Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Tanaman cabai di kebun Alya sudah tumbuh besar. Daunnya rimbun, batangnya kokoh. Buah-buah hijau mulai memerah satu per satu, seolah memberi tanda bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti ia hanya bekerja diam-diam.
Alya jongkok di antara barisan tanaman, keranjang kecil di sampingnya. Tangannya cekatan memetik cabai yang matang, memeriksanya sebentar sebelum meletakkannya bersama yang lain.
Tidak terasa sudah berbulan-bulan ia menetap di desa kecil ini.
Bulan-bulan yang tidak mudah. Ia mengingat dirinya yang dulu: datang dengan hati setengah utuh, belajar menyesuaikan diri, belajar mendekat, lalu pelan-pelan belajar melepaskan. Ada fase ketika Bayu begitu dekat, lalu menjauh tanpa penjelasan. Dan entah bagaimana, jarak itu tumbuh dengan sendirinya tanpa pertengkaran, tanpa perpisahan resmi.
“Lucu ya,” gumam Alya pada dirinya sendiri, “tanaman bisa tumbuh tanpa janji, tapi manusia sering ragu walau sudah merasa.”
Ia tersenyum kecil, lalu berdiri ketika keranjangnya hampir penuh, dan saat itulah langkah kaki terdengar dari arah jalan kecil di depan kebun, sejenak Alya mulai menoleh
Bayu berdiri di sana. Lebih kurus sedikit, wajahnya lebih gelap karena matahari kota, tapi sorot matanya sama, tenang, tapi kali ini tidak ragu.
Jantung Alya berdetak sekali, keras. Bukan karena kaget. Lebih seperti… pengakuan pada diri sendiri bahwa ia masih mengenal perasaan itu.
“Kabarnya panen pertama,” kata Bayu akhirnya, suaranya pelan.
Alya mengangguk. “Iya. Baru cukup buat satu keranjang.”
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Hening turun di antara mereka, tapi tidak secanggung kemarin, lebih seperti dua orang yang sama-sama tahu, kali ini tidak boleh lagi saling menghindar.
Bayu melangkah mendekat. Berhenti dengan jarak aman.
“Alya,” katanya, kali ini lebih serius. “Aku ke Surabaya waktu itu bukan buat pergi dari kamu.”
Alya tidak menjawab. Ia menunggu. Untuk pertama kalinya, ia tidak mendahului dengan harapan.
“Aku cuma tiga hari ngurus berkas lama. Tapi yang paling berat justru pulangnya.”
Alya mengerling. “Kenapa?”
“Karena aku sadar,” Bayu menelan ludah, “kalau aku terus menunda, aku akan kehilangan kamu bukan karena kamu pergi… tapi karena aku tidak memilih.”
Kata-kata itu jatuh tepat di dada Alya. Bayu melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, tapi mantap.
“Aku datang ke sini bukan mau mendekat setengah-setengah lagi. Aku juga capek jadi orang yang selalu merasa, tapi tidak berani mengucap.”
Ia menatap Alya lurus. Tidak mencari celah untuk kabur.
“Aku cinta kamu, Alya. Dan kali ini, aku memilih. Kalau kamu sudah tidak mau, aku terima. Tapi aku tidak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan.”
Alya menatap wajah pria itu terlihat serius dan tidak dibuat-buat. Angin pagi menggerakkan daun cabai. Matahari condong ke barat.
Ia mengingat kalimat yang pernah ia tulis di buku catatan tentang tidak menunggu orang yang tidak memilihnya hari ini.
Lalu Alya tersenyum. Bukan senyum penuh euforia. Tapi senyum seseorang yang akhirnya dihormati.
“Aku tidak menunggumu,” katanya jujur.
“Tapi aku juga tidak menutup pintu.”
Bayu akhirnya menghela nafas lega.
“Aku cuma minta satu hal,” lanjut Alya. “Kalau kamu memilih, jangan setengah. Aku sudah cukup lama berdiri sendiri.”
