Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #15: Pembunuhan
Malam itu, Paviliun Heavenly Scents hening, hanya terdengar suara jangkrik dan dengkuran para tamu yang mabuk.
Di kamar kelas atas, Geun sedang tidur telentang di kasur sutra yang empuk. Mulutnya sedikit terbuka, air liur menetes ke bantal. Nona Lili sudah pulang ke kamarnya sendiri karena Geun mengeluh kakinya kram dan butuh ruang luas untuk meregangkan badan.
Mimpi Geun indah. Dia sedang berenang di lautan koin perak dan emas ditemani banyak bidadari yang melakukan tarian pedang.
Namun, mimpi itu tiba-tiba berubah menjadi merah.
SRIIIING...
Suara yang sangat halus. Hampir tidak terdengar oleh telinga manusia biasa. Suara logam tipis yang digesekkan keluar dari sarung kulit.
Mata Geun terbuka lebar.
Bukan karena dia mendengar suara itu. Tapi karena "Mata qi"-nya, yang aktif secara pasif saat dia dalam bahaya, menangkap gangguan di udara.
Dalam kegelapan kamar yang pekat, Geun melihat dua gumpalan energi berwarna abu-abu keruh merembes masuk dari celah jendela.
Energi itu tipis, jauh lebih lemah dari Baek Mu-jin atau Ketua Bandit Gang-dol, tapi niat membunuhnya tajam dan dingin seperti es.
Pembunuh.
Geun panik setengah mati, namun tidak berteriak. Dia tidak melompat.
Dia melakukan apa yang diajarkan kehidupan jalanan, yaitu berpura-pura mati sampai kau yakin bisa menggigit balik.
Dua sosok berbaju hitam meluncur masuk tanpa suara. Si Kembar Ular Besi.
Gerakan mereka sinkron. Satu bergerak ke kiri tempat tidur, satu ke kanan. Di tangan mereka berkilau belati melengkung yang diolesi racun.
Mereka tidak akan membuang waktu untuk pidato perkenalan, karena mereka profesional, bukan praktisi terhormat.
Pembunuh di kanan mengangkat belatinya, mengincar arteri leher Geun.
Pembunuh di kiri menyiapkan kawat garrote untuk menjerat leher jika tusukan meleset.
"Sekarang!"
Saat belati itu turun, Geun bergerak.
Dia tidak berguling. Dia mengempiskan rongga dadanya.
Geun menghembuskan seluruh udara di paru-parunya dan mengontraksikan tulang rusuknya ke dalam, membuat dadanya turun lima inci secara drastis.
SWUSH!
Belati itu menusuk kasur, tepat di tempat jantung Geun berada sepersekian sedetik yang lalu.
"Apa?!" Pembunuh itu kaget. Sensasi menusuknya salah, tidak tepat sasaran.
Sebelum si pembunuh sadar, tangan Geun melesat dari bawah selimut.
Bukan untuk menangkis, tapi tangan Geun melilit lengan si pembunuh seperti ular sanca.
Geun tidak punya teknik bela diri. Dia tidak tahu cara memukul yang benar.
Tapi dia tahu anatomi dasar. Dia tahu di mana tulang paling lemah dan area yang paling sakit saat dipukul berkat hidupnya yang sering dipukuli sebagai orang miskin.
Geun mencengkeram pergelangan tangan si pembunuh, lalu dengan sentakan energi internal liarnya yang panas, dia memutar tangan itu ke arah yang salah.
KRAK!
"ARGH!" Si pembunuh menjerit tertahan. Tulang hastanya patah tebu.
Pembunuh kedua yang memegang kawat bereaksi cepat. Dia melempar kawatnya, melilit leher Geun dan menariknya.
"Mati kau!"
Kawat itu mengencang, memotong kulit leher Geun. Daranya menetes, nafas Geun terhenti.
Rasa sakitnya luar biasa. Lehernya serasa mau putus.
Dalam kepanikan, mata Geun melihat aliran energi si pembunuh kedua.
Lemah. Aliran energi internalnya hanya berputar di lengan, tidak melindungi organ dalam.
"Kau mau main leher? Ayo main leher!", batik Geun, jantungnya berdetak kencang karena panik.
Geun melakukan hal gila.
Alih-alih mencoba melepas kawat, dia memanjangkan lehernya.
Dia merenggangkan ruas tulang lehernya secara paksa, memberi ruang beberapa milimeter agar kawat itu tidak menekan arterinya.
Lalu, dia menendang ke belakang.
Kakinya menekuk terbalik, seperti belalang sembah. Tumitnya menghantam selangkangan si pembunuh kedua dengan akurasi 100%.
BUAGH!
"Ukh..." Mata si pembunuh kedua memutih. Dia melepaskan kawatnya, jatuh berlutut memegangi masa depannya yang hancur.
Geun terbebas.
Dia melompat dari kasur, napasnya memburu. Darah mengalir dari lehernya.
Dia marah, sangat marah.
Dia baru saja makan enak. Dia baru saja tidur nyenyak. Dan bajingan-bajingan ini merusaknya.
"Kalian..." Geun mengambil linggis berkaratnya yang bersandar di dinding. Kain pembungkusnya sudah dia buka sebelum tidur. Dia tampak gemetar ketakutan, namun berusaha untuk terus bertahan hidup.
Si pembunuh pertama, meski tangannya patah, mencabut belati cadangan dengan tangan kiri.
"Bunuh dia! Dia cuma amatir!"
Dia menerjang maju.
Kali ini Geun tidak menghindar.
