NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #13: Investigasi

Lapangan meledak dengan sorak-sorai dan bisik-bisik bingung.

"Apa yang terjadi?"

"Kenapa Murid Wudang itu menjatuhkan pedang?"

"Teknik jari apa itu? Dia melumpuhkan tangan Murid Wudang dengan satu sentuhan?"

Seo Yun-gyeom dan Jang Min-seok berlari masuk ke lapangan, menerobos debu yang belum turun sepenuhnya. Wajah mereka campuran antara marah dan takjub.

Yun-gyeom segera memeriksa tangan seniornya. Dia menekan pergelangan tangan Baek Mu-jin, lalu menatap Geun dengan tatapan menyelidik sekaligus kagum.

"Itu bukan teknik akupuntur biasa," desis Yun-gyeom, suaranya bergetar. "Kau memutus koneksi saraf dan aliran energi secara bersamaan tanpa merusak kulit luar. Presisi seperti tabib ahli bedah, namun dengan eksekusi kasar seperti binatang buas."

Yun-gyeom melangkah maju, mengabaikan etika sopan santun, menatap langsung ke dalam mata Geun yang masih merah karena efek samping Qi buatan.

"Katakan dengan jujur," tanya Yun-gyeom, suaranya rendah tapi penuh tekanan. "Siapa gurumu? Tidak mungkin seorang pemuda tanpa sekte paham struktur meridian sedalam ini. Sekte mana yang melatih pembunuh sepertimu?"

Geun, yang sedang sibuk memasang kembali tempurung lututnya, Krek, menatap mereka dengan wajah lelah.

"Guru?" batin Geun. "Guruku adalah kelaparan, kedinginan, dan keinginan untuk tidak mati konyol saat berebut sisa makanan anjing. Ah, tambahkan juga para wanita di rumah bordil, soalnya mereka mengajarkanku salah-satu kenikmatan dunia."

Tapi tentu saja, dia tidak bisa mengatakan itu di depan ratusan orang. Itu akan merusak "citra" misterius yang baru saja dia bangun, dan menurutnya itu berpotensi membatalkan bayaran 20 tael-nya.

Jadi, Geun berdiri, menepuk debu di celana sutranya yang kini kotor, dan memberikan jawaban yang akan membuat seluruh dunia persilatan makin salah paham.

"Guruku..." Geun menunjuk ke langit abu-abu, lalu menunjuk ke dadanya sendiri yang kurus.

"...adalah rasa takut mati."

Bagi Geun, itu adalah omong kosong yang keluar dari pantatnya.

Namun bagi Murid Sekte Wudang yang terpelajar, kalimat itu terdengar seperti gema filosofi Tao tingkat tinggi.

"Ketiadaan melahirkan Keberadaan. Ketakutan melahirkan Keberanian. Ambang kematian adalah guru tertinggi." itulah yang terlintas di kepala ketiga murid Sekte Wudang.

Baek Mu-jin, yang baru saja memulihkan rasa di tangannya, tertegun sejenak. Matanya memandang Geun bukan lagi sebagai sesama praktisi junior di dunia bela diri, tapi sebagai sebuah anomali yang berjalan di jalan Tao yang berbeda.

"Rasa takut mati... Insting murni?" gumam Mu-jin. "Apakah dia mencapai pencerahan lewat jalur bertahan hidup yang ekstrem?"

Kesalahpahaman itu, kini telah tertanam kuat di jantung murid-murid sekte ortodoks terbesar.

"Saudara Geun," kata Mu-jin, kali ini nadanya jauh lebih hormat. Dia mengambil kantong berisi dua puluh tael perak lebih dari saku jubahnya dan menyerahkannya. "Sesuai janji, dan... terima kasih atas pelajarannya."

Geun menyambar kantong itu secepat kilat.

"Bagus. Lunas. Kalau begitu aku pergi ma—"

"Tunggu," potong Mu-jin halus tapi tegas. "Urusan latih tanding sudah selesai. Tapi ada satu urusan lagi yang harus kita bicarakan. Bukan sebagai sesama praktisi, tapi sebagai saksi."

Geun membeku. Firasat buruknya yang sebelumnya sudah padam kembali menyala.

"Apa lagi? Aku lapar."

"Bukan di sini," kata Seo Yun-gyeom sambil melirik kerumunan yang semakin ramai. "Ikut kami ke tempat yang lebih tenang. Ada teh hangat. Dan kami yang bayar."

Geun menimbang kantong peraknya. Gratis lagi?

"Baiklah. Tapi awas kalau tehnya murah. Aku alergi teh murah." balas Geun, seorang gembel yang belum pernah minum teh dengan harga melebihi 1 koin tembaga.

......................

Tiga puluh menit kemudian, di ruang privat lantai dua Kedai Teh Paviliun Blue Lotus.

Suasana di ruangan itu hening. Aroma teh melati menguar dari cangkir porselen, tapi Geun merasa seolah sedang duduk di kursi pengadilan.

Tiga murid Wudang duduk di hadapannya dengan postur tegak sempurna.

"Izinkan kami memperkenalkan diri secara resmi," buka Baek Mu-jin. Dia mengeluarkan sebuah lencana giok kecil dari balik jubahnya.

Di lencana itu terukir simbol mata, yin-yang, dan pedang.

"Kami bukan sekadar murid yang sedang jalan-jalan," kata Mu-jin serius. "Kami adalah anggota muda dari Paviliun Investigasi Murim, divisi penyelidikan Sekte Wudang."

Geun tersedak kue keringnya.

"Kami sedang menyelidiki kasus hilangnya mayat di sepanjang jalur perdagangan Provinsi Henan hingga Cheonghae ," lanjut Mu-jin. "Dan jejaknya mengarah ke satu nama, Grup Dagang Silvercrane."

Jantung Geun berdegup kencang. Bayangan tangan pucat di dalam Gerobak Hitam dan suara kunyahan tulang kembali menghantui pikirannya.

"Kami tahu Saudara Geun ada di karavan itu saat melintasi White Burial Valley," sela Seo Yun-gyeom tajam. Matanya menatap Geun seolah ingin menguliti kebohongannya. "Ceritakan apa yang terjadi. Semuanya. Jangan ada yang ditutupi."

Geun meletakkan cangkir tehnya perlahan.

Dia harus berhati-hati.

Jika dia bilang dia melihat Jiangshi, dia akan terlibat masalah besar. Wudang akan menjadikannya saksi kunci, menyeretnya ke sana kemari, dan Si Botak dan Grup Dagang Silvercrane pasti akan mengirim pembunuh.

Jika dia bohong total, orang-orang pintar ini akan tahu.

Jadi Geun milih mencampurkan fakta dan kebohongan secara selektif.

"Memang ada serangan," jawab Geun dengan wajah datar, berpura-pura tenang. "Bandit Gang-dol menyerang saat badai. Mereka banyak. Pengawal Silvercrane... aneh. Mereka tidak melindungi kami. Mereka cuma melindungi satu gerobak di tengah."

"Gerobak apa?" tanya Jang Min-seok cepat.

"Gerobak hitam. Tertutup rapat," jawab Geun. "Aku tidak tahu isinya. Aku sibuk menyelamatkan nyawaku sendiri dari kapak bandit gila."

"Lalu mayat-mayatnya?" desak Yun-gyeom. "Laporan kami menyebutkan tidak ada satu pun mayat bandit atau pengawal yang ditemukan di lembah itu setelah badai reda. Ratusan orang mati, tapi lembah itu bersih. Ke mana perginya mayat-mayat itu?"

Geun mengangkat bahu.

"Mana kutahu? Mungkin dimakan serigala? Atau mungkin tertimbun salju? Aku tidak tinggal di sana untuk menghitung mayat. Begitu bandit itu mati, aku pingsan, bangun-bangun sudah mau sampai kota."

