Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Pengkhianat di Balik Gerbang
Pedang terbang itu melesat membelah awan, meninggalkan jejak di belakangnya.
Li Wei berdiri di depan, wajahnya kaku menahan angin yang menampar. Xiao Lan di belakangnya terus menyalurkan Qi ke pedang itu, wajahnya pucat karena kelelahan, tetapi dia tidak berani berhenti.
"Kita hampir sampai," kata Xiao Lan parau.
Di kejauhan, Pegunungan Langit Biru mulai terlihat. Namun, pemandangan itu membuat hati mereka mencelos.
Langit di atas sekte tidak lagi biru. Kubah energi raksasa Formasi Besar Pelindung Sekte berwarna biru transparan sedang dikepung oleh lautan awan merah.
Ribuan Iblis Darah bersayap, kelelawar raksasa, dan kultivator Sekte Darah yang menunggangi burung bangkai sedang membombardir kubah itu. Ledakan warna-warni meletup di permukaan kubah seperti kembang api kematian.
BOOM! BOOM!
"Mereka bertahan," gumam Li Wei, melihat kubah itu masih utuh meski bergetar hebat. "Formasi ini dibangun oleh Pendiri Sekte. Bahkan Kultivator Nascent Soul pun butuh waktu berhari-hari untuk menembusnya dari luar."
Namun, saat Li Wei mengaktifkan Visi Gioknya untuk menganalisis situasi, matanya menyipit tajam.
Di mata Giok nya, aliran Qi formasi itu terlihat seperti jaring laba-laba raksasa yang rumit. Semuanya mengalir lancar dari Puncak Utama ke enam puncak lainnya.
Kecuali satu.
Di Puncak Pedang Api, aliran Qi nya terputus-putus. Ada warna hitam yang merembes di sana, seperti racun yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
"Puncak Api..." desis Li Wei. "Energi pelindung di sektor barat melemah drastis. Seseorang sedang menyabotase Mata Formasi dari dalam!"
"Puncak Api? Itu wilayah Klan Wang!" seru Xiao Lan.
"Xiao Lan, turunkan aku di Puncak Api. Lalu kau segera ke Puncak Pengobatan, peringatkan Tetuamu."
"Tapi Li Wei, itu sarang musuhmu!"
"Lakukan!"
Pedang terbang itu menukik tajam, menembus lapisan awan, menghindari serangan nyasar dari Iblis Darah di luar, dan menyelinap masuk melalui celah formasi di sektor selatan yang masih aman.
Begitu masuk, Li Wei melompat turun.
"Hati-hati!" teriak Xiao Lan sebelum memacu pedangnya ke arah Puncak Pengobatan.
Li Wei jatuh bebas menuju area terlarang di belakang Puncak Pedang Api.
Tempat itu adalah Altar Api Barat, salah satu dari tujuh pilar penyangga formasi utama. Biasanya dijaga ketat oleh murid penegak hukum.
Tapi sekarang, mayat murid penegak hukum berserakan di tanah. Leher mereka digorok, bukan oleh senjata Sekte Darah, tapi oleh pedang api—teknik khas sekte sendiri.
Di depan pilar kristal raksasa yang memancarkan cahaya biru redup, sekelompok orang berjubah merah-emas sedang sibuk.
Mereka bukan Sekte Darah. Mereka mengenakan seragam elit Klan Wang.
"Cepat!" perintah seorang pria paruh baya yang memimpin mereka. Itu adalah Diaken Wang, paman dari Wang Jian. "Tuangkan Darah Korosi ini! Tetua Wang Lie sudah memberi sinyal. Kita harus membuka celah ini sebelum bala bantuan Puncak Utama datang!"
Mereka menuangkan cairan hitam pekat ke dasar pilar kristal.
Sssss...
Pilar suci itu mulai retak. Cahaya birunya meredup, berganti menjadi abu-abu mati. Di langit di atas mereka, kubah pelindung di sektor barat mulai berkedip-kedip, menampakkan celah besar.
Di luar celah itu, ratusan Iblis Darah sudah menunggu, siap membanjiri sekte.
"Pengkhianat," suara dingin terdengar dari balik bayangan pohon.
Diaken Wang berbalik kaget. "Siapa?!"
BOOM!
Sebuah batang besi hitam melayang berputar dari kegelapan, menghantam dua murid Klan Wang yang memegang gentong racun.
