NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Nada dering itu terus bergetar di udara malam. Alya masih menatap layar ponselnya, seolah nama itu bisa berubah jika ia menunggu satu detik lebih lama. Ibu. Satu kata yang jarang muncul, tapi selalu punya daya untuk mengguncang.

Bayu tidak bertanya. Ia hanya berdiri di sana, menunggu keputusan Alya seperti seseorang yang akhirnya paham: ada hal-hal yang tidak bisa ia percepat.

Alya menarik napas dalam, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo, Bu.”

Suara di seberang terdengar ragu, seperti orang yang sudah lama tidak tahu cara memulai.

“Alya… kamu sehat?”

Pertanyaan itu sederhana, cenderung terlambat dan tetap membuat dada Alya mengencang.

“Sehat, Bu.”

Hening sejenak. Lalu suara ibunya kembali, lebih pelan.

“Kami baru dapat kabar dari Halima. Katanya kamu di desa… sudah lama.”

“Iya.”

“Ayahmu sakit,” lanjut sang ibu. “Bukan parah. Tapi… beliau sering nyebut namamu.”

Kalimat itu terdengar begitu menyakitkan, namun Alya berusaha untuk tetap tegar, dan berusaha baik-baik saja.

“Ayah nanya,” sambung ibunya, “kamu masih marah?”

Alya menutup mata. Marah bukan kata yang tepat. Yang ada hanyalah jarak yang tumbuh karena terlalu lama merasa tidak dianggap.

“Aku nggak marah, Bu,” jawab Alya jujur. “Aku cuma belajar hidup tanpa nunggu.”

Di seberang sana, ibunya terdiam, membeku, sebenarnya ia tidak mau merepotkan sang anak namun keadaanlah yang membuat dirinya harus seperti ini.

“Kalau kamu mau pulang sebentar… kami senang.”

Alya membuka mata. Pandangannya jatuh pada Bayu yang masih berdiri, wajahnya tegang tapi tidak memaksa.

“Aku pikir-pikir dulu ya, Bu,” katanya akhirnya. “Aku kabari lagi.”

Telepon ditutup. Malam kembali sunyi, tapi sunyi yang berbeda dari sebelumnya, Alya masih menatap wajah Bayu, pria itu terlihat serius dengan apa yang diucapkannya tadi.

Bayu melangkah satu langkah mendekat. “Kamu nggak harus jawab aku sekarang,” katanya lebih dulu. “Aku tahu hidup kamu lagi berdiri di banyak persimpangan.”

Alya menatapnya lama. Lalu berdiri.

“Aku mau jujur,” katanya pelan. “Telepon barusan bukan alasan buat aku menunda jawab kamu. Tapi itu bikin aku sadar… hidup nggak pernah berhenti ngetes kesiapan.”

Bayu mengangguk. “Aku dengar.”

Alya menatap cincin di tangan Bayu. Kali ini tidak terlalu lama.

“Aku nggak mau menikah untuk lari,” katanya. “Dan aku juga nggak mau menikah karena takut sendirian.”

Bayu berlutut lebih tegak. “Aku juga nggak mau kamu memilih karena kasihan.”

Alya menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Kalau aku bilang iya nanti,” ujarnya, “itu karena aku mau berjalan bareng. Bukan diseret. Bukan ditunggu.”

Bayu mengangguk. “Aku siap.”

Alya tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke langit. Bulan sabit itu masih di sana, sama seperti saat ia menangis beberapa menit lalu.

“Aku mau satu malam lagi,” katanya akhirnya. “Bukan buat ragu. Tapi buat pamit sama versi lama diriku sendiri.”

Bayu berdiri perlahan. “Aku tunggu. Bukan sebagai orang yang menahan. Tapi sebagai orang yang menghormati.”

Pagi datang lebih cepat dari biasanya.

Alya bangun, menyiram tanaman, memeriksa cabai yang hampir seluruhnya memerah. Panen berikutnya akan lebih besar. Ladangnya telah menyesuaikan. Begitu juga hatinya.

Ia tahu, setelah ini ada perjalanan pulang sebentar ke kota. Ada orang tua. Ada masa lalu yang perlu disentuh tanpa kembali menetap di sana.

Dan ada Bayu—yang kali ini tidak berdiri di depan pintu terlalu lama. Di kejauhan, suara motor terdengar mendekat. Alya berdiri di tengah kebun, keranjang di tangan, menunggu tanpa degup berlebihan.

