Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Paman tidak sedang bercanda, Kak," ujar Calvin yang membuat Arion seketika terdiam.
Arion masih berusaha meyakini bahwa Lydia baik-baik saja. Jika benar Lydia mengalami kecelakaan, bukankah seharusnya ia yang pertama kali mengetahuinya?
"Tapi kamu tenang saja, Lydia sudah selesai dioperasi dan sudah melewati masa kritisnya." Calvin masih menjelaskan keadaan Lydia dengan sangat hati-hati karena tahu akan sehancur apa Arion jika mengetahui apa yang menimpa perempuan itu.
"Dioperasi?" tanya Arion sambil tertawa getir.
Tangannya meraba dashboard seolah mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan. Ia terlalu terkejut mengetahui Lydia dioperasi dan sempat kritis, padahal ia mengira perempuan itu hanya terlambat datang karena kesibukannya di Kusuma Corp.
Calvin menoleh sejenak ke arah Arion sebelum kembali fokus ke jalanan di depan. Baru mengetahui Lydia dioperasi dan berhasil melewati masa kritis saja Arion sudah terlihat sehancur itu. Apalagi jika Arion sampai mengetahui kondisi Lydia yang sempat memburuk setelah operasi.
"Tarik napas dulu, Kak. Kamu harus tenang. Paman sudah memastikan Lydia mendapat penanganan terbaik di rumah sakit," ucap Calvin, khawatir keponakannya lupa bernapas karena terlalu terkejut.
Arion menatap Calvin dengan tatapan kosong. Jika Lydia sampai dioperasi dan sempat kritis, berarti kondisinya cukup parah.
"Paman bilang ada yang sengaja menabrak Kak Lydia? Siapa? Musuh bisnis keluarga kita?" tanyanya.
"Bukan. Kecelakaan yang menimpa Lydia tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga kita," jawab Calvin cepat, sebelum Arion mulai menyalahkan dirinya sendiri karena berpikir Lydia mengalami kecelakaan akibat musuh bisnis keluarga mereka.
"Tapi aku mengenal Kak Lydia. Dia tidak punya musuh yang mungkin ingin mencelakainya," seru Arion. Emosinya mulai tidak stabil sekarang.
Calvin menghela napas pelan. Ia sudah menduga Arion akan seperti ini.
"Paman sudah mencari tahu dan pelakunya memang bukan musuh bisnis keluarga kita," jelasnya.
"Lalu siapa kalau bukan musuh kita?" suara Arion mulai meninggi. Ia terlalu kacau sampai tidak sadar telah membentak pamannya sendiri.
"Paman akan memberi tahu kamu setelah kamu merasa tenang," tutup Calvin.
Ia tidak mempermasalahkan Arion yang baru saja membentaknya. Yang menjadi masalah adalah Arion bisa melakukan hal nekat jika sampai mengetahui siapa pelaku yang menabrak Lydia.
***
"Kenapa Calvin mengajak Kakak ke rumah sakit? Apa terjadi sesuatu dengan Lydia? Atau mungkin dengan Airin? Tiba-tiba saja Airin tidak ada, kan?" tanya Namira pada Xavier, saat mobil mereka mengikuti mobil Calvin di depan sana.
Xavier hanya menoleh sebentar ke arah istrinya sebelum menjawab.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Coba kamu telpon Airin dan tanyakan dia ada di mana," ujarnya.
Tanpa banyak berpikir, Namira langsung mengikuti saran suaminya dan menghubungi nomor Airin untuk menanyakan di mana sebenarnya putri mereka itu.
"Tidak diangkat. Apa benar terjadi sesuatu dengan putri kita?" tanya Namira khawatir karena Airin tidak kunjung mengangkat telepon darinya.
"Coba kamu telpon sekali lagi," saran Xavier. Ia memiliki ikatan batin yang erat dengan putrinya, dan yakin bahwa putrinya baik-baik saja sekarang.
"Baiklah. Aku coba sekali lagi," sahut Namira kembali mengikuti perkataan suaminya dan menelpon Airin.
***
Dua mobil dengan plat khusus berhenti di parkiran rumah sakit. Satu per satu orang dari dalam mobil keluar dan berkumpul di teras rumah sakit.
"Ada apa, Calvin? Kenapa mengajak kami ke sini?" tanya Xavier, mewakili Namira.
Ia tahu istrinya masih sangat mengkhawatirkan Airin, karena putri mereka belum menerima telepon sampai detik ini.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Namira saat menyadari tatapan kosong putranya.
Ia masih mengkhawatirkan keadaan Airin, dan sekarang ia juga khawatir melihat putranya tampak tidak baik-baik saja.
