Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ba 26 Niko Yang Luluh Karna Ai
Setiap momen kecil di ruang bawah tanah itu selalu diabadikan oleh para asisten. Tawa Ai, langkah pertamanya, cara ia memegang sendok dengan wajah penuh keseriusan, bahkan saat ia tertidur dengan posisi aneh semuanya tersimpan rapi dalam arsip digital yang dijaga dengan ketat. Bagi mereka, itu bukan sekadar dokumentasi. Itu adalah cara menjaga kenangan, sekaligus pengingat bahwa di tengah dunia yang keras, masih ada hal-hal yang layak dilindungi.
Niko termasuk salah satu yang paling disiplin soal itu.
Ia jarang tersenyum, jarang ikut berkumpul saat semua orang heboh menonton Ai mencoba berjalan. Tangannya lebih sering sibuk di depan layar, memeriksa kamera tersembunyi, memastikan sistem berjalan sempurna. Jika ada yang menyuruhnya mengambil gambar atau video, ia akan melakukannya cepat, rapi, tanpa banyak komentar. Setelah itu, ia kembali ke posisinya, seolah dunia di luar monitor tidak terlalu menarik baginya.
Padahal semua orang tahu satu hal: Niko tidak terlalu menyukai anak kecil.
Tidak ada yang pernah mendengarnya bercerita panjang lebar tentang alasannya. Yang mereka tahu hanya satu ada sesuatu di masa lalunya yang membuatnya menjaga jarak. Sesuatu yang membuat setiap tangisan bayi terdengar seperti gema dari kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam.
Suatu sore, Yuki memperhatikan Niko dari kejauhan. Ai baru saja tertawa karena berhasil berdiri lagi tanpa jatuh. Semua orang bertepuk tangan kecil, bersorak pelan. Niko ikut merekam, tapi wajahnya tetap datar. Ketika Ai tiba-tiba menoleh dan tersenyum ke arah kamera, Niko refleks menurunkan ponselnya sejenak, seperti tersentak.
Yuki mendekat dengan langkah pelan. “Terima kasih… sudah selalu merekam semuanya,” katanya lembut.
Niko mengangguk singkat. “Itu tugas saya.”
Nada suaranya dingin, tapi tidak kasar.
Yuki ragu sejenak, lalu berkata, “Kalau… kalau Ai berisik atau mengganggu… maafkan ya.”
Niko terdiam beberapa detik. Pandangannya kembali ke layar monitor yang menampilkan wajah Ai. “Dia… tidak mengganggu,” ucapnya akhirnya, pelan. “Hanya… saya tidak terbiasa.”
Itu saja. Tidak ada penjelasan panjang.
Namun malam itu, saat semua sudah kembali ke kamar masing-masing, Niko tetap duduk di ruang kontrol. Ia membuka satu folder kecil, berisi rekaman hari ini. Tangannya berhenti di satu klip: Ai tertawa saat jatuh lalu bangkit lagi. Ia menatap layar lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang bergerak di dadanya bukan senyum, bukan juga kesedihan yang jelas. Hanya rasa asing yang membuat napasnya sedikit lebih berat.
“Teruslah tertawa,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Jangan… pernah kenal dunia seperti yang pernah aku kenal.”
Ia menutup folder itu, kembali pada pekerjaannya. Tetap dingin. Tetap tenang. Tapi sejak hari itu, jika ada yang memperhatikan dengan saksama, mereka akan melihat satu perubahan kecil: Niko selalu memastikan kamera yang mengarah ke Ai punya sudut terbaik dan rekamannya tak pernah terlewat sedetik pun.
Suatu sore yang tenang di ruang bawah tanah itu, ketika sebagian asisten sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan Yuki sedang merapikan barang-barang Ai, kejadian kecil yang tak terduga pun terjadi.
Ai, dengan langkah kecilnya yang masih sedikit goyah, tiba-tiba berjalan menjauh dari Yuki. Matanya tertuju pada satu sosok yang duduk di depan layar monitor Niko.
Yuki sempat menoleh. “Ai… ke sini, Nak…”
Namun Ai justru semakin mantap melangkah. Tangannya yang kecil terangkat, seperti sedang menunjuk sesuatu yang ia inginkan. Beberapa langkah kemudian, ia berhenti tepat di depan kursi Niko.
Niko yang awalnya fokus pada layar, baru menyadari kehadiran itu ketika ada tangan mungil yang menyentuh ujung celananya.
Ia menoleh.
Ai menatapnya dengan mata bulat yang berbinar, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas—gerakan sederhana yang jelas artinya: minta digendong.
Niko terdiam.
Beberapa asisten lain yang melihat itu ikut menahan napas, seolah tidak percaya. Mereka tahu betul Niko bukan tipe orang yang suka anak kecil. Biasanya ia akan mundur satu langkah atau mengalihkan perhatian. Tapi kali ini… ia tidak bergerak menjauh.
Entah kenapa, hatinya tidak menolak.
Dengan gerakan canggung, Niko mematikan layar di depannya sebentar, lalu menunduk dan mengangkat tubuh kecil itu. Ai langsung tertawa kecil saat berada di pelukannya, seolah merasa menemukan tempat yang nyaman.
