Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Suamimu!
William bergegas kembali ke depan ruang ICU. Jantungnya berdegup kencang saat melihat melalui celah pintu kaca bahwa Vira telah membuka mata. Beberapa perawat tampak sibuk melakukan pemeriksaan rutin, sementara Vira terlihat mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang menusuk.
Respons kecil itu terasa bagaikan oase di tengah padang pasir pikirannya yang gersang.
"Sayang, terima kasih ... terima kasih telah kembali padaku," bisiknya lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyentuhkan telapak tangannya ke kaca, seolah ingin menyentuh wajah Vira dari kejauhan.
Setelah hampir lima jam masa observasi pasca-sadar, akhirnya tim medis mengizinkan Vira dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. William tidak melepaskan pandangannya sedetik pun. Ia berjalan di samping brankar, terus menggenggam tangan istrinya dengan erat seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, Vira akan menghilang lagi.
Anehnya, Vira tidak menolak. Ia membiarkan jemari kokoh William melingkari tangannya yang dingin. Namun, tidak ada balasan remasan atau senyum hangat. Wanita itu hanya diam, matanya yang sayu terus menatap William dengan sorot penuh tanya. Ia memperhatikan pria asing di sampingnya yang terlihat begitu cemas.
Begitu tiba di ruang rawat inap yang mewah dan tenang, perawat membantu memindahkan Vira ke ranjang. Setelah semua peralatan medis terpasang dan perawat meninggalkan ruangan, keheningan yang menyesakkan mulai menyelimuti mereka.
William duduk di kursi di samping ranjang, masih tak ingin melepaskan tangan Vira. Ia menciumi punggung tangan istrinya itu berulang kali.
"Kau membuatku takut setengah mati, Sayang. Jangan pernah lakukan itu lagi," ucap William dengan nada yang lembut.
Vira terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia membuka suara. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah, nyaris tak terdengar.
"Maaf—" Vira menarik tangannya dengan gerakan yang sangat tegas, membuat tangan William menggantung di udara. "Kamu ... siapa? Jangan menyentuhku."
Vira menatap William dengan raut wajah yang sulit diartikan—ada sedikit rasa jijik di sana, dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai dingin. Itu adalah tatapan Vira saat pertama kali mereka bertemu dulu.
"Astaga ... dia kembali ke setelan awal," keluh William pelan. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Setelah berhasil menaklukkan wanita ini dengan susah payah, aku harus melakukannya lagi dari nol?"
William menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga kesabarannya. "Aku suamimu tercinta, Sayang," ucapnya, mencoba kembali meraih tangan istrinya lagi.
Vira menepisnya dengan cepat dan memicingkan mata, menatap William dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan kesal.
"Apaan ... suami aku tua kayak gitu? Wajahnya acak-acakan begini," protes Vira tidak terima.
Meskipun memorinya tentang kejadian belakangan ini hilang, standar estetika Vira rupanya tetap kokoh. Di kepalanya, ia masih membayangkan tipe pria idamannya adalah oppa-oppa Korea yang rupawan dengan kulit glowing, persis seperti poster yang menghiasi dinding kamarnya.
"Astaga, Sayang ... aku acak-acakan karena semalam tidak bisa tidur memikirkanmu! Kalau aku sudah mandi dan berganti pakaian, suamimu ini sangat tampan, kau tahu?" tukas William membela diri. Ia segera menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jemari, berusaha memperbaiki penampilannya di depan "orang asing" yang merupakan istrinya sendiri.
"Enggak, enggak ... Bapak pasti salah alamat. Bapak pasti suruhan Kak Ikmal dan Kak Alan, kan?" tebak Vira ketus. Pikirannya langsung melompat pada kedua kakaknya yang super protektif. "Sudah, pergi sana! Bilang sama Kak Ikmal, aku nggak mau dijaga sama Om-om berantakan!"
Vira menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi dada, namun gerakan tiba-tibanya itu membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang masih terbalut perban.
"Aww ... kepalaku," rintihnya pelan.
William yang panik langsung berdiri. "Jangan banyak gerak dulu, Sayang. Biar kupanggilkan dokter."
"Nggak usah panggil dokter, Bapak keluar saja. Biarkan saya meminta suster untuk menghubungi keluarga saya," ketus Vira sembari menjangkau tombol darurat di samping ranjangnya dengan gerakan kaku.
William hanya bisa terpaku. Ia tahu betul watak istrinya—atau lebih tepatnya, watak "Vira yang lama". Semakin dilarang, wanita itu akan semakin keras kepala dan enggan melihatnya.
