"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggap rumah sendiri
“Makan malam sudah siap, sayang. Kamu makan duluan saja ya, aku mau antar makanan dan minuman herbal ini dulu ke kamar Ara.”
Yasmin meletakkan piring nasi beserta lauk pauknya di atas meja makan, sedangkan tangannya masih memegang toples kaca berisi obat herbal yang ia sediakan untuk Ara.
“TIDAK BOLEH!”
Jacob yang baru ingat kalau Ara sedang hamil muda dan tidak boleh minum obat herbal sembarangan, seketika wajahnya berubah memerah disertai suaranya yang tiba-tiba meninggi.
Yasmin terkejut, langkahnya mundur sedikit. Sejak menikah, Jacob selalu berbicara dengan nada lembut, tak pernah sekali pun berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Hati Yasmin terasa nyeri.
Tapi sebelum Yasmin sempat berbicara, Jacob sudah menyadari kekeliruannya, Jacob buru-buru mendekat dan memegang tangan sang istri.
“Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu. Tapi Ara memiliki alergi yang cukup aneh. Jadi tidak boleh sembarang minum obat herbal. Aku tahu hal itu karena aku telah merawat ibunya di rumah sakit selama berbulan-bulan. Jadi aku sering bertemu dengan Ara juga.” Jacob mencari-cari alasan.
Yasmin menghela napas lega, meskipun rasa curiga itu tetap muncul di benaknya.
“Tenang saja sayang. Obat ini aku buat sendiri kok, resep turunan dari leluhurku. Aku sering berikan obat ini ke pasienku yang sedang hamil, selama ini tidak pernah ada keluhan apapun dari mereka. Malah mereka merasa terbantu karena berkat obat herbal ini rasa mual mereka mereda." Yasmin menjelaskan diiringi senyuman di bibirnya.
“Begitu ya." Jacob tampak berpikir.
"Kalau menurutmu obat herbal ini aman, kau bisa memberikan obat ini pada Ara. Tapi pastikan Ara nyaman meminumnya, jika Ara tidak suka jangan dipaksa ya.” Ujar Jacob.
"Baiklah." Yasmin mengangguk, meskipun di dalam hati ia masih berpikir. "Kenapa Jacob bersikap begitu posesif terhadap Ara?" Tapi dengan cepat Yasmin segera menepis pikiran itu, dan mencoba berpikir positif kembali.
Dengan hati yang sedikit bergejolak, Yasmin mengambil toples obat dan piring makan malam di atas meja, lalu berjalan menuju kamar Ara.
***
Lampu kamar hanya menyala redup, menyinari wajah Ara yang terpaku menatap pada jendela.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana masa depanku nanti?" pikirnya, jari-jari Ara bermain-main dengan benang baju yang longgar.
Hanya satu nama yang selalu muncul di benak Ara, yaitu pria yang telah menanam benih di rahimnya. Dokter ramah, yang selalu menenangkan dirinya setiap kali sang Ibu dalam keadaan kritis.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ara tentang dokter Jacob.
"Mungkin Dokter Jacob yang datang." Jantung Ara berdebar kencang.
Ara segera merapihkan rambutnya yang kusut, serta merapikan baju tidur yang terlipat. Senyum lebar sudah melengkung di bibirnya ketika ia melangkah menuju pintu.
“Selamat malam, Ara!”
Suara itu tidak seperti yang Ara harapkan. Senyum Ara perlahan meremang, digantikan oleh wajah yang sedikit kecewa. Di depan pintu berdiri dokter Yasmin, tangannya memegang nampan berisi makan malam dan toples kaca.
“Maaf mengganggu waktu istrirahatmu, aku datang untuk mengantarkan makan malam untukmu.” Ujar Dokter Yasmin dengan ramah.
“Tidak usah repot-repot, Dokter. Aku merasa tidak enak, aku sudah numpang di rumahmu tapi malah kau yang melayani aku.” Ara merasa sungkan.
Yasmin menggeleng, senyumnya tidak pernah pudar.
“Jangan sungkan, Ara. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri ya.” Yasmin meletakkan nampan tersebut di meja kecil di depan pintu.
“Jangan lupa habiskan semua makannya, dan minum obat herbal yang aku bawa untuk meredakan masuk anginmu tadi.” Pesan Dokter Yasmin sebelum pergi meninggalkan kamar Ara.
Setelah Yasmin pergi, Ara memandang nampan berisi makanan dan obat herbal yang dibawa Dokter Yasmin dengan pandangan yang bingung.
“Baiklah, jika itu yang kau inginkan dokter Yasmin. Aku akan menganggap rumah ini rumahku sendiri, dan aku akan menganggap suamimu adalah suamiku juga.” Bibir Ara melengkungkan senyuman, tapi kali ini dengan senyum smirk yang mengerikan.
Bersambung...