Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Latihan & Rencana Jahat
Karena ingin show off di depan Mauren Axel yang sebenarnya sudah akan pulang, berjalan mendekati Rommy ketika melihatnya melakukan latihan shadow boxing di lapangan basket.
“Kalau berani tinju sama aku jangan sama bayangan!” teriak Axel sambil berjalan ke arah Rommy yang sedang melakukan tinju bayangan di bawah pengawasan Papa Mauren.
Rommy akan segera bereaksi mendengar provokasi itu, namun ditenangkan oleh Papa Mauren.
“Jangan hiraukan dia. Fokus kamu sekarang adalah olahraga tinju, bukan tinju jalanan,” kata Papa Mauren. Akhirnya Rommy tetap melakukan shadow boxing walaupun hatinya panas dan mukanya merah.
Axel kemudian mempercepat langkahnya setengah berlari.
“Nggak ada sarung tinju, kita tinju tanpa sarung tangan saja,” Axel masih menantang Rommy sambil setengah berlari ke arahnya sampai lewat di depan Mauren di lapangan rumput di dekat lapangan basket tempat Rommy sedang melakukan shadow boxing di bawah pengawasan ayahnya.
Dengan sigap Mauren melakukan gerakan kuzushi sederhana dalam karate, yakni membanting dengan menggunakan tenaga lawan, dengan sedikit mendorong bahu Axel ketika dia sedang berlari di depannya. Axel langsung terjatuh di rerumputan, dan Mauren siap memukul wajahnya, namun itu tak dilakukan.
Wajah Axel sudah tampak pasrah siap menerima pukulan dari Mauren, untung dia tak meneruskannya.
“Kamu jangan sok jago, ya?” kata Mauren kepada Axel yang hanya bisa terbelalak pasrah itu. “Sana pulang, jangan ganggu Rommy!”
Rommy yang melihat kejadian itu dari jauh tersenyum dan mengacungkan jempol tanda terima kasih kepada Mauren dan terus melanjutkan shadow boxing-nya, dan Axel segera beringsut pulang setelah dipermalukan Mauren.
Kemudian papanya Mauren berkata, “Tiga bulan lagi ada turnamen tinju kadet. Kamu latihan yang baik sama Coach Barda, semoga tiga bulan lagi kamu bisa ikut turnamen itu.”
“Saya sih setuju, Om,” jawab Rommy. “Tapi saya masih newbie begini tuh, Om. Apa saya mampu?”
“Di level kadet, lawan-lawanmu seusia kamu dan semua newbie, jangan takut,” papanya Mauren mencoba meyakinkan. “Nanti saya akan bilang ke Coach Barda, dan saya akan bantu-bantu.”
“Terima kasih, Om,” kata Rommy.
“Hari semakin petang, cukup latihan hari ini dan pulanglah,” kata papanya Mauren.
Keesokan harinya aktivitas berjalan seperti biasa. Rommy berlari ke sekolah dan mengunggahnya ke Facebook seperti biasa.
Yang tidak biasa adalah rumor buruk yang disebar oleh Axel soal Rommy: “Rommy cuma bisa latihan tinju bayangan doang, dibantuin Papa Mauren lagi, tapi tetap pengecut nggak berani lawan gue langsung,” atau “Rommy PDKT ke Mauren lihat papanya, pura-pura tertarik bener sama tinju, padahal nyalinya seupil.”
Begitu terus yang diucapkan kepada beberapa murid, sehingga kabar hoaks itu cepat menyebar di kalangan murid-murid SMA Tunas Bangsa.
Kabar itu pun sampai di telinga Rommy yang membuatnya berpikir, “Mungkin aku nggak selevel dengan Mauren. Ilmu karate dan tinjunya sudah tingkat dewa, tapi aku masih cupu.”
“Ngapain lu, bro, melamun terus,” kata Erick tiba-tiba sambil menepuk bahu Rommy dari belakang. “Ntar kesambet, loh.”
Rommy kaget dan lamunannya buyar. “Itu soal rumor yang disebarin Axel. Itu ada benarnya, bawa gua ikut latihan tinju demi gagah-gagahan mulanya, agar Geng Kelelawar Hitam lebih ditakuti. Tapi lama-kelamaan gua seneng beneran sama olahraga itu, bukan sekadar gagah-gagahan.”
Yang Rommy tidak utarakan adalah mulanya dia ikut tinju selain untuk gagah-gagahan demi Geng Kelelawar Hitam yang dipimpinnya adalah juga agar nggak begitu lemah di hadapan Mauren.
