NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tidak Dicari

Wijaya selalu percaya bahwa perpustakaan adalah tempat paling aman untuk bersembunyi.

Bukan karena tidak ada yang memperhatikan, melainkan karena terlalu sedikit orang yang peduli. Rak-rak buku tinggi, arsip yang berdebu, sistem katalog yang hanya dipahami segelintir orang, semua itu menciptakan ilusi ketidakrelevanan yang menenangkan. Ia menyukai ilusi itu. Ia membutuhkannya untuk bekerja dengan tenang.

Pagi itu, ilusi tersebut retak sedikit.

Wijaya tiba di perpustakaan lebih awal dari biasanya. Ia membuka pintu samping, menyalakan lampu ruang arsip, dan langsung menuju meja kerjanya. Tidak ada pesan mendesak. Tidak ada panggilan. Tidak ada tanda bahaya. Namun tubuhnya bergerak dengan kehati-hatian baru, seolah ada sesuatu yang berubah semalam.

Ia menyalakan komputer, membuka sistem katalog internal. Layar memuat seperti biasa. Username dan kata sandinya diterima tanpa masalah. Aman, pikirnya. Atau setidaknya, terlihat aman.

Wijaya membuka folder arsip digital… dokumen lama, hasil digitalisasi koran, laporan kebijakan puluhan tahun lalu. Ia bekerja seperti biasa: menandai, memperbarui metadata, menyusun ulang indeks. Pekerjaan sunyi yang jarang mendapat perhatian.

Namun pagi itu, ia menyadari satu detail kecil.

Beberapa entri lama yang ia tandai kemarin… dokumen terkait pendataan, reformasi administratif, dan kebijakan transisi tidak lagi muncul di daftar terakhir yang ia akses.

Bukan hilang.

Hanya… tidak muncul.

Wijaya mengernyit. Ia mengetik ulang kata kunci, mempersempit rentang tahun, mengganti filter. Setelah beberapa detik, dokumen-dokumen itu muncul kembali, seolah tidak pernah pergi.

Ia bersandar ke kursi.

Ini bukan kesalahan sistem. Ia tahu perbedaannya. Kesalahan sistem biasanya acak dan ceroboh. Ini terasa rapi. Terlalu rapi.

Ia menutup layar, menatap rak arsip fisik di seberang ruangan. Map-map tua tersusun rapi, diberi label tangan dari masa yang berbeda. Arsip fisik jarang disentuh sekarang. Terlalu lambat. Terlalu tidak praktis.

Dan justru karena itu, ia masih ada.

Wijaya berdiri, berjalan ke rak, menarik satu map tua. Ia membukanya di meja, membaca ulang laporan yang ia kenal di luar kepala. Bahasa yang sama. Pola yang sama. Kata-kata seperti penyesuaian, sinkronisasi, transisi.

Ia menutup map itu perlahan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ari semalam terlintas di pikirannya… tentang jarak, tentang tidak merasa paling benar. Wijaya menyadari, jarak yang ia jaga selama ini mulai menyusut bukan karena ia mendekat, tapi karena sesuatu dari luar mulai mengamati.

Seorang rekan kerja masuk ke ruang arsip. Perempuan paruh baya dengan kacamata tipis, membawa setumpuk dokumen baru.

“Jay,” katanya ringan, “nanti siang ada rapat kecil. Bukan rapat resmi.”

Wijaya menoleh. “Tentang apa?”

“Katanya pembaruan prosedur akses,” jawabnya. “Kayaknya nggak penting. Tapi semua kepala bagian diminta hadir.”

Tidak penting. Dua kata yang sering menandai perubahan besar.

Wijaya mengangguk. “Jam berapa?”

“Jam dua.”

Rekannya pergi. Ruang arsip kembali sunyi.

Wijaya duduk, menyalakan kembali komputer. Ia membuka log aktivitas sistem… fitur yang jarang ia pakai, tapi ia tahu di mana mencarinya. Deretan entri muncul: waktu akses, alamat IP internal, jenis dokumen.

Ia menggulir perlahan.

Ada satu baris yang membuatnya berhenti.

Akses ke arsip lama oleh akun administratif pusat tercatat pagi ini, sebelum ia datang.

Wijaya tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya mencatatnya di kepala. Tidak ada yang ilegal. Tidak ada yang salah. Akun administratif pusat memang punya hak itu.

Yang membuatnya tidak nyaman adalah ketepatan waktunya.

