Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka yang Berantakan
"Gaya? Gaya apa maksudmu?" Vira mengerutkan dahi, menatap suaminya dengan raut bingung.
William terkekeh pelan, jemarinya mengusap lembut pipi sang istri. "Gaya di ranjang, Sayang. Gaya untuk membuat bayi," bisiknya.
Vira terdiam sejenak, mencerna kalimat itu sebelum matanya membulat. "Oh ... malam pertama kita? Memangnya ada gaya apa saja?" Tangannya terlepas dari leher William. Dengan cepat, ia merogoh saku sweater-nya dan mengeluarkan ponsel. Telunjuknya mulai menari lincah di kolom pencarian media sosial.
"Sebentar, aku cari dulu. Aku baru tahu kalau bermain di ranjang ada gayanya. Aku kira hanya—"
Belum sempat Vira menyelesaikan kalimatnya, William kembali meraup bibir mungil istrinya. Pagutan singkat itu sukses membungkam rasa penasaran Vira.
"Jangan dicari. Malam ini aku yang akan mengajarkan caranya langsung," bisik William tepat di depan bibir Vira.
Vira tersenyum malu dan mengecup lembut pipi suaminya.
Sementara itu, wajah William memerah— bayangan tentang apa yang akan terjadi di dalam kamar nanti membuat jantungnya berpacu hebat.
"Tapi ... aku sedang 'palang merah', Sayang."
Seketika, senyum penuh kemenangan di wajah William luntur, berganti raut masam yang kentara. Pelukannya di pinggang Vira melonggar. "Yah ... kamu ini, ada-ada aja."
Vira tersenyum melihat ekspresi frustrasi suaminya. Ia mengusap rahang tegas William dengan manja. "Dua hari lagi, ya? Tunggu sebentar. Nanti aku janji akan pelajari semua gaya yang kamu mau," bisiknya menggoda.
William mendengus, namun tak bisa menahan diri untuk tidak mengecup pipi Vira dan turun ke leher jenjangnya, meninggalkan jejak kepemilikan yang tersembunyi di balik kerah blouse pink itu.
"Papa!"
Suara cempreng itu memecah keintiman mereka. Vira tersentak dan segera menepuk bahu William agar menghentikan aksinya.
"Papa!" Panggilan Chika terdengar sekali lagi, dibarengi suara derap langkah kaki yang semakin mendekat. Kedua insan itu bergegas merapikan pakaian mereka yang sedikit berantakan.
"Iya, Sayang! Papa dan Mama di sini!" jawab William sembari melangkah menjauhi balkon.
Pintu terbuka lebar. Gadis belia itu berdiri di sana dengan wajah ditekuk dan tangan bersedekap. "Papa sama Tante Vira ngapain di sini?"
William menggaruk alisnya, memutar otak mencari jawaban yang aman. "Jangan panggil Tante lagi, sekarang kan sudah jadi Mama Vira," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Chika hanya diam, melirik curiga ke arah belakang—tempat Vira berdiri di dekat balkon. "Tante, tidur yuk! Chika ngantuk nih," ajak Chika.
Vira melangkah mendekat. "Chika mau tidur bareng Mama?"
"Iya, ayo tidur. Chika takut tidur sendirian di Villa," ujar gadis itu sembari menarik lengan Vira.
"Eits... tidak bisa! Lalu Papa tidur dengan siapa?" protes William, menarik lengan istrinya ke arah berlawanan.
"Loh, Papa kan sudah besar, masa masih harus dijaga tidurnya?" Chika tak mau mengalah, ia menarik Vira lebih kuat.
"Kamu tidur dengan Oma saja sana! Jangan mengganggu!" William masih bersikeras.
"Nggak mau! Papa jangan aneh-aneh deh!"
Vira yang merasa seperti barang rebutan akhirnya mendengus kesal. "STOP!" pekiknya.
William dan Chika seketika mematung. Vira mengusap lembut tangan suaminya, mencoba membujuk, "Sayang, kasihan Chika. Aku temani dia dulu malam ini."