Dia melihat celah besar di pertahanan si pembunuh. Orang ini terlalu fokus menyerang, lupa bahwa energi pelindungnya setipis kertas.
Geun mengayunkan linggisnya. Bukan sebagai pedang, tapi sebagai palu.
DUM!
Linggis besi itu menghantam tepat di tengah dada si pembunuh.
Tulang rusuk hancur. Paru-paru pecah. Jantung tergencet.
Si pembunuh terlempar ke dinding, merosot jatuh seperti boneka rusak. Darah hitam muncrat dari mulutnya. Mati.
"Astaga? Kok sekuat itu?" Geun tersentak kaget. Dia tidak menyadari kalo dirinya yang sekarang adalah seniman bela diri yang setingkat lebih kuat daripada lawannya saat ini.
Pembunuh kedua mencoba bangkit, tapi Geun sudah ada di depannya.
Geun mencengkeram leher pembunuh itu dengan tangan kirinya.
Dia melihat jalur napas yang rapuh.
"Siapa yang suruh?" tanya Geun dingin.
Si pembunuh meludah ke wajah Geun.
Geun tidak bertanya dua kali.
Jarinya menekan ke dalam. Tanpa diberi perintah, secara otomatis energi internal panasnya meledak di ujung jari.
KREK.
Tenggorokan si pembunuh hancur. Jakunnya remuk.
Dia menggelepar sebentar, mencakar-cakar tangan Geun, lalu diam selamanya.
Suasana menjadi hening.
Geun berdiri di tengah kamar mewah yang kini berantakan. Darah membasahi karpet. Dua mayat tergeletak dengan posisi aneh.
Geun mundur selangkah. Linggisnya jatuh dari tangan.
Kakinya lemas.
Tiba-tiba perutnya bergejolak.
"Huek!"
Geun muntah di lantai.
Ayam ginseng dan anggur mahal yang dia makan tadi keluar semua.
Tubuhnya gemetar hebat.
Ini bukan membunuh bandit dari jarak jauh. Atau membunuh dalam kekacauan perang.
Ini pembunuhan jarak dekat. Dia merasakan tulang mereka patah di tangannya. Dia melihat cahaya kehidupan padam dari mata mereka.
"Sialan... sialan..." Geun menyeka mulutnya dengan punggung tangan yang gemetar.
Tapi kemudian, matanya tertuju pada pinggang mayat pembunuh pertama.
Ada kantong uang yang terlihat berat.
Seketika, gemetar ketakutan di tangan Geun berhenti.
Insting gembel-nya mengambil alih trauma tubuhnya.
Geun merangkak mendekati mayat itu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia mengambil kantong itu.
Dia membukanya.
Mata Geun terbelalak.
Perak. Banyak sekali perak.
Ada sekitar 33 tael di kantong ini.
Dia memeriksa mayat kedua. Ada 38 tael lagi.
Total 71 Tael Perak.
"Jackpot..." bisik Geun, air matanya akibat muntah belum kering, tapi bibirnya sudah menyeringai lebar. "Bajingan-bajingan ini... mereka celengan berjalan."
Rasa bersalahnya lenyap 80%, digantikan oleh rasa syukur.
71 tael + 23 tael dari Wudang + sisa uangnya sendiri 7 tael dan 86 koin tembaga. Dia sekarang punya total hampir 102 tael. Cukup untuk membeli rumah kecil dan sawah beberapa meter persegi di pedesaan.
Geun sangat senang.
Saat sedang menjarah saku-saku lain dari mayat itu, sembari mencari racun atau senjata tambahan, jari Geun menyentuh sesuatu yang lembut dan keras di balik baju dalam si pembunuh.
Geun penasaran, dan menyentuh lagi sesuatu yang lembut itu. "Hmmm? Kok rasanya familiar, ya?"
Karena penasaran, Geun membuka pakaian mayat pembunuh itu, dan terkejut setengah mati. "Astaga?! M-maaf.. Errr. Bu?? Aku tidak sengaja. Aku pasti akan menguburkan mu dengan layak sebagai permintaan maaf... Serius..."
Namun, dibalik pakaian pembunuh itu ada sesuatu yang lain yang mencuri perhatian Geun.
Sebuah lempengan logam kecil.
Bukan emas dan bukan perak. Tapi tembaga hitam.
Di lempengan itu terukir sebuah simbol sederhana namun elegan.
Seekor Bangau Perak dengan Sayap Terbuka.
Simbol Grup Dagang Silvercrane.
Darah Geun membeku.
Dia tahu simbol ini. Dia melihatnya di bendera karavan. Dia melihatnya di seragam pengawal resmi.
"Jadi begitu..."
Geun menggenggam lempengan itu, tangannya bergetar.
Tebakan Baek Mu-jin benar.
Silvercrane tidak akan membiarkan saksi hidup.
Si Botak, pengawal resmi, atau atasan di Silvercrane, menginginkan dia mati.
"Astaga... aku tidak akan lagi main-main dan berbohong menjadi pendekar. Aku sudah tau betapa ribetn dan bahayanya dunia praktisi bela diri. Tapi apa-apaan ini?"
Wajah Geun perlahan mulai pucat. Dia merasa hidupnya tidak akan aman lagi.
"Sial! Tau begini aku akan terus jadi pengemis!" Geun mulai menyesali keputusannya di awal karena memilih berpura-pura menjadi seniman bela diri, dan sekarang terlibat masalah yang terlalu besar.
Geun mulai menyadari betapa mengerikannya dunia bela diri.