NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Syukur

Pertumbuhan Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) tidak lagi bisa ditutupi dengan tembok gudang yang kusam. Berita tentang "pemberontakan semut" di Bogor sampai ke telinga para petinggi logistik nasional di Jakarta. Namun, kali ini yang datang bukan ancaman, melainkan sebuah pintu yang memaksa Reza untuk kembali menoleh ke belakang.

Pagi itu, sebuah surat resmi dengan kop lambang Garuda mendarat di meja Reza. Kementerian Perhubungan dan Koperasi mengundang K.KJ sebagai percontohan nasional untuk sistem logistik berbasis kerakyatan. Mereka ingin koperasi ini beraliansi dengan BUMN untuk mendistribusikan bantuan pangan ke daerah pelosok yang sulit dijangkau truk besar.

"Ini kesempatan kita untuk naik kelas, Za, " Budi sangat antusias, wajahnya yang penuh bekas debu jalanan tampak bersinar. "Kita tidak lagi cuma antar sayur organik. Kita antar harapan ke seluruh negeri."

Reza menatap surat itu dengan perasaan campur aduk. Acara penandatanganan kesepakatan itu akan diadakan di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Hanya terpaut beberapa blok dari apartemen lamanya tempat di mana ia dulu hampir mengakhiri semuanya.

"Anya, bagaimana menurutmu?" tanya Reza malam itu sambil membantu Anya melipat baju-baju kecil Fajar. Anya terdiam sejenak. Ia melihat kegelisahan di mata suaminya. "Kamu takut bertemu mereka, kan? Ayah dan Ibu?"

Reza mengangguk. "Aku sudah berjanji tidak akan kembali ke Jakarta dengan tangan kosong. Tapi sekarang, saat aku punya sesuatu, aku malah merasa tidak butuh pengakuan mereka."

"Kamu tidak pergi untuk mereka, Za. Kamu pergi untuk tiga puluh kurir di gudang itu. Kamu pergi untuk membuktikan pada dirimu sendiri bahwa tempat yang dulu ingin kamu jadikan kuburan, kini adalah saksi kemenanganmu."

Keesokan harinya, Reza berangkat ke Jakarta bersama Budi. Ia tidak memakai jas mahal. Ia tetap setia dengan kemeja flanel favoritnya, celana kargo, dan sepatu bot kulit yang ujungnya sudah tergores. Namun, ada satu hal yang berbeda: ia memakai jam tangan peninggalan almarhum ayahnya yang dulu sempat ia gadaikan dan berhasil ia tebus kembali bulan lalu.

Jakarta masih sama. Macet, bising, dan angkuh. Saat mobil sewaan mereka melewati gedung apartemen lamanya, Reza sempat memejamkan mata. Ia bisa merasakan perih imajiner di lehernya. Namun, saat ia meraba pergelangan tangannya dan merasakan lilitan benang kuning yang kini ia jadikan pengait kunci gudang, rasa sakit itu hilang.

Di lobi hotel, kerumunan wartawan dan pejabat sudah menunggu. Reza berjalan dengan tenang, mengabaikan tatapan mata yang heran melihat penampilannya

Yang terlalu "lapangan".

Tiba-tiba, di tengah kerumunan, ia melihat dua sosok yang tidak asing. Pak Broto dan Bu Siska—mantan mertuanya. Mereka tampak jauh lebih tua. Bisnis properti Pak Broto kabarnya sedang goyah akibat krisis global, dan wajah angkuh yang dulu menghina Reza kini digantikan oleh tatapan yang canggung dan penuh penyesalan.

"Reza..." Bu Siska mendekat, suaranya gemetar. Ia mencoba menyentuh lengan Reza, tapi Reza mundur selangkah dengan sopan.

"Apa kabar, Bu?" tanya Reza dingin namun tetap beradab.

"Kami melihatmu di berita, Za . Kami tidak menyangka koperasi itu... kamu yang memimpin," Pak Broto angkat bicara, suaranya tidak lagi menggelegar seperti dulu. "Anya... dan cucu kami... bagaimana keadaan mereka?"

Reza menatap mantan mertuanya dalam-dalam. Ia teringat saat mereka mengusirnya di Bogor, menyebutnya sampah, dan menganggap Anya sudah mati.

"Fajar sudah bisa merangkak, Pak. Dia sehat. Anya juga jauh lebih bahagia sekarang daripada saat dia masih memakai perhiasan mahal tapi hatinya kosong," jawab Reza tanpa nada dendam, hanya kenyataan pahit yang jujur.

"Boleh kami berkunjung ke Bogor?" tanya Bu Siska penuh harap.

Reza terdiam sejenak. Dulu, ia merindukan momen ini saat ia menang dan mereka memohon. Tapi sekarang, saat momen itu terjadi, ia tidak merasakan kepuasan

Apa pun. Ia hanya merasakan lelah.

"Koperasi kami selalu terbuka untuk siapa pun, Bu. Tapi rumah kami adalah tempat yang suci bagi kami sekarang. Hanya orang-orang yang menghargai kami sebagai manusia yang boleh masuk ke sana."

Reza berjalan melewati mereka, menuju panggung utama. Pak Broto dan Bu Siska hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa harta yang dulu mereka agungkan telah membuat mereka kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali: keluarga.

Di atas panggung, saat menandatangani dokumen kerjasama nasional, Reza diminta memberikan sambutan singkat. Ia berdiri di depan mikrofon, menatap ratusan pasang mata orang-orang berkuasa.

"Dua tahun lalu, saya berdiri di atas kursi dengan tali di leher saya karena saya merasa hidup ini tidak punya nilai jika saya bangkrut," kata Reza, suaranya tenang namun kuat, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi senyap.

"Hari ini, saya sadar bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh apa yang ada di saldo banknya, tapi oleh seberapa banyak paket harapan yang bisa ia antarkan pada sesamanya. Koperasi ini bukan tentang logistik. Ini tentang memberikan kesempatan kedua pada orang-orang yang dianggap gagal oleh dunia."

Tepuk tangan bergemuruh. Budi di sudut ruangan menghapus air matanya dengan kasar.

Saat perjalanan pulang ke Bogor sore itu, hujan turun dengan deras menyiram Jakarta. Reza menurunkan kaca jendela mobil, membiarkan uap hujan mengenai wajahnya. Ia merasa beban terakhirnya baru saja terlepas di lobi hotel tadi.

"Kita mampir beli ayam geprek?" tanya Budi sambil nyengir.

Reza tertawa lepas. "Boleh. Tapi kali ini, jangan kasih level sepuluh. Aku ingin menikmati rasanya, bukan cuma menahan pedasnya."

Perjalanan masih panjang. Masih banyak rute aspal yang harus dilalui, tapi bagi Reza, setiap kilometer sekarang adalah sebuah doa syukur.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!