-Dark Romance
-Bukan untuk anak-anak.
-Adegan kekerasan dan darah.
Sherly gadis berusia 21 tahun, yang mengalami kematian setelah tertabrak mobil. Kini jiwanya justru memasuki sebuah novel, dan masuk ke dalam raga dari sang tokoh utama yang memiliki nama depan sama sepertinya.
Sherly Agda Yeremia, tokoh utama perempuan bodoh dan lemah yang tidak pernah dianggap, bahkan diselingkuhi beberapa kali oleh Vincent suaminya.
Tapi dengan jiwa baru, semua cerita berubah. Sherly yang baru tidak peduli dan mengabaikan Vincent. Bahkan Sherly memilih untuk melindungi, Jeremy Christ Chadwick, tokoh antagonis favoritnya yang akan mati pada akhir cerita.
Di balik wajah tampan penuh pesona, Sherly tidak pernah menduga jika Jeremy memiliki sisi gelap dan obsesi tersembunyi pada tokoh utama.
“Setelah ini, kau tidak akan bisa lari dariku, Sherly sayang~ Kau adalah milikku, tidak peduli jika kau sudah memiliki suami.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Bertemu teman-teman Jeremy
“Wihhh, bos dapat cewek darimana ?? Cantik banget.”
“Hey cantik, jangan takut disini, kami semua baik kok.”
“Kami udah punya pasangan, jadi aman.”
Sherly hanya bisa tersenyum kaku, saat mendapatkan sambutan dari beberapa lelaki yang duduk melingkar membentuk huruf U. Jeremy hanya memutar matanya malas, mendengarkan perkataan beberapa temannya yang justru menggoda, memuji, bahkan bersiul nakal.
Tapi Jeremy tahu, teman-temannya hanyalah menggoda, tidak ada niatan apapun, terlebih jika wanita itu berhubungan dengan Jeremy, maka para lelaki itu tidak akan berani macam-macam.
Sherly hanya menatap sedikit bingung, dan tidak nyaman, tapi disisi lain kagum. Teman-teman Jeremy memiliki paras yang tidak kalah tampan dari Jeremy (tapi bagi Sherly, Jeremy yang jauh lebih tampan).
“Jangan menganggu wanitaku.” Celetuk Jeremy dengan sinis, membuat teman-temannya menampilkan ekspresi yang berbeda, ada yang tertawa geli, ada yang memutar matanya, ada pula yang memberikan tatapan nakal ke arah Sherly hanya untuk memanasi Jeremy.
“Santai bos.. Kita udah punya pacar masing-masing kok.” Ujar Revan sembari mengangkat dua jari membentuk kode peace pada Jeremy.
“Lagian, kita masih sayang sama nyawa.” Ujar teman lainnya bernama Simon dengan nada sinis.
Sementara yang lain, memberikan jarak dua kursi di tengah-tengah mereka, dan memberikan kode agar Jeremy mengajak Sherly untuk duduk di kursi yang sudah mereka persiapkan. Jeremy menggandeng Sherly dan kemudian duduk di tengah-tengah mereka.
Sherly mengamati klub sekitar, benar-benar sangat berantakan ada yang menari di tengah lampu kelap-kelip dengan musik yang sangat keras, ada pula yang duduk hanya untuk berbicara dengan temannya, seperti yang dilakukan Jeremy dan teman-temannya, ada pula yang berc**m*n mesra di tengah-tengah orang mabuk, demi Tuhan.
Ini pertama kalinya, Sherly masuk ke tempat maksiat ini.
“Kau tidak nyaman disini ??” Sherly menoleh mendapati Jeremy yang menoleh dan menatap tepat ke arahnya, lelaki itu seakan bisa merasakan ketidaknyamanan Sherly di ruangan itu.
“Hmm.. Aku belum pernah ke tempat.. Seperti ini.”
Jeremy tersenyum kecil, kemudian menggenggam tangan Sherly, “Jangan khawatir, kita hanya sebentar disini.” Ujar lelaki itu menenangkan wanita cantik itu.
“Uh.. Kau mau pesan minuman ??” Jeremy menawarkan minuman kepada Sherly.
“Hmm.. Dimana pelayannya ??” Sherly menolehkan kepalanya berusaha mencari para pelayan yang akan datang ke meja mereka, untuk memberikan menu minuman. Tapi sayangnya, Sherly lupa jika ini adalah klub dan bukan restoran. Dan pelanggan yang ingin memesan haruslah datang ke meja bartender.
“Tidak ada, biarkan aku saja yang pergi memesankan minuman untukmu. Kau mau apa ?? Milkshake ?? Atau jus buah ??”
“Aku suka keduanya, kau bisa pesankan aku apa saja. Selain minuman beralkohol.” Ujar Sherly tersenyum, Jeremy melepaskan genggaman tangan itu, dan menganggukkan kepalanya pelan.
“Baiklah, tunggu disini ya.. Hey kalian jaga kekasihku, jangan sampai kalian menyentuhnya !” Jeremy merubah ekspresinya saat berbicara kepada teman-temannya, membuat Simon kembali memutar matanya malas.
