah.

Tak dilayani bagi Abi tak masalah, sebab itu Abi kekeh menolak pernikahan ini. Dia tak butuh seseorang untuk menjaganya, dia merasa mampu mengurus dirinya sendiri.

Abi selesai mengoperasikan remot pengendali tali seling yang memudahkannya untuk berpindah, kini Abi duduk dengan nyaman di kasurnya. Abi mengingat semua pembicaraan Zella dan Rihana.

Sangat jelas Zella sosok yang dibutuhkan anaknya nanti. Memang dia tak butuh Zella untuk merawatnya, tapi Abi merasa butuh sosok seperti Zella sebagai perantara dirinya dengan kedua anaknya. Mungkin dengan hadirnya Zella Abi perlahan bisa memperbaiki hubungannya dengan kedua anaknya. Tapi mengingat betapa menyebalkannya Zella, membuat Abi mengubur kembali keinginan itu, dan dirinya semakin kekeh untuk membatalkan pernikahan ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menyadarkan Abi dari lamunannya. Dia segera mempersilakan yang mengetuk itu masuk. Perlahan pintu terbuka, menampakan sosok Anjani dengan wajah lelahnya.

"Mas, bisa dipikirkan lebih matang lagi? Nggak mudah loh mas untuk memulai mencari seseorang dan mengamatinya dari nol lagi, jika mengganti orang."

"Aku tak tahu, kenapa Zella sangat menyebalkan. Jujur aku benci--" Abi tak meneruskan kata-katanya, menyebut kata 'Benci' membuat Abi teringat akan obrolan Zella dengan Rihana.

"Seseorang menjadi menyebalkan karena beratnya beban yang dia pikul. Seperti yang kita tahu, semakin tua semakin menyebalkan. menjadi tua dan menyebalkan itu karena beban yang dipikul selama ini. Andai mas tahu betapa rumit masalah Zella, mas akan maklum mengapa Zella seperti itu."

Abi menatap serius wajah Anjani. Saat yang sama dia teringat akan saran Zella pada Rihana, agar Rihana memberi kesempatan untuk menerima kasih sayang.

"Kesehatan mas akhir-akhir ini sangat baik, mas bisa keluar jalan-jalan. Saranku, mas besok keluar jalan-jalan sama Zella, ku harap mas bisa berusaha lebih mengenal dia dan mas akan faham mengapa Zella semenyebalkan itu."

"Am--" Abi bingung harus menjawab apa.

"Aku mohon mas, beri waktu buat diri mas untuk mengetahui lebih jauh tentang Zella, aku sudah memanggil Miko untuk menemani kalian, juga meminta dia untuk mempersiapkan segalanya untuk kalian jalan-jalan besok."

***

Langit masih gelap, di kamar asing itu Zella baru saja selesai menunaikan kewajiban subuhnya. Mulutnya terus mengucap zikir rutin, namun hatinya entah kemana. Satu sisi memikirkan bagaimana cara membuktikan kalau Ayahnya tak bersalah atas kasus kematian mantan istri Ayahnya itu, satu sisi berharap ada orang baik yang membantu kasus yang tengah menjerat Saman dan Taufik.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu itu membuat Zella segera bangkit, dia berjalan menuju pintu, saat terbuka terlihat sosok Arumi dengan piyama tidurnya. Tanpa menunggu respon Zella, wanita itu melengos masuk ke dalam kamar yang Zella tempati.

"Masih subuh, ada hal apa yang ingin kau bicarakan?"

"Sejujurnya aku juga malas buat bicara sama kamu, aku masih ngantuk!" Arumi melempar tubuhnya ke kasur, dengan nyamannya dia menguap di sana.

"Tapi apa dayaku, kak Anjani memintaku bicara padamu. Kak Anjani memintaku menjelaskan beberapa hal padamu. Satu lagi, dia juga memintamu jalan-jalan bersama Abi."

