Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Subuh itu, Jakarta masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang. Araluna bergerak dengan presisi seorang pencuri profesional. Ia hanya membawa satu ransel berisi pakaian esensial, ijazah, dan tentu saja, jaket flanel milik Arsen yang tidak pernah lepas dari pelukannya.
Sesuai rencana yang disusun lewat ponsel rahasia, Galaksi dan anak-anak geng motor Arsen sudah bersiaga di gang belakang rumah. Mereka sengaja menciptakan sedikit "keributan" di depan komplek—suara knalpot brong yang meraung-raung—untuk mengalihkan perhatian satpam penjaga gerbang dan supir pribadi Luna yang biasanya tidur ayam di pos depan.
Luna memanjat pagar belakang dengan bantuan tangga lipat yang sudah disiapkan Rian dari luar. Begitu kakinya menyentuh aspal jalanan gang, Galaksi langsung menyambar ranselnya.
"Gila lo, Lun. Kalau kita ketahuan bokap lo, kita semua bisa jadi perkedel," bisik Galaksi sambil memakaikan helm cadangan ke kepala Luna.
Luna menyeringai, matanya berkilat penuh kemenangan. "Makasih kakak-kakak, gue akan selalu inget jasa kalian. Doain gue selamat sampai tujuan. Byee!"
Galaksi memacu motornya secepat kilat menuju Bandara Soekarno-Hatta, diikuti oleh empat motor lainnya sebagai pengawal. Mereka membelah jalanan ibu kota yang masih sepi, melaju melawan waktu sebelum Papa Arga menyadari bahwa kamar putrinya sudah kosong melompong.
Tiga jam kemudian, pesawat yang membawa Luna mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Jantung Luna rasanya ingin melompat keluar dari rusuknya. Begitu pintu kedatangan terbuka, ia langsung mencari sosok yang selama tiga bulan ini hanya bisa ia sentuh lewat layar ponsel.
Di sudut ruang tunggu, berdiri seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tetap kaku, rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Luna melihatnya, dan sorot matanya yang tajam langsung mengunci sosok Luna. Arsen Sergio.
Luna tidak peduli dengan kerumunan orang. Ia berlari sekuat tenaga dan menghambur ke pelukan Arsen.
"Kak Arsen!" tangis Luna pecah seketika.
Arsen menangkap tubuh Luna, mengangkatnya sedikit, dan memeluknya begitu erat seolah ingin meleburkan tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya sendiri. Sifat kaku Arsen runtuh total di depan umum. Ia membenamkan wajahnya di leher Luna, menghirup aroma yang sangat ia rindukan.
"Gue nggak bakal biarin lo balik lagi, Lun. Nggak akan pernah," bisik Arsen dengan suara parau.
Apartemen Rahasia dan Gairah yang Meledak
Arsen membawa Luna ke sebuah apartemen studio di daerah Rungkut yang ia sewa dengan hasil keringatnya sendiri bekerja di bengkel kakeknya. Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci, koper Luna tergeletak begitu saja di lantai.
Tidak ada kata-kata. Hanya ada tatapan penuh lapar dan kerinduan yang sudah mencapai titik didih. Arsen menyudutkan Luna ke pintu, menciumnya dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar ciuman terlarang; ini adalah ciuman kebebasan.
"Lo tahu risikonya kan, Lun? Kita nggak punya siapa-siapa di sini," ucap Arsen di sela ciumannya, tangannya mulai membuka kancing jaket yang dipakai Luna.
"Gue cuma punya lo, Kak. Itu lebih dari cukup," jawab Luna dengan napas tersengal.
Malam itu, di tengah hiruk pikuk kota Surabaya, adegan terlarang itu terjadi dengan jauh lebih panjang, lebih detail, dan lebih emosional. Arsen memperlakukan Luna seolah-olah gadis itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di bumi. Tanpa bayang-bayang Papa Arga atau Bunda, mereka benar-benar mengeksplorasi satu sama lain dalam gairah yang tak terhingga.
Arsen yang biasanya kaku, kini berubah menjadi sosok yang sangat dominan dan posesif di atas ranjang. Ia mencumbu setiap inci tubuh Luna, memberikan tanda-tanda baru yang seolah mengklaim bahwa di kota ini, Araluna adalah ratunya, dan ia adalah pelindungnya. Desahan Luna memenuhi ruangan apartemen yang kedap suara itu, menyatu dengan suara AC yang menderu pelan.
Keesokan paginya, Luna terbangun dengan sinar matahari Surabaya yang lebih terik. Ia melihat Arsen sedang duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya dengan ekspresi serius.
"Papa telepon?" tanya Luna pelan.
"Ratusan kali. Tapi gue udah ganti nomor. Galaksi juga udah aman," jawab Arsen sambil berbalik, mengusap kepala Luna dengan lembut. "Kakek sudah tahu lo di sini. Beliau bilang, selama gue bisa kerja bener dan jagain lo, beliau nggak akan lapor ke Papa."
Luna tersenyum puas. Meskipun mereka harus memulai semuanya dari nol—bekerja keras dan bersembunyi—Luna tidak peduli. Selama ia bisa memakai baju Arsen setiap hari, menyeduh kopi untuk pria kaku itu setiap pagi, dan tidur di pelukan yang sama setiap malam, Surabaya terasa seperti surga baginya.
"Kak, kayaknya gue butuh bantuan lo buat daftar kuliah di sini," ucap Luna manja sambil menarik tangan Arsen agar kembali berbaring di sampingnya.
Arsen terkekeh, mencium kening Luna dengan sayang. "Apapun buat lo, Cegil-nya gue."
Di kota yang baru ini, sang Singa Kaku dan Gadis Pembangkang itu akhirnya benar-benar bebas. Mereka tahu badai dari Jakarta mungkin akan datang suatu saat nanti, tapi untuk saat ini, mereka hanya ingin menikmati setiap detik kebersamaan yang telah mereka perjuangkan dengan air mata dan keberanian.
Pelarian sukses total! Mereka memulai hidup baru di Surabaya dengan perlindungan Kakek. 🌚🔥