William berdecak kesal, akhirnya melepaskan genggamannya dengan berat hati. "Kamu ya, Chika, selalu saja mencari masalah," gerutunya.
Chika menjulurkan lidah, meledek ayahnya dengan penuh kemenangan. "Sudah sana, tidur sendiri! Sudah besar juga."
William menghentakkan kaki ke lantai, memberikan lirikan kepada istrinya sebelum berbalik menuruni tangga untuk bergabung kembali dengan keluarga besar di bawah.
Chika dengan wajah berseri-seri menuntun Vira menuju kamar, meninggalkan keramaian pesta yang membosankan bagi gadis belia itu.
.
.
Keesokan paginya, suasana Villa berubah menjadi sangat riuh. Suara deru koper dan obrolan para kerabat yang tengah berkemas memenuhi setiap sudut ruangan. Vira, meski masih merasa asing dengan perannya, sudah sibuk di lantai bawah membantu keponakan-keponakan barunya bersiap.
"Vira ... jaga diri baik-baik. Jadilah istri yang penurut. Sayangi suami dan anak-anakmu, meskipun mereka tidak lahir dari rahimmu sendiri," pesan salah satu bibinya.
Vira hanya bisa mengangguk pelan, memberikan pelukan hangat kepada saudara-saudara baru yang menyalaminya secara bergiliran. Di sisi lain halaman, William juga tampak sibuk mengantar para keluarga yang hendak kembali ke Jakarta.
Satu per satu mobil mulai meninggalkan halaman. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang wanita berambut blonde dengan gaya yang sangat modis mendekat ke arah Vira. Dialah Monic, kakak perempuan William yang sejak awal memiliki tatapan dingin.
"Aku pergi dulu. Titip Ibu, adikku, dan kedua keponakanku," bisik Monic lirih tepat di telinga Vira.
"Kau sudah menjadi bagian dari keluarga Sanjaya, jadi ... bersikaplah selayaknya. Mengerti, Vira?"
Monic berdecak kesal, matanya menyapu penampilan Vira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bagi Monic, gaya Vira pagi itu sangat jauh dari standar sosialita Sanjaya.
"Pergilah ke salon, ubah cara berpakaianmu. Jangan terlihat norak seperti ini," lanjutnya sebelum memeluk Vira singkat, kemudian masuk ke dalam mobil.
Vira terpaku, senyum getir tersungging di bibirnya. Kata-kata itu terasa seperti tamparan halus yang meruntuhkan kepercayaan dirinya.
Tak lama kemudian, Villa berubah menjadi sunyi. Hanya tersisa William dan Vira di halaman depan. Inneke masih beristirahat di kamar, begitu pula dengan Chika dan Anggi yang kelelahan setelah pesta semalam.
"Liam ... apa aku terlihat berantakan?" tanya Vira pelan, menatap dirinya di pantulan kaca jendela.
William menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Apanya yang berantakan, Sayang?"
"Kakakmu ... Monic bilang aku kurang bisa merawat diri. Dia bilang aku norak," ucap Vira jujur, tak mampu menyembunyikan rasa sakit hatinya.
William menghela napas, mendekat lalu meraih jemari Vira. "Monic memang selalu menuntut kesempurnaan dalam penampilan. Itu dunianya, bukan duniamu. Jangan dipikirkan," hibur William.
"Tapi kakakmu bilang—"
Belum sempat Vira melanjutkan keluhannya, William mengecup pipinya dengan lembut, menghentikan kalimat itu.
"Kau mau aku buat lebih berantakan lagi? Aku justru lebih suka melihatmu berantakan seperti ini, Sayang," bisik William menggoda.
Tanpa peringatan, William langsung membopong tubuh istrinya, membuat Vira terpekik kaget.
"Liam! Turunkan!"
"Tidak mau. Kita ke kamar sekarang, sebelum para pengganggu kecil itu bangun," bisik William dengan seringai nakal, membawa Vira masuk ke dalam Villa menuju privasi kamar mereka.
"Kita lakukan hal yang berantakan di ranjang sebentar."
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