NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Rumah Kenangan

Dalam waktu tempuh yang cukup lama, akhirnya Gerard sampai di rumah yang sudah lama tak ia kunjungi.

Mobilnya berhenti tepat di depan pagar sederhana—pagar besi tua dengan cat mulai mengelupas di beberapa bagian. Gerard mematikan mesin, tapi tangannya masih bertahan di setir. Matanya menatap rumah itu lekat-lekat.

Masih sama.

Sederhana. Halaman depan yang cukup luas, dipenuhi tanaman dalam pot yang sekarang sudah tak terawat. Rumput tumbuh meninggi di beberapa sudut. Dua kursi tunggal masih setia berada di teras kecil, menghadap ke jalan—tempat dulu ia duduk menemani ibunya menanti ayah pulang kerja.

Gerard tersenyum.

Bayangan masa lalu menghampirinya. Momen nostalgia yang menyenangkan—seperti film tua yang diputar ulang di kepalanya. Dulu, ia akan berlari-lari di halaman ini, membantu ibu menyiram tanaman dengan selang air yang terlalu besar untuk tangannya yang kecil. Atau bermain bola bersama kakak, tertawa lepas sampai matahari tenggelam.

Kebahagiaan itu murni. Sederhana. Tapi begitu membekas.

Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar. Langkah kecil mengiringinya saat berjalan melewati pagar yang sedikit berkarat, menyusuri halaman yang dulu selalu ia lintasi setiap hari. Di teras, ia berhenti, menatap dua kursi itu.

Untuk sesaat, ia bisa membayangkan ibunya duduk di sana, tersenyum, melambai memanggilnya masuk karena makan malam sudah siap.

Gerard menarik napas panjang. Udara di sini—sama seperti dulu. Membawa rasa pulang yang tak bisa dijelaskan.

"Ma... Yah... Erad pulang."

Kakinya ringan melangkah masuk ke halaman, menikmati setiap kenangan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Rumah kecil itu seolah berbicara—menceritakan setiap momen yang pernah terjadi di tempat ini: tawa lepas, duka yang mengendap, kebersamaan yang tak akan pernah terulang lagi.

Semua gambaran itu terasa begitu nyata. Gerard bisa melihat dirinya yang kecil berlari-lari, suara ayahnya memanggil, tawa kakak yang renyah, dan senyum ibu dari ambang pintu. Ia ingin menikmatinya lebih lama.

Ia duduk di kursi kayu di teras, menyandarkan punggung, tangannya menopang pipi. Senyuman tipis mengembang di wajahnya yang mulai teduh.

"Dulu aku suka main di sini," gumamnya pelan, bercerita pada dirinya sendiri—juga pada Sistem yang mungkin mendengarkan. "Sama ayah dan kakak. Terus ibu bakal marah-marah kalau kita kotor-kotoran atau nyenggol tanamannya."

Ia berhenti sejenak, matanya menyusuri halaman yang mulai ditumbuhi rumput liar. Namun di matanya, semua masih hijau dan rapi seperti dulu.

"Itu masa-masa indah."

Andai masa-masa itu bisa terulang, ia akan sangat mensyukuri setiap detiknya. Atau bahkan mengubah masa depan seperti ini—mungkin. Mungkin saja, ia bisa menyelamatkan ayah dan kakaknya dari kematian. Seandainya semua bisa terulang. Dengan begitu, ibunya tak akan menderita sendirian.

Tapi itu hanya angan-angan. Tak mungkin terulang, meski ia sudah memiliki Sistem hebat di sampingnya.

[Itu masa kecil yang indah, Tuan...]

Sistem muncul. Suaranya terdengar lebih manusiawi, lebih lembut dari biasanya. Ia seolah memahami—sebagaimana seseorang yang sudah lama berada di sampingnya. Meski tentu, itu hanya perumpamaan.

Gerard mengangguk kecil. Matanya melirik ke arah Sistem, lalu memejam perlahan.

"Sekarang aku sudah menebusnya lagi." Suaranya ringan, melepas beban satu per satu dari pundaknya. "Setidaknya mereka bisa tenang di atas sana. Nggak perlu lagi khawatir padaku."

Ia menarik napas dalam, menenangkan diri. Kemudian mata itu terbuka kembali. Tangannya menepuk lembut lengan kursi, lalu ia bangkit.

"Aku sudah memilikimu." Gerard menoleh pada Sistem, senyuman kecil mengembang. "Bersedia nemenin aku untuk hari ini dan tahun-tahun selanjutnya?"

Panel Sistem diam sejenak. Elipsis berkedip—seperti sedang berpikir. Tapi tak lama, sebuah emoji tersenyum muncul, diiringi simbol hati kecil.

[>⁠.⁠< 🖤]

[Tentu, Tuan! Saya akan menemani sampai kapan pun.]

Semangat itu... sama dengan semangatnya.

Gerard menepuk tangan, lalu mengacungkan jempol.

[Saya hanya akan pergi jika Anda memintanya.]