Bayu mengangguk tanpa ragu. “Aku tahu. Dan aku siap berdiri di sebelahmu. Bukan di depan, bukan di belakang.”
Alya mengulurkan keranjang cabai ke arahnya. “Kalau begitu,” katanya ringan, “bantuin angkat hasil panen. Cinta boleh serius, tapi hidup tetap jalan.”
Bayu tertawa kecil, menerima keranjang itu, dan di tengah-tengah terik sinar matahari ladang itu seolah hidup kembali.
☘️☘️☘️☘️
Malam mulai tiba, Alya duduk di teras sambil menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang dan cahaya bulan sabit yang terlihat begitu indah, tanpa sadar air matanya turun satu tetas.
Teringat Halima, yang sudah beberapa bulan ini belum juga pulang, dan juga teringat keluarga yang ia tinggalkan di kota sana.
"Mereka apa sudah bahagia ya," ucapnya sendiri.
Alya menghela nafas pelan, tanpa di sadari sudah berbulan-bulan ia merantau, tapi keluarga tak ada satu pun yang menanyakan kabarnya.
"Ibu ... Bapak, aku di sini, anakmu tumbuh tanpa kabar dan tanpa pelukan."
Saat Alya tengah melamun, tiba-tiba saja, sorot lampu motor Bayu menyilaukan pandangannya. Refleks Alya menutup kedua matanya.
Sorot lampu motor itu akhirnya meredup. Alya membuka mata perlahan. Bayu sudah turun dari motornya, helm masih di tangan. Ia berhenti beberapa langkah dari teras, seolah memberi Alya waktu untuk benar-benar menatapnya.
“Kamu kenapa duduk sendirian?” tanya Bayu pelan.
Alya menyeka pipinya cepat-cepat. “Nggak apa-apa. Cuma… malamnya lagi tenang.”
Bayu tidak langsung menjawab. Ia naik ke teras, duduk tidak terlalu dekat. Pandangannya ikut terarah ke langit, ke bulan sabit yang menggantung malu-malu.
“Aku sering mikir,” katanya akhirnya, “kalau langit di sini kelihatan lebih jujur. Nggak sibuk nutupin apa-apa.”
“Kebun juga begitu. Kalau dirawat, dia tumbuh. Kalau ditinggal, ya layu.”
Bayu menoleh padanya. Ada sesuatu di wajahnya bukan ragu, tapi kesiapan.
“Alya,” panggilnya, kali ini lebih berat.
Alya menoleh.
Bayu berdiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi langkahnya mantap. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—bukan kotak beludru mewah, hanya cincin sederhana yang dibungkus kain kecil.
“Aku nggak datang malam ini cuma buat ngobrol,” ucapnya. “Aku datang karena aku tahu… aku sudah terlalu lama menunda.”
“Aku tahu kamu tumbuh sendiri. Aku tahu kamu bertahan tanpa ditanya, tanpa dicari. Dan justru itu yang bikin aku sadar—perempuan sekuat kamu nggak butuh janji besar. Kamu butuh kepastian.”
Bayu berlutut. “Kalau kamu mau,” suaranya pelan, “aku ingin jadi rumah. Bukan cuma tempat pulang, tapi tempat kamu nggak perlu kuat sendirian lagi.”
Alya menutup mulutnya. Air matanya jatuh lagi, kali ini tidak bisa ditahan.
“Menikahlah denganku, Alya.”
Hening menelan malam. Jangkrik berhenti bersuara. Angin terasa berhenti berembus.
Alya menatap cincin itu lama sekali. Dadanya penuh oleh rindu, oleh luka lama, oleh harapan yang nyaris tidak ia beri ruang.
Ia membuka mulut untuk menjawab Namun tiba-tiba, suara ponselnya berdering nyaring di sampingnya. Nama yang muncul di layar membuat tubuh Alya membeku.
Ibu.
Bayu ikut melihat. Wajahnya menegang. Alya menatap layar itu, lalu menatap Bayu kembali. Tangannya gemetar, tidak segera menjawab panggilan itu.
Bersambung ....
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong