NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Selingkuh
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Malam Yang Kelam

Malam itu, di sebuah kamar hotel di Eropa, Kai berdiri di dekat jendela. Kota asing berkilau di bawah, tapi pikirannya jauh pulang. Ponselnya bergetar. Nama Ayah muncul di layar.

Kai menghela napas, lalu menjawab.

“Ya, Yah.”

Suara ayahnya terdengar tenang, tapi ada bobot di sana. “Kamu di mana sekarang?”

“Di hotel. Baru selesai rapat dengan orang-orang Viktor,” jawab Kai singkat.

Ada jeda beberapa detik. Lalu ayahnya berkata, “Kita bicara serius, Kai. Duduklah.”

Kai menurut. Ia duduk di tepi ranjang, menegakkan punggung. “Aku dengar, Yah.”

“Aku dapat laporan dari Ren,” kata ayahnya. “Rumah aman. Semua sesuai rencana. Tapi ini bukan soal rumah.”

Kai mengernyit. “Lalu?”

“Ini soal kamu,” lanjut ayahnya pelan. “Dan soal bagaimana kamu mengelola perang ini.”

Kai menarik napas dalam. “Aku tidak main-main, Yah. Viktor sudah melangkah terlalu jauh. Dia bukan cuma ancam bisnis. Dia nyentuh keluarga.”

“Itu yang membuatmu berbahaya,” potong ayahnya, suaranya tetap rendah tapi tegas. “Kamu paling berbahaya ketika emosi memimpin.”

Kai terdiam sesaat. “Aku tahu. Tapi kali ini berbeda.”

“Aku tahu juga,” jawab ayahnya. “Justru karena itu aku menelepon. Kamu bukan sendirian di sini. Ada Gala, ada tim kita, ada orang-orangku juga. Tapi keputusan akhir tetap di tanganmu. Aku perlu memastikan kamu tidak melupakan satu hal.”

Kai mengepalkan tangan. “Apa?”

“Tujuanmu bukan balas dendam. Tujuanmu memastikan mereka tidak pernah bisa menyentuh keluargamu lagi.”

Kata keluarga membuat dada Kai menghangat sekaligus nyeri. “Yuki dan Ai aman?”

“Aman,” jawab ayahnya tanpa ragu. “Di bawah, sistem berjalan. Niko berjaga. Ren tidak lengah.”

Kai menutup mata sebentar. “Bagus.”

“Jangan cuma ‘bagus’,” lanjut ayahnya. “Kamu harus pulang. Tapi pulang dengan keadaan bersih. Tanpa ekor. Tanpa lubang yang bisa mereka pakai untuk menyerang lagi.”

Kai mengangguk, meski tahu ayahnya tak bisa melihat. “Aku sedang rapikan itu. Viktor kehilangan dua jalur suplai hari ini. Besok, kami tekan sisi keuangannya.”

“Dan korban?” tanya ayahnya.

Kai terdiam sepersekian detik lebih lama. “Tidak ada dari pihak kita. Dari mereka… beberapa luka. Tidak fatal.”

“Pertahankan begitu,” kata ayahnya. “Kamu bukan algojo. Kamu pemimpin.”

Kai tersenyum tipis, pahit. “Dunia ini tidak selalu memberi ruang untuk jadi lembut, Yah.”

“Aku tidak minta kamu lembut,” jawab ayahnya. “Aku minta kamu tepat.”

Hening sejenak. Lalu ayahnya bertanya, lebih pelan, “Kamu tidur cukup?”

Kai menghela napas kecil. “Tidak terlalu.”

“Karena Ai?” tebak ayahnya.

Kai terkejut. “Ren cerita?”

“Tidak perlu,” kata ayahnya. “Aku ayahmu. Aku tahu wajahmu ketika kamu memikirkan seseorang.”

Kai tersenyum tipis lagi. “Dia sering mengigau memanggilku, Yah.”

Suara di seberang terdengar sedikit melembut. “Anak itu butuh kamu. Istrimu juga.”

“Aku tahu,” jawab Kai cepat. “Itu sebabnya aku mau ini selesai secepat mungkin.”

“Cepat boleh,” kata ayahnya, “ceroboh tidak.”

Kai mengangguk lagi. “Aku tidak akan ceroboh.”

“Kamu bilang begitu setiap kali,” ujar ayahnya, setengah menghela napas. “Dengar, Kai. Aku sudah kirim orang-orangku untuk bantu menutup sisi Eropa Timur. Kamu fokus ke Viktor. Jangan kejar bayangannya. Potong akarnya.”

“Aku sudah pegang beberapa nama,” kata Kai. “Besok aku interogasi.”