Zella menatap dingin wanita itu, berharap Arumi meneruskan perkataannya.

"Pertama, yang menjebak Ayahmu bukan aku dan Anjani. Tapi kami bisa membantu membebaskan Ayahmu dengan menjadikanmu istri Abi, statusmu sebagai istri Abi ini tiket kebebasan Ayahmu. Tapi sepertinya kamu tak bisa mendapat tiket itu untuk membebaskan Ayahmu." terang Arumi.

"Lalu, siapa yang menjebak Ayahku?"

"Ya seseorang yang ingin naik jabatan, tapi butuh prestasi untuk menaikan poinnya agar mendapat kenaikan jabatan." Arumi mengedipkan matanya pada Zella.

"Mengapa mereka menargetkan Ayahku?" tanya Zella.

"Ayahmu punya banyak rahasia orang-orang penting. Walau Ayahmu tak akan membocorkan rahasia mereka, tapi kalau Ayahmu mati membuat rahasia mereka semakin aman, kau tahu kan kata-kata hanya orang mati yang bisa menjaga rahasia. jadi membuat Ayahmu dikurung dijeruji besi lalu menghabisinya sangat menguntungkan banyak pihak."

Zella teringat Ayahnya terluka padahal baru saja masuk jeruji besi. Sekuat apa pun Ayahnya, jika dia terkurung menjadi target yang sangat empuk untuk tujuan mereka.

"Bonus utama mereka ya bisa jadi loncatan buat naik jabatan. Kamu pasti ngerti dong kalau di negara ini jadi hal lumrah kasus yang direkayasa demi jabatan."

"Seperti pemusnahan narkoboy yang gemborkan, padahal tidak dimusnahkan tapi malah akan dijual lagi!" respon Zella.

"Nah itu kamu ngerti! Sekarang berhenti benci aku, kak Anjani atau Abi. Karena bukan kami yang menjebak Ayahmu. Aku dan Kak Anjani hanya beruntung kebetulan tahu kalau Ayahmu dijebak, dan jika kamu jadi istri Abi, Ayahmu mudah untuk bebas."

"Lalu Ayah Saman dan Kak Taufik bagaimana?" tanya Zella.

Arumi langsung tertawa, melihat tatapan dingin Zella yang tertuju padanya, Arumi memasang wajah sok imut, "Kalau itu ulahku. Aku capek nunggu jawaban kamu yang lama banget!"

"Lalu apalagi?" tanya Zella.

"Kamu sangat disayangi semua orang, jika kamu jujur pada mereka tentang rencana pernikahanmu dengan Abi, mereka pasti akan memilih terkurung selamanya di penjara daripada bebas namun harus ditukar dengan pernikahan. Jadi ... kau harus pintar mengarang naskah ya ...." pinta Arumi pada Zella.

"Pernikahan ini akan batal, aku tak perlu pusing memikirkan alasan!" jawab Zella.

"Berarti kamu membiarkan nama Ayahmu tercoreng sebagai pembunuhh lalu dibunuhh? Aku sudah jelaskan kalau dengan berstatus sebagai istri Abi baru mereka mau melepaskan Ayahmu."

Zella sangat kesal dengan jawaban Arumi. Padahal dia sudah merasa lega karena penolakan Abi.

"Kak Anjani mengatur agar kamu dan Abi jalan-jalan agar saling mengenal. Itu kesempatan terakhir kamu meraih tiket kebebasan Ayahmu!" Arumi bangkit dari kasur empuk itu lalu pergi begitu saja.

Zella memejamkan kedua matanya, memang Saman dan Taufik bisa bebas. Mengingat bagaimana kekuasaan orang-orang dekat Ayahnya dulu, seperti yang Ayahnya katakan dulu, kalau dirinya tak akan mampu membebaskan Ayahnya dengan kemampuan dirinya yang terbatas. Batin Zella meringis, walau Ayahnya pasrah terkurung, tapi ini tak adil baginya. Ayahnya telah berusaha keras untuk memperbaiki segalanya.

