Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Dengan geraman kesal, Callum bangkit berdiri. Ia berniat mendekati Lauren, wanita yang pasti adalah istri baru Paman George. Ia tidak mengenalnya. Bahkan, satu-satunya orang yang masih diingat Callum hanyalah Tante Melanie, penyelamat hidupnya.
“Apa urusanmu?” tanya Callum dingin.
Lauren tersenyum angkuh.
“Bukan urusanku. Tapi apakah ini balasanmu atas Melanie?”
“Mom,” tegur George, sedikit malu dengan sikap istrinya yang terkesan tidak sopan.
“Jangan hentikan aku, Dad. Delanay butuh keadilan.”
Lauren berbicara sambil bersandar pada meja kecil di dekat vas bunga, kedua lengannya terlipat di dada.
Delanay sendiri tidak merasa membutuhkan keadilan dari Callum. Justru Lauren lah yang membuat semuanya tampak licik. Delanay tahu ibunya meninggal setelah menolong Callum. Itu kisah lama. Delanay bahkan tidak marah, karena ibunya sering berbicara tentang kemanusiaan. Lalu kenapa Lauren mengungkitnya sekarang?
“Keadilan? Di mana letak keadilannya, Nyonya?” tanya Callum.
Lauren tersenyum. Callum memang benar-benar memiliki jiwa pebisnis. Tak heran namanya melesat dalam lima bulan terakhir.
“Dengarkan. Jika kamu menikahi Delanay, kamu akan menyelamatkannya sekaligus membalas pengorbanan Melanie. Itulah yang disebut keadilan,” katanya dengan berani.
Callum mendengus. Tak perlu ditanya seperti apa karakter wanita ini. Ia sangat berbeda dengan Tante Melanie.
Mengangguk pelan, Callum menebak, “Apa Anda khawatir pada Delanay?”
Lauren mengangguk.
Sayangnya, Delanay sudah menceritakan pada Callum siapa ibu tirinya. Seorang ibu yang pilih kasih. Selalu memperlakukan Delanay sebagai anak tiri yang menyebalkan.
Lauren tak ragu mengkritik kekurangan Delanay. Bahkan di depan George, ia berpura-pura baik.
“Tentu saja. Aku ibunya, aku—”
“Maaf.”
Delanay menyela lebih dulu, tak suka melihat Lauren berusaha mengambil hati keluarga Callum.
“Bisakah kami bicara sebentar?”
Semua orang menoleh padanya. Callum menatap Delanay lekat-lekat. Gadis itu terlihat kesal. Mungkin karena ibu tirinya.
“Aku dan Kak Callum. Tolong beri kami waktu,” jelas Delanay lagi.
Callum mengangkat bahu.
“Aku tidak keberatan.”
Ethan, Clara, dan George saling berpandangan. Tanpa banyak bicara, mereka pun pergi.
Namun Silvy tampak enggan. Ia berkali-kali melotot ke arah kakaknya. Tak jelas apa yang dipikirkannya. Jika saja ibunya tidak menariknya, mungkin ia sudah mengganggu Delanay dan Callum.
“Lucu, ya?” tanya Delanay begitu pintu tertutup.
Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dari sana, halaman hotel yang ramai terlihat jelas. Delanay hampir berada di lantai paling atas; gedung Kementerian Agama bahkan bisa terlihat dari sini.
Delanay terus bertanya pada dirinya sendiri—haruskah ia mengambil risiko? Haruskah ia mengikuti keinginan Lauren? Tapi bukankah itu egois?
“Apa yang lucu?” tanya Callum.
Delanay melihat Callum berdiri di sampingnya.
“Tadi kamu menyuruhku mencari pria lain, seseorang dengan posisi tinggi. Siapa sangka orang itu justru kamu?”
Dunia ini bukan hanya kejam—tapi juga gila.
Callum terdiam. Ia berpikir.
