NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 : Menuju ke Bandung

Pagi itu mobil Arinta sudah terparkir di bawah Apartemen tempat tinggalnya Andini. Wajah pria itu sumringah, ia berjalan dengan senyum lebar dan langkah yang mantap ketika memasuki gedung apartemen.

Sementara Alena tampak sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya bersama dengan Alea dibantu oleh Andini dan Yani.

Ya, Alena pada akhirnya masih bersedia memberi kesempatan untuk mencoba sekali lagi, menata hubungan mereka meski hatinya jujur belum ikhlas. Tapi apa yang membuatnya memberikan keputusan ini?

Flashback

Ini bertepatan ketika saat itu Alena mencurahkan kebimbangannya di Instagram miliknya. Banyak yang berkomentar namun ada satu orang yang mengirimkannya sebuah pesan dari akun bernama @aditya_adit.

"Hai, aku Adit salam kenal. Apa aku boleh memberi saran?"

Alena mengernyitkan dahi saat membaca pesan masuk ke dalam IG-nya.

"Silahkan kalau kamu memang punya saran yang baik," balas Alena.

"Aku berbicara sebagai seseorang yang mengalami broken home di masa kecil," ujar pria itu sedikit mengungkapkan kehidupan masa lalunya kepada Alena, orang yang baru pertama kali ia kenal.

Membaca pernyataan pria itu membuat hati Alena terhenyak. Ada suatu kekhawatiran dalam benaknya.

"Aku tau perselingkuhan itu sangat berat dan sulit sekali dimaafkan, tapi percayalah korban dari semua itu adalah anak...."

"Dulu saat orangtuaku berpisah aku benar-benar merasa seperti kehilangan pegangan. Keduanya sibuk dengan masalah masing-masing. Mereka berusaha untuk menjadi yang terbaik menurut versi mereka hanya agar dikatakan layak demi mengurusku..., padahal yang aku butuhkan adalah melihat keduanya bersama tanpa bertengkar..., tapi mereka tidak mengerti, selalu saja ada yang diributkan setiap bertemu dan satu sama lain berusaha saling menjatuhkan...."

Ada jeda sebentar dala tulisannya membuat Alena penasaran. Tapi dia memilih menunggu tanpa bertanya.

"Anak akan menjadi sosok yang paling merasa kehilangan, kamu atau pasangan kamu tidak akan bisa menggantikan posisi, jadi kalau masih memungkinkan cobalah mediasi kembali, kalau perlu ajukan syarat di antara kalian..., maaf kalau aku terkesan ikut campur...."

"Tidak, terimakasih..., ini penting bagiku untuk mempertimbangkan semuanya karena saat ini aku memang memiliki seorang Putri kecil. Dia sangat dekat dengan ayahnya. Sekali lagi terimakasih, Aditya...."

"Sama-sama, Alena...."

End flashback

Alena memang akhirnya jadi memikirkan ulang semua hal dan dampaknya kepada Alea nanti hingga ia mengambil suatu keputusan yang mungkin tidak semua wanita bisa melakukannya. Dia memilih untuk mencoba kembali, masih memberi kesempatan sekali lagi pada Arinta. Cinta tentu masih ada walau terluka, tapi baginya yang paling penting adalah putri kecilnya.

"PAPIIIHHHHH!!" Di tengah lamunannya Alena mendengar suara Alea yang berteriak bahagia. Tak lama Andini datang ke kamar.

"Len, Arinta udah datang tuh!" Bisiknya dengan setengah berteriak di ujung pintu.

Alena pun bergegas, dia bangun dari atas ranjang dan berjalan keluar mengikuti jejak Andini.

"Anak Papih!"

Di luar Arinta terlihat sedang memeluk dan menggendong Alea. Si kecil langsung sumringah ceria. Wajahnya berbinar dan tawanya secerah mentari pagi. Alena diam-diam tersenyum melihat pemandangan itu. Karena meski tidak menangis atau merengek, Alea tidak pernah sebahagia ini selama beberapa waktu belakangan.

"Gimana perjalanannya Rin?" Tanya Andini sambil menyandarkan diri di tembok.

"Ah, lancar, tidak ada masalah," balas Arinta dengan senyum lebar.

"Jadi, kalian berangkat sekarang?" Tanya Andini melihat ke arah Arinta lalu Alena secara bergantian.

"Tergantung Alena, apa dia sudah siap?" Pertanyaan itu justru dilontarkan kembali kepada Alena yang berdiri di samping Andini.

"Iya, aku masih beres-beres. Sebentar lagi selesai, kok," jawabnya menjelaskan.

