"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kucing, Bensin, dan Amarah yang Meledak
Alana merasakan dadanya seperti dihantam godam. Rumah kontrakannya memang kecil, bocor kalau hujan, dan temboknya sudah berjamur, tapi itu adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu memakai gaun mahal. Dan yang lebih penting—Mochi, kucing oren gembulnya yang hobi maling ikan asin tetangga, ada di sana!
Ia melirik Arkan. Pria itu tampak tidur dengan tenang, napasnya teratur. Ganteng-ganteng ternyata bayar mantan aku buat deketin aku? Mas, kalau beneran begitu, kamu lebih rendah dari kecoa di dapur kontrakan aku! batin Alana geram.
Alana tidak membangunkan Arkan. Ia tidak butuh pahlawan yang mungkin saja adalah sutradara di balik kesialannya. Dengan gerakan secepat kilat, Alana mengganti gaun tidurnya dengan hoodie hitam dan celana training yang ia temukan di tas lamanya. Ia menyelinap keluar kamar, melewati ruang tengah yang gelap, dan menuju pintu keluar.
"Mau ke mana, Nyonya?"
Alana hampir saja melompat ke langit-langit saat suara berat salah satu penjaga depan pintu apartemen menyapa.
"Mau beli... pembalut! Penting banget, darurat nasional! Jangan ikut, atau saya laporin ke Mas Arkan kalau kamu ngintipin saya!" ancam Alana dengan wajah seserius mungkin.
Penjaga itu keder. "Tapi Tuan Arkan bilang—"
"Tuan Arkan lagi tidur ganteng! Minggir!" Alana menerobos masuk ke lift. Begitu sampai di basement, ia tidak mengambil mobil mewah. Ia justru mencegat ojek online yang kebetulan baru menurunkan penumpang.
"Bang! Ke alamat ini, cepet! Kalau bisa terbang, terbang bang! Saya kasih tip lima kali lipat!"
Sepuluh menit kemudian, Alana sampai di depan gang rumahnya. Bau sangit plastik terbakar langsung menyerbu hidungnya. Benar saja, bagian depan kontrakannya sudah hangus. Untungnya, warga sekitar sudah sigap memadamkan api sebelum merembet.
Di sana, di bawah lampu jalan yang remang-remang, Bayu berdiri dengan wajah pucat, sementara Dion sedang bersandar di mobil SUV-nya sambil merokok santai.
"Mana Mochi?!" teriak Alana sambil berlari menghampiri mereka.
Bayu tersentak. "Lana? Kamu... kok bisa di sini?"
"Nggak usah banyak tanya, bajingan! Di mana kucing aku?!" Alana mencengkeram kerah kemeja Bayu yang bau bensin.
Dion tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat menjijikkan di telinga Alana. "Kucing itu? Tadi lari ke arah selokan. Tenang aja, Alana. Itu cuma peringatan. Gimana rasanya tinggal sama Arkan? Udah tahu kalau dia yang bayar Bayu buat macarin kamu tiga tahun lalu supaya kamu tetap 'tersedia' buat rencana dia?"
Alana melepaskan Bayu dan berbalik menatap Dion. "Oh, jadi ini aliansi orang-orang gagal? Yang satu gagal jadi orang kaya, yang satu gagal jadi manusia. Kompak banget ya kalian."
"Lana, dengerin aku," Bayu mencoba memegang tangan Alana. "Arkan itu iblis! Dia butuh wanita yang yatim piatu dan nggak punya siapa-siapa supaya gampang disingkirkan! Aku cuma mau selamatin kamu!"
"Selamatin aku dengan cara bakar rumah aku?! Kamu itu tolol atau emang otaknya udah geser?!" Alana menampar Bayu sekeras mungkin. Plak! "Denger ya, Bayu. Aku lebih milih dimanfaatin sama miliarder ganteng daripada harus hidup sama sampah kayak kamu!"
Dion membuang rokoknya. "Cukup dramanya. Bayu, bawa dia ke mobil. Kita kasih tahu Arkan kalau mainannya sekarang ada di tangan kita."
Bayu ragu-ragu, tapi Dion melotot. Saat Bayu hendak menarik tangan Alana, tiba-tiba sebuah cahaya lampu mobil yang sangat terang menyorot mereka dari ujung gang. Suara raungan mesin mobil Rolls-Royce membelah kesunyian malam.
Mobil itu berhenti dengan cara ngepot yang sangat ekstrem. Arkan keluar dari sana dengan wajah yang tidak pernah Alana lihat sebelumnya—wajah seorang pria yang siap membunuh.
"Mas Arkan?" gumam Alana.
