NovelToon NovelToon
Pesona Adik Angkat

Pesona Adik Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bundaAma

Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.

Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.

Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.

Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.

Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps-7

Pagi harinya, suara kicauan burung di taman belakang begitu terdengar ruang, pagi yang cukup menyenangkan dan aman bagi semua orang.

Melihat Nona muda mereka yang sudah siap di meja makan tanpa perlu menunggu suara bom atom mengetuk pintunya terlebih dahulu. Rezeki itulah ucapan semua maid yang bekerja di mansion milik keluarga Dirgantara.

Yang biasanya pagi pagi mereka akan mendengar suara gedoran pintu dan teriakan Bu Selyn namun hari ini mereka malah mendengar suara indah burung burung peliharaan tuan mereka di taman belakang.

"Selamat pagi putri mamah tercinta.... Uhuwww anakku yang manis sudah dewasa, mwahh.. " ucap Bu Selyn antusias dengan langkah riang lalu mengecup pipi sang putri yang sudah menyantap sarapan nya lebih dahulu.

"Pagi mah, pah..." sapa Hajeera pada kedua orang tuanya yang baru keluar dari dalam kamar.

"Oh my God sayang, kenapa tangan mu?" tanya Bu Selyn memekik panik saat melihat handyplast di punggung tangan sang putri.

"Kebentur meja rias mah.." jawab Hajeera asal dengan santai.

"Aduhhh sayang hati hati dong... Apa masih sakit?" tanya nya seraya memeriksa dan meniup niup punggung tangan nya.

"Enggak kok mah, gak sakit kok cuman agak memar dikit nanti juga sembuh .." jawab Hajeera.

"Tapi kalo gimana gimana, gimana pah?" tanya Bu Selyn khawatir tangan putrinya tidak baik baik saja.

"Syuttttt.... Jera gak papa kok mah tenang ajah, mending sekarang mamah duduk lalu kita sarapan..." ujar Hajeera seraya menuntun tubuh Bu Selyn agar duduk di seberang kursinya tepat di samping kanan sang suami.

"Mamah mau selai apa biar jera siapin.." tanya Jera seraya mengambil satu helai roti tawar di sana.

Bu Selyn hanya diam tanpa menjawab tapi tangannya menunjuk ke arah selai kacang di sana, dengan cekatan Hajeera mengoleskan selai kacang ke dalam roti di tangan nya.

"Yakin dek tangannya gak papa?" pak Benedict yang sedari tadi diam bukan tidak peduli tapi tengah memantau dan memperhatikan tangan Hajeera yang tertutup handyplast.

"Enggak papa kok pah, adek baik baik ajah..." jawabnya lembut seraya tersenyum lebar.

Bahagia, itulah yang selalu di rasakan oleh Hajeera, ia tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang dari orang tuanya meskipun ia tahu mereka adalah orang tua angkatnya, namun cinta mereka padanya terlihat begitu tulus dan sangat mencintai nya.

Tak lama terdengar suara sebuah langkah kaki turun dari anak tangga lantai atas, Hajeera melirik ke arah tangga, dilihatnya kakak nya Indri yang baru turun dari kamar miliknya di lantai atas selantai dengan nya.

"Pagi semua..." sapa Indri ramah pada semua orang yang ada di sana.

"Pagi sayang,..."

"Sini duduk sayang.." ujar Bu Selyn seraya menepuk kursi kosong di sampingnya.

Hajeera membeku saat tengah menyiapkan roti untuk kedua orang tuanya, ia bukan takut jika kakak nya mengatakan tentang kebenaran dirinya yang selalu keluar masuk klub malam.

Melainkan respon alami tubuhnya yang selalu membeku setiap kali bertemu Indri kakak nya saat ia tidak siap.

"Sayang..." pak Benedict sedikit bingung dengan respon Hajeera yang hanya diam membeku dengan roti dan selai di tangan nya.

Hajeera buru buru menenangkan dirinya setelah berhasil melewati pikiran nya yang sempat ngeblank.

"Cukup pah?" tanya Hajeera pada pak Benedick seraya menyerahkan dua helai roti selai nanas favorit nya.

