Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Azelva masuk ke dalam rumah yang selama ini di tempatinya bersama Zidan. Rumah mewah peninggalan papanya, Shawn Alfred.
Azelva baru saja kembali setelah memakamkan jenazah putranya. Langkahnya terasa begitu berat, setiap Azelva menghela napas, selalu teringat pada putranya. Azelva kembali menangis sambil mengusap perutnya yang sudah rata, tidak ada lagi bayi dalam perutnya.
Azelva begitu menantikan hari kelahiran putranya, hari yang harusnya menjadi kebahagiannya saat ini. Namun kebahagiaan itu lenyap, harapannya sirna. Sosok kecil yang ia nantikan tidak akan pernah menyapanya.
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘕𝘢𝘬?"
Azelva mencoba tak menangis, namun air matanya mengkhianatinya.
Azelva berjalan melewati ruang tamu, namun tiba-tiba saja wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Azelva mendengar suara samar-samar dari dalam kamar tamu. Rasa penasaran membuat Azelva mendekati kamar itu.
Dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna, Azelva bisa melihat suaminya dan Venya sama-sama duduk bersandar di atas ranjang.
Tangannya terkepal saat mendengar pembicaraan kedua orang pengkhianat itu.
"𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘶!" 𝘜𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.
Setelah Azelva memergoki perbuatan mereka di kantor, kini Zidan terang-terangan membawa selingkuhannya itu ke rumah mereka.
"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶."
Azelva mengepalkan erat tangannya, sampai buku-buku jarinya memutih. Azelva mendengar sangat jelas, suaminya itu berencana untuk menceraikannya.
Azelva menggenggam handle pintu kamar itu, ia ingin memberi pelajaran pada kedua pengkhianat itu. Namun otak kecilnya kembali berpikir.
"𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘨𝘦𝘨𝘢𝘣𝘢𝘩."
Azelva memilih untuk mengurungkan niatnya. Ia mengambil ponsel dari sakunya, lalu memotret pemandangan menjijikkan di dalam kamar itu. Zidan dan Venya sedang berciuman.
"𝘊𝘪𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪-𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘔𝘢𝘴 𝘡𝘪𝘥𝘢𝘯!"
Azelva buru-buru meninggalkan tempat itu, ia tidak sudi melihat adegan panas yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. Namun, baru saja Azelva mencapai tangga, suara seseorang membuat langkahnya terhenti.
"Azel, Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?"
Suara Zidan terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, namun begitu menjijikkan di telinga Azelva. Sikapnya sangat tenang, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sangat memuakkan.
Azelva tidak menggubris panggilan Zidan, ia tetap menapaki satu-persatu anak tangga menuju kamarnya.
"Azel, Mas belum selesai bicara."
Zidan menarik tangan Azelva, membuat wanita cantik itu nyaris tergelincir dari tangga. Namun Zidan berhasil mendekap tubuh istrinya itu.
"Kamu gak apa-apa?" Suara Zidan terdengar sangat panik, pria itu mendekap tubuh Azelva sangat erat.
"Lepaskan!" Suara Azelva sangat lirih namun terdengar begitu dingin, tidak seperti biasanya. "Aku bilang, lepaskan!" Azelva kembali mengulang ucapannya saat Zidan tak juga melepaskan dekapannya.
Zidan baru melepaskan dekapannya saat menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Bukan cuma sikapnya yang berubah dingin, tapi...
"Azel, Kamu sudah melahirkan?" Zidan menatap perut Azelva yang sudah datar. Lalu, tatapannya berpindah pada wajah istrinya yang sembab. "Di mana bayinya?" Tanyanya lagi saat tidak menemukan keberadaan bayinya.
"Kamu puas sekarang, Mas? Bayiku sudah meninggal. Dan itu semua gara-gara Kamu." Lagi-lagi ucapan Azelva terdengar sangat dingin. Dan entah kenapa, Zidan tidak menyukainya.
Azelva tidak lagi menangis, bukan dia tidak ingin. Tapi dia tidak akan menunjukkan kerapuhannya di depan suami kurang ajarnya itu.
Sementara itu Zidan nampak tertegun. Namun tidak ada sedikitpun raut kesedihan ataupun penyesalan di wajahnya. Justru ucapan yang Zidan lontarkan semakin merobek hati Azelva.
"Syukurlah jika anak haram itu sudah mati!"
Plak
"Kamu benar-benar brengsek! Tidak punya hati."
Untuk pertama kalinya Azelva melayangkan tangannya pada seseorang, dan itu pada suaminya sendiri. Azelva tidak menyangka ucapan menyakitkan itu akan keluar dari mulut suaminya.
Selama ini Zidan begitu perhatian padanya, setiap saat pria itu mengatakan 'aku mencintaimu Azelva, tidak peduli seperti apa dirimu. Aku menerimamu apa adanya.'
Tapi nyatanya ungkapan itu hanya sekedar ucapan, omong kosong belaka. Pada kenyataannya pria itu hanya memainkan perannya. Dan bodohnya Azelva bisa tertipu oleh sandiwara pria itu.