Tak berselang lama, seorang perawat masuk dengan wajah sigap. Vira langsung menunjuk William dengan dagunya, seolah-olah William adalah penyusup berbahaya.
"Sus, tolong suruh Om-om hidung belang ini keluar. Dia mengaku-ngaku jadi suami saya, padahal saya nggak kenal," adu Vira dengan wajah polos namun menyakitkan bagi William.
Perawat itu menoleh ke arah William dengan tatapan serba salah. Ia tahu betul siapa pria di depannya ini—sang donatur sekaligus suami sah pasien. Namun, instruksi medis tetaplah prioritas.
"Pak, mohon maaf, biarkan pasien beristirahat sejenak. Kondisinya masih sangat tidak stabil," pinta perawat itu dengan sopan.
"Tapi saya suaminya, Sus!" protes William, suaranya sedikit meninggi karena tidak rela meninggalkan Vira dalam kondisi seperti ini.
"Bukan, Sus. Masa iya suami saya wajahnya nggak estetik banget," sangkal Vira.
Suster segera mendekat. "Mohon pengertiannya demi pemulihan pasien, Pak. Tekanan darahnya bisa naik kalau dia merasa terganggu," pinta perawat itu sekali lagi, kali ini lebih tegas.
William akhirnya pasrah. Dengan bahu yang luruh, ia berbalik dan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Frustrasi luar biasa menyelimuti hatinya.
Hinaan Vira tentang wajahnya yang "acak-acakan" sebenarnya tidak terlalu ia masukkan ke hati. Yang membuatnya sesak adalah memikirkan cara agar bisa meluluhkan hati sang istri kembali.
William akhirnya memilih untuk pulang sebentar dan membersihkan tubuhnya.
"Tunggu aku, Sayang. Kita lihat apakah kamu masih akan menyebutku 'Om-om' setelah ini," batinnya sembari menginjak pedal gas menuju rumah.
.
Tiba di rumah, kedatangan William langsung disambut oleh Chika, putri sulungnya yang sudah sejak tadi menunggunya. Gadis belia itu berlari ke arah garasi begitu mendengar deru mobil papanya memasuki halaman luas rumah mereka.
Baru saja William membuka pintu mobil dengan gerakan lemas, Chika yang tak sabar segera mendekat untuk mencari tahu kabar ibu sambungnya.
"Pa, Mama gimana, Pa? Mama sudah bangun?" tanya Chika beruntun sembari mengikuti langkah kaki sang ayah yang berjalan cepat memasuki rumah.
"Mama sudah sadar, Chika," jawab William singkat.
"Benarkah? Syukurlah! Chika mau jenguk dong, Pah. Chika ikut ya ke rumah sakit sekarang?" rengek Chika sembari menarik-narik ujung kemeja William.
William menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah. Ia mengembuskan napas panjang, sebelum menyampaikan kabar menyedihkan tentang Vira.
"Mama hilang ingatan, Chika. Dia ... AMNESIA," tutur William.
Seketika Chika tersentak. Langkahnya terhenti, mulutnya terbuka sedikit antara terkejut dan tak percaya. Dunia seolah berhenti berputar bagi gadis itu.
"Mama amnesia?!" tanya Chika, mencoba mencerna istilah medis yang sering ia lihat di sinetron namun kini menimpa keluarganya. "Maksud Papa, Mama lupa sama kita?"
"Iya, Mama amnesia. Jangankan ingat kamu, ingat Papa saja nggak. Dia menganggap Papa orang asing," tambah William dengan nada pahit.
"Apa?! Vira AMNESIA?"
Suara Inneke yang melengking dari arah tangga mengejutkan mereka berdua. Wanita paruh baya itu baru saja menuruni anak tangga terakhir dan mendengar seluruh percakapan antara putra dan cucunya.
Wajah Inneke pura-pura terlihat terkejut, terlihat kilatan aneh di matanya. Bibirnya sedikit tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan—seolah ada sedikit rasa puas atau peluang yang ia lihat di balik musibah yang menimpa menantunya itu.
Bersambung...
Cynthia mending lu oplas di korea aj sana biar balik muka lu🤣🤣
Tapii thor avah iya ineke sma monic lu kgk kasi shok terapi karma gt
itu, bapanya pun prnh lenyap si tangannya🥲
disiksa trs pemeran utamanya 🔪🔪🔪🔪
BTW.. Wil, lebih kenceng lagi c*kek nya.. sini aku bantuin...