Yang di jawab dengan anggukan kepala oleh pak Benedick "Thank you sweety.."

"Okey pap.."

"Kakak mau selai apa kak? Biar jera buatkan.." ujar Hajeera mencoba memulai percakapan dengan kakak nya.

"Gak papa sayang, kakak bisa sendiri kok.." jawab Indri dengan bibir yang merekah tersenyum lebar.

"Okey, kalo gitu jera lanjut makan..." ujarnya lalu duduk kembali di kursi makan nya.

"Suapi pah..." pintanya manja pada sang ayah, namun saat menyadari ucapan nya Hajeera mengerejap tersadar namun pak Benedict keburu menyuapi nya dengan roti selai coklat milik Hajeera dengan wajah berbinar-binar.

Entah mengapa seberusaha apapun Hajeera bersikap dewasa, saat ada Indri di samping nya alam bawah sadarnya masih takut kasih sayang orang tuanya terbagi.

Padahal ia pun tahu, orang tua mereka mencintai mereka dengan cinta yang sama.

"Oh ya mah, seperti nya Aaron sudah kembali...." ujar Indri di sela sela makannya yang langsung membuat tubuh Hajeera kembali menegang.

"Mamah juga tahu kok, cuman kita tuh udah hafal betul, dia tidak mungkin mau menginjak kan kaki ke rumah ini lagi setelah ---

Ucapan Bu Selyn menggantung saat pak Benedick memelototi nya karena bibirnya yang selalu lancang.

"Tidak baik mengobrol sembari makan.." ucapnya mengingatkan.

Hajeera hanya diam membisu saat mendengar kakak pertama nya yakni Aaron sudah kembali ke Indonesia.

Sejak kejadian beberapa tahun silam Aaron bersumpah tidak akan menginjakkan kaki lagi di tempat di mana Hajeera tinggal yang di anggap nya telah menghancurkan hidupnya berkali kali.

Padahal awalnya hubungan nya dengan Hajeera cukup baik, namun seiring berjalannya waktu seiring Hajeera bersikap manipulatif dan impulsif Aaron mulai tidak menyukai nya dan tidak bisa memakluminya.

Di tambah insiden di mana Hajeera memfitnah Indri yang saat itu tengah mengandung benih miliknya hingga mengakibatkan Indri keguguran karena stresss.

Hajeera melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan langkah yang cukup berat, di susul ke dua temannya yang baru datang dengan mata pandanya yang menghitam.

"What happened to you girl?!" tanya Livia saat melihat wajah Hajeera yang murung.

Hajeera hanya diam tanpa menjawab pertanyaan temannya, Maspupah dan Livia yang paham mengangguk mengerti lalu duduk mengapitnya seraya memeluknya dengan hangat.

"Sabarlah sa-yangkU🎶, Sabarlaa--h sayangkU🎶, sa--barlah Hajeera ku sayang----🎶" ucap Livia dan maspupah yang sontak saja membuat mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.

Sedangkan di belahan dunia lain, di sebuah gedung pencakar langit seorang pria muda tengah berdiri menatap ke arah bawah yang terlihat kecil saat dilihat dari menara tempatnya bekerja saat ini.

Ia berdiri di dekat kaca membelakangi sang ayah dan ibunya yang datang ke kantor miliknya.

"Aaron, jera dulu cuman anak kecil yang asal ngomong,.. Melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi apalagi jera yang mentalnya benar benar ketakutan, mungkin dia berbohong hanya karena takut kamu lebih menyayangi Indri daripada dia..." ucap Bu Selyn mencoba membujuk putranya agar berhenti untuk membenci Hajeera.

"Gak sekali dua kali mah dia melakukan kebohongan, jika kebohongan kecil bisa saja ku maafkan,.." jawab Demian dingin berbalik ke arah orang tuanya lalu duduk di sofa bersebrangan dengan orang tuanya.

"Tapi dia melakukan fitnah terhadap Indri yang menjadi anak angkat kalian juga mah, pah..." lanjut Demian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!