Arkan tidak bicara. Ia langsung menerjang Dion. Satu pukulan mentah mendarat di rahang Dion, membuatnya tersungkur ke aspal. Bayu yang ketakutan langsung mencoba kabur, tapi dua bodyguard Arkan yang baru turun dari mobil lain sudah lebih dulu mengunci gerakannya.
Arkan menghampiri Alana, mencengkeram bahunya dengan keras. "Kamu gila?! Keluar sendirian malam-malam ke tempat seperti ini?!"
Alana melepaskan cengkeraman Arkan. "Mas juga gila! Apa bener Mas yang bayar Bayu buat macarin aku tiga tahun lalu?! Jawab jujur atau aku lari ke tengah jalan sekarang juga!"
Arkan terdiam. Matanya menatap Alana dengan intens. "Tiga tahun lalu, saya memang mencari wanita yang memenuhi kriteria untuk wasiat Kakek. Saya menemukanmu melalui data di yayasan yatim piatu. Saya membayar pria ini untuk menjagamu agar tidak jatuh ke tangan orang-orang seperti Dion. Tapi saya tidak menyuruhnya untuk mengkhianatimu!"
Alana tertawa pedih. "Menjaga? Mas bilang bayar mantan buat macarin itu namanya menjaga? Itu namanya manipulasi, Mas! Kalian berdua sama aja!"
"Lana, dengar—"
"Meong!"
Suara kecil terdengar dari balik tumpukan kayu bekas kebakaran. Mochi keluar dengan bulu yang sedikit menghitam kena jelaga, tapi tampak sehat. Alana langsung menggendong kucing itu, air matanya tumpah.
"Aku nggak peduli lagi soal kontrak kalian. Aku nggak peduli soal warisan. Aku mau pergi," ucap Alana sambil mendekap Mochi erat-erat.
"Kamu tidak bisa pergi, Alana. Dion sudah tahu tempat ini. Kamu dalam bahaya," Arkan mencoba mendekat.
"Bahaya terbesarnya itu kamu, Mas Arkan!" teriak Alana.
Tiba-tiba, Dion bangkit sambil tertawa terbahak-bahak, menyeka darah di bibirnya. "Drama yang bagus! Tapi Arkan, kamu lupa satu hal. Sementara kamu sibuk di sini, Tante Sofia sudah ada di kantor pusat dengan pengacara. Pernikahanmu tadi siang? Kita sudah punya bukti kalau itu cuma kontrak palsu karena Bayu punya rekaman pembicaraanmu soal 'pembelian' Alana!"
Arkan membeku. Ia menoleh ke arah Bayu yang kini menunduk.
"Maaf, Tuan Arkan... mereka bayar lebih mahal," bisik Bayu licik.
Alana menatap mereka bergantian. Ia merasa seperti berada di tengah-tengah lingkaran setan. Namun, bukannya menangis, Alana justru menyeka air matanya. Sisi "julid"-nya kembali bangkit dengan kekuatan penuh.
"Oh, jadi kalian pikir kalian udah menang?" Alana melangkah maju, masih menggendong Mochi. "Dion, kamu bilang pernikahan kami palsu karena ada rekaman 'pembelian'? Bayu, kamu bilang kamu punya bukti?"
Alana merogoh saku hoodie-nya dan mengeluarkan ponselnya sendiri yang sedari tadi sedang dalam mode merekam suara. "Aku baru aja merekam pengakuan kalian berdua soal pembakaran rumah, percobaan penculikan, dan pemerasan. Kalau rekaman Mas Arkan soal 'beli' aku itu cuma urusan perdata, rekaman aku ini urusan penjara, Sayang."
Wajah Dion dan Bayu mendadak pucat pasi.
Alana menoleh ke arah Arkan yang tampak terkejut. "Mas Arkan, kalau mau aku tetep jadi istri Mas dan bantu beresin Tante Sofia di kantor pusat, syaratnya satu: kasih aku akses ke pengacara paling mahal di dunia buat jeblosin dua curut ini ke penjara malam ini juga. Gimana?"
Arkan menatap Alana, lalu senyum tipis yang penuh kekaguman muncul di wajahnya. "Kesepakatan, Nyonya Arkananta."
Saat polisi mulai berdatangan untuk menyeret Dion dan Bayu, Arkan membisikkan sesuatu di telinga Alana. "Kamu tahu kenapa saya membayar Bayu dulu? Bukan cuma karena kamu yatim piatu. Tapi karena di foto itu, kamu sedang tersenyum sambil memberi makan kucing liar, dan itu pertama kalinya saya merasa ingin memiliki sesuatu yang nyata. Saya salah telah memanipulasimu, Lana. Dan mulai malam ini, kontrak itu... saya bakar."
Alana terdiam. Apakah ini awal dari hubungan yang tulus, ataukah Arkan hanya sedang melancarkan rayuan maut agar Alana tetap mau membantunya melawan Tante Sofia besok pagi?