Ia mematikan layar, berdiri, dan berjalan ke jendela kecil di ujung ruangan. Cahaya pagi masuk, menyinari debu-debu halus. Di luar, mahasiswa lalu-lalang, membawa buku, berbicara tentang tugas, tentang hidup.

Tidak ada yang tahu bahwa arsip yang menjelaskan pola hidup mereka sedang dipindai ulang.

Siang datang. Rapat kecil diadakan di ruang yang lebih kecil lagi… meja oval, delapan kursi, pendingin ruangan yang terlalu dingin. Tidak ada spanduk. Tidak ada notulen resmi.

Seorang pejabat dari pusat duduk di ujung meja. Pakaiannya rapi, senyumnya tenang.

“Kita hanya ingin memastikan,” katanya membuka percakapan, “bahwa akses informasi tetap berjalan selaras dengan kebijakan terbaru.”

Wijaya mendengarkan tanpa menyela.

“Kita tidak ingin membatasi penelitian,” lanjut pejabat itu, “tapi kita juga perlu mencegah kesalahpahaman.”

Kata itu lagi. Kesalahpahaman.

Wijaya mengangkat tangan pelan. “Maksudnya?”

Pejabat itu tersenyum. “Beberapa arsip lama bisa dibaca di luar konteks. Kita ingin memastikan pengguna mendapat penjelasan yang tepat.”

“Apakah akan ada penambahan catatan?” tanya Wijaya.

“Lebih ke penyesuaian akses,” jawabnya. “Tidak semua orang perlu melihat semuanya.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada netral, seolah sedang membahas jam buka perpustakaan.

Wijaya mengangguk. Ia tidak membantah. Ia tidak menyetujui. Ia mencatat.

Rapat selesai cepat. Semua orang kembali ke meja masing-masing. Tidak ada instruksi tertulis. Tidak ada larangan eksplisit.

Di ruang arsip, Wijaya duduk kembali. Ia membuka map tua yang tadi pagi ia ambil. Tangannya menyentuh kertas yang mulai rapuh di tepinya. Ia tahu, jika suatu hari akses digitalnya “disesuaikan”, map-map ini akan menjadi satu-satunya jejak yang tidak bisa dihapus dengan satu klik.

Ia mengambil ponsel, mengetik pesan pendek ke Ari… bukan laporan, bukan peringatan.

Wijaya:

Arsip mulai “dirapikan”.

Belum ditutup.

Tapi mulai diarahkan.

Ia mengirim pesan itu, lalu menyimpan ponsel.

Wijaya kembali bekerja seperti biasa. Menyusun, mengindeks, mencatat. Tidak ada perubahan di permukaan. Namun di dalam dirinya, satu keputusan kecil mulai terbentuk… tidak diucapkan, tidak diumumkan.

Bahwa mulai hari ini, ia tidak lagi hanya menjaga arsip untuk keteraturan, melainkan untuk kemungkinan suatu hari nanti, seseorang perlu membuktikan bahwa ingatan ini pernah ada.

Sore itu, perpustakaan terasa berbeda meski tidak ada yang berubah secara fisik.

Lampu tetap menyala dengan intensitas yang sama. Rak buku tidak bergeser. Meja-meja tetap rapi. Namun Wijaya merasakan kehadiran sesuatu yang tak terlihat… bukan pengawasan langsung, melainkan kesadaran bahwa ruang ini kini diperhitungkan.

Ia menyelesaikan pekerjaannya lebih lambat dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ia membaca setiap baris metadata dengan perhatian yang lebih besar. Kata-kata yang dulu ia anggap teknis kini terasa politis. Label, kategori, akses… semuanya adalah keputusan, bukan sekadar prosedur.

Menjelang pulang, seorang staf administrasi menghampirinya. Perempuan muda dengan map biru di tangan, senyum profesional yang terlalu terlatih.

“Mas Wijaya,” katanya, “ada surat internal. Bukan teguran, kok. Cuman pemberitahuan.”

Wijaya menerima map itu, membukanya perlahan.

Isinya satu lembar. Bahasa formal, sopan, nyaris ramah. Tidak ada tuduhan. Tidak ada larangan. Hanya pengumuman bahwa mulai bulan depan akan ada rotasi tugas sementara untuk beberapa staf, termasuk dirinya… penempatan baru di bagian layanan umum, bukan arsip.

Sementara.

Kata itu kembali muncul, seperti gema yang mengikuti mereka semua dari ruang ke ruang.

