NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: EMBRIO KEGELAPAN

Kapal motor itu membelah ombak hitam Laut Jepang dengan kecepatan yang memekakkan telinga. Di belakang mereka, Villa Samudera telah menjadi titik api kecil yang perlahan ditelan oleh lengkungan bumi. Namun, bagi Hana Sato, api itu masih membakar kulitnya. Ia meringkuk di sudut dek, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat. Rambut hitamnya basah kuyup oleh air laut, menempel di wajahnya yang sepucat pualam.

Rena Sato berdiri di kemudi, sosoknya tampak seperti bayangan statis di tengah badai. Ia tidak menoleh, tidak memberikan pelukan hangat yang seharusnya dilakukan seorang ibu setelah anaknya melewati neraka.

"Berhenti gemetar, Hana," suara Rena terdengar datar, memotong deru mesin. "Gemetar adalah tanda bahwa kau masih membiarkan Kenzo Matsuda memiliki kendali atas sarafmu. Kau bukan lagi korban. Kau adalah wadah."

Hana mengangkat wajahnya, matanya kosong. "Wadah? Ibu, ada sesuatu yang hidup di dalam diriku. Sesuatu yang tercipta dari kebencian dan alkohol... Sesuatu yang membawa darah pria yang mencoba menghancurkan kita."

Rena memutar kemudi dengan tajam, mengarahkan kapal ke sebuah celah di antara tebing karang yang menjulang tinggi—sebuah pulau tak berpenghuni yang tidak tercatat di peta publik. "Itulah keindahannya, Hana. Kenzo mengira dia menanamkan benih untuk meneruskan kekaisaran Saikou. Dia tidak sadar bahwa dia baru saja memberikan kita senjata biologis yang paling sempurna."

❤️❤️❤️

Mereka tiba di sebuah pangkalan bawah tanah yang tersembunyi di balik gua laut. Tempat itu dingin, steril, dan hanya diterangi oleh lampu neon pucat yang berkedip. Rena menuntun Hana masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan medis canggih yang tampak kontras dengan dinding batu gua yang kasar.

Rena mengenakan sarung tangan lateks. Suara snap karet yang beradu dengan kulitnya terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu.

"Berbaringlah di meja itu, Hana. Kita perlu memeriksa 'perkembangan'nya."

Hana menurut dengan gerakan mekanis. Saat ia berbaring di meja logam yang dingin, ia merasa seperti spesimen di laboratorium Kenzo. "Apakah Ibu akan melenyapkannya?" bisik Hana, antara harap dan cemas.

Rena berhenti sejenak, menatap layar monitor ultrasonik. "Melanyapkannya? Tidak, Hana. Itu akan menjadi pemborosan. Kita akan melakukan apa yang tidak sempat dilakukan Kenzo. Kita akan membentuknya. Jika darah Saikou memberi anak ini kecerdasan dan sumber daya, maka darah Aishi akan memberinya ketiadaan empati. Dia akan menjadi predator puncak."

❤️❤️❤️

Layar monitor menyala, menampilkan bintik kecil yang berdenyut di dalam rahim Hana. Denyutan itu terasa sinkron dengan detak jantung Hana yang tidak teratur.

"Lihat itu, Hana," kata Rena, jarinya menunjuk ke layar. "Dia sangat kuat. Dalam usia sekecil ini, dia sudah bertahan dari ledakan, pelarian di laut, dan guncangan adrenalin yang mematikan. Dia adalah penyintas, sama sepertimu."

Hana menatap layar itu dengan ngeri. "Dia terasa... berat. Seolah-olah dia sedang menyerap seluruh emosiku. Aku tidak merasakan cinta, Ibu. Aku hanya merasakan kegelapan yang pekat."

Rena mendekatkan wajahnya ke telinga Hana, suaranya berubah menjadi bisikan yang menghantui. "Itulah 'The Aishi Condition'. Kita tidak mencintai seperti orang normal. Kita terobsesi. Kita memiliki. Dan sekarang, kau memiliki sesuatu yang sangat diinginkan oleh pria paling berkuasa di dunia. Kau memegang kendali atas masa depannya."

"Tapi Senpai..." suara Hana pecah. "Semua ini seharusnya tentang dia. Aku melakukan segalanya agar bisa bersamanya. Sekarang, aku... aku kotor. Aku membawa benih orang lain."

