NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibawah perlindunganku

Tok! Tok!

"Masuk..." ucap Elina dari dalam ruangan.

Krek! Pintu terbuka. Lusi masuk lebih dulu, diikuti Bi Wati yang melangkah pelan ke dalam ruangan. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sembab, matanya merah berkaca-kaca.

Elina langsung mengernyit. "Bi Wati?" ucapnya sedikit terkejut. Kehadirian Bi Wati di kantor memang jarang terjadi, terlebih dengan kondisi seperti itu.

"Nona Elina, Bi Wati ingin bertemu Anda sejak tadi. Tapi saya menyuruh beliau menunggu sampai pertemuan Anda selesai," jelas Lusi selaku asisten Elina.

Elina mengangguk. "Makasih, Lus. Kamu silakan tinggalkan kami berdua."

"Baik, Nona." Lusi pamit lalu meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan pelan.

Begitu hanya mereka berdua, Elina langsung menghampiri Bi Wati. "Ada apa, Bi? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya cemas.

"Keluarga Bibi, Non... hiks... hiks..." suara Bi Wati terisak. Air matanya jatuh perlahan ke pipinya.

Perasaan Elina langsung tidak enak. Ia menuntun Bi Wati duduk di sofa, lalu menuangkan segelas air dan menyodorkannya. "Bibi minum dulu. Tenangkan diri, lalu cerita ke Elina."

Bi Wati meneguk air itu dengan tangan gemetar. Setelah sedikit tenang, ia kembali bersuara. "Keluarga Bibi, Non..."

"Kenapa keluarga Bibi? Mereka sakit?" tanya Elina, nadanya menahan khawatir.

Bibi menggeleng. "Nyonya Amelia telah menyuruh preman, Non. Untuk membuat rumah dan keluarga Bibi hancur... hiks... hiks..."

Rahang Elina mengeras. Ia menggenggam tangan Bi Wati dengan tenang. "Bibi tahu dari mana?"

"Saat Nona berangkat ke kantor, Bibi tidak sengaja mendengar percakapan mereka, Non... hiks..." jelas Bi Wati. "Bibi juga sudah menelepon ke kampung, tapi tidak ada satu pun mengangkat telepon Bibi..."

"Dasar nenek lampir!" geram Elina kesal. "Bibi tenang dulu, Elina akan menelepon seseorang. Elina yakin, keluarga Bibi tidak terjadi apa-apa."

Elina beranjak dari duduknya, mengambil ponsel di atas meja, lalu menekan nomor Dewa.

"Iya, Nona?"

"Dewa, apa benar nenek sihir itu menghancurkan rumah Bi Wati?" tanya Elina dengan nada geram.

"Tidak, Non. Pasukan bayangan telah menyelamatkan mereka terlebih dahulu," jawab Dewa tenang.

"Lalu kenapa nenek sihir itu terlihat senang?" tanya Elina lagi.

"Itu hanya umpan untuknya, Nona. Tim bayangan sudah lebih dulu mencium rencana busuk mereka," jelas Dewa.

Elina menghela napas lega. Ia melirik Bi Wati yang masih terlihat gelisah. "Kerja yang bagus, Dewa. Berikan bonus untuk mereka."

"Baik, Nona."

Tut!

Panggilan terputus. Elina segera menghampiri Bi Wati.

"Bi, keluarga Bibi di kampung aman."

Bi Wati menatap Elina, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

"Elina sudah memberi pengawal untuk keluarga Bibi. Jadi mereka di kampung aman."

"Tapi, Non... kata Nyonya Amelia—"

"Itu hanya umpan untuknya. Biarkan dia merasa senang dulu," potong Elina. "Semua bukti itu palsu. Sudah direkayasa oleh tim Elina. Jadi Bibi tidak perlu khawatir lagi."

"Tapi, Non... nomor ponsel Ana tidak bisa dihubungi."

Baru saja Elina hendak menjawab, ponsel Bi Wati berdering. Keduanya saling pandang, lalu Elina mengangguk kecil memberi isyarat agar Bi Wati mengangkatnya.

"Halo, Bu. Ada apa?" suara Ana terdengar dari seberang.

 "Ana, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bi Wati cemas.

"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu terdengar khawatir, memangnya kenapa?"

Bi Wati menghela napas lega. "Ibu punya firasat nggak enak. Kenapa baru angkat telepon ibu?"

"Maaf, Bu. Paket data Ana habis semalam. Baru sempat beli siang ini."

