Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Arsip Terlarang dan Janji yang Dilanggar
Napas Elara tersengal hebat, memburu oksigen di tengah udara pengap yang dipenuhi debu beterbangan. Ia membanting pintu kayu jati yang berat itu dengan punggungnya, lalu merosot duduk di lantai ubin yang dingin dan retak. Di luar sana, suara langkah kaki berat sepatu bot petugas keamanan—atau mungkin sesuatu yang lain—masih terdengar menggema di lorong koridor sayap barat yang telah lama ditinggalkan.
Pak Darto menyusul dengan langkah terseok, memegangi sisi perutnya yang sepertinya terbentur saat mereka melompati pagar pembatas di lantai dua tadi. Pria tua itu tidak membuang waktu, ia segera menyeret sebuah lemari besi berkarat untuk mengganjal pintu, menciptakan barikade darurat yang setidaknya bisa membeli waktu beberapa menit bagi mereka.
"Kita aman sebentar di sini, Neng Elara," ucap Pak Darto dengan suara parau, menyeka keringat dingin yang bercampur debu di dahinya.
Elara mengangguk lemah, matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya diterangi oleh bias cahaya lampu jalan dari jendela ventilasi yang tinggi. Ini adalah Ruang Arsip Lama, tempat di mana RSU Cakra Buana menyimpan dosa-dosa masa lalunya sebelum sistem digital diberlakukan. Rak-rak besi menjulang tinggi seperti kerangka raksasa, dipenuhi tumpukan map yang kertasnya telah menguning dimakan rayap dan kelembapan kota Arcapura.
Tangannya gemetar saat merogoh ke dalam tas selempangnya, menarik keluar buku log bersampul kulit hitam yang mereka curi dari brankas rahasia di ruangan Dr. Arisandi. Buku itu terasa hangat di tangannya, seolah memiliki denyut nadi sendiri yang berdetak pelan, sebuah sensasi yang membuat bulu kuduk Elara meremang seketika.
"Bacalah, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum 'mereka' mendobrak masuk," desak Pak Darto sambil menempelkan telinganya ke daun pintu, waspada terhadap setiap pergerakan di luar.
Elara membuka halaman pertama dengan hati-hati, takut kertas tua itu akan hancur di tangannya. Aroma kertas lapuk dan sedikit bau besi—seperti darah kering—menguar dari sela-sela halaman. Tulisan tangan di dalamnya rapi namun tajam, ditulis dengan tinta hitam yang masih terbaca jelas meski dimakan usia.
"Ini bukan sekadar catatan medis biasa, Pak," bisik Elara, matanya membelalak ngeri saat membaca entri tertanggal 14 Oktober 1998.
Di halaman itu tertulis rincian prosedur bedah, namun istilah yang digunakan sangat asing bagi dunia kedokteran modern. Ada penyebutan tentang 'Penyelarasan Meridian' dan 'Tumbal Wadag' yang ditulis tepat di sebelah grafik vital pasien. Pasien tersebut dinyatakan meninggal di meja operasi karena gagal jantung, namun catatan kaki menyebutkan: *Transfer berhasil. Penjaga Gerbang telah dipuaskan.*
"Tahun 98... itu tahun di mana sayap timur rumah sakit ini runtuh karena tanah longsor, tapi anehnya tidak ada korban jiwa dari staf inti," gumam Pak Darto, wajahnya memucat di remang cahaya.
Elara membalik halaman demi halaman dengan panik, menemukan pola yang mengerikan setiap lima tahun sekali. Selalu ada satu pasien tanpa identitas jelas, seringkali gelandangan atau pasien rujukan dari panti sosial, yang meninggal di meja operasi Dr. Arisandi atau pendahulunya pada tanggal yang sama. Ini bukan malpraktik; ini adalah ritual terencana yang disamarkan sebagai prosedur medis darurat.
"Lihat ini, Pak. Tanggal 13 November tahun ini... itu besok malam," suara Elara tercekat di tenggorokan, jarinya menunjuk sebuah entri kosong yang hanya bertuliskan *Kandidat Terpilih: E.S.*
Pak Darto berbalik cepat, menatap Elara dengan pandangan horor yang tak bisa disembunyikan. Inisial itu terlalu kebetulan untuk diabaikan. Elara Senja bukan hanya seorang jurnalis yang tidak sengaja menyelidiki kasus ini; dia telah dipantau, dipilih, dan digiring menuju RSU Cakra Buana sejak awal untuk menjadi bagian dari siklus lima tahunan tersebut.
"Mereka tidak memburumu karena kau tahu terlalu banyak, Neng. Mereka memburumu karena kau adalah kuncinya," suara Pak Darto bergetar, kini ia paham mengapa hantu penunggu kamar jenazah itu selalu muncul di dekat Elara namun tidak pernah benar-benar mencelakainya.
Tiba-tiba, suhu di dalam Ruang Arsip Lama turun drastis, membuat napas mereka mengepul putih di udara. Suara hujan di luar sana mereda, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan. Dari sudut ruangan yang paling gelap, terdengar suara gesekan logam yang menyeret lantai, lambat namun pasti mendekat ke arah mereka.
"Buku itu... kembalikan milikku..." sebuah suara berdesis, bukan dari mulut manusia, melainkan seperti angin yang melewati celah bebatuan sempit.
Pak Darto mencabut keris kecil yang selalu ia bawa di balik jaketnya, berdiri di depan Elara sebagai perisai hidup. Bayangan hitam mulai merembes dari sela-sela rak arsip, membentuk siluet tinggi besar yang mengenakan jas dokter zaman kolonial yang compang-camping. Wajahnya tidak terlihat, tertutup masker bedah yang berlumuran noda merah kecokelatan.
"Lari, Elara! Cari jalan ke basement level 4! Saluran pembuangan air lama ada di sana!" teriak Pak Darto seraya mengayunkan kerisnya ke arah bayangan itu.
Elara ragu sejenak, kakinya terasa berat seolah dipaku ke lantai. Namun, tatapan tajam Pak Darto dan aura membunuh yang memancar dari sosok bayangan itu memaksanya bergerak. Ia menyambar buku log itu, mendekapnya erat di dada, dan berlari menuju pintu kecil di belakang ruangan yang tertutup tumpukan kardus bekas.
"Jangan menoleh!" jerit Pak Darto sebelum suara benturan keras terdengar, diikuti oleh suara kayu yang patah dan erangan tertahan.
Elara menendang pintu belakang hingga terbuka, memperlihatkan tangga spiral besi yang berkarat menuju kegelapan di bawah tanah. Ia menuruni anak tangga itu dengan nekat, air mata mengaburkan pandangannya. Di benaknya, inisial *E.S.* di buku log itu terus menari-nari, sebuah vonis mati yang kini terasa semakin nyata seiring ia melangkah lebih dalam ke perut RSU Cakra Buana.