Rena mencengkeram rahang Hana dengan kuat, memaksa putrinya menatap matanya yang tidak memiliki binar kehidupan. "Lupakan bocah laki-laki itu! Senpai-mu hanyalah pemicu. Sekarang, tujuanmu telah berevolusi. Kau akan melahirkan monster ini, dan kau akan menggunakannya untuk menyeret Kenzo Matsuda ke gerbang neraka. Kau akan menjadi ibu dari kehancuran Saikou."

❤️❤️❤️

Malam-malam berikutnya di "The Grey Room" adalah siksaan psikologis. Hana mulai mengalami mimpi buruk di mana bayi di dalam rahimnya memiliki wajah Kenzo yang tertawa saat ia tenggelam dalam lautan darah. Ia sering terbangun dengan teriakan yang tertahan, hanya untuk menemukan ibunya duduk di sudut ruangan, mengasah belati dalam kegelapan.

Suatu malam, Hana menemukan sebuah berkas di meja kerja ibunya. Berkas itu berisi data genetik dari proyek Hydra.

"Ibu sedang meneliti genetikanya?" tanya Hana saat Rena masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi suplemen dan makanan cair.

"Aku sedang memastikan tidak ada cacat yang ditinggalkan Kenzo," jawab Rena tenang. "Kenzo terobsesi dengan 'kesempurnaan fisik'. Tapi dia melupakan satu hal: jiwa yang rusak jauh lebih sulit dikendalikan daripada tubuh yang kuat."

Hana menatap ibunya dengan tatapan menyelidik. "Ibu tidak menyelamatkanku karena Ibu mencintaiku, bukan? Ibu menyelamatkanku karena Ibu tidak ingin Kenzo memiliki aset ini."

Rena terdiam. Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekam hingga suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar seperti dentuman drum. Rena meletakkan nampan itu, lalu berjalan perlahan menuju Hana.

"Cinta adalah kata yang terlalu sederhana untuk kita, Hana," kata Rena sambil mengelus rambut Hana dengan gerakan yang hampir terasa penuh kasih, namun terasa asing. "Aku menyelamatkanku dalam dirimu. Jika Kenzo berhasil mematahkanmu, maka dia berhasil mematahkan garis keturunan kita. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku izinkan."

❤️❤️❤️

Bulan-bulan berlalu dalam isolasi yang menyesakkan. Perut Hana mulai membuncit, dan seiring dengan pertumbuhan fisik itu, mentalnya pun berubah. Ia mulai berbicara pada janin di dalamnya, bukan dengan kata-kata kasih sayang, melainkan dengan instruksi.

"Kau mendengar itu?" bisik Hana di tengah malam yang sunyi. "Suara ombak di luar sana? Itu adalah suara dunia yang akan kau taklukkan. Kau tidak akan memiliki hati. Kau tidak akan memiliki belas kasihan. Kau adalah pembalasan dendamku."

Di luar persembunyian mereka, dunia sedang mencari mereka. Saikou Corp telah mengerahkan seluruh tentara bayarannya. Kenzo Matsuda, yang kini cacat akibat luka-lukanya, dikabarkan telah menjadi lebih gila dan terobsesi. Ia tidak lagi peduli dengan perusahaannya; ia hanya ingin "miliknya" kembali.

❤️❤️❤️

Bab ini berakhir dengan Hana berdiri di depan cermin besar yang retak. Ia menatap pantulan dirinya. Ia bukan lagi gadis sekolah yang pemalu. Matanya kini memiliki kilatan yang sama dengan Rena—dingin, tajam, dan mematikan.

Tiba-tiba, alarm sensor di pintu masuk gua berbunyi. Seseorang telah menemukan mereka.

Rena masuk ke ruangan dengan dua pucuk senapan mesin. Ia melemparkan satu ke arah Hana. "Waktunya tiba, Hana. Mereka datang untuk menjemput 'aset' mereka."

Hana menangkap senapan itu dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Ia merasakan tendangan kuat dari dalam rahimnya—seolah embrio itu pun haus akan darah.

"Biarkan mereka masuk, Ibu," kata Hana dengan senyum tipis yang mengerikan. "Aku ingin mereka melihat, bahwa monster yang mereka ciptakan... sudah tidak sabar untuk makan."

Di luar, lampu-lampu helikopter mulai menyapu permukaan laut. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!