"Ya Allah. Bagiku berat untuk menikah lagi. Tapi lebih berat jika aku membiarkan Ayahku terkurung dipenjara." Tubuh Zella merosot ke lantai, badannya bersandar pada sisi kasur empuk itu. Air mata perlahan menetes, menangisi ketidak berdayaannya.

Diluar batas kendalinya, mata itu terpejam semakin rapat dan Zella perlahan tenggelam ke alam bawah sadarnya.

Dalam alam bawah sadarnya, Zella melihat seorang pemuda berjalan tegap di depannya. Pemuda itu mengulurkan tangannya kearah Zella. Saat Zella menatap wajah pemuda itu, ternyata itu Abi. Di sana Abi terlihat begitu tampan dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

"Allah mengambil sesuatu yang berharga darimu, tapi DIA menyiapkan sesuatu yang lebih berharga di depan sana, jangan putus asa, Zella."

Zella masih termanga, takjub akan ketampanan Abi dan senyuman manis itu, dirinya juga tak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Sulit percaya kalau Abi bisa berdiri kembali. Di sana Abi mengenakan kemeja putih yang tak dikancing, menampakan seluruh bagian depan tubuhnya.

Melihat itu rasanya Zella melihat aktor film yang memiliki roti sobek di bagian perut, dan otot-otot yang menonjol di bagian dada.

Sedang di alam sadar.

Abi meluncurkan kursi rodanya kearah kamar tamu, melihat pintu kamar Zella terbuka membuat Abi penasaran dan perlahan masuk keruangan itu. Di sisi kasur itu terlihat seorang perempuan tidur bersandar di sana.

Perlahan Abi mendekat, dia tak nyaman melihat posisi tidur Zella seperti itu. "Zella! Zella!" panggil Abi tegas.

Di alam mimpinya, Zella mengulurkan jemarinya ingin merasakan menyentuh perut kotak-kotak itu. Entah kenapa sebuah pusaran tiba-tiba menariknya begitu kuat dan menjauhkannya dari Abi. Zella merasa dirinya terus tersedot kedalam pusaran tak berdasar, sedang di sana Abi menatapnya diam. Zella mulai merasa pusing dan telinganya berdengung.

"Zella! Kamu kenapa?" suara Abi terdengar panik karena Zella kunjung bangun.

Di depannya perlahan Zella membuka matanya, bayangan samar namun perlahan mulai jelas. Zella sangat terkejut melihat Abi tepat di depan matanya. "Astaghfirullah! Ternyata ini beneran?"

Zella berusaha menajamkan penglihatannya. Zella merasa lega karena Abi mengenakan kemejanya dengan baik, tak seperti dalam mimpi yang tak mengancing kemejanya.

"Ini beneran? Maksudmu kamu mimpiin saya?"

Zella panik, dia tak ingin malu ketahuan Abi bermimpi tentang dia. "Pak Abi kenapa di sini??" Zella memastikan mukena yang kenakan masih menutup badannya dengan sempurnya.

"Kamu kaget gitu melihat saya, kayak lihat setan aja!" Abi kesal melihat expresi Zella.

"Maaf, soalnya Bapak lebih menakutkan dari set--" Zella manahan perkataannya, dia meringis menyesali ucapannya.

"Lancang sekali kamu! Kamu anggap saya lebih menakutkan dari setan??" Abi berdecak kesal.

"Ya bener kan? Ngusir setan mah bacain ayat kursi seketika setannya kabur! Lah kalau ngusir Bapak nggak cukup dengan dibacain ayat aja, tapi juga sambil dilempar kursi baru pergi, itu pun kalau kena. Hais ...." Zella memukul pelan bibirnya, rasanya mimpi barusan membuatnya seketika bodoh.

1
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!