Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakit
Hari-hari berjalan seperti biasa, dengan ritme yang perlahan mulai terasa akrab. Pagi berangkat bekerja sore pulang, malam diisi hal-hal kecil yang dulu tidak pernah diperhitungkan.
Hari ini langit tampak mendung sejak pagi, abu-abu menggantung rendah, seolah menahan sesuatu sampai akhirnya nanti akan tumpah. Lala sempat menengadah lama dari balik jendela kantor, menebak-nebak cuaca. Kayaknya bakal hujan deras, pikirnya.
Menjelang pukul empat sore, ia sudah merapikan meja. Laptop dimasukkan ke tas, kabel digulung rapi, kursi didorong kembali ke bawah meja. Hujan belum turun, tapi udara sudah lembap dan angin mulai dingin. Ia tidak mau ambil risiko. sambil menunggu jam empat teng ia terus berada di balik jendela dan melihat keluar.
“Pak, duluan ya saya,” ucap Lala saat jam sudah tepat jam empat, sambil menyampirkan tas ke bahu.
“Iya, Mbak Lala. Hati-hati, kayaknya mau hujan,” balas rekan sedivisinya.
Lala hanya mengangguk singkat. Langkahnya dipercepat menuju halte. Beberapa titik gerimis mulai jatuh saat ia sampai di sana cukup untuk membuat aspal menggelap dan udara berubah aroma. Untungnya bus tidak lama datang. Begitu pintu terbuka, Lala langsung masuk dan berdiri di dekat jendela.
Hari ini ia pulang sendiri. Rendra sudah mengabari sejak siang bahwa ada rapat evaluasi yang molor. Lala tidak keberatan. Ia sudah terbiasa dengan hari-hari seperti ini kadang bareng, kadang sendiri.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, bus berhenti di halte yang tidak jauh darj perumahan tempatnya dan Rendra tibggal. Hujan belum juga reda, malah semakin rapat. Lala membuka payung dan memutuskan berjalan kaki saja. Sepuluh menit, pikirnya. Hujan membuat jalanan sepi, hanya suara rintik yang jatuh di payung dan langkah kakinya sendiri.
Sampai rumah, ia langsung menutup pintu rapat-rapat. Sepatunya dilepas diletakan di rak sepatu, dan tas ia letakan di kursi. Tubuhnya terasa dingin, meski tidak sampai basah kuyup.
Lala menyalakan air hangat, mandi lebih lama dari biasanya, membiarkan uap memenuhi kamar mandi. Setelah itu, ia membuat secangkir teh hangat, duduk di sofa sambil menatap hujan dari balik jendela.
Malam datang.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan. Di luar, hujan justru makin deras, suara air yang menghantam atap rumab terdengar lebih keras. Lala melirik ponselnya, belum ada pesan baru.
“huft... Rendra kok belum pulang, ya,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Ada rasa khawatir kecil yang muncul tanpa diminta.
Tak lama kemudian, suara mesin motor terdengar dari luar, berhenti tepat di garasi. Lala langsung berdiri. Begitu pintu terbuka, Rendra masuk dengan jaket dan pakaian basah kuyup. Rambutnya basah.
“Ren...” Lala refleks mendekat. “Lo ujan-ujanan. Konga pake mantel.”
“Gak kebawa mantelnya kemarin pas pulang kan di pake, kelupaan masukin jok motor lagi” jawab Rendra, suaranya sedikit serak.
Tanpa banyak bicara, Lala langsung ke dapur, menyiapkan air hangat dan menuangkan teh ke cangkir. Ia kembali ke ruang tamu dan menyerahkannya ke Rendra.
“Minum dulu.”
Rendra menerima cangkir itu, menghangatkan tangannya di sana sebelum menyesap. “Dingin banget, La,” katanya sambil menghela napas, setengah menggigil.
“Lo udah makan?” tanya Lala, nada suaranya datar tapi penuh perhatian.
“Udah tadi di kantor.”
“Yaudah. Mandi air hangat, gih.”
Rendra mengangguk. “Gue mau selimutan abis ini,” ujarnya sambil melangkah ke arah kamar, meninggalkan jejak air kecil di lantai.