Gerard terkekeh. Ia membuka pintu rumah, melangkah masuk, tapi masih sempat bergumam.

"Nggak mungkin. Kamu udah jadi sebagian dari napasku. Aku bakal merasa bersalah kalau mengabaikanmu..."

Santai. Tapi ketulusannya nyata. Dari penyelamatan di hari pertama, pemulihan saat koma, hingga hadiah-hadiah yang tak pernah ia minta—Sistem telah menjadi sosok yang berharga. Lebih dari sekadar program di kepalanya.

Pintu tertutup perlahan.

Di belakangnya, panel Sistem masih melayang di udara. Diam.

[...]

[^⁠_⁠^]

...*•*•*...

Saat pintu tertutup, Gerard merasakan kehangatan yang familiar menerpa hatinya—seperti api unggun yang bisa bertahan abadi. Ia memejamkan mata sejenak, meresapi. Kemudian perlahan membukanya kembali, menatap ruangan yang masih belum berubah.

Ruang tamu yang sederhana. Satu sofa panjang dan dua sofa tunggal, masih dengan sarung yang sama. Di sampingnya, rak kecil menempel di dinding, menyimpan foto-foto dalam bingkai potrait. Lukisan ikan masih menggantung di tempat yang sama.

Semuanya masih sama.

Gerard menyusuri lebih dalam. Ruang keluarga. Kamar orangtua. Kamar ia dan kakaknya—keduanya masih seperti dulu, hanya berdebu karena lama tak dirawat. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan kerinduannya.

Berdiri di ambang pintu kamar orangtuanya, senyuman tipis terukir. Matanya jatuh pada kursi roda yang disimpan di sudut. Dan di sana—sosok Mira tiba-tiba muncul. Wajahnya pucat, tubuh lemah, tapi ekspresinya selalu dipaksa untuk tetap tersenyum. Ia menatap Gerard dengan kehangatan, seolah menyambutnya pulang.

Jangan... Kuatkan dirimu, Gerard...

Ia tersenyum getir, lalu memalingkan wajah. Berusaha mengalihkan perhatian pada hal lain.

...*•*•*...

Di ruang keluarga, ia duduk di sofa panjang. Tangannya spontan merogoh dompet, mengeluarkan kartu nama Anton yang sudah lama ia simpan. Rencananya sederhana: meminta bantuan. Mungkin sedikit bertanya tentang beberapa hal yang tiba-tiba muncul di kepalanya semenjak pertarungan itu.

Benar, pikirnya sambil menatap kartu itu lekat-lekat. Mungkin saja semuanya terhubung. Tapi kalau memang mereka incar aku sejak awal, kenapa baru bergerak sekarang? Apa ada sesuatu yang menghambat mereka?

Hipotesis demi hipotesis bertumpuk. Ponsel di tangannya masih gelap, belum menyala. Ia mengumpulkan niat, juga alasan-alasan yang mungkin bisa membuat percakapan ini tidak canggung.

Akhirnya, napas berat ia hembuskan.

Layar ponsel menyala. Jari-jarinya mengetik satu per satu angka dari kartu nama itu.

Tut—

Panggilan terhubung.

"Berdering" berganti menjadi durasi. Awalnya hanya hening. Gerard menarik napas, lalu memberanikan diri.

"Selamat siang, Pak Anton." Suaranya tenang.

"Halo...?" Suara Anton terdengar seperti sedang mengingat. Lalu tawa kecil—lebih ringan. "Ah, Mas Gerard?"

"Ya, Pak. Ini saya." Gerard mengangguk kecil, tanpa sadar. "Sebelumnya Bapak sudah kasih kartu nama. Dan bilang saya bisa hubungi kalau butuh sesuatu."

"Benar. Tentu saja." Sahut Anton dengan sopan, tapi nada bicaranya terdengar bersahabat—sangat berbeda dari pertemuan pertama mereka yang penuh wibawa dan jarak. "Apa yang kamu butuhkan? Katakan saja. Akan kuusahakan untuk kabulkan, selama itu memungkinkan."

Gerard terdiam sejenak. Matanya menatap langit-langit ruang keluarga, mengumpulkan setiap kata yang ingin ia sampaikan. Tak boleh buang-buang waktu. Anton adalah orang sibuk, dan ia sudah diberi kesempatan.

Gerard mulai berbicara, matanya memperhatikan titik merah yang sudah berhenti di peta Sistem.

"Jadi," ia menarik napas, suaranya kembali tegas, "saya membutuhkan bantuan Bapak terkait sesuatu..."

1
marsellhayon
secara cerita,ceritanya bagus hadiah dr sistem juga lbh masuk akal,gak terlalu berlebihan.
hanya alurnya aja yg terasa sangat lambat.
semoga bisa sampai tamat dan penulisnya tetap semangat./Smile/
DRAGO
👍
Loorney: Apapun yang kamu maksud, makasih udah komen!! Dukungan mu selama ini udah saya perhatikan, rasanya membahagiakan di saat saya sendiri dibuat stres sama keberlangsungan cerita.
total 1 replies
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!