Niko menatap wajah itu sejenak, lalu berdehem kecil. “Jangan pasang wajah sok imutmu, wahai bayi,” katanya datar, berusaha terdengar cuek.
Ai tentu tidak mengerti. Yang ia lakukan hanyalah tertawa lebih keras, lalu menepuk-nepuk dada Niko dengan tangan kecilnya.
Beberapa detik kemudian, Ai bergeser, lalu duduk manis di pangkuan Niko, menyandarkan tubuhnya dengan santai, seperti itu adalah hal paling wajar di dunia.
Niko membeku sejenak.
Tangannya kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ketika Ai menyender dengan nyaman, sesuatu di dadanya terasa… hangat. Aneh. Asing. Tapi tidak buruk.
Ia menghela napas pelan. “Kau ini… merepotkan,” gumamnya, namun kali ini tidak ada dingin di suaranya.
Ai menjawabnya dengan tawa kecil yang jernih.
Yuki yang melihat dari kejauhan menutup mulutnya, tersenyum terharu. Para asisten lain saling pandang, beberapa bahkan tersenyum kecil karena mereka tahu, untuk pertama kalinya, tembok dingin di sekitar Niko sedikit demi sedikit mulai retak… oleh seorang bayi dengan senyum paling sederhana di dunia.
Sejak hari itu, kebiasaan kecil yang tak pernah direncanakan pun mulai terbentuk.
Setiap malam, entah bagaimana caranya, Ai selalu mencari Niko.
Kadang ia merangkak pelan dari sisi Yuki, kadang ia berjalan tertatih dengan langkah kecilnya yang masih belum stabil, lalu berhenti di depan kursi tempat Niko biasa bekerja. Dan seperti sudah menjadi ritual, Ai akan mengangkat kedua tangannya, menatap Niko dengan mata berbinar, meminta dipeluk.
Awalnya Niko hanya menghela napas, berpura-pura kesal. Tapi tetap saja, tangannya selalu terulur, mengangkat tubuh kecil itu dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari yang ia kira mampu ia lakukan. Ai akan menyender di dadanya, menguap kecil, lalu tanpa butuh waktu lama tertidur pulas di pelukannya.
Begitu setiap hari.
Para asisten mulai terbiasa melihat pemandangan itu: Niko duduk di depan layar, satu tangan tetap di keyboard atau mouse, sementara tangan satunya menopang tubuh Ai yang tertidur. Wajahnya tetap datar, tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada ketenangan aneh di sana.
Yuki pernah berkata pelan, “Maaf ya, Ai jadi merepotkan…”
Niko hanya menjawab singkat, “Dia tidak merepotkan. Dia… cuma berat sedikit.”
Padahal semua orang tahu, itu bohong kecil yang terdengar sangat jujur.
Sedikit demi sedikit, Yuki juga mulai memahami kenapa Ai merasa begitu nyaman berada di dekat Niko.
Niko adalah sepupu Kai.
Ia yatim piatu sejak kecil. Orang tuanya meninggal dalam sebuah peperangan antar mafia, saat Niko masih balita dan bahkan belum bisa mengingat wajah mereka dengan jelas. Setelah itu, Ayah dan Ibu Kai yang membesarkannya, memperlakukannya seperti anak sendiri. Ia tumbuh bersama Kai seumuran, hanya berbeda jam lahir. Niko lahir malam hari, Kai lahir pagi hari.
Mereka sering disebut seperti kakak-adik.
Wajah mereka pun memang sedikit mirip. Garis rahang yang tegas, tatapan mata yang sama-sama tenang, dan cara diam mereka yang serupa. Hanya saja, jika Kai adalah sosok yang tegas dan berwibawa, Niko lebih tertutup, lebih dingin, lebih banyak memendam.
Mungkin karena terlalu cepat mengenal kehilangan.
Mungkin karena terlalu dini melihat dunia yang kejam.
Dan mungkin… itulah sebabnya Ai merasa aman.
Ada sesuatu dalam diri Niko yang tenang, stabil, dan diam-diam melindungi sesuatu yang tidak perlu banyak kata. Sesuatu yang membuat bayi kecil itu, tanpa mengerti apa pun tentang masa lalu, memilihnya sebagai tempat bersandar.
Suatu malam, saat Ai sudah tertidur di pelukannya, Niko menatap wajah kecil itu lebih lama dari biasanya. Nafasnya pelan, bulu matanya bergetar sedikit setiap kali ia bermimpi.
Niko berbisik sangat pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini… dan itu bagus.”
Tangannya menyesuaikan posisi Ai agar lebih nyaman.
“Jangan cepat-cepat tumbuh,” gumamnya. “Kalau bisa… tetaplah seperti ini lebih lama.”
Di luar, dunia masih penuh bahaya. Masa lalu Niko masih penuh bayangan. Tapi setiap kali Ai tertidur di pelukannya, ada satu hal yang ia sadari tanpa ia sadari kapan tepatnya itu terjadi.
Ruang kosong di hatinya… perlahan tidak lagi terasa sepenuhnya kosong.