NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 2: KUNCI DI BAWAH TEMPAT TIDUR

Hujan malam itu seperti tidak mau berhenti.

Rintik-rintiknya mengetuk atap seng rusunawa dengan ritme teratur, seperti detak jam yang menghitung mundur. Aisha tidak bisa tidur. Di sebelahnya, Arka tertidur dengan napas yang kadang tersendat suara kecil yang setiap kali membuatnya terbangun, jantung berdebar, tangan langsung meraba dahi anaknya.

Panas.

Lagi.

Aisha bangun, meraba botol obat di meja plastik. Paracetamol sirup. Ia menyalakan lampu kecil, mengukur dosis dengan sendok takar. Tangan masih gemetar.

“Arka, sayang, minum dulu.”

Arka mengerang kecil, mata setengah terbuka. “Bunda… badan Arka sakit semua.”

“Ini obatnya, habis ini tidur lagi ya.” Suaranya berusaha tenang, tapi di dalam, gelombang panik mulai naik. Demam di malam hari. Gejala yang sama seperti awal penyakitnya dulu.

Setelah Arka tertidur kembali, Aisha duduk di lantai. Dingin. Lantai beton rusunawa selalu mengirimkan dingin yang menyusup lewat tulang. Ia menatap laci kecil itu lagi. Kuncinya masih di tangannya, tergenggam erat hingga membuat telapak tangan sakit.

“Kalau sekarang Bunda berani?”

Pertanyaan Arka bergema di kepalanya. Berani. Kata yang selama delapan tahun ia hindari. Ia memilih lari. Memilih diam. Memilih bohong.

Tapi bohong tidak menyembuhkan ginjal.

Bohong tidak membayar biaya transplantasi.

Bohong tidak akan menyelamatkan nyawa anaknya.

Dengan napas berat, ia membuka laci itu lagi. Foto dan surat. Kali ini, ia mengambil suratnya. Kertasnya sudah menguning, tulisannya tinta biru yang dulu ia pinjam dari teman kos mulai memudar.

Ia membuka lipatannya dengan hati-hati, seperti membuka luka lama yang belum sembuh.

 

Isi surat itu dimulai dengan coretan yang tidak rapi:

"Rafa,

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai ini. Mungkin aku sudah kehilangan hak untuk menulis surat ini. Mungkin kamu sudah membenciku. Tapi aku harus mencoba, karena ada sesuatu yang lebih besar dari kita berdua sekarang.

Aku hamil, Rafa.

Tujuh minggu. Dokter bilang janinnya sehat. Tapi aku... aku ketakutan. Keluargaku sudah tahu. Mereka marah. Sangat marah. Ayahku bilang, jika aku tidak mengakhiri ini, aku bukan lagi anaknya. Ibuku menangis setiap malam.

Dan kamu... aku tahu kamu belum siap. Kita berdua belum siap. Kamu masih harus menyelesaikan skripsimu, aku bahkan belum punya pekerjaan.

Aku tidak minta tanggung jawab. Aku cuma... butuh kamu tahu. Butuh kamu peluk aku dan bilang semuanya akan baik-baik saja.

Tapi teleponku tidak diangkat. Pesanku tidak dibalas. Aku tunggu tiga hari di kosanmu, kamu tidak pulang. Teman sekamarmu bilang kamu pulang kampung dadakan, ada masalah keluarga.

Dan di hari ketiga, ayahku datang dengan tiket bis. Dia bilang, pilih: ikut dia pulang dan jaga rahasia ini, atau tinggal dan putus hubungan selamanya.

Rafa, aku anak tunggal. Ibuku sakit-sakitan. Aku...

Aku pilih pulang.

Ini alamat rumah orangtuaku di Jalan Melati No. 17, Kota J. Tolong, jika kamu baca surat ini, datanglah. Atau telepon. Atau balas. Apa saja.

Aku tunggu.

Aku sayang kamu.

Aisha...

 

Tetesan air mata jatuh di atas kertas, membuat tinta biru yang sudah pudar itu menyebar seperti luka yang melebar. Aisha tidak menangis dengan suara. Tangisannya diam, menyakitkan, seperti orang yang tenggelam perlahan.