Arion yang sebelumnya tampil rapi dengan pakaian formal dan toga lengkap, kini tampak berantakan, hanya mengenakan kemeja dengan dasi yang hilang entah ke mana.
"Lydia ditabrak lari oleh seseorang, dan sekarang dia dirawat di sini," ucap Calvin menjawab pertanyaan Xavier dan Namira sekaligus.
"A-apa?" Namira terkejut mendengar itu. Satu tangannya refleks menutup mulut, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ia lega mengetahui tujuan mereka ke rumah sakit bukan karena putrinya. Namun, hal lainnya justru membuatnya khawatir. Arion pasti sangat terpukul mengetahui apa yang menimpa Lydia.
"Aku tidak bisa," ujar Arion, sambil mencengkeram rambutnya sendiri. Ia sudah berusaha tenang seperti yang dikatakan pamannya, tapi hati dan pikirannya sama sekali tidak bisa tenang.
Namira, Calvin, dan Xavier bekerja sama menahan tangan Arion yang mencengkeram rambutnya serta menopang tubuhnya yang nyaris ambruk. Mereka tahu betul bahwa Arion sedang sangat rapuh saat ini.
"Jangan seperti ini, Kak," ujar Namira sambil meraih tubuh lemah Arion ke dalam pelukannya.
Ia tahu hati Arion hancur mengetahui perempuan yang dicintainya terluka. Tapi sebagai ibu ia juga lebih hancur melihat keadaan putranya seperti itu.
"Kamu harus percaya Lydia akan baik-baik saja ditangani para ahli," ucapnya menenangkan Arion, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi Lydia di dalam sana.
Ia hanya bisa berharap tidak ada hal serius yang terjadi pada Lydia yang dapat membuat Arion semakin hancur. Calon menantunya harus baik-baik saja, karena kebahagiaan putranya tergantung pada perempuan itu.
"Seharusnya aku tidak membiarkan Kak Lydia datang sendiri," lirih Arion dalam pelukan Namira.
Tidak ada tangisan, yang ada hanya tatapan kosong dan seluruh tubuh yang gemetar karena sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Kak. Mamah yakin Lydia juga tidak mau melihat kamu seperti ini," ujar Namira masih berusaha menenangkan Arion.
Arion memang tidak menangis. Namun, kondisi fisiknya adalah bukti bahwa Arion tidak baik-baik saja sekarang.
"Aku tidak siap melihat kondisi Kak Lydia," Arion masih berkata lirih di pelukan ibunya.
***
Tangan yang biasa menggenggam dan menggandeng Lydia itu kini digandeng oleh ibunya. Arion sudah lebih tenang, tapi tubuhnya masih lemah hingga sang ibu harus menggandeng tangannya untuk menuntunnya berjalan.
"Lydia pasti akan cepat sembuh kalau kamu ada di sampingnya," ujar Namira menyemangati putranya berjalan.
Mereka sedang berjalan menuju ruangan tempat Lydia dirawat. Sementara Xavier dan Calvin mengikuti di belakang.
"Dari mana kamu tahu Lydia kecelakaan?" tanya Xavier pelan agar obrolannya dengan Calvin tidak terdengar oleh Arion di depan.
"Airin?" suara Arion menyela saat Calvin hendak menjawab pertanyaan Xavier.
Mereka sudah tiba di depan ruangan Lydia, dan Arion terkejut ketika melihat adiknya duduk di depan ruangan Lydia.
Airin yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh, lalu menghampiri kakaknya begitu melihat siapa yang memanggilnya.
"Akhirnya Kakak datang," ujar Airin, lalu memeluk tubuh Arion.
Ia tahu kakaknya sedang terpukul, dan pelukan itu adalah caranya untuk menyampaikan bahwa kakaknya tidak sendirian. Semua orang sedang menunggu Lydia sadarkan diri.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Arion yang membuat Airin spontan melepaskan pelukannya.
"Aku menemani Kak Lydia di sini. Tadi waktu Kakak memintaku mencari Kak Lydia, aku malah menemukannya tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi ikut mobil ambulans ke sini," jelas Airin.
Calvin hendak menghentikan Airin menjelaskan itu, tapi terlambat. Arion pasti marah mengetahui adiknya tidak langsung menghubunginya saat tahu Lydia mengalami kecelakaan.
"Kamu tahu Kak Lydia kecelakaan, tapi tidak langsung menghubungi Kakak?" tanya Arion marah.
"Bagaimana aku bisa menghubungi Kakak, kalau Kakak saja sedang wisuda?" balas Airin tenang.
Ada sedikit kebingungan yang tersirat di wajahnya. Ia merasa sudah melakukan hal yang benar, tapi kenapa kakaknya terlihat marah?