Zidan mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Tamparan Azelva benar-benar sangat keras dan meninggalkan jejak. Namun, tamparan itu tidak berarti apa-apa untuk Zidan.
Zidan tidak marah, ia juga tidak membalas tamparan istrinya. Zidan bukanlah pria ringan tangan yang bisa sesuka hati melakukan kekerasan.
"Sudahlah Zel, Kamu jangan berlebihan. Bukannya bagus kalau bayi itu meninggal?"
"ZIDAN SADANA!"
Plak
Lagi-lagi Azelva melayangkan tamparan di pipi Zidan. Ucapan suaminya itu bukan hanya mengoyak luka hatinya, tapi juga sengaja membunuh Azelva secara perlahan.
"Dasar tidak punya hati! Pantas saja ibumu membuangmu, mungkin karena dia tahu anaknya akan menjadi bajingan seperti---"
Plak
Tangan Zidan bergetar saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada Azelva. Untuk pertama kalinya ia melayangkan tangannya pada seorang wanita, dan itu pada istrinya sendiri, Azelva Raquel Shawn.
"A-azel aku---"
Zidan ingin mengusap pipi Azelva yang memerah, bekas tamparannya terlihat begitu jelas, kontras dengan wajah Azelva yang putih terawat. Namun Azelva langsung menepis tangan pria itu dengan kasar. Wanita itu meneteskan air matanya, hatinya teramat perih. Zidan bukan hanya menyakitinya dengan ucapan, tapi juga berani melayangkan tangan padanya.
"Aku ingin kita bercerai."
Venya yang diam-diam melihat pertengkaran suami-istri itu tersenyum puas. Sebentar lagi tujuannya akan berhasil.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪."
...----------------...
"Jadi, Kamu benar-benar menghamili jalang itu, Kellan? Dasar anak kurang ajar!"
Yumna dan Arjuna baru saja sampai di rumah sakit. Orang tua Kellano itu datang untuk melihat bayi yang Regita lahirkan. Melihat wajah bayi itu mirip dengan putranya membuat Yumna sangat murka. Wanita paruh baya itu bahkan tidak berhenti memukul putranya menggunakan tas mahalnya.
"Stop, Mom. Sakit!"
"Sakit Kamu bilang? Rasakan ini."
Bugh bugh bugh
Yumna terus menghajar putranya sampai puas. Ia tidak akan berhenti sebelum benar-benar mengeluarkan semua kekesalannya.
Arjuna tidak melerai ataupun menghentikan sang istri. Ia justru mendukung aksi istrinya itu, dengan begitu ia tidak perlu repot-repot memberi pelajaran pada putranya.
"Dad, tolong aku!" Kellano merengek bak anak kecil yang dihukum orang tuanya karena kenakalannya.
"Harusnya Kamu bersyukur Mommy mu yang menghajar mu, bukan daddy. Jadi, terima saja," ucap Arjuna penuh ejekan.
Yumna dan Arjuna sangat kecewa pada Kellano. Padahal mereka sangat mempercayai putra mereka satu-satunya itu. 9 bulan yang lalu Kellano bahkan bersumpah jika bayi yang dikandung Regita bukanlah miliknya.
Namun, melihat kemiripan bayi itu dengan Kellano benar-benar mematahkan kepercayaan mereka.
"Tapi Mom, aku yakin tidak pernah tidur dengan Regita," ucap Kellano. "Aku bersumpah, Mom."
Kellano tetap teguh pada pendiriannya, ia tetap mengelak tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan Regita. Namun yang membuatnya bingung adalah, kenapa bayi Regita sangat mirip dengannya?
"Kamu masih berani mengelak?"
Bugh bugh bugh
Yumna semakin keras memukul Kellano. Bukti sudah sangat jelas, kemiripan wajah Kellano dan bayi itu bisa dipastikan sangat mirip. Apalagi hasil tes DNA menunjukkan 99.99 % positif. Artinya bayi itu benar-benar darah daging Kellano Gavintara.
Kellano tidak menjawab lagi ucapan Mommynya. Ia sendiri benar-benar bingung.
"Sekarang, di mana wanita jalang itu?"
Yumna akhirnya berhenti menghajar putranya. Walaupun Yumna sangat membenci Regita, tapi bayi itu tidak bersalah. Apalagi melihat kemiripan bayi itu dengan Kellano. Tidak bisa dipungkiri, Yumna langsung jatuh hati pada cucunya itu.
"Dia sudah pergi," ucap Kellano.
Mengingat wanita itu membuat Kellano kembali kesal. Sampai sekarang, Kellano masih tidak habis pikir, kenapa ada wanita seperti Regita? Dan sialnya, wanita itu adalah ibu dari putranya.
Arjuna mengernyitkan keningnya, pria paruh baya itu merasa ada yang janggal dengan kepergian Regita.
"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘨𝘪𝘵𝘢."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
bagus pak arjuna gercepdibandingin anaknya
ayo segera kita sambut si regina 👏
ayo Zola cepet cerita jgn byk mikir 🤣