Lala memperhatikan punggungnya sejenak sebelum berbalik membereskan dapur. Di luar hujan masih turun tanpa jeda, tapi di dalam rumah, ada kehangatan yang pelan-pelan menetap.
Rendra masuk kamar mandi tanpa banyak bicara. Suara air langsung terdengar, deras dan hangat. Lala mematikan lampu ruang tamu, menyisakan satu lampu kecil, lalu berjalan ke kamar. Ia duduk di tepi kasur, ponsel di tangan, tapi layar dibiarkan gelap. Pikirannya melayang ke hal-hal sepele hujan, jalanan licin, wajah Rendra yang pucat kedinginan barusan.
Tak lama, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka, uap hangat menyusup keluar. Rendra muncul dengan rambut masih setengah basah, kaus rumah yang langsung ia pakai, dan handuk kecil disampirkan di leher. Ia menggosok rambutnya asal, lalu naik ke kasur tanpa banyak gaya.
“Enak banget mandi air hangat pas hujan gini,” katanya sambil merebahkan badan, menarik selimut sampai dada.
Lala melirik. “lain kali jangan di trabas aja.”
“Gue mau neduh tapi ujarnya keliatan awet,” Rendra membela diri setengah malas. “pengen cepet sampe rumah, udah pusing banget gue sama rapat”
Lala tersenyum kecil. Ia ikut berbaring, menyisakan jarak tipis di antara mereka jarak yang belakangan sering ada, bukan karena canggung, tapi karena belum terbiasa mengisi ruang yang sama dengan tubuh orang lain sepanjang malam.
Hening sebentar. Hanya suara hujan.
“Tehnya abis?” tanya Lala.
“Abis,” jawab Rendra. “Makasih ya.”
Ucapan itu sederhana, tapi membuat Lala menoleh. Ada nada tulus yang selalu sama setiap kali Rendra mengatakannya tidak berlebihan, tidak dibuat-buat.
Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu membuka lagi, menatap langit-langit. “Tadi rapatnya molor banget, banyak banget yang di bahas. Ujan lagi... jadi bikin tambah lama dengan alasan masih ujan jadi dilanjut dulu.” ucap Rendra setengah kesal.
Lala mengangguk, mengerti maksudnya. Ia menarik selimut sedikit lebih ke atas, bahunya tersentuh lengan Rendra. Sentuhan kecil itu membuat Rendra menoleh.
Ia bergeser sedikit, tidak ada pelukan, tidak ada genggaman hanya dua orang yang sama-sama memilih untuk diam di tempat yang sama.
Hujan di luar masih deras. Di dalam kamar, napas mereka perlahan menyatu dalam ritme yang tenang. Untuk malam itu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Cukup saling tahu mereka sudah pulang, sudah aman, dan besok bisa dilanjutkan.
—
Malam itu sunyi, tapi tidak benar-benar tenang.
Lala terbangun karena ada sesuatu yang terasa tidak beres. Bukan suara keras, bukan gerakan tiba-tiba melainkan desahan napas yang tidak beraturan di sampingnya. Rendra menggeliat, selimutnya ditarik naik turun, tubuhnya gelisah seperti sedang bermimpi buruk.
“Ren...” Lala berbisik sambil menepuk pelan bahunya. “Ren, kenapa?”
Tidak ada jawaban yang jelas. Hanya gumaman lirih yang nyaris tidak bisa ditangkap, disusul tubuh Rendra yang menggigil meski selimut sudah menutupinya sampai leher. Naluri Lala langsung siaga. Ia bangkit duduk, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Rendra.
Panas.
Bukan panas biasa.
Lala langsung berdiri, berjalan cepat ke lemari kecil tempat mereka menyimpan obat-obatan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil termometer. Ia kembali ke kasur, menekan alat itu ke dahi Rendra, menunggu beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Angkanya muncul. 39 derajat.
“demam...” gumam Lala pelan.
Ia tidak panik berlebihan, tapi kepalanya langsung penuh dengan berbagai kemungkinan. Masuk angin. Kehujanan. Kecapekan. Semua terhubung jelas sekarang. Rendra memang selalu begitu kelihatannya saja kuat, tapi sekali tubuhnya tumbang, jatuhnya langsung serius.