Ia tidak pernah mengirim surat itu.

Di hari ia seharusnya pergi ke kantor pos, ibunya terkena serangan jantung. Semua perhatiannya tertuju ke rumah sakit. Dan setelah ibunya stabil, rasa takutnya lebih besar daripada keberaniannya. Ia menyimpan surat itu. Lalu ia tahu Rafa sudah pindah kos, nomor teleponnya tidak aktif. Ia menganggap itu tanda. Tanda bahwa Rafa tidak mau terlibat. Tanda bahwa ia harus menghadapi ini sendiri.

"Aku mengutuk diriku sendiri setiap hari," bisiknya di tengah hening. "Karena tidak cukup berusaha. Karena gengsi. Karena takut ditolak."

Dan kini, delapan tahun kemudian, harga dari ketakutannya itu mungkin adalah nyawa Arka.

 

Pukul 03.47.

Arka batuk-batuk lagi, kali ini lebih keras. Aisha memegangi dahinya panas tinggi. Ia cepat-cepat mengambil termometer. 39.2 derajat.

"Kita harus ke IGD, sayang."

"Ga mau rumah sakit, Bun," rengek Arka, matanya berkaca-kaca. "Sakit disuntik."

"Tapi kamu demam tinggi, Nak. Bunda janji tidak lama."

Perjalanan ke rumah sakit di tengah malam hujan seperti mimpi buruk. Aisha menggendong Arka yang sudah setengah sadar, berjuang melawan angin dan rintikan hujan dengan payung murah yang hampir terbalik. Tidak ada uang untuk taksi. Ia berjalan 15 menit ke rumah sakit daerah, dengan jantung berdebar setiap kali Arka menggigil di pundaknya.

Di IGD, perawat yang mengenalinya langsung beraksi. "Arka demam lagi, Bu Aisha?"

"39.2, Bu."

"Bawa ke ruang observasi dulu. Dokter jaga akan datang."

 

Di ruang observasi yang penuh dengan bunyi monitor, Aisha duduk di samping tempat tidur Arka yang sudah dipasangi infus dan oksigen. Wajah anaknya yang pucat terlihat semakin kecil di balik selang-selang itu. Seperti burung kecil yang sayapnya patah.

Dokter jaga datang, memeriksa dengan cepat. "Infeksi, Bu. Kemungkinan karena daya tahan tubuhnya rendah. Kita harus rawat inap minimal 3 hari."

Tiga hari. Artinya tiga hari tidak kerja. Artinya potong gaji. Artinya tambah utang.

Tapi Aisha hanya mengangguk. "Baik, Dok."

Saat dokter pergi, ia memegang tangan Arka. Dingin. Selalu aneh, bagaimana tubuh yang demam tinggi bisa memiliki tangan yang sedingin es.

"Bunda," suara Arka tiba-tiba, sangat lirih.

"Apa sayang?"

"Arka... capek."

Dua kata itu. Capek. Dari mulut anak tujuh tahun yang seharusnya sedang berlari-lari di lapangan, bukan terbaring di rumah sakit. Aisha menahan isak.

"Tidur ya sayang. Besok sembuh."

"Bunda cari ayah Arka, ya?" mata Arka setengah terbuka, ada harapan kecil di dalamnya. Harapan yang seharusnya tidak perlu ia minta. "Arka pengen... kenalan."

Aisha menelan ludah yang pahit. Ia melihat monitor detak jantung angka yang naik turun tidak stabil. Ia melihat infus.cairan yang menetes perlahan seperti sisa waktu. Ia melihat wajah Arka potongan wajah Rafa yang ia bawa lari delapan tahun lalu.

"Iya," akhirnya ia berbisik, suaranya serak seperti pecah. "Bunda akan cari."

Arka tersenyum kecil, lalu tertidur.

 

Di koridor rumah sakit yang sepi, Aisha berdiri menghadap jendela. Hujan sudah reda, meninggalkan genangan air yang memantulkan lampu jalan. Kota J. Alamat yang tertera di surat itu. Kota yang ia tinggalkan dengan janji tidak akan kembali.

Tapi janji pada siapa?