"Kamu beres-beres aja dulu, aku masih mau main sama Alea," balas Arinta yang tampaknya tidak keberatan untuk menunggu. "Len, aku boleh bawa Alea ke bawah 'kan? Sekalian aku mau panggil orang buat bantuin bawa semua barang-barang kamu ke mobil, gimana?" Tanyanya tiba-tiba dengan mata tetap terfokus kepada Alea yang sedang memainkan tangannya.

"Terserah saja, gak apa-apa, tapi jangan terlalu jauh," jawab Alena masih terdengar sedikit ketus. Tapi Arinta tampak tidak terlalu mempedulikan itu.

"Hore! Kita main yuk, makasih Mamih!" Arinta tertawa senang sambil bercanda dengan gadis kecilnya yang juga ikut berteriak.

"Yay! Makaciw Mamih! Yuk, Papih liat ikan!" Timpal Alea antusias kegirangan.

Arinta menurunkan Alea ke bawah lalu menuntun tangan kecilnya berjalan keluar pintu apartemen.

"Dadah Mamih!"

"Dadah Mamihh!!!"

Keduanya masih sempat melambaikan tangan di depan pintu sebelum pergi. Alena hanya tersenyum kecil dan membalas lambaian tangan mereka.

"Yuk, yuk kita liat ikan!" Arinta pun bergegas membawa Alea berjalan pergi.

Suasana menjadi agak lengang seketika begitu Arinta dan Alea pergi keluar. Andini melirik ke arah Alena dan sedikit tersenyum.

"Arinta kayaknya emang udah kangen banget ya, sama Alea," ujarnya pelan.

"Dia emang paling deket 'kan sama Alea...," balas Alena dengan kejujuran soal Arinta kepada Alea.

Bagaimana tidak? Gadis kecil itu diperlakukan seperti seorang putri. Hampir semua keinginannya dituruti, bahkan ketika Alena tak mengijinkan, gadis itu pasti bakal mengadu kepada Arinta supaya mendapat ijin. Namun, pria itu tak serta-merta memanjakan Alea juga. Dia bisa tegas kepada anak mereka tapi tegas yang berbeda dari Alena yang lebih mendahulukan kedisplinan dan semua harus teratur sesuai urutan dan kemauannya.

"Jujur Len, gue gak kebayang deh kalau Alea harus pisah sama Arinta di usia yang terlalu dini, pas mereka lagi deket-deketnya. Biasanya anak perempuan selalu lebih dekat dengan ayahnya...." Andini akhirnya mengungkapkan apa yang ia takuti kalau seandainya saja Alena bersikeras untuk berpisah.

"Gak semua kayak begitu sih, Din..., tapi kayaknya untuk kasus Alea, dia emang sangat dekat dengan Arinta...," ucap Alena tanpa menapik fakta.

"Semoga dengan keputusan ini, hubungan lu sama Arinta bisa membaik dan rumah-tangga kalian kembali harmonis," ujar Andini dengan tulus.

"Makasih Din, biar semua bantuan dan dukungan lu ke gue...." Alena balas tersenyum, ia menatap ke arah Andini dengan penuh haru.

"Ah elu, jangan liat gue begitu, nanti gue sedih nih!" Balas Andini setengah bercanda. "Udah ah, ayo beresin semua barang-barang lu!" Andini mendorong sedikit tubuh Alena supaya kembali ke kamar untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.

.

.

Di luar apartemen Arinta sedang berjalan-jalan dengan si kecil menuju ke arah kolam yang cukup besar di are taman apartemen yang juga memiliki kolam renangnya di sana.

"Papih itu kolamnya, Pih!" Dari kejauhan anak itu sudah menunjuk-nunjuk dengan hati riang.

"Mana, mana??" Arinta pura-pura penasaran dan tidak melihat. Padahal dia sudah tau kolamnya ada di mana.

"Ih, itu lho Pih! Ayo sini, Alea ajak ke sana!" Gadis kecilnya langsung gregetan. Dia menarik tangan sang ayah untuk mengikutinya berjalan hingga sampai ke kolam ikan.

"Wah, iya ada kolam ikannya!" Arinta pura-pura terkejut untuk membuat sang anak merasa senang dan bangga.

"Alea bener 'kan Pih!" Ujar Alea bertepuk-tangan kecil.

"Iya, Alea pinter banget sih!" Arinta berjongkok kemudian mengusap kepala Alea dengan lembut.

Alea, Papih janji kalau kita bakal terus sama-sama kayak gini terus. Papih gak akan pergi dari Alea ....

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!