Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun yang Tidak Terlihat
Di balik aula pembelajaran yang tenang, Bellyria Mercyns berdiri sendirian di ruang dosen yang dipenuhi rak kristal sihir. Cahaya senja menembus jendela tinggi, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Lingkaran sihir terbentuk-tidak terang, tidak megah. Justru redup, nyaris menyatu dengan udara.
“Tidak perlu perlawanan,” gumamnya pelan. “Hanya dorongan kecil.”
Nama itu terucap di antara desah mana.
Jizz.
Jauh dari sana, Jizz berhenti melangkah sejenak di lorong Academy. Dadanya terasa hangat-bukan sakit, bukan nyeri. Seperti bisikan yang menyelinap ke dalam pikirannya.
Gangguan.
Murid sulit diatur.
Ancaman bagi kestabilan Academy.
Wajah Siont dan Cys terlintas dalam benaknya.
“Ah…” Jizz menghela napas, mengusap pelipisnya. “Jadi ini caramu, Bu Bellyria.”
Ia tersenyum tipis-bukan senyum senang, melainkan senyum orang yang sadar sedang didorong, bukan diperintah langsung.
“Menyerang, ya…” gumamnya. “Menarik.”
***
Grack yang biasanya paling lantang, paling spontan-kini sering terlihat duduk sendirian. Di aula makan, ia memilih sudut. Di arena latihan, ia datang lebih awal dan pergi sebelum yang lain selesai.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada penjelasan.
Hanya jarak.
“Grack akhir-akhir ini aneh,” bisik Lysa pelan pada Lein.
Lein memperhatikan punggung Grack yang menjauh di lorong. “Dia tidak marah,” jawabnya ragu. “Lebih seperti… sedang menimbang sesuatu.”
Reyd mengangguk pelan. “Atau menjauh sebelum ditarik ke sesuatu yang tidak ia pahami.”
Lein merasakan sedikit tekanan di dadanya-perasaan yang tidak asing bagi Raksha di masa lalu...
Seperti sakit hati, mungkin.
***
Di taman batu Academy, Siont dan Cys berdiri berdampingan.
“Udara berubah,” ujar Cys tiba-tiba.
Siont mengangguk. “Bukan mana liar. Ini Terlalu rapi.”
Langkah kaki terdengar dari balik pepohonan.
Jizz muncul dengan tangan di saku mantel, wajah santai seperti biasa. “Kalian berdua ternyata memang sulit diatur.”
Cys menyeringai. “Kalau itu cara Academy menyapa muridnya, sopan sekali.”
Jizz berhenti beberapa langkah dari mereka. Mata tenangnya berkilat, bukan niat membunuh, tapi tekanan keputusan.
“Aku tidak ingin ini,” katanya jujur. “Tapi seseorang ingin melihat reaksi kalian.”
Siont menghela napas pendek. “Dosen?”
Jizz tidak menjawab. Itu sudah cukup.
Mana bergerak.
Serangan Jizz tidak brutal-lebih seperti uji tekan. Gelombang sihir menghantam tanah di depan Siont, memecah batu tanpa menyentuh tubuhnya.
Siont tidak membalas.
Ia hanya memperkuat tekanan ruang di sekelilingnya, menahan serangan itu hingga teredam.
Cys melangkah setengah langkah ke depan. “Pesan diterima.”
Jizz tersenyum kecil, lalu mundur. “Bagus. Itu saja.”
Ia berbalik pergi, tekanan di jiwanya perlahan memudar-seolah sihir penggoda itu melepas cengkeramannya.
***
Di sisi lain Academy, Lein berdiri memandangi langit yang mulai gelap.
Ia tidak melihat apa yang terjadi.
Namun jiwanya: jiwa Raksha-merasakannya.
“Academy ini…” gumamnya pelan. “Tidak sesederhana yang kupikir.”
Angin malam perlahan berembus lembut disekitarnya.
***
Grack tidak menyadari kapan semuanya mulai terasa berbeda.
Bukan sakit.
Bukan pusing.
Hanya… emosi yang terlalu tajam.
Setiap kali melihat Lein berdiri di sisi Reyd, hatinya terasa lebih berat dari biasanya. Bukan marah-lebih seperti perasaan yang terus dipelintir, dipaksa mencari bentuk yang bukan miliknya.
Ia mencoba mengabaikannya.
Menjauh.
Berlatih lebih keras.
Menghindari tatapan Lein yang selalu membuatnya ragu pada dirinya sendiri.
Namun di suatu sore, di lorong belakang arena latihan, seseorang menunggunya.
Dorna Ginarcis.
“Aneh,” kata gadis berambut merah itu sambil menyilangkan tangan. “Kau terlihat tidak seperti biasanya, Grack.”
Grack berhenti melangkah. “Kalau kau hanya ingin mengejek... ”
“Aku peduli,” potong Dorna lembut.
Nada itu salah.
Mana tipis berwarna kehijauan berpendar di udara, nyaris tak terlihat. Serangga kecil-mikroskopis-bergerak mengikuti aliran sihirnya, menyentuh kulit Grack tanpa rasa apa pun.
Racun Serangga-varian pengendali emosi.
Bukan untuk melukai.
Melainkan menggeser emosional.
“Kau tidak merasa tidak adil, kan?” bisik Dorna perlahan.
“Lein datang tanpa asal-usul jelas… tapi langsung berdiri di sisi pangeran.”
Grack mengepalkan tangan.
“Apa yang kau rasakan itu wajar,” lanjutnya. “Kau hanya jujur pada hatimu sendiri.”
Kata-kata itu tenggelam ke dalam pikirannya, bercampur dengan sihir yang mulai bekerja.
***
Keesokan harinya, sesuatu terasa janggal di Academy.
Grack berdiri terlalu dekat dengan Lein saat jam istirahat. Tatapannya kosong, senyumnya tidak utuh.
“Grack?” Lein menoleh bingung. “Kamu kenapa?”
Reyd yang berdiri di sampingnya langsung menyadarinya.
Mana Grack tidak stabil.
Sebelum siapa pun bisa bereaksi, Grack melangkah maju satu langkah lagi-suaranya meninggi tanpa kendali.
“Bukankah kau menikmati ini, Lein?” ucapnya keras.
“Menjadi pusat perhatian. Dilindungi pangeran sialan itu.”
Suasana seketika membeku.
Murid-murid menoleh.
Bisikan mulai muncul.
Lein terdiam, wajahnya memucat. “Aku tidak—”
“Hentikan, kau keparat.”
Suara Reyd tajam, angin tipis bergetar di sekelilingnya. “Grack, mundurlah dari Roselein.”
Namun racun itu mendorong emosi Grack ke titik terburuknya. Jiwanya berdenyut, pikirannya dipenuhi rasa malu dan marah yang bukan miliknya.
Dorna mengamati dari kejauhan, bibirnya melengkung tipis.
Permalukan dia.
Hancurkan ketenangannya.
Lein merasakan sesuatu bergerak di udara-aroma sihir yang asing namun familiar. Racun. Ia mengenalnya.
Dengan cepat, ia mengaktifkan Hati Peri Malam.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan menenangkan.
Bunga-bunga kecil tumbuh di sela batu, serangga cahaya beterbangan pelan. Area di sekitar mereka menjadi sunyi, seperti hutan malam yang menahan napas.
Grack tersentak.
Tekanan di hatinya mereda-sedikit demi sedikit.
“Aku…” napasnya berat. “Apa yang… aku lakukan?”
Reyd menahan diri. Ia tidak menyerang. Tidak berteriak.
Ia hanya berdiri di depan Lein- tenang, tapi jelas.
Dorna menggertakkan gigi.
Rencananya tidak sempurna.
Beberapa dosen mulai mendekat.
Grack terduduk, memegangi kepalanya. Lein berlutut di depannya, wajahnya penuh rasa bersalah-bukan pada Grack, melainkan pada dirinya sendiri.
“Aku tidak ingin seseorang terluka karenaku,” ucapnya lembut, tersenyum, dan jelas karena dirinya sendiri.