Itu bohong besar. Geun melihat sendiri mayat-mayat itu dilempar ke dalam gerobak untuk dimakan monster.

Tapi akting Geun yang ditempa oleh tahun-tahun hidup di jalanan terlihat sangat sempurna. Wajahnya memancarkan ketidaktahuan yang murni dan sedikit ketakutan trauma.

Baek Mu-jin menatap mata Geun dalam-dalam. Dia mencoba mencari kebohongan, tapi yang dia lihat hanyalah mata merah lelah seorang pemuda yang baru saja lolos dari neraka.

"Jiangshi," gumam Mu-jin pelan, sengaja memancing reaksi.

Geun mengerutkan kening. "Jiang-apa? Jianghu? Tempat berkumpulnya kelompok unorthodox itu?"

Mu-jin menghela napas. Dia tampaknya percaya, atau setidaknya ragu untuk menuduh Geun.

"Bukan Jianghu, tapi Jiangshi, Mayat hidup. Makhluk terlarang yang dibangkitkan oleh ilmu hitam. Kami menduga Silvercrane terlibat dalam penyelundupan atau pembuatan makhluk ini."

Geun tertawa hambar. "Mayat hidup? Tuan Pendekar, kau kebanyakan baca mitos. Mayat ya mayat. Diam dan bau."

"Kami harap begitu," kata Mu-jin dingin. "Tapi faktanya, karavan lain juga menghilang di rute yang sama. Dan kau... Saudara Geun, kau adalah satu-satunya orang luar yang selamat dan melihat gerobak hitam itu dari dekat."

Suasana ruangan mendingin drastis.

"Maksudmu apa?" tanya Geun waspada.

"Maksudku," kata Mu-jin, mencondongkan tubuhnya ke depan, "Posisi Anda berbahaya. Jika Silvercrane benar-benar membawa sesuatu yang tidak boleh dilihat, maka membiarkan saksi mata hidup bebas di kota adalah kelalaian yang tidak akan mereka toleransi lama-lama."

Geun terdiam.

Dia tahu itu benar. Si Botak membiarkannya pergi hanya karena takut. Tapi ketakutan itu akan pudar digantikan oleh perintah atasan.

"Kalian mengancamku?" tanya Geun.

"Kami memperingatkanmu," koreksi Mu-jin. "Kami menawarkan perlindungan. Bekerjasamalah dengan kami. Bantu kami membongkar isi gerobak itu, dan Wudang akan menjamin keselamatanmu."

Geun mendengus dalam hati, "Kerja sama? Artinya aku jadi umpan lagi? Tidak, terima kasih."

Dia punya uang. Dia bisa lari ke provinsi lain. Dia bisa sembunyi di lubang tikus di mana Wudang maupun Silvercrane tidak bisa menemukannya.

Geun berdiri, menyambar linggisnya.

"Terima kasih tehnya. Tapi aku lebih suka menjaga nyawaku sendiri dengan caraku sendiri. Aku tidak tahu apa-apa soal mayat hidup. Jangan cari aku lagi."

Geun berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Geun," panggil Mu-jin saat tangan Geun menyentuh gagang pintu.

Geun berhenti tapi tidak menoleh.

"Jika Jiangshi itu benar-benar ada..." suara Mu-jin terdengar berat dan suram,

"...maka mereka butuh darah segar untuk tetap tenang. Jika mereka kehabisan stok makanan... menurutmu siapa yang akan mereka cari selanjutnya?"

Geun tidak menjawab. Dia membuka pintu dan melangkah keluar.

Tapi kata-kata itu menempel di otaknya seperti lintah.

Saksi mata.

Darah segar.

Geun meraba kantong uang di dadanya.

Total uang hampir 30 tael perak yang dimilikinya tiba-tiba terasa tidak ada harganya jika dia harus mati dimakan mayat.

"Sialan," umpat Geun pelan saat menuruni tangga kedai teh. "Kenapa orang-orang ini tidak bisa membiarkanku hidup tenang?"

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!