“Jangan pedulikan kata haters, bro, capek,” kata Erick. “Dulu petinju Muhammad Ali belajar tinju untuk menghajar orang yang mencuri sepedanya, tapi kemudian jadi petinju besar!”
Yang justru naik darah mendengar rumor yang disebar Axel itu adalah Mauren. Begitu dia mendengar dari temannya soal rumor itu, dia langsung menghampiri Axel di kelasnya saat jam istirahat.
“Axel, kalau kamu kerjaannya cuma bisa nyebar fitnah, berarti kamu takut kalah beneran,” bentak Mauren. “Kamu nggak level masuk dalam lingkaran pertemananku!”
Axel hanya bisa diam saja. Selain tidak bisa menjawab hardikan Mauren, dia juga takut dipermalukan dengan dibanting oleh Mauren lagi.
Setelah puas memarahi Axel, Mauren kembali ke kelasnya lagi tanpa bicara sepatah kata pun.
Hari pelaksanaan kegiatan sosial di panti jompo sudah semakin mendekat. Hari itu, Rommy mengirimkan undangan rapat ke grup panitia kegiatan sosial:
“Kawan-kawan, hari ini kesempatan terakhir kita bisa berkoordinasi melakukan kegiatan sosial di panti jompo. Sehabis sekolah kita rapat sebentar untuk memastikan acara itu berlangsung dengan lancar. Terima kasih.”
Sorenya, sepulang sekolah, rapat pun berjalan dengan cepat, to the point, dan tidak bertele-tele.
“Selamat sore, teman-teman,” Rommy membuka rapat. “Dari Google Form yang saya bagikan, mayoritas menginginkan kegiatan dilangsungkan di Panti Wreda Surya Kencana. Perizinan dari pengelola tersebut dan dari kelurahan sudah saya dapatkan. Kini silakan teman-teman melaporkan perkembangan terakhir dari masing-masing seksi.”
Erick yang jadi seksi Dana dan Sponsorship menjelaskan bahwa sumbangan sukarela dari seluruh murid sudah mencukupi, terkumpul Rp18.250.000. Dan ada donasi dari beberapa pengusaha (sebagian besar dari orang tua murid yang berprofesi jadi pengusaha), ditambah beberapa item donasi yang bisa dibeli dari uang yang terkumpul.
Woro yang jadi seksi Perlengkapan menjabarkan dia sudah mendapatkan konfirmasi dari penyedia angkutan untuk membawa donasi ke panti jompo yang akan menjadi tempat penyelenggaraan acara.
Mauren sebagai seksi Acara menyatakan sudah menyusun acara nanti, termasuk dirinya yang akan menyumbangkan suara. “Kalau ada dari teman-teman yang mau menyanyi di acara tersebut, dipersilakan.” Dia juga menginformasikan akan ada acara olahraga berupa tai chi yang akan dipimpinnya dan cocok bagi lansia.
Terakhir Axel. Dia menyatakan dari seksi Keamanan sudah siap, dan personel keamanan sudah terisi lengkap.
“Aku tunggu permainanmu, Xel,” kata Rommy dalam hati.
Ibu Catarina yang ikut dalam rapat itu tampak tersenyum puas dengan perkembangan ini.
“Terima kasih, teman-teman yang sudah bekerja keras atas terselenggaranya acara ini,” kata Rommy menutup acara.
Seusai rapat, Rommy ditemani Erick yang bertanggung jawab atas dana, sponsor, dan donasi menuju gudang sekolah, di mana di situ sudah terkumpul barang-barang donasi untuk lansia seperti susu, vitamin, sikat gigi, sabun, dan lain-lain.
“Mantap,” puji Rommy. “Elu hebat kalau urusan beginian, Rick.”
“Hehehe… kan kata elu juga ‘melakukan kegiatan harus dari hati’?” jawab Erick. “Tapi terus terang gua masih meragukan Axel. Gua takut dia justru akan mengacaukan acara, Rom.”
“Tenang, kan udah gua bilang gua sudah mengantisipasi?” jawab Erick.
Sesampainya di rumah, Axel beristirahat sebentar lalu mengenakan topi dan masker, dan keluar lagi menemui Mat Kojak, preman pasar dekat rumah Axel yang menjadi kawannya.
“Bagaimana, Boss, kapan bisa beraksi?” tanya Mat Kojak antusias.
“Hari Minggu mereka berangkat jam 09.00 pagi dari SMA Tunas Bangsa,” jawab Axel singkat. “Seperti rencana semula, kau dan anak buahmu menjarah donasi-donasi itu dan saya dan kawan-kawan dari seksi Keamanan pura-pura akan mempertahankannya.”