Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Lydia merasa dirinya semakin memalukan setelah Arion menceritakan kejadian kemarin, terlebih saat laki-laki itu mengatakan bahwa keluarganya mengetahui tentang ciuman mereka.
"Serius kita ketahuan?" ujarnya tidak percaya.
Tidak masalah jika keluarga Arion mengetahui kedekatan mereka, tapi kenapa harus sampai ke bagian ciumannya juga?
"Iya. Tapi Mamah tidak keberatan kita dekat. Malah Mamah..." Arion menghentikan ucapannya. Hampir saja ia keceplosan mengatakan tentang rencananya melamar Lydia setelah wisuda nanti.
"Kenapa Mamah kamu?" tanya Lydia menunggu Arion menyelesaikan kalimatnya.
Arion terdiam sejenak, memikirkan alibi agar tidak sampai terjadi kesalahpahaman lagi di Antara mereka.
"Malah Mamah senang dan memberi Kakak kartu ATM sebagai hadiah," ucapnya akhirnya.
Lydia menghela napas pelan. Arion pikir perempuan itu tidak memercayai alibinya. Namun, tidak lama kemudian Lydia justru bertanya,
"Mereka tidak berpikir macam-macam tentang kita, kan?"
"Tidak. Kenapa mereka harus berpikir macam-macam tentang kita?" ujar Arion membalikkan pertanyaan Lydia sambil mengerutkan kening bingung.
Lydia berdeham pelan. Ia tidak bisa menjelaskan maksudnya pada Arion. Bukan tidak mau, tapi Arion masih terlalu polos untuk mengerti. Laki-laki itu menciumnya saja karena meniru adegan dalam drama yang mereka tonton.
"Ngomong-ngomong, Kakak harus pergi ke Kusuma Corp sekarang," ucap Lydia mengalihkan dengan hal lain.
"Jadi, kabur yang Kakak maksud tadi kabur ke perusahaan Paman Jevan?" tanya Arion sambil memicingkan mata.
Lydia menyengir, mengonfirmasi bahwa memang itulah kabur yang ia maksud.
"Tapi kita sudah membicarakan ini, dan kamu bilang tidak keberatan," ujarnya.
"Baiklah, aku antar Kakak ke sana," Arion beranjak dari sofa dan mengulurkan tangannya untuk membantu Lydia berdiri.
Perlu Lydia akui, Arion tampak lebih tampan ketika melakukan hal manis seperti ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyambut tangan itu dan berdiri dengan bantuan Arion.
"Sebenarnya Kakak malu bertemu kamu," ungkap Lydia jujur saat mereka melangkah keluar dari apartemen.
"Malu kenapa?" tanya Arion, melirik sekilas ke arah Lydia. Biasanya Arion selalu menatap wajah Lydia saat mereka bicara, tapi kali ini ia harus memperhatikan jalanan di depan.
"Malu karena kelakuan Kakak tadi malam, karena salah paham, dan karena menangis tanpa mau mendengar penjelasan kamu," jawab Lydia sambil menatap tangan Arion yang bertautan dengan tangannya.
Rasa malu itu sebenarnya masih ada, tapi demi bisa terus menggenggam tangan Arion seperti sekarang, ia memilih menahannya.
Arion kembali melirik Lydia sekilas, sebelum menanggapi.
"Kenapa harus malu? Menurut aku, reaksi Kakak wajar kok," ujarnya santai.
Menurutnya, Lydia tidak perlu merasa malu hanya karena kejadian tadi malam. Lagipula, ada alasan mengapa Lydia bisa salah paham terhadap Arion.
"Tapi, lain kali kalau Kakak mendengar sesuatu dari orang lain, Kakak harus bertanya langsung ke aku. Jangan mengambil kesimpulan sendiri," lanjutnya.
"Iya, Kakak janji kedepannya Kakak hanya akan mempercayai perkataan kamu," sahut Lydia sambil melemparkan senyuman pada Arion.
Arion membalas senyuman Lydia, dan hari itu akhirnya kesalahpahaman di antara mereka selesai.
***
Arion memegang pinggang Lydia posesif. Selama mereka berada di Kusuma Corp, banyak orang yang 'sok akrab' dengan Lydia, dan sebagian besar dari mereka laki-laki.
Jika bukan karena Lydia ingin melamar pekerjaan di sana, Arion pasti sudah sejak tadi mengajaknya pergi agar Lydia berhenti berinteraksi dengan laki-laki lain dan membuatnya cemburu.
"Ternyata Kakak lumayan terkenal ya di sini?" ucap Arion, menahan rasa kesal di hatinya.
Lydia hanya tertawa pelan menanggapi perkataan Arion. Ia tahu Arion cemburu setiap kali ia berinteraksi dengan karyawan laki-laki di Kusuma Corp. Semua terlihat dari gerak-gerik Arion saat ada yang menyapanya.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pulang? Nanti Kakak masakan makanan kesukaan kamu," ujar Lydia berusaha mengalihkan pembicaraan.