Karena untuk kali ini, Alya tahu apapun pilihannya nanti, setidaknya ia sudah belajar menerima sesuatu dengan cukup baik.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Malam harinya, Alya duduk di ruang tamu, kakinya sedikit ia luruskan, karena terlalu cape, setelah memanen cabai tadi, di saat ia sedang mengurus kakinya dengan minyak urut tiba-tiba saja dari kejauhan langkah seseorang terdengar mendekat.

Tok.

Tok.

Alya berhenti memijat. Ia tidak langsung berdiri.

“Masuk saja,” katanya akhirnya.

Pintu terbuka. Bayu berdiri di ambang, kali ini tanpa jaket, tanpa helm di tangan. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tenang seperti seseorang yang sudah berdamai dengan apa pun jawaban yang akan ia terima.

“Kamu capek,” katanya setelah melangkah masuk.

Alya mengangguk kecil. “Panen pertama selalu bikin badan kaget.”

Bayu duduk di kursi yang agak jauh. Tidak langsung mendekat. Tidak memotong ruang Alya.

“Aku ke sini bukan buat lama-lama,” ucapnya pelan. “Aku cuma… nagih janji.”

Alya menatapnya. Tidak terkejut.

“Katamu mau satu malam,” lanjut Bayu. “Aku mau tahu… sekarang.”

Hening turun sebentar. Alya menyeka sisa minyak di tangannya dengan kain kecil, lalu berdiri perlahan. Ia melangkah mendekat, tapi berhenti satu langkah di depan Bayu.

“Aku nggak menunda karena ragu,” katanya. “Aku cuma mau memastikan satu hal.”

Bayu menatapnya penuh perhatian. “Apa?”

"Kalah aku bilang, iya, itu bukan berarti aku jadi penyelamatmu, tapi karena aku punya pilihan," tutur Alya.

Bayu berdiri. Tingginya membuat Alya harus sedikit mendongak, tapi tidak ada rasa terintimidasi di sana.

“Aku nggak pernah mau jadi penyelamat,” jawab Bayu. “Aku cuma mau jadi orang yang pulang bareng kamu.”

Alya terdiam. Dadanya menghangat, bukan oleh janji besar, tapi oleh kesederhanaan kalimat itu.

Ia menghela napas, lalu berkata pelan, jelas:

“Kalau begitu… aku terima.”

Bayu tidak langsung bereaksi. Seolah kata-kata itu perlu ia dengar dua kali agar benar-benar masuk.

“Kamu yakin?” tanyanya, nyaris berbisik.

Alya mengangguk. “Aku nggak mau lamaran mewah. Aku nggak butuh ramai-ramai. Aku cuma mau niat yang tidak setengah.”

Bayu tersenyum. Kali ini tidak ditahan. Ia merogoh saku, mengeluarkan cincin sederhana yang sama seperti malam sebelumnya.

“Aku cuma punya ini,” katanya. “Dan niat yang nggak mau aku tunda lagi.”

Bayu berlutut perlahan. Tidak berlebihan. Tidak teatrikal.

“Alya,” ucapnya mantap, “aku datang dengan hidup yang belum sempurna. Tapi aku datang dengan pilihan yang utuh. Maukah kamu menikah denganku?”

Alya menunduk, menatap cincin itu, lalu menatap wajah Bayu kembali.

“Iya,” jawabnya pelan. “Aku mau.”

Bayu menyematkan cincin itu di jari Alya dengan tangan sedikit gemetar. Bukan karena ragu—tapi karena lega.

Malam itu tidak ada pelukan lama. Tidak ada air mata berlebihan.

Hanya dua orang yang duduk berdampingan di ruang tamu sederhana, menyadari satu hal yang sama: mereka tidak datang untuk saling melengkapi kekurangan, mereka datang sebagai dua orang utuh yang memilih berjalan searah.

Bersambung

1
Naufal hanifah
terimakasih sukses selalu thor
lee zha
bagus... biarpun alurnya lambat lebih ke berbagi pemikiran dan pengalaman.... sukses terus author 👍👍👍☺☺
Dewiendahsetiowati
lho kok sudah tamat aja Thor,Halimah kok gak ada di nikahannya Bayu...terima kasih untuk ceritanya thor
Dewiendahsetiowati
othor taruh bawangnya kebanyakan bikin nyesek
Dewiendahsetiowati
hadir thor
ros
ceritanya menarik 👍
Sartini 02
ceritanya sangat menarik
Sartini 02
lanjut kak 😍👍
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!