NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1: Desa Sungai Jernih

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana—bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Ia tidak menemukan ginseng itu, hanya beberapa herbal biasa.

"Ayah pasti akan kecewa," gumam Li Wei, menyeka keringat di dahinya. Ia menatap ke arah desa di kejauhan. Asap mengepul dari cerobong-cerobong rumah, menandakan waktu makan malam. Pemandangan itu biasanya menghangatkan hatinya.

Tapi hari ini, asap itu berbeda.

Itu bukan asap putih tipis dari kayu bakar dapur. Itu adalah asap hitam pekat, tebal dan bergulung-gulung, membawa bau yang membuat perut Li Wei mual bau daging hangus dan besi berkarat.

Bau darah.

Jantung Li Wei berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia menjatuhkan keranjangnya dan berlari. Kakinya yang berlapis sandal jerami menghantam tanah berbatu, mengabaikan rasa sakit.

"Ibu! Ayah!" teriaknya, suaranya pecah di tengah angin gunung.

Saat ia tiba di gerbang desa, lututnya lemas.

Desa Sungai Jernih tidak ada lagi.

Rumah-rumah kayu telah runtuh menjadi puing-puing yang terbakar. Mayat-mayat tetangganya Paman Zhang si pandai besi, Bibi Liu yang ramah tergeletak di tanah dengan posisi aneh, tubuh mereka terpotong-potong seolah-olah mereka hanyalah boneka kain. Tidak ada perlawanan.

Di tengah alun-alun desa, sekelompok orang berdiri tertawa. Ada sekitar sepuluh orang, mengenakan jubah kasar dengan aura membunuh yang kental.

Di tengah mereka, seorang pria bertubuh besar dengan luka parut di wajahnya duduk di atas tumpukan mayat penduduk desa seolah itu adalah takhta. Di tangannya, bola api seukuran kepala manusia melayang-layang, berputar dengan hawa panas yang menjilat udara.

Seorang Kultivator.

Li Wei membeku di balik sisa reruntuhan tembok gerbang. Ia tahu cerita tentang mereka. Bandit Gunung Hitam. Mereka adalah Kultivator Liar orang-orang yang memiliki sedikit bakat kultivasi tetapi menempuh jalan jahat, merampok desa-desa fana untuk mencari sumber daya atau sekadar melampiaskan kekejaman.

"Sampah," pria berparut itu meludah, suaranya menggelegar seperti guntur, diperkuat oleh Qi. Ia melempar bola api di tangannya ke arah sebuah gubuk yang masih berdiri.

BOOM!

Gubuk itu meledak dalam sekejap. Jeritan tertahan terdengar dari dalam sebelum senyap selamanya.

"Tetua desa bilang mereka menemukan 'Batu Bercahaya' di sungai," kata bandit lain, seorang pria kurus dengan pedang yang berlumuran darah segar. "Tapi kita sudah membongkar seluruh tempat ini. Tidak ada apa-apa, Bos. Hanya makanan sampah dan koin tembaga."

"Buang-buang waktu," gerutu si pemimpin bandit. Ia berdiri, dan Li Wei merasakan tekanan udara yang berat aura dari seseorang yang berada di tahap Qi Condensation tingkat rendah, namun bagi manusia biasa, itu seperti berdiri di hadapan harimau buas.

"Bunuh sisanya. Jangan biarkan ada saksi yang melapor ke Sekte Langit Biru," perintah pemimpin itu dingin.

Mata Li Wei terbelalak. Ia melihat ke arah sumur desa. Di sana, dua sosok yang sangat ia kenal sedang diseret keluar oleh bandit—orang tuanya.

Ayahnya, seorang petani jujur, berlumuran darah, berusaha melindungi ibunya yang terbatuk-batuk.

"Tuan Abadi, tolong!" Ayahnya bersujud, kepalanya menghantam tanah keras. "Kami tidak punya apa-apa! Tolong ampuni istriku!"

Pemimpin bandit itu tertawa, suara yang kering dan tanpa emosi. "Ampun? Langit tidak pernah mengampuni yang lemah. Di dunia ini, kelemahan adalah dosa asal."

Tanpa peringatan, pemimpin bandit itu menjentikkan jarinya.

Bilah angin tipis yang terbuat dari Qi transparan melesat.

Srekk.

Kepala ayahnya terpisah dari tubuhnya, menggelinding pelan ke tanah berdebu.

"TIDAK!!"

Teriakan itu bukan dari ibunya, tapi dari Li Wei. Ia tidak bisa menahannya lagi. Rasa takutnya lenyap, digantikan oleh gelombang panas yang membakar akal sehatnya. Ia melompat keluar dari persembunyiannya, mengambil sebuah batu sungai sebesar kepalan tangan, dan berlari menerjang ke arah pemimpin bandit itu.