Lagipula, tidak ada yang perlu Arion cemburui. Semua yang menyapa Lydia di Kusuma Corp hanya bersikap ramah, mereka tahu Lydia dulunya bekerja sebagai sekretaris Calvin.
Arion melirik sebentar arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah jam makan siang. Kita makan di luar saja. Aku bisa makan masakan Kakak nanti malam," ucapnya.
Mereka berjalan keluar dari Kusuma Corp karena urusan Lydia di sana sudah selesai. Lydia hanya tinggal menunggu keputusan apakah dirinya diterima atau tidak bekerja di sana.
"Baiklah. Kamu yang pilih tempat makannya. Kali ini biar Kakak yang traktir," sahut Lydia setuju.
"Sebuah kehormatan Kakak mau mentraktir aku, tapi urusan membayar biar aku saja. Kakak cukup menemani aku makan," timpal Arion.
Keduanya kemudian saling melempar senyuman. Setiap kali makan di luar atau pergi ke mana pun, memang Arion yang membayar. Lydia hanya perlu menikmati waktu bersama Arion.
***
Arion mengajak Lydia makan di restoran yang tidak jauh dari Kusuma Corp. Tempat itu cukup ramai karena memang jam istirahat, dan lokasinya juga cukup strategis. Dekat dengan perkantoran.
Namun, mereka tidak menyangka Marvin akan menjadi salah satu pengunjung di restoran tersebut. Bahkan, laki-laki itu langsung menghampiri begitu menyadari keberadaan Lydia di sana.
"Bagaimana keadaan kamu, Lydia?" tanya Marvin, berdiri di samping meja Lydia dan Arion.
Lydia belum makan apa-apa, tapi entah kenapa tenggorokannya seret saat Marvin menghampirinya dan mengajaknya bicara.
Ia kemudian melirik Arion. Tatapan laki-laki itu pada Marvin terlihat tajam, seperti seseorang yang tidak suka miliknya diganggu orang lain.
"Arion," panggil Lydia seraya memegang tangan Arion yang terkepal.
Alih-alih menjawab pertanyaan Marvin, perempuan itu justru lebih memperdulikan Arion. Ia menautkan jemarinya dengan jemari Arion di depan Marvin, seolah menjawab bahwa dirinya baik-baik saja bersama Arion di sampingnya.
Arion menoleh dan menatap Lydia. Senyuman terukir di bibirnya menyadari usaha Lydia menjaga perasaannya.
"Tidak apa-apa, Kak," ujar Arion hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
Marvin yang mengerti situasi perlahan menjauh dari meja mereka. Ia lega jika memang Lydia baik-baik saja bersama Arion.
Jika ditanya tentang perasaan, Marvin akan dengan tegas mengakui bahwa hatinya masih sepenuhnya milik Lydia. Bahkan, hubungannya dengan Aurora sekarang terjalin bukan karena cinta, melainkan karena egonya setelah ditinggalkan Lydia.
"Seharusnya aku tidak pernah mencari kesenangan dengan perempuan lain dan menyakiti kamu," batin Marvin, memandangi wajah Lydia sebentar sebelum pergi meninggalkan restoran.
Ia bukan orang yang menyerah begitu saja setelah Lydia membatalkan pertunangan mereka. Ia selalu berusaha agar Lydia kembali, meski mungkin Lydia tidak pernah melihat usahanya.
Saat cincin tunangan Lydia hilang, Marvin mencari cincin itu selama berjam-jam di parkiran. Yang Lydia tahu mungkin Marvin langsung mengganti cincinnya, tapi Lydia tidak tahu sekeras apa usaha Marvin untuk menemukan cincin itu.
Marvin juga bukan tidak pernah berusaha untuk menjelaskan pada Lydia tentang perselingkuhannya dengan Airin. Ia beberapa kali mendatangi apartemen Lydia untuk menjelaskan, tapi satpam tidak pernah mengizinkannya menemui Lydia.
Lydia dulu pernah berkata, "Kamu harus membangun kepercayaan dengan para penguasa, tapi jangan pernah berurusan atau terlibat konflik dengan mereka."
Marvin baru mengerti maksud perkataan Lydia sekarang. Sialnya, ia terlambat mengerti dan kini ia harus kehilangan Lydia karena terlibat konflik dengan para penguasa.
"Kalau ada kehidupan lain, tidak apa-apa aku kehilangan orang tua dan perusahaan bangkrut, asal ada kamu di sisiku," batinnya.
Sementara itu, di meja yang Marvin tinggalkan. Lydia tampak tersenyum lebar saat mengobrol dengan Arion. Ia sama sekali tidak merasa kehilangan seperti yang Marvin rasakan.