“Ini kebijakan rutin?” tanya Wijaya.

Staf itu mengangguk cepat. “Iya, Mas. Buat penyegaran.”

Wijaya menutup map itu. “Kapan mulai?”

“Awal bulan depan.”

Ia mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu kembali ke mejanya. Tidak ada alasan untuk menolak. Tidak ada dasar untuk memprotes. Rotasi tugas memang bagian dari sistem. Bahkan sering dianggap kesempatan.

Namun Wijaya tahu, akses ke arsip tidak bisa digantikan oleh semangat pelayanan.

Ia menyalakan komputer sekali lagi, membuka folder arsip lama yang jarang disentuh. Ia tidak menyalin semuanya, itu akan terlalu mencolok. Ia memilih dengan hati-hati. Beberapa dokumen kunci. Beberapa laporan transisi. Beberapa potongan sejarah yang membentuk pola.

Ia memindahkannya ke penyimpanan eksternal kecil… flashdisk polos tanpa label. Tidak terenkripsi berlebihan. Tidak disembunyikan secara dramatis. Hanya disimpan.

Tindakan itu membuat tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut tertangkap, tapi karena ia sadar: ini pertama kalinya ia melanggar kebiasaan netralitasnya sendiri.

Ia memasukkan flashdisk itu ke dalam buku tebal, buku sejarah yang jarang dipinjam, lalu meletakkannya kembali di tas kerjanya. Ia tidak berniat membawanya pulang hari itu. Ia hanya ingin memastikan ia ada di tempat yang tidak mudah diakses siapa pun.

Malam datang cepat. Perpustakaan mulai sepi. Wijaya mematikan lampu ruang arsip terakhir, mengunci pintu, lalu berdiri sejenak di koridor panjang yang sunyi. Ia merasakan campuran aneh antara kehilangan dan kelegaan.

Di luar gedung, udara malam Surabaya terasa lebih lembap. Ia berjalan menuju parkiran, membuka ponsel, membaca pesan-pesan singkat di Random. Tidak ada yang mendesak. Tapi ia tahu, waktunya semakin sempit… bukan untuk bertindak besar, melainkan untuk memilih apa yang ingin ia jaga.

Ia mengetik pesan singkat ke Ari, lebih pendek dari yang ia rencanakan.

Wijaya:

Mulai bulan depan gue dipindah.

Akses arsip dibatasi pelan-pelan.

Gue simpan yang perlu disimpan.

Ia mengirim pesan itu tanpa menunggu balasan.

Dalam perjalanan pulang, Wijaya memikirkan satu hal yang terus berulang sejak rapat siang tadi: tidak semua orang perlu melihat semuanya. Kalimat itu terdengar masuk akal. Bahkan bijak. Namun ia tahu, sejarah selalu ditulis ulang pertama kali lewat kalimat seperti itu.

Di rumah, ia membuka lemari kecil, mengeluarkan kotak arsip pribadinya, dokumen-dokumen yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, bukan untuk penelitian resmi, melainkan untuk dirinya sendiri. Ia menambahkan satu map baru.

Labelnya sederhana:

TRANSISI

Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke lemari, menatap kotak itu lama. Tidak ada rasa heroik. Tidak ada ilusi perubahan besar. Yang ada hanya kesadaran bahwa mulai sekarang, pekerjaannya bukan lagi soal keteraturan, melainkan ketepatan waktu… kapan menyimpan, kapan diam, kapan mengingat.

Wijaya menyadari sesuatu yang ironis:

…ia tidak pernah mencari peran ini. Ia juga tidak pernah menolak ketika peran itu datang tanpa diminta.

Dan mungkin, pikirnya, itulah cara sejarah bekerja… bukan lewat orang-orang yang ingin mengubah dunia, melainkan lewat mereka yang menolak membiarkan dunia berpura-pura lupa.

Lampu rumah ia matikan satu per satu. Di kegelapan, ia mengingat percakapan dengan Ari beberapa waktu lalu… tentang jarak, tentang tidak merasa paling benar.

Ia masih menjaga jarak.

Namun kini, jarak itu bukan lagi untuk aman, melainkan untuk memastikan bahwa ketika seseorang kelak bertanya: “apa benar tidak ada yang tahu?” jawabannya tidak akan sepenuhnya jujur.

Karena ada orang-orang yang tahu.

Dan ada yang memilih untuk menyimpan tahu itu dengan tenang, sampai waktunya tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!