Di satu sisi, ia kasihan pada Delanay. Ia ingin menyelamatkannya. Namun di sisi lain, ia merasa justru akan membawa penderitaan jika mereka menikah. Ia bukan pria yang bisa menjanjikan kebahagiaan, apalagi cinta.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Callum menoleh.
Ia mendapati Delanay tersenyum. Entah itu senyum tulus atau pahit—yang jelas senyum itu terasa hambar.
“Benarkah?”
Delanay menggumam pelan.
“Rasanya kejam kalau aku melibatkanmu hanya karena kita saling berutang budi. Kamu berhak menolak. Bahkan jika aku tidak jadi menikah hari ini, itu salahku sendiri. Itu konsekuensiku.”
Callum menatap Delanay dalam-dalam.
“Kamu cantik.”
“Hah?”
Untung saja rambut Delanay tidak disanggul. Kepalanya bisa langsung menoleh cepat.
“Kamu tidak buruk. Kamu cantik. Bahkan sangat cantik.”
Callum terdiam sejenak, mengingat ucapan sahabatnya—bahwa kesempatan tidak datang dua kali.
“Aku rasa pria mana pun akan memilihmu sebagai istrinya.”
Pipi Delanay terasa panas.
Matanya menyusuri wajah Callum dari samping.
Rahang pria itu tegas, kokoh, membuat Delanay ingin menggigitnya. Betapa beruntungnya gadis yang menjadi kekasih Callum.
Terlebih jika menjadi istrinya. Ia pasti akan posesif. Pria ini terlalu tampan.
“Menurutmu…” Delanay ragu.
“Ya?”
Dua pasang mata yang hampir serupa saling bertemu.
“Menurutmu aku harus membalas budi itu sekarang?”
“Tidak,” jawab Delanay tegas.
“Kenapa?” Callum mengernyit.
“Karena kita tidak saling mencintai.”
Siapa tahu Callum sudah memiliki kekasih yang ingin ia nikahi. Bagaimana mungkin Delanay merebut pria ini?
Meski Callum adalah tipe idamannya, Delanay membenci perebut rumah tangga orang. Terlebih jika ia sendiri pelakunya.
“Bagaimana kalau aku bilang aku ingin menikahimu?”
“Tidak mungkin!”
Sebuah teriakan justru menjawab pertanyaan Callum. Suara itu datang dari pintu. Silvy berdiri di sana dengan wajah tidak setuju.
“Kenapa?” tanya Callum.
Sementara itu, Delanay menghela napas. Ia tahu adiknya pasti ikut campur.
“Karena kamu hamil.”
“Apa?!”
Callum, Ethan, Clara, bahkan George yang baru masuk, terkejut.
“Kamu hamil, Nak?” Clara menutup mulutnya.
Namun hal itu menghancurkan ketenangan Delanay. Setelah ini, ia akan dihakimi. Setelah ini, tak akan ada kesempatan lagi. Setelah ini, semua orang akan membencinya.
Menyebut Delanay wanita murahan.
Menutup mata, Delanay mengangguk.
“Ya. Aku hamil.”
“Anak siapa?” bentak George sambil mendekat.
Delanay menelan ludah.
Tangannya mengepal.
Jika ia menyebut nama ayah bayi itu, apakah akan ada perubahan? Apakah segalanya akan berbeda?
Tidak!
Tubuhnya gemetar saat wajah George tepat di depannya.
“Siapa ayahnya? Jawab aku, Nay!” bentak George.
Tangan pria itu mencengkeram bahu Delanay dengan kasar.
“A-aku tidak tahu,” jawab Delanay lirih.
Kepalanya tertunduk.
Mata George membelalak.
Putri yang selalu ia banggakan hamil di luar nikah?
Bajingan mana yang berani menodai Delanay?
“Jovan! Ini anak Jovan, kan?”
George bukan pria yang mudah menyerah. Ia akan mengusut semuanya.
