Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelap
Gua selalu inget hari dimana gua jadian, tepatnya hari jumat tanggal 13, karena hari itu adalah peringatan kemartiran grandmaster of the Knight Templar. Di hari itu biasanya gua puasa, untuk perkabungan.
Pas mulai pacaran, gua baru tahu kalau Ana lumayan Hyper, hampir tiap hari dia ngajakin VCS, meskipun beberapa kali gua tolak, but pada akhirnya gua iya-in.
Di awal gua udah bilang ke dia, kalau gua mau serius sama dia, bukan sekedar pacaran. But, dia selalu bilang: "Setelah lulus kuliah mau kerja dulu 10 tahun baru menikah." Sementara itu gua selalu bilang: "Gua pengennya nikahin lu setelah lu lulus kuliah." Tapi dia enggak mau, alasan pengen kerja. Padahal gua udah bilang kalau dia bisa tetep kerja, gua enggak akan ngelarang dia kerja, bahkan kalau mau menunda dulu punya anak, gua enggak masalah.
But, yaa... dia selalu punya pendapatnya sendiri, dan gua enggak pernah mendebat itu.
Sebelum ketemu gua, Ana pernah mengalami masalah yang ngebuat dia trauma. Gua enggak mau cerita detailnya kayak apa, karena gua enggak mau ngebuka aib dia, intinya dia pernah mengalami pelecehan seksual yang cukup parah.
Bahkan, cerita yang sama tentang dia, juga gua dapet dari mantan pacarnya. Yup... gua kenal sama mantan pacarnya, dan dari sisi dia, si mantan pacar itu, keknya bener² mandang rendah Ana.
Sementara itu, gua ada di posisi tersentuh mengetahui semua kisah yang pernah dia alami, dan berpikir: "Mungkin gua bisa sembuhin trauma dia."
Separah apa trauma dia?
Karena kejadian yang pernah dia alami, setiap kali ketemu orang baru, atau berada di keramaian, dia selalu muntah. Termasuk pas pertama kali mau ketemuan sama gua, dia juga muntah dulu. But untungnya, waktu itu gua cukup bisa membuat dia merasa nyaman.
Gua pikir trauma Ana ini juga yang ngebuat dia jadi sosok cewek yang hyper, dia lumayan kecanduan film bokep, dan tiap kali ketemu udah bisa dipastiin pasti selalu ada HS, meskipun sejujurnya gua selalu hindari hal ini, karena pengalaman gua di hubungan gua yang sebelum²nya yang gua pikir, hubungan yang dilakukan dengan kenajisan, akan berakhir dengan tidak baik. Tapi, sekali lagi gua enggak bisa menolak, karena gua tahu, semua tentang trauma yang dia alami, butuh proses untuk sembuh.
Gua punya harapan yang tinggi dengan hubungan gua dengan Ana. Gua udah berpikir kalau dia adalah cewek terakhir dalam hidup gua. Tapi sayangnya semua enggak berjalan semulus itu.
Kita udah obrolin masalah pernikahan, dan sekali lagi, selalu ada problem dengan status pekerjaan gua. Ana bilang: "Nyokapnya enggak bakal setuju kalau dia nikah dengan seorang ojol kayak gua, tapi mungkin akan setuju kalau gua udah punya rumah sendiri, minimal itu."
Di titik itu, ego gua sebagai pria menyala. Gua bilang ke dia: "Gua akan sanggupin, gua akan usahain punya rumah sebelum nikahin lu."
Gua mati²an ngumpulin duit demi itu...
Pernah juga gua diskusi sama dia, soal gua yang pengen bikin brand cloting, biar seenggaknya status pekerjaan gua tertutupi. Dan respon dia, bikin gua sakit hati, dia bilang: "Gua enggak akan mampu."
Tapi, itu malah memacu gua...