"Lain kali jangan telat beli, Nak. Ibu khawatir."

"Iya, Bu. Maaf."

"Hai, Ana. Kamu apa kabar?" sahut Elina.

"Nona Elina," ucap Ana antusias. "Kabar Ana baik, Nona. Nona juga sehat, kan?"

"Alhamdulillah sehat. Kapan kamu ke kota?" tanya Elina. “Atau nanti pas kuliah tinggal di sini saja. Saya akan membiayai kuliah kamu. Kamu sudah kelas tiga, kan?”

“Nona… Nona baik sekali,” ucap Ana terharu.

“Kamu sekolah yang baik, ya. Nanti kita ketemu,” ujar Elina lembut.

“Iya, Nona. Terima kasih.”

“Ana, sudah dulu ya. Jaga dirimu baik-baik,” ucap Bi Wati lalu menutup telepon.

“Aman, kan, Bi?” Elina tersenyum kecil.

“Iya, Non. Bibi akhirnya bisa bernapas lega. Terima kasih ya, Non. Maaf juga sudah mengganggu pekerjaan Nona,” ucap Bi Wati penuh rasa bersalah.

Elina menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Bi. Justru Elina yang harus minta maaf. Gara-gara mertua Elina, Bibi ikut terkena imbasnya.”

Elina menggenggam tangan Bi Wati lebih erat. Tatapannya lembut, namun sorot matanya tajam menyimpan amarah.

“Bi,” ucap Elina pelan namun tegas, “selama Bibi masih bekerja untuk Elina, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh keluarga Bibi.”

♡♡

Seorang wanita yang terlihat cantik dan elegan melangkah memasuki area kantor. Aura berwibawa terpancar jelas dari caranya berjalan. Para karyawan dan staf yang melihat kedatangannya langsung menunduk sopan, memberi salam hormat.

Wanita itu membalas dengan senyum ramah yang terlatih, lalu melangkah masuk ke dalam lift tanpa ragu.

Tak selang lama, lift berhenti di lantai 14.

Begitu pintu lift terbuka, wanita itu langsung melangkah keluar dan menuju sebuah ruangan besar di ujung koridor. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia mendorongnya dan masuk begitu saja.

“Sejak kapan orang boleh masuk tanpa mengetuk—” ucapan Elina terpotong di tengah kalimatnya saat pandangannya tertuju pada sosok yang baru saja masuk.

Deg!

1
Nur Liana
menarik
Nona Jmn: Tquuuu😁😁
total 1 replies
Nur Liana
astera di mana thor
Nona Jmn: Kota fiksi Novel kak😂😍🤭😁
total 1 replies
echa purin
👍👍
Nunuk Sutrisno
agak gmn ya ceritanya...sahabat dgn seenaknya sendiri begitu dirumah temannya yg lg kerja,gak masuk akal🤭🤭
Ani Maryani Naryani
intrik keluarga suaminya nya terobsesi harta sang istri
Ani Maryani Naryani
itu mertua anak pelakor gak punya urat malu pingin memiliki harta yg bukan miliknya cepet Elina cerai usir keluarga suaminya kasih hukuman yg tidak terlupakan dan kamu harus bahagia di masa depan dan tinggal kan masa lalu kamu itu cantik dan kuat
Ani Maryani Naryani
dih itu suaminya di kira istri sah gak tau padahal dia lagi merencanakan balas dendam dan mengusir semua benalu harus kuat elina kamu tangguh dan badas
Ani Maryani Naryani
thor pemeran nya pasti Badas dan kuat bisa melawan benalu keluarga suaminya
Fi Fin
wooow elina nya dilraba 👍
Fi Fin
kok ngga di laporin ke polisi ya ..
biar semua masuk bui
Fi Fin
woow Dilraba yg jadi Elina 👍
nira ritawatty
Punya impian?
Bagus
Berusaha?
Harus
Mengambil mimpi Orang lain?
Hangus
Nona Jmn: Hahaha ngakak😂😂
total 1 replies
Mega Arum
Luar biasa..
Wiwik Wardoyo
sok gaya mau' pindah aset konoonnn.... 😄
Wiwik Wardoyo
mampir thoorrr 👍
Rosita Tumbelaka
blm cerai secarah Sah
zyfha
ko zhang ling he
Rina Mariana
bagus
Mama Lilik
Lo kok udah tamat.aja ....gimana itu tawanannya 😁
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘
Nona Jmn: Terima kasih kakak😍😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!