Meski ia kecewa karena Delanay maupun Silvy tak pernah mengatakan apa pun padanya.
“Katakan, Nay! Atau Papa akan menghukummu!”
Delanay menggeleng.
“Nay tidak tahu, Dad… hiks…”
Air mata yang ditahannya kembali jatuh.
Inilah alasan Delanay frustrasi dengan keputusan Jovan.
Pria itu berjanji akan bersamanya, tapi justru meninggalkannya tepat di ambang pernikahan.
Semua mimpinya hancur.
Bukan hanya karena Jovan mengkhianatinya.
Tapi sejak malam mimpi buruk itu.
“Sialan!”
Napas George tersengal. Dadanya mulai berdenyut sakit.
“Dosa apa yang Papa perbuat, Nak? Kenapa semua yang kamu lakukan selalu menjadi masalah?”
Brugh!
George meninju dinding.
Membuat Delanay menjerit histeris.
“Tenanglah, George,” sela Ethan.
Clara segera mendekat.
Ia memeluk bahu Delanay yang gemetar.
“Ayo, sayang, duduk.”
Ia segera menuntun Delanay ke sofa terdekat.
Mereka butuh ketenangan untuk meluruskan semuanya.
“Jangan menangis. Katakan yang sebenarnya, kami akan membantumu.”
“Aku tidak bisa, Tante.”
Air mata Delanay terus mengalir.
“Kenapa, sayang?” Clara merasa pilu.
Ia bahkan tak lagi peduli pada Lauren yang berdiri diam seolah menonton.
Ibu macam apa dirinya?
“Karena… aku juga tidak tahu siapa ayahnya,” bisik gadis berusia dua puluh sembilan tahun itu.
Clara mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
Sulit membayangkan apa saja yang telah Delanay lalui.
Jelas ia belum siap untuk hamil.
Ditambah lagi, ia tidak mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Itu pasti menjadi pukulan terberat baginya.
Seperti sebelumnya, Clara menolak untuk menghakimi dengan mudah.
Mungkin inilah alasan Delanay ditinggalkan oleh calon suaminya. Selain fakta bahwa pria itu berselingkuh.
“Sudah berapa lama?” tanya Clara.
Delanay terisak.
“T—tiga minggu.”
Clara mengangguk.
“Pasti berat.”
Delanay membiarkan Clara memeluknya, membujuknya agar mau menceritakan kejadian itu.
Clara tidak memaksanya.
Sebaliknya, ibu Callum itu berbisik lembut.
“Lepaskan saja, sayang. Lepaskan semuanya.”
Sambil terisak, Delanay menceritakan kejadian itu.
Hal tersulit dalam hidupnya.
Bahkan saat ia ingin jujur, rasa malu tetap menghantuinya.
Dirinya—gadis yang terlalu polos dan bodoh.
Ia datang ke pesta lajang Vanny, menggantikan Elara yang sedang sibuk mengurus Danela.
Malam itu, Delanay yakin ia tidak meminum apa pun.
Kecuali air yang ia bawa sendiri dari butik.
Ia bahkan memilih tempat yang sepi. Tenang dan sendirian.
Namun semuanya terjadi begitu cepat.
Ia mabuk dan tiba-tiba diseret masuk ke sebuah ruangan.
Dengan paksa.
Pakaiannya dilucuti secara paksa.
“A-aku…” napas Delanay tersengal.
“A-aku… diperkosa, Tante… hiks…”
Gadis itu merintih, membalas pelukan Clara.
Lebih erat.
Memohon ampun, meminta belas kasihan, dan berteriak agar tidak dibenci.
Delanay—gadis yang selama ini kuat—kini hancur.
Tak tersisa apa-apa.
George langsung jatuh ke lantai.
Ia terisak saat mendengar tangisan Delanay.
Ia benar-benar tidak becus melindungi harta paling berharganya.
Ayah macam apa dirinya?
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih