NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Retakan

“Yura.”

Suara Arkan terdengar tegas, rendah, memanggil namanya untuk kedua kalinya.

Namun Yura tidak menjawab.

Tubuhnya gemetar hebat. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Tangannya kosong, ponselnya tergeletak di atas meja, layarnya sudah menggelap.

“Apa yang terjadi?” tanya Arkan, nadanya datar. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

Yura menggeleng pelan. Bibirnya bergetar, tapi tak satu kata pun mampu keluar. Kepalanya penuh, dadanya sakit, napasnya terengah.

Ayahnya.

Satu-satunya keluarga yang ia punya.

“Yura.”

Kali ini Arkan berdiri. Langkahnya mendekat, bayangannya jatuh tepat di hadapan Yura.

“Kamu menangis di hadapan saya,” katanya dingin. “Itu bukan hal sepele.”

Yura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak sanggup menjelaskan. Tidak sanggup berada di ruangan itu lebih lama. Tidak sanggup menatap siapa pun.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yura berdiri mendadak.

Kursinya bergeser kasar ke belakang.

Ia berlari. Melewati Arkan. Melewati meja makan. Melewati pintu restoran yang sejak awal terasa asing dan menyesakkan.

Arkan berdiri diam di tempatnya.

Tatapannya mengikuti punggung Yura yang menghilang di balik pintu kaca. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Arkan tidak sepenuhnya tenang. Ia meraih ponselnya.

“Cari tahu,” ucapnya singkat pada asistennya. “Sekarang.”

“Baik, Pak.”

Arkan menatap meja tempat Yura tadi duduk. Ponsel yang tertinggal masih berada di sana.

Ia mengambilnya. Layar menyala, menampilkan notifikasi terakhir nama kontak Ayah.

Tatapan Arkan mengeras.

“Jadi ini…” gumamnya pelan.

Ia memasukkan ponsel itu ke sakunya.

Bukan untuk dikembalikan malam ini.

Di matanya, ini bukan lagi sekadar rasa penasaran. Ini sudah menjadi keterikatan.

Dan Arkan tidak suka kehilangan sesuatu yang sudah menarik perhatiannya.

Yura berlari secepat mungkin keluar dari restoran, tak peduli lampu jalan yang menyilaukan atau dinginnya udara malam.

Hanya satu yang ia tahu ayahnya.

Begitu tiba di rumah sakit, langkahnya tergesa. Pintu geser terbuka dengan sendirinya, dan Yura menembus lorong panjang itu tanpa menoleh kiri-kanan.

Tangannya gemetar saat mengetuk pintu kamar rawat inap ayahnya.

“Yura…” suara perawat terdengar pelan. Tapi Yura tidak mendengar. Ia mendorong pintu, dan pandangannya tertuju pada sosok yang sudah terbaring tenang di ranjang.

Segalanya terasa hampa.

Ia berlari, menjatuhkan diri di samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan tak bernyawa.

“Yah… Yah…” isaknya pecah.

Tangannya meremas-remas baju ayahnya, seolah pelukan itu bisa membangunkan kembali detak jantung yang hilang.

Ia menangis sejadi-jadinya. Suaranya parau, bercampur dengan isak tangis yang terus memekakkan telinga sendiri.

Setiap tetes air mata jatuh di pipi ayahnya, setiap hembusan napasnya terasa sia-sia.

Yura terus memeluk. Tidak mau melepaskan. Seakan dengan menempelkan tubuhnya lebih erat, ia bisa menahan kenyataan yang menghancurkan itu.

“Maafkan Yura, Yah… Yura terlalu lama sibuk… terlalu lama…”

Hatinya hancur berkeping-keping.

Di luar kamar, lampu-lampu rumah sakit bersinar dingin, namun di dalam ruangan itu hanya ada tangisan yang tak kunjung berhenti, pelukan yang tidak mau lepas, dan seorang Yura yang merasa dunia ini telah runtuh seketika.

Proses pemakaman berlangsung tanpa benar-benar Yura sadari.

Tubuh ayahnya dimandikan. Dikafani. Didoakan.

Yura berdiri di sana atau mungkin hanya ada secara fisik. Matanya kosong, menatap satu titik yang bahkan ia sendiri tak tahu apa.

Tangannya dingin. Kepalanya sunyi.

Ia tidak menangis lagi.

Air matanya seakan habis di kamar rumah sakit tadi malam. Yang tersisa hanya kehampaan yang menekan dada, membuat napas terasa berat tanpa sebab.

Setiap orang di sekelilingnya bergerak. Ada yang berdoa. Ada yang berbicara pelan. Ada yang menepuk pundaknya dengan wajah iba.

Yura tidak merespons apa pun.

Saat ayahnya dimandikan, ia memalingkan wajah. Bukan karena tak sanggup melihat tetapi karena hatinya sudah terlalu mati untuk merasakan sakit yang lebih dalam.

Ayah tidak akan pulang lagi.

Kalimat itu berulang di kepalanya seperti gema tanpa akhir. Ia teringat pagi-pagi sepi ketika ayahnya berangkat sebelum matahari terbit. Malam-malam panjang ketika ia tertidur lebih dulu dan ayahnya baru pulang saat rumah sudah gelap.

Dan kini…

bahkan bayangan langkah itu pun tak akan pernah ada. Yura duduk di kursi kayu, punggungnya tegak, tatapannya lurus ke depan. Tidak ada air mata. Tidak ada ekspresi.

Hanya seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan.

Untuk apa aku hidup sekarang?

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Tenang. Dingin. Tanpa tangisan. Tidak ada lagi yang menunggu di rumah. Tidak ada lagi suara yang memanggil namanya dengan nada lelah tapi hangat.

Yang tersisa hanya dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia ada di dunia ini, Yura merasa… hidup bukan lagi sesuatu yang ingin ia pertahankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!