Pada ayahnya yang sudah mengusirnya setelah tahu ia melahirkan Arka?

Pada ibunya yang sudah meninggal dua tahun lalu dengan mata penuh kekecewaan?

Atau pada dirinya sendiri Aisha yang berusia delapan belas tahun yang terluka dan memutuskan untuk membangun tembok setinggi-tingginya?

Ia mengeluarkan ponsel bututnya. Google. Ia ketik: "Rafa Mahardika" nama lengkap yang dulu ia hafal di luar kepala.

Hasil pencarian pertama: LinkedIn. Rafa Mahardika, S.T. Project Manager di perusahaan konstruksi ternama di Kota S. Kota S. Kota yang sama dengan tempat ia tinggal sekarang.

Darahnya seolah beku.

Selama delapan tahun, mereka tinggal di kota yang sama.

Selama delapan tahun, ia mengira Rafa ada di kota lain, mungkin sudah menikah, punya kehidupan baru.

Tapi ternyata...

Ia klik profil itu. Foto profil. Pria dengan kemeja formal, wajah yang lebih tua, lebih tajam, tapi masih dengan senyum yang sama. Mata yang sama dengan Arka.

Tangannya gemetar lebih keras.

Scroll ke bawah. Latar belakang pendidikan: Universitas yang sama dengan yang dulu mereka masuki. Pengalaman kerja: naik pesat dalam lima tahun terakhir. Lokasi: Kota S.

Dan di bagian "Tentang":

"Family man. Blessed with a beautiful wife and daughter."

Istri. Anak perempuan.

Aisha menutup mata. Dunia berputar. Rasanya seperti ditampar keras. Ia bersandar di dinding, napasnya tersengal.

Rafa sudah punya keluarga.

Kehidupan baru.

Dan Arka... Arka hanyalah rahasia dari masa lalu yang tidak pernah ia ketahui.

 

Pukul 05.32.

Fajar mulai menyingsing. Warna jingga lembut muncul di ufuk timur, menyapu gelapnya malam. Tapi di dalam dada Aisha, gelap itu justru semakin pekat.

Ia kembali ke ruangan Arka. Anaknya masih tertidur, tapi wajahnya lebih tenang. Demamnya mulai turun.

Aisha duduk di kursi plastik keras di samping tempat tidur. Ia melihat ponselnya di satu tangan. Foto profil Rafa masih terbuka.

Dan di tangan satunya, surat tua yang tidak pernah dikirim.

Dua pilihan:

Diam. Melanjutkan hidup seperti biasa. Berjuang sendiri. Dan mungkin... kehilangan Arka.

Mengirim pesan sekarang. Menghancurkan kehidupan Rafa yang sudah mapan. Menghadapi kemungkinan ditolak, dimarahi, atau diabaikan.

Tapi Arka tidak punya pilihan.

Arka hanya punya satu ginjal yang tinggal 12%.

Arka hanya punya waktu yang terus menyusut.

Dengan jari yang masih gemetar, Aisha membuka aplikasi pesan LinkedIn. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Apa kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan bahwa kamu punya anak berusia tujuh tahun dari pria yang tidak pernah tahu, dan sekarang anak itu sekarat butuh ginjalnya?

Tidak ada kata-kata yang tepat.

Hanya ada kebenaran yang menyakitkan.

Akhirnya, ia mengetik pesan singkat:

"Halo Rafa. Ini Aisha. Maaf mengganggu. Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang harus kubicarakan. Sangat penting."

Ia menatap layar. Tombol "Kirim" seperti sebuah jurang. Sekali ia tekan, tidak ada jalan kembali. Masa lalu akan resmi mengejarnya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Mata terpejam.

Dan jarinya menekan tombol itu.

--- PESAN TERKIRIM ---

 

Di luar, burung-burung mulai berkicau menyambut pagi.

Tapi di dalam ruangan 307 itu, pagi terasa seperti awal dari badai yang akan menghancurkan segalanya.

Aisha memandang Arka yang masih tertidur.

"Maafkan Bunda, sayang," bisiknya. "Untuk semua yang akan terjadi."

 

(Di ponsel, notifikasi muncul: "Pesan Anda telah dibaca.")

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!