Lala beranjak lagi, kali ini ke dapur, ia kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil. Handuk itu dicelupkan kedalam baskom lalu ia memerasnya perlahan. Saat ia menempelkan kompres ke dahi Rendra, lelaki itu sedikit terbangun, matanya setengah terbuka.
Tangannya refleks mencari sesuatu, dan tanpa sadar menggenggam tangan Lala.
“Dingin banget, La...” suaranya serak, hampir seperti anak kecil yang mengigau.
Hati Lala mencelos. Ia tetap mengompres dahi Rendra dengan gerakan pelan, sabar, meski dadanya terasa sesak.
“Makanya,” ucapnya lirih, nada suaranya berusaha tetap stabil, “lain kali kalo hujannya deres banget jangan lo trabas.”
Rendra mengerutkan kening, tapi masih sempat menjawab, suaranya lemah tapi keras kepala seperti biasa.
“Biar cepet sampe rumah...”
Jawaban itu justru membuat Lala terdiam sesaat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap. Ia tahu Rendra tidak sedang sok kuat. Ia benar-benar hanya ingin cepat pulang. Ke rumah. Ke tempat yang sekarang juga dihuni olehnya.
Lala menghela nafas pelan, menahan perasaan yang mulai bercampur khawatir, kesal, tapi juga hangat dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia bangkit lagi, mengambil strip obat dari kotak P3K. Paracetamol. Ia menuangkan air hangat ke gelas, lalu kembali duduk di tepi kasur.
“Ren,” katanya lembut sambil menyentuh bahu Rendra, “minum obat dulu, ya.”
Rendra membuka mata sedikit lebih lebar, mengangguk pelan tanpa banyak protes. Lala membantu menopang kepalanya, memastikan obat itu tertelan dengan baik. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat, kembali mengompres dahi Rendra, kali ini sambil mengusap pelan rambutnya yang sudah kering tapi masih berantakan.
Rendra kembali memejamkan mata. Genggaman tangannya melemah, tapi tidak sepenuhnya lepas.
Lala tetap di situ. Tidak kembali tidur. Tidak menjauh.
Malam itu, hujan masih turun di luar tidak deras seperti sebelumnya, hanya gerimis kecil. Tapi di dalam kamar, Lala duduk berjaga dalam diam, dalam cemas kecil yang tulus menunggu suhu Rendra turun, menunggu napasnya kembali tenang.
Lala tidak beranjak ke mana-mana.
Jam di ponselnya sudah lewat tengah malam, tapi ia masih duduk di sisi tempat tidur, kompres di tangannya diganti berkala. Setiap kali handuk mulai hangat, ia kembali membasahinya lagi, lalu menempelkannya ke dahi Rendra dengan gerakan hati-hati seolah takut sentuhan yang terlalu kasar bisa membuatnya makin tidak nyaman.
Napas Rendra masih berat, tapi tidak lagi terputus-putus seperti sebelumnya. Sesekali alisnya berkerut, bibirnya bergerak seakan ingin bicara, tapi tak ada suara yang benar-benar keluar. Lala mendekat, mencoba menangkap gumamannya.
“Dingin...” lirih Rendra, hampir tak terdengar.
Lala menelan ludah. Tangannya refleks mengusap lengan Rendra, naik turun pelan.
“Iya, Istirahat ya.” katanya, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Ia kembali mengecek suhu tubuh Rendra dengan termometer. Angkanya turun sedikit belum normal, tapi cukup membuat Lala bernapas lebih lega. Ia menarik selimut hingga menutup dada Rendra, lalu duduk kembali, kali ini bersandar ke sandaran kepala ranjang.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara hujan di luar jendela dan dengusan napas Rendra yang pelan-pelan mulai teratur.
Tanpa sadar, Rendra menggeser tubuhnya sedikit ke arah Lala. Kepalanya miring, hampir menyentuh sisi tubuh Lala. Tangannya bergerak mencari, lalu kembali menggenggam pergelangan tangan Lala lebih kuat dari sebelumnya.