“Iya... Iya tuan cerewet !! Kami dengar.” Ujar Simon melihat Jeremy bangkit dari kursi sofa itu, dan mulai meninggalkan mereka, tanpa membalas ucapan Simon yang menyindirnya.
Sementara Sherly terdiam sejenak kekasih ?? Apakah Jeremy menyebutnya kekasih, untuk melindungi Sherly, atau apa ??
“Sherly cantik.. Maaf jika ini sedikit privasi, tapi boleh aku bertanya ??” Sherly menoleh mendapati seorang lelaki tampan, yang duduk di sebelah kanannya, dan menatap ke arahnya.
Sherly tersenyum kecil, “Tentu, kau mau tanya tentang apa ??”
“Ehm.. Apakah.. Kau tidak masalah, ke tempat ini dengan lelaki lain ?? Maksudku.. Apakah suamimu tidak marah ??” tanya lelaki itu dengan ragu-ragu, membuat Sherly sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi ya, mereka adalah teman-teman Jeremy. Sudah pasti mereka mengenali siapa itu Sherly.
“Hey, Dav !! Tidak sopan bertanya masalah rumah tangga pada orang lain !!” Ujar lelaki di ujung sofa, memandang tajam ke arah lelaki bernama Dava itu, sementara yang bertanya hanya memutar matanya malas.
“Aku hanya bertanya saja, toh dia masih berstatus istri orang, dan kemudian datang ke klub. Aku hanya khawatir jika ada yang mengenalnya dan memberikan tuduhan palsu.” Ujar Dava, dengan tidak suka kepada lelaki di ujung sofa itu.
“Huft.. Maafkan Dava, Sherly. Dia tidak bermaksud menyindirmu. Dia hanya orang kepo yang kurang kerjaan.” Ujar lelaki itu dengan nada halus, membuat Dava berdecih kesal.
“Sialan kau Raf !! Aku bukan orang kepo !!” Ujar Dava menyanggah.
Percakapan itu membuat Sherly tersenyum geli, awalnya dia pikir para lelaki itu adalah sosok yang menyeramkan, nakal dan m*sum tapi rupanya mereka justru bertingkah seperti anak remaja, bahkan pertikaian tidak penting yang terjadi di antara mereka, seperti persahabatan anak remaja SMA.
“Maafkan teman-temanku, Sherly. Mereka memang sedikit tidak waras, jangan terlalu menanggapi mereka. Atau kau akan tertular kegilaan mereka.” Ujar Simon berbicara kepada Sherly dengan nada berbeda, tidak ada nada sinis atau ketus, justru berbicara dengan lembut, seakan dirinya tidak mau Sherly tertular teman-temannya.
“S**lan kau Simon !!” Ujar Dava dengan kesal, melemparkan kotak tissue ke arah Simon, membuat gelak tawa di antara mereka.
“Hah.. Ya Tuhan, ternyata selama ini aku memungut orang-orang gila, haruskah kau mengembalikan mereka ke Rumah Sakit Jiwa.” Ujar seseorang melihat perdebatan teman-temannya yang tidak penting, membuat mereka menoleh mendapati Jeremy membawa sebuah minuman entah apa berwarna pink, sembari menatap datar ke arah teman-temannya.
“Ya Tuhan, betapa kasarnya atasanku ini.” Ujar Dava dengan nada berdrama, sembari memegang dadanya sendiri.
Sherly tertawa kecil melihat kelucuan para sahabat-sahabat Jeremy.
“Sherly, hiraukan mereka. Jangan sampai kau tertular kegilaan mereka.” Lanjut Jeremy, membuat gelak tawa kembali terdengar dari sana, terlebih Sherly yang tidak tahan melihat sisi humor mereka.
Bahkan beberapa dari mereka bertingkah konyol, ada yang berdrama seperti anak tiri yang disakiti oleh ayahnya, ada pula yang berpura-pura sakit sambil bersandar di sofa, dan memegang dadanya. Sherly tidak tahu betapa dramatisnya teman-teman Jeremy itu.
“Ouch.. Perkataanmu sangat menyakiti hatiku, ayah.” Ujar Dava dengan nada dramatisnya lagi.
“Kau.. Kau benar-benar kejam, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat sejatimu, inikah balasanmu padaku.” Ujar Rafki memegang dadanya, seakan merasakan sakit hati, karena ucapan Jeremy.
Sementara Jeremy dengan satu tangannya memukul keningnya sendiri, merasakan betapa gilanya teman-temannya itu. Bahkan Jeremy sedikit menyesal memiliki teman-teman yang kelewatan b*doh dan alay itu. Tapi entah kenapa, merekalah yang justru tulus pada Jeremy, tanpa embel-embel nama besar, atau karena kekuasaan yang dimiliki lelaki itu.
Sherly juga bisa merasakan ketulusan pertemanan mereka.
Ironis, peran antagonis justru di kelilingi orang-orang yang sangat tulus pada mereka, sementara sang tokoh utama di kelilingi pengkhianat seperti Vincent dan Aluna batin Sherly miris melihat kehidupan sang tokoh utama sebelum dirinya memasuki raga Sherly Agda Yeremia.
🌟🌟🌟
..