Awal 2020, Covid 19 meledak di Indonesia. Orang² kampung punya ide gila dengan kumpul² jagain pintu masuk kampung. Gua pikir, itu ide bodoh, gua menentang itu, dan gua dikucilin. Bahkan keluarga gua, termasuk adek² gua dan orangtua gua, nganggap gua tolol. Tapi gua tetep pada pendirian, kalau "kumpul² jagain jalan kampung" itu tindakan goblog, karena lawan kita bukan entitas yang kelihatan, tapi virus.
Satu²nya yang masih ngedukung gua, waktu itu Ana. Ana sejalan dengan pendapat gua. Akhirnya, atas diskusi kita berdua, gua mutusin buat ngekost sendiri.
Mulai dari pindahan dan beli barang² keperluan kost, gua dibantuin sama Ana. Dia bener² hadir di saat² krisis gua. Ini yang bikin gua beneran makin yakin kalau Ana adalah yang terakhir.
Tapi...
Hari² berlalu... hubungan gua sama Ana berjalan tidak normal. Makin sering gua sama dia ngelakuin HS, makin hambar juga hubungan kita. Kayak ada rasa yang aneh.
Sampai puncaknya tiba² Ana mulai bersikap aneh. Dia jarang ngabarin gua. Jarang ngobrol panjang lebar lagi.
And then... tiba² di suatu siang, terucap kata "putus" dari mulutnya. Gua kaget... enggak bisa bilang apa² lagi selain nge-iyain keputusan dia. Bahkan alasan kenapa kita putus, gua enggak pernah tahu sampai hari ini.
Gua pikir, Ana adalah yang terakhir...
Bahkan belum sempat Ana gua bawa ketemu orangtua. Gua juga belum sempat ngeyakinin orangtua dia kalau gua pantas buat anaknya. Semua berakhir begitu saja...
Lalu, hal bodoh gua lakuin setelahnya...
Alih² mencoba berdamai dengan keadaan dan terus berjalan maju. Gua malah mulai ngumbar semua aib Ana ke semua orang. Semua karena gua enggak bisa terima dengan keputusan dia.
Alhasil, dia mulai menghindar dari gua, dia blokir semua kontak gua, dan bener² ngilangin sosok gua dari hidup dia. Gua yang putus asa, akhirnya malah mati rasa.
Gua merasa kosong... ekpetasi gua terlalu tinggi sama hubungan itu, but realiti berjalan sebaliknya. Semua enggak berakhir baik, malahan benar² berakhir buruk. Alih² menyembuhkan traumanya, dia malah mendapat trauma baru dari gua, dan gua mendapat trauma.
Gua enggak lagi bisa percaya pada cewek, dimata gua cewek enggak lebih dari sebuah obyek, enggak lebih dari itu. Gua enggak bisa memandang wanita dari sudut pandang penuh kehormatan lagi.
Sampai gua nulis ini, gua enggak lagi tahu kabar dari Ana. Satu hal gua harap Ana baik² aja.
Setelah hidup gua bener² sepenuhnya lepas dari Ana, masalah covid 19 jadi makin parah, dan karena itu ekonomi melemah. Waktu itu kebetulan adek gua yang paling kecil, mau masuk kuliah. Dia sempet nangis dan enggak mau kuliah, setelah tahu besarnya biaya kuliahnya. Tapi, gua tenangin dia dengan bilang: "Tetep kuliah, gua yang akan bantu bayar." Dan tabungan gua yang awalnya mau gua pakai buat nikahin Ana, semua gua pakai buat bantu biayain kuliah adek gua yang paling kecil.
Lalu gua sadar... mungkin Tuhan emang mau gua dan Ana putus, karena masih ada suatu hal yang lebih penting yang harus gua tanggung waktu itu, pendidikan adek² gua.
Lepas dari Ana, gua ketriger untuk ngembangin diri. Karena gua pikir, profesi ojol gua, sekalipun bisa ngeberi gua penghasilan yang cukup, selalu menjadi alasan dari semua hubungan gua, untuk berakhir dengan buruk. Gua mulai cari², apa² aja yang bisa gua lakuin untuk mengembangkan diri gua.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