"KUBUNUH KAU!"

Itu adalah usaha yang menyedihkan. Seorang bocah kurus berumur lima belas tahun melawan seorang kultivator.

Pemimpin bandit itu bahkan tidak menoleh. Ia hanya mengibaskan lengan jubahnya ke belakang.

Bam!

Sebuah kekuatan tak terlihat menghantam dada Li Wei seperti palu raksasa. Tulang rusuknya berderak patah. Tubuhnya terlempar sepuluh meter ke belakang, menghantam dinding batu sumur, dan jatuh terkapar.

Darah segar menyembur dari mulutnya. Pandangannya kabur. Dunia berputar.

"Wei'er!" Ibunya menjerit, mencoba merangkak ke arahnya, tapi pedang bandit lain menembus punggungnya. Jeritan itu terhenti.

Li Wei terbaring di tanah, tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa melihat. Melihat ibunya jatuh di samping mayat ayahnya. Melihat darah mereka bercampur di tanah, meresap ke dalam debu Desa Sungai Jernih.

"Oh? Ada tikus kecil yang lolos," pemimpin bandit itu berjalan mendekat. Ia menunduk menatap Li Wei. Tatapan itu bukan tatapan benci, melainkan tatapan bosan. Seperti manusia melihat serangga yang tidak sengaja terinjak.

"Bocah, ingat ini di kehidupan selanjutnya," kata bandit itu sambil mengangkat tangannya, bola api kembali terbentuk. "Keadilan hanya milik mereka yang memegang pedang."

Li Wei menatap api itu. Air mata bercampur darah mengaburkan pandangannya. Tapi di dalam hatinya, di kedalaman jiwanya yang hancur, sesuatu retak.

Ketakutannya hilang. Kesedihannya membeku. Yang tersisa hanyalah kebencian murni yang dingin dan gelap.

Aku tidak akan mati, batin Li Wei menjerit, meski bibirnya tak sanggup bergerak. Aku akan menjadi hantu. Aku akan menjadi iblis. Aku akan merangkak keluar dari neraka untuk memakan dagingmu.

Pemimpin bandit itu hendak melempar apinya untuk menghabisi Li Wei, ketika tiba-tiba terdengar suara suitan tajam dari langit.

"Siapa yang berani membuat keributan di wilayah Sekte Langit Biru?!"

Suara itu bergema dari awan, membawa tekanan yang jauh lebih besar daripada si pemimpin bandit.

Wajah pemimpin bandit itu memucat seketika. "Sial! Patroli sekte! Mundur!"

Mereka tidak peduli lagi pada Li Wei. Bagi mereka, bocah dengan tulang rusuk hancur itu sudah sama dengan mayat. Para bandit itu melompat, menggunakan teknik pergerakan ringan, dan menghilang ke dalam hutan rimba secepat kilat.

Li Wei ditinggalkan sendirian.

Langit senja mulai turun, mengubah warna awan menjadi merah, seolah memantulkan darah yang membanjiri desa.

Li Wei tidak mati. Napasnya dangkal, setiap tarikan udara terasa seperti menelan pisau. Tapi matanya tetap terbuka, menatap langit yang kosong.

Di sana, di antara puing-puing kehidupan masa lalunya, kepolosan Li Wei mati bersama orang tuanya.

Tangannya yang gemetar perlahan mengepal, mencengkeram tanah yang basah oleh darah ayahnya.

"Kekuatan..." bisiknya, suaranya serak, hampir tak terdengar. "Aku butuh... kekuatan."

Di dadanya, tanpa ia sadari, darah yang mengalir dari lukanya menetes ke saku bajunya, merembes masuk dan menyentuh sebuah batu hitam kecil berbentuk aneh yang ia temukan di hutan tadi pagi benda yang ia kira hanya batu biasa.

Batu itu berkedip redup dengan cahaya hijau kelam, sekali, lalu padam.

...Tingkatan Kultivasi (Hierarki Kekuatan): Kenaikan tingkat tidak hanya membutuhkan akumulasi Qi, tetapi juga pemahaman hukum alam (Dao)....

...Qi Condensation (Lapis 1-9) → Dasar fisik....

...Foundation Establishment → Membangun pilar spiritual....

...Core Formation → Memadatkan inti tenaga dalam....

...Nascent Soul → Kelahiran jiwa baru yang abadi....

...Soul Transformation → Kekuatan memengaruhi materi dengan jiwa....

...Void Refining / Ascendant → Menyatu dengan ketiadaan....

...Nirvana (Mahayana) → Tahap setengah dewa....

...God Emperor (Kaisar Dewa) → Penguasa hukum alam semesta....

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!