Tubuh mereka hancur seketika, darah dan racun berhamburan.
Li Wei melangkah keluar, menarik kembali tongkat besinya yang memantul ke tangannya. Matanya menyala dengan kebencian.
"Kalian menjual sekte demi kekuasaan?"
"Li Wei?!" Diaken Wang terkejut, lalu menyeringai licik. "Bocah sialan. Kau masih hidup? Bagus. Tetua Wang Lie sangat ingin kepalamu. Pasukan, bunuh dia! Jangan biarkan dia mengganggu ritual!"
Sepuluh murid elit Klan Wang (Lapis 5 dan 6) menerjang maju.
Li Wei tidak mundur. Di belakangnya, pilar formasi semakin retak. Waktu hampir habis.
"Minggir dari jalanku!"
Li Wei menghentakkan kakinya. Tanah berguncang.
Ia mengayunkan tongkat 500 jin-nya. [Teknik Tombak Lima Elemen: Sapuan Ekor Naga Bumi!]
Angin puyuh tercipta. Tiga murid terdepan mencoba menangkis dengan pedang api mereka.
TRANG! KRAK!
Pedang mereka patah. Tulang tangan mereka hancur. Tongkat Li Wei menghantam dada mereka, mengirim mereka terbang menabrak dinding tebing hingga menjadi bubur.
"Apa?! Kekuatan macam apa itu?" Diaken Wang mundur selangkah.
Li Wei tidak berhenti. Ia berputar, menggunakan momentum untuk melompat tinggi.
"Mati!"
Ia mendarat di tengah kerumunan musuh, menghantamkan tongkatnya ke tanah.
Gelombang kejut Elemen Tanah meledak. Murid-murid yang tersisa kehilangan keseimbangan. Li Wei menusukkan ujung tumpul tongkatnya ke tenggorokan murid terdekat, lalu menendang murid lainnya ke jurang.
Dalam sepuluh napas, pasukan elit itu rata dengan tanah.
Hanya tersisa Diaken Wang (Lapis 7 Awal).
"Kau..." Diaken Wang gemetar. "Kau monster..."
Li Wei berjalan mendekat, menyeret tongkatnya yang berdarah. "Perbaiki pilarnya. Hentikan racunnya."
"Terlambat!" Diaken Wang tertawa gila. Ia mengeluarkan sebuah jimat komunikasi dan meremasnya. "Pintu sudah terbuka! Selamat datang di neraka, Li Wei!"
Di langit, suara kaca pecah terdengar menggelegar.
PRANG!
Kubah pelindung di atas Puncak Api hancur total.
Awan merah masuk. Ribuan Iblis Darah dan kultivator musuh membanjiri masuk seperti air bah. Teriakan perang dan jeritan kematian seketika memenuhi udara.
Sekte Langit Biru telah ditembus.
"Hahahaha! Klan Wang akan menjadi penguasa baru di bawah panji Sekte Darah!" teriak Diaken Wang.
Li Wei tidak memberinya kesempatan untuk tertawa lebih lama.
BUAGH!
Tongkat Li Wei menghancurkan kepala Diaken Wang seperti memukul semangka.
Li Wei berdiri sendirian di samping pilar yang mati. Ia melihat ke atas. Ribuan musuh sedang turun ke arah Puncak Api, mengincar murid-murid yang panik.
Ia gagal menyelamatkan formasi. Pengkhianatan itu terlalu dalam.
Namun, Li Wei tidak lari.
Ia menancapkan Tongkat Penembus Langit-nya ke tanah. Ia mengambil gentong racun yang tersisa, lalu melihat ke arah asrama murid-murid Klan Wang yang ada di bawah lembah.
"Kalian membuka pintu untuk iblis?" gumam Li Wei dingin. "Kalau begitu, biar aku pastikan kalian yang pertama kali menikmatinya."
Li Wei menendang gentong racun itu hingga pecah, lalu menggunakan Teknik Angin untuk meniupkan uap racun itu ke arah barisan pertahanan Klan Wang yang sedang bersiap menyambut sekutu mereka (Sekte Darah).
"Nikmati racun kalian sendiri."
Di langit, seekor Iblis Darah Lapis 6 melihat Li Wei yang sendirian. Ia menukik tajam untuk memangsanya.
Li Wei mencabut tongkatnya, mendongak, dan memasang kuda-kuda.