"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hari kelulusan sekolah menengah pertama tiba dengan segala kemeriahannya di New York. Udara musim panas yang mulai menyengat tidak menyurutkan semangat para siswa yang mengenakan toga berwarna biru tua.
Di antara kerumunan orang tua yang bangga, Nickholes dan Nadine berdiri berdampingan. Nick tampak gagah dengan kacamata hitamnya, sementara Nadine terlihat anggun, sesekali menyeka air mata haru melihat putra kecilnya kini sudah tumbuh setinggi bahu ayahnya.
Daven Teldford berdiri di barisan depan, namun matanya sama sekali tidak fokus pada pidato kepala sekolah. Kepalanya terus menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari siluet seorang gadis yang mengenakan pita kuning di rambut cokelatnya.
"Daven, bisa diam tidak? Kau seperti cacing kepanasan," bisik teman di sebelahnya.
"Aku hanya memastikan Bakpao-ku tidak pingsan karena lupa sarapan," jawab Daven santai.
Begitu upacara selesai dan topi-topi toga dilemparkan ke udara, Daven langsung melesat menembus kerumunan. Ia menemukan targetnya di dekat air mancur sekolah. Cheryl Alton tampak sangat cantik, meskipun wajahnya terlihat sedikit ditekuk karena ia sedang sibuk membongkar tas kecilnya.
"Jangan bilang kau kehilangan ijazahmu dalam waktu kurang dari lima menit, Cheryl," suara berat Daven terdengar tepat di telinga gadis itu.
Cheryl tersentak, lalu mendongak. "Daven! Tidak, aku tidak menghilangkan ijazahku! Aku hanya... kehilangan penjepit rambutku yang terjatuh entah di mana."
Daven terkekeh. Tanpa aba-aba, tangannya terangkat. Cubit.
"Aduh! Daven! Ini hari kelulusan, bisa tidak kau berhenti mencubit ku?!" teriak Cheryl, pipinya langsung mengembung kemerahan, memberikan pemandangan "bakpao" favorit Daven.
"Justru karena ini hari kelulusan, aku harus mencubit mu sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu di SMA nanti pipimu ini menyusut karena stres belajar," goda Daven dengan cengiran khas Teldford.
Sore harinya, keluarga Teldford dan keluarga Alton memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah restoran rooftop yang menghadap ke gedung Empire State. Nick dan ayah Cheryl, yang ternyata mulai akrab karena hobi golf yang sama, tertawa keras di meja seberang.
"Jadi," ucap Daven sambil menyesap sodanya, menatap Cheryl yang sedang sibuk memilih menu. "Kau sudah memutuskan akan masuk SMA mana? Aku dengar sekolah seni di Brooklyn mencarimu."
Cheryl menghela napas, wajahnya tampak sedikit cemas. "Aku tidak tahu, Daven. Aku sangat pelupa, bagaimana kalau aku masuk ke sekolah yang salah atau tersesat di hari pertama? Tapi... Ibu bilang aku sudah terdaftar di St. Jude High School."
Mata biru Daven berkilat. Senyum penuh kemenangan tersungging di bibirnya. "Oh ya? Sayang sekali."
"Kenapa?" Cheryl menatapnya bingung.
"Karena aku juga masuk ke sana. Sepertinya kau tidak akan bisa lepas dariku selama tiga tahun ke depan, Bakpao," jawab Daven santai.
Cheryl tertegun sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi campuran antara kesal dan... lega. "Apa?! Kau mengikuti ku ya?"
"Percaya diri sekali kau. Ayahku yang memaksaku masuk ke sana karena tim football-nya bagus. Tapi ya, anggap saja itu bonus untukmu agar ada yang mengingatkanmu membawa buku setiap pagi," balas Daven sambil kembali mencubit pipi Cheryl, kali ini lebih lembut.
Malam itu, setelah pulang ke rumah, Daven berdiri di balkon kamarnya, menatap lampu-lampu kota New York. Ia membayangkan masa depan mereka di High School. Ia tahu, usia 16 hingga 18 tahun adalah masa di mana segalanya berubah. Laki-laki akan menjadi lebih atletis, dan gadis-gadis akan bertransformasi menjadi wanita dewasa yang cantik.
Daven penasaran. Ia membayangkan Cheryl di usia 17 tahun kelak. Apakah dia akan tetap menjadi gadis yang ceroboh? Apakah dia akan mulai memakai riasan wajah yang tebal? Dan yang paling penting...
"Apakah pipi itu akan tetap bulat seperti bakpao?" gumam Daven pada dirinya sendiri.
Ia teringat cerita ayahnya, Nick, tentang bagaimana Nadine berubah dari gadis kutu buku menjadi wanita paling mempesona yang membuat Nick berlutut memohon ampun. Daven tidak ingin kehilangan Cheryl di tengah transformasi itu. Ia ingin berada di sana untuk melihat setiap inci perubahan Cheryl, dari seorang gadis kecil yang pelupa menjadi wanita yang mungkin, hanya mungkin...akan memegang kunci hatinya selamanya.
"Aku tidak akan membiarkan pria lain mencubit pipi itu," bisik Daven penuh tekad. Sifat posesif ayahnya benar-benar mengalir deras di darahnya.
Tiga bulan kemudian, musim gugur tiba. Hari pertama di St. Jude High School. Daven berdiri di depan gerbang sekolah dengan jaket tim sekolah yang baru, terlihat sangat tampan hingga beberapa siswi baru meliriknya dengan penuh minat. Namun, perhatian Daven hanya tertuju pada satu mobil yang baru saja berhenti.
Cheryl keluar dari mobil dengan seragam baru yang membuatnya tampak lebih tinggi. Namun, baru saja melangkah tiga meter, ia berhenti dan merogoh tasnya dengan panik.
"Daven! Aku lupa membawa jadwal kelasku! Aku tidak tahu harus ke ruang mana!" teriak Cheryl saat melihat Daven.
Daven berjalan menghampiri Cheryl dengan langkah tenang. Ia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. "Kelas 10-B, ruang 302, gedung utara. Aku sudah mencetakkan salinan untukmu semalam karena aku tahu ini akan terjadi."
Cheryl menatap kertas itu, lalu menatap Daven dengan mata berkaca-kaca karena lega. "Kau benar-benar menyebalkan, tapi kau penyelamatku."
Daven mendekat, menatap wajah Cheryl yang kini sedikit lebih tirus namun pipinya tetap menonjol manis saat ia berbicara. Daven tidak bisa menahan dirinya. Ia kembali mencubit pipi itu, merasai kekenyalan yang sama yang selalu membuatnya merasa pulang.
"Masih bulat," ucap Daven dengan nada puas.
"Sepertinya prediksiku benar. Mau umurmu 16 atau 18 tahun nanti, kau tetap akan menjadi Bakpao kesayanganku yang riweh."
"Daven! Berhenti memanggilku begitu di depan teman-teman baru!" protes Cheryl sambil memukul lengan Daven.
"Ayo jalan, atau kau mau aku gendong sampai ke kelas agar kau tidak lupa cara berjalan?" goda Daven sambil merangkul bahu Cheryl, menuntunnya masuk ke dalam gedung sekolah, memulai babak baru yang penuh drama, tawa, dan tentu saja, keriwehan Teldford generasi kedua di New York.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