“Jangan pergi...” ucapnya lirih, masih setengah sadar.
Lala terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya membalas dengan menautkan jarinya ke jari Rendra, membiarkan genggaman itu ada.
Lala akhirnya merebahkan tubuhnya di sisi Rendra, masih setengah duduk, setengah berbaring. Ia tidak berniat tidur, tapi rasa lelah menyerangnya pelan-pelan. Matanya berat, tapi pikirannya tetap siaga.
Di sela-sela kantuk, ia menyadari sesuatu yang sederhana namun menghantam pelan. Ini pertama kalinya ia merawat Rendra seperti ini. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai tempat cerita.
Tapi sebagai istrinya.
Tidak ada janji besar. Tidak ada kata manis. Hanya malam hujan, demam tinggi, dan kehadiran yang tidak pergi ke mana-mana.
Saat akhirnya Lala tertidur dengan tangan masih saling menggenggam, hujan di luar mulai mereda.
—
Paginya, lala terbangun lebih dulu, refleks tangannya langsung menyentuh dahi Rendra. Hangat tapi tidak lagi menyengat seperti semalam. Ia menghela napas lega, lalu meraih termometer di nakas. Angkanya turun cukup jauh. Belum benar-benar normal, tapi jelas lebih baik.
Rendra masih tidur, wajahnya terlihat pucat tapi tenang. Lala bangkit pelan, berusaha tidak membangunkannya, lalu menuju dapur.
Ia memasak bubur. Tidak banyak bumbu hanya yang ringan dan hangat di perut. Sambil menunggu bubur matang, Lala sesekali melirik jam dinding. Waktu berjalan cepat, sementara kepalanya penuh dengan daftar kecil. obat pagi, air hangat, pesan makan siang, izin telat ke kantor.
Saat bubur siap, Lala kembali ke kamar membawa nampan kecil. Rendra terbangun perlahan ketika ia duduk di sisi ranjang.
“Ren,” panggil Lala lembut. “Bangun bentar ya.”
Rendra membuka mata setengah, ekspresinya masih lelah.
“Udah pagi?” suaranya serak.
“Iya. Sarapan dulu.”
Lala menyuapi Rendra pelan-pelan. Tidak banyak kata di antara mereka. Rendra makan dengan patuh, meski jelas tenaganya belum sepenuhnya kembali. Sesekali Lala berhenti, meniup bubur agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya lagi.
“Obatnya juga,” kata Lala setelah beberapa suap terakhir.
Rendra menurut. Ia menelan obat dengan air hangat, lalu bersandar kembali ke bantal. Lala merapikan selimutnya, memastikan tubuh Rendra tertutup rapi.
Sambil bersiap mengenakan tas kerjanya, Lala kembali ke sisi ranjang.
“Ren, nanti siang makannya gue pesenin ya,” katanya. “Lo ambil keluar gapapa kan? Jangan maksa masak.”
Rendra hanya mengangguk pelan. Gerakannya lambat, tapi matanya mengikuti Lala.
“Sori banget gue nggak bisa nemenin lo hari ini,” lanjut Lala, ada nada bersalah di suaranya. “Kantor nggak bisa izin mendadak.”
Rendra menggeleng kecil.
“Gapapa. Berangkat aja. Hati-hati ya,” katanya. Lalu, setelah jeda singkat, “Makasih ya... buburnya.”
Lala tersenyum tipis. Ia menunduk, merapikan sedikit rambut Rendra yang berantakan.
“Tidur lagi. Jangan bandel,” ucapnya.
Sebelum benar-benar pergi, Lala berdiri sebentar di ambang pintu kamar. Ia menoleh sekali lagi, memastikan Rendra sudah kembali memejamkan mata.
Baru setelah itu ia keluar rumah.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Lala tidak sepenuhnya ada di sana. Ada rasa khawatir yang ikut menempel.
Untuk pertama kalinya, ia berangkat kerja dengan meninggalkan seseorang di rumah dan ingin cepat pulang bukan karena lelah, tapi karena khawatir.
semangat kak... salam dari Edelweiss...