“Interogasi,” ulang ayahnya. “Bukan eksekusi.”

Kai tersenyum kecil. “Aku dengar.”

Ayahnya diam sebentar, lalu berkata, “Kalau kamu merasa terlalu marah untuk berpikir jernih, berhenti. Telepon aku. Jangan ambil keputusan besar sendirian.”

“Kapan terakhir kali aku begitu?” tanya Kai, setengah bercanda.

“Sekarang,” jawab ayahnya tanpa ragu.

Kai terdiam. Lalu ia menghela napas panjang. “Mungkin kamu benar.”

“Aku sering benar,” kata ayahnya, kali ini dengan nada ringan yang jarang. “Itu risiko punya ayah sepertiku.”

Kai tertawa kecil, singkat. “Aku akan hati-hati.”

“Bagus,” jawab ayahnya. “Satu lagi. Jangan sembunyikan apa pun dariku soal perkembangan ini.”

“Aku tidak akan.”

“Dan Kai,” tambah ayahnya, suaranya kembali serius, “pulanglah sebagai suami dan ayah. Bukan sebagai orang yang hanya membawa kemenangan.”

Kata-kata itu menancap. “Aku janji, Yah.”

“Baik,” kata ayahnya. “Jaga dirimu. Kami menunggu di sini.”

Kai menatap layar ponselnya. “Titip Yuki dan Ai.”

“Selalu,” jawab ayahnya tegas. “Mereka keluarga kita.”

Telepon berakhir. Kai tetap duduk beberapa saat, menatap jendela. Lalu ia mengambil ponselnya lagi, membuka foto Yuki dan Ai, dan berbisik pelan, seolah mereka bisa mendengar:

“Papa pulang. Tapi Papa akan pastikan jalan pulangnya aman.”

***

Malam di Eropa semakin larut. Cahaya kota berpendar seperti lautan bintang buatan manusia. Kai masih duduk di kursinya, ponsel di tangan, foto Yuki dan Ai terpampang di layar. Senyum kecil Ai yang mengangkat tangan mungilnya ke arah kamera membuat dada Kai terasa hangat sekaligus berat.

Ia mengusap wajahnya pelan.

“Sebentar lagi…” gumamnya lirih.

Ketukan pintu terdengar.

Tok.

“Masuk,” ucap Kai tanpa menoleh.

Pintu terbuka. Gala masuk dengan langkah cepat namun tetap hormat. Jas hitamnya sedikit basah oleh hujan malam.

“Tuan,” katanya singkat. “Tim pengintai kembali.”

Kai langsung berdiri. Tatapannya berubah hangatnya seorang ayah lenyap, digantikan ketenangan dingin seorang pemimpin mafia.

“Lapor.”

Gala menyerahkan tablet. “Pergerakan Viktor mulai panik. Dua gudang mereka kosong. Orang kepercayaannya menghilang.”

Kai membaca cepat.

“Dia sedang mencari jalan keluar,” ucap Kai.

“Atau mencari cara menyerang balik,” tambah Gala.

Kai mengangguk pelan.

“Dia pasti mencoba menyentuh titik paling lemah,” katanya.

Gala menatapnya. “Keluarga.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Kai menutup tablet perlahan.

“Dia tidak akan menemukan mereka,” kata Kai tenang.

“Tentu tidak,” jawab Gala. “Sistem rumah sudah seperti benteng tak terlihat.”

Kai berjalan ke meja kerja.

“Tapi Viktor tidak bodoh,” lanjutnya. “Kalau dia gagal menemukan rumahku… dia akan mencari pengkhianat.”

Gala mengangguk setuju. “Kami sudah mulai menyaring semua jalur komunikasi.”

Kai berhenti melangkah.

Matanya tajam.

“Mulai malam ini,” katanya rendah, “tidak ada informasi keluar tanpa verifikasi tiga lapis.”

“Baik, Tuan.”

Kai menatap peta digital di layar besar.

Beberapa titik merah berkedip.

Itu wilayah Viktor.

Kai menunjuk satu lokasi.

“Besok pagi kita serang jaringan finansialnya.”

Gala sedikit terkejut. “Langsung?”

“Dia sudah terlalu nyaman,” jawab Kai. “Sekarang giliran dia merasa diburu.”

Gala tersenyum tipis. Ia tahu ekspresi itu Kai sedang masuk ke mode perang sepenuhnya.

“Siapkan tim Alpha dan Delta,” lanjut Kai. “Tanpa suara. Tanpa korban sipil.”

“Dipahami.”

Gala hendak pergi, tapi Kai memanggilnya lagi.

“Gala.”

“Ya, Tuan?”

Kai terdiam sesaat.

“Kalau sesuatu terjadi padaku…”

Gala langsung menggeleng keras. “Tidak akan.”

Kai tersenyum tipis. “Dengarkan dulu.”

Gala akhirnya diam.

Kai melanjutkan, suara rendah namun tegas.

“Kamu pastikan Yuki, Ai, ibu, dan ayah keluar dari ruang bawah tanah dengan aman. Ikuti semua instruksi Ren.”

Tatapan Gala melembut sedikit.

“Tuan… Anda akan kembali sendiri.”

Kai tidak menjawab langsung.

Ia hanya berkata pelan, “Aku harus memastikan kemungkinan terburuk tetap punya rencana.”

Gala menunduk hormat.

“Aku bersumpah,” katanya serius, “tidak ada yang akan menyentuh keluarga Anda selama kami hidup.”

Kai mengangguk puas.

“Bagus.”

Gala keluar meninggalkan ruangan.

Kini hanya ada Kai dan kesunyian.

Ia kembali mengambil ponsel.

Tanpa sadar, ia membuka rekaman video kiriman Ren beberapa jam lalu.

Di layar.

Ai berjalan tertatih.

Tawa kecilnya memenuhi video.

Suara Yuki terdengar lembut di belakang.

“Ai… pelan sayang… Papa nanti bangga lihat kamu.”

Langkah kecil bayi itu hampir jatuh, lalu tertawa sendiri.

Kai tersenyum lebar tanpa sadar.

Matanya sedikit berkaca.

“Aku benar-benar kangen kalian…” bisiknya.

Ia menekan tombol panggil.

Beberapa detik kemudian, layar menyala.

Wajah Yuki muncul.

Rambutnya sedikit berantakan, mengenakan sweater sederhana, tapi matanya langsung berbinar.

“Kai…”

Suara itu lembut. Hangat. Rumah.

Kai tersenyum.

“Kamu belum tidur?”

Yuki menggeleng pelan. “Ai baru tertidur. Dia tadi cari kamu.”

Hati Kai mencelos.

“Dia baik-baik saja?”

Yuki mengangguk. “Dia belajar jalan lagi hari ini. Papa Niko jadi korban ditarik-tarik.”

Kai tertawa kecil.

“Aku bisa bayangkan wajah Niko.”

Yuki ikut tersenyum.

Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik.

“Kami menunggu kamu pulang.”

Kai terdiam.

Tatapannya melembut sepenuhnya.

“Aku juga ingin pulang.”

Yuki menatapnya lama.

“Kai… kamu hati-hati ya.”

Nada suaranya membuat Kai sadar—Yuki tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

“Aku selalu hati-hati,” jawabnya.

Yuki menggeleng pelan.

“Bukan itu maksudku… jangan terlalu memaksakan diri.”

Kai tersenyum tipis.

“Aku punya alasan untuk kembali sekarang.”

Yuki tersipu sedikit.

“Karena Ai?”

Kai menggeleng.

“Karena kalian.”

Yuki terdiam. Pipinya sedikit memerah.

Hening hangat menyelimuti mereka beberapa detik.

Lalu terdengar suara kecil dari belakang.

“Pa… pa…”

Yuki langsung menoleh.

Ai berdiri di ranjang kecil, mata setengah mengantuk.

Yuki tertawa pelan. “Dia bangun lagi.”

Yuki mengangkat Ai dan mendekatkan ke kamera.

Mata kecil Ai langsung berbinar.

“Papa!”

Satu kata sederhana.

Tapi bagi Kai… itu dunia.

Dada pria itu terasa sesak.

“Halo, putri kecil Papa…”

Ai menepuk layar ponsel.

Tertawa.

Seolah jarak ribuan kilometer tidak ada.

Kai menahan napas, berusaha menyimpan momen itu dalam ingatan.

“Ai tunggu Papa ya,” katanya lembut.

Bayi itu hanya tertawa lagi.

Yuki memandang Kai dengan tatapan penuh rasa.

“Kami aman di sini,” katanya pelan. “Jadi kamu selesaikan urusanmu tanpa khawatir.”

Kai mengangguk.

Namun dalam hatinya, satu keputusan mulai terbentuk.

Perang ini… harus segera diakhiri.

Bukan demi kekuasaan.

Bukan demi nama.

Tapi demi rumah yang menunggunya.

Setelah panggilan berakhir, Kai berdiri.

Tatapannya berubah lagi.

Dingin.

Tegas.

Mematikan.

Ia mengambil jasnya.

Besok bukan sekadar serangan bisnis.

Besok… awal runtuhnya Viktor.

Dan kali ini.

Kai tidak akan berhenti sampai ancaman terhadap keluarganya benar-benar lenyap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!