Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan
Evan sesekali melirik pada Emily yang duduk di seberangnya. Sedari tadi dia tidak menyapa atau mengajak bicara teman ayahnya itu.Emily pun tidak memaksa anak itu untuk langsung akrab dengannya. Emily hanya menyiapkan anak dan ayah itu makanan dan juga tersenyum saat kedua mata hitam itu melirik sekilas padanya.
"Ayo makan... sebelum berkeliling,perut Evan harus kenyang dulu"ucap Jeon memecah keheningan.
Evan hanya mengangguk dan menyuapkan satu sendok nasi dan irisan daging sapi ke dalam mulutnya.Bocah tiga tahun itu menepukan kedua tangannya karena sensasi nikmat yang dia rasakan saat mengunyah makanan itu.
"Apa itu enak..?"tanya Emily berusaha tidak terlihat canggung.
"Huum...Evan mengiyakan sembari terus mengunyah.
"Nanti tante Emily buatkan lagi kapan-kapan kalau Evan mau.."
Evan mengangguk dan tersenyum manis saat mendengar Emily berjanji untuk membuat makanan enak untuknya.
Jeon tersenyum mendengar obrolan keduanya, dia tidak ikut campur untuk mendekatkan mereka. Biarkanlah mereka dekat dengan sendirinya.
Setelah menghabiskan makanan yang memang dibuat sendiri oleh Emily, mereka pun berkeliling kebun binatang. Melihat berbagai macam binatang seperti rusa,gajah, kelinci, harimau dan masih banyak lagi. Evan begitu antusias berlari kesana kemari, bertanya ini dan itu juga menggandeng tangan Jeon dan Emily bergantian.
Mereka bertiga berfoto di setiap kandang hewan yang mereka singgahi. Ketiganya terlihat bersemangat dan bahagia apalagi dengan cuaca mendung yang sangat mendukung acara jalan-jalan mereka.
"Daddy.. Evan ngantuk.."bocah itu merengek dan mengulurkan kedua tangannya pada sang ayah.
"Ohh..anak Daddy sangat mengantuk,hmm"Jeon langsung menggendong putra semata wayangnya itu.
"Pulang saja.. mungkin Evan sudah lelah"
Jeon menggendong Evan di dadanya,pria itu menahan tubuh anaknya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia tautkan di jemari Emily.Ketiganya terlihat seperti keluarga bahagia, beberapa pasang mata hanya bisa melihat sekilas pemandangan itu karena mereka menjunjung tinggi privasi orang lain.
Walaupun ada beberapa pasang mata terlihat tak suka saat menatap mereka tapi semuanya tetap tidak menghilangkan kebahagiaan yang mereka ciptakan.
Emily membaringkan tubuh mungil Evan di atas ranjang kamar tamu rumahnya.Dia meyakinkan Jeon untuk membawa bocah itu kerumah mereka supaya tidur putra kekasihnya bisa lebih lama. Gadis itu juga mengatakan untuk menghubungi Namira meminta izin untuk mengajak Evan menginap.
"Bagaimana...apa ibunya mengizinkan Evan menginap..?" Emily menghampiri Jeon setelah memastikan Evan tidur dengan nyaman didalam kamar.
Jeon tersenyum meraih pergelangan tangan Emily. Pria itu menciumi punggung tangan Emily dengan sayang.
"Nami akan menyuruh orang untuk menjemputnya tapi tadi aku mengatakan untuk mengantarkan saja setelah Evan bangun"
"Kenapa...kenapa dia tidak mengizinkan Evan menginap..?"
Jeon membelai rambut panjang Emily dan menciumi pucuk kepala kekasihnya yang sudah dia rebahkan di paha berotot miliknya.
"Evan masih butuh ibunya,saat malam dia akan mencari Namira"
"Kan belum dicoba mas..."
"Nanti kalau dia sudah terbiasa dengan keberadaan kamu,aku janji Evan akan menginap disini "
Emily terdiam tak ingin berdebat dengan Jeon karena dirinya sudah terlalu lelah.Biarlah mungkin belum saatnya dia mendekati putra kekasihnya.
"Kapan kita akan menikah mas..?"
Jeon menatap mata cokelat milik Emily yang menatap tepat ke arahnya.
"Segera sayang.. setelah semuanya beres kita akan menikah,aku janji "
"Jangan terlalu lama..aku juga ingin secepatnya punya anak"
"Iya sayang iyaaa..."