NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Delapan Belas

Tubuh Felicia terlonjak saat ia baru saja membuka pintu kost-nya.

Pak Han berdiri didepan pagar, bersandar pada kap mobil dengan kacamata hitam yang membuat kharismanya naik berkali kali lipat.

"Pak, ada apa pagi-pagi datang ke kost saya?" tanya Felicia kebingungan.

"Mau jemput kamu ke kantor lah, sekalian kita sarapan dulu. Pasti kamu belum sarapan kan?"

Felicia mendesah pelan, ternyata Pak Han benar-benar serius soal ucapannya kemarin siang. Nampaknya, pria ini memang berencana membuat Felicia jatuh cinta.

Buktinya, pria itu rela pagi-pagi buta datang ke kost Felicia hanya untuk mengajaknya sarapan. Padahal, jarak dari mess ke kost Felicia membutuhkan paling cepat lima belas menit. Itu pun jika tidak macet.

"Padahal bapak bisa titip ke saya aja sarapannya. Nanti kita bisa makan di kantor, jadi bapak gak perlu bulak-balik kaya gini." Ucap Felicia sesopan mungkin.

"Kamu ini paling ahli ya kalo soal protes. Udah ayo naik, nanti kesiangan."

Felicia menahan napasnya saat mendengar perkataan Pak Han. Memangnya dia salah ya? Felicia kan hanya menawarkan solusi yang paling efektif.

"Pagi ini mau sarapan apa, Pak?" tanya Felicia setelah masuk kedalam mobil Pak Han.

"Kamu sedang ingin makan apa? Saya ikut aja." Pak Han malah balik tanya.

Felicia terkekeh pelan, "nanti kalo saya yang pilih, bapak protes lagi."

"Yaudah, kan kamu tahu selera saya. Samakan saja selera saya sama kamu. Hitung-hitung latihan setelah menikah nanti."

Entah bagaimana, perkataan Pak Han itu berhasil membuat jantung Felicia berdegup kencang. Ia menghirup napas dalam, lalu membuka aplikasi pencari AI untuk mencari restoran terdekat yang masuk dengan selera mereka berdua.

"Masakan Indonesia yang bapak suka apa aja?" tanya Felicia.

"Apa aja saya suka, asalkan jangan yang mengandung kacang tanah." jelas Pak Han.

Felicia mengangguk paham, "bapak alergi kacang tanah?"

"Iya. Kamu harus ingat itu ya."

Akhirnya Felicia memutuskan untuk memilih sebuah restoran western yang memang menjual khusus menu sarapan di pagi hari. Selain karena agak sepi pengunjung, Felicia merasa menu disana akan cocok dengan selera mereka berdua.

Pak Han tampak sangat rapi, namun ada kegelisahan yang ia sembunyikan di balik kopi hitamnya. Setelah pesanan omelet mereka datang, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun yang terlihat sangat elegant dari saku jasnya.

Ia meletakkannya di samping piring Felicia tanpa berkata apa-apa.

Felicia meletakkan garpunya, matanya tertuju pada logo emas di atas kotak itu. Cartier. Ia tahu betul harga benda di dalamnya bisa setara dengan uang lembur asisten selama setahun penuh.

​"Pak... apa ini?" tanya Felicia, suaranya sedikit bergetar.

​"Buka saja. Saya rasa lingkarannya pas di pergelangan tangan kamu," jawab Pak Han datar, meski matanya menatap Felicia dengan intensitas tinggi.

​Dengan tangan ragu, Felicia membukanya. Sebuah gelang emas putih yang berkilau mewah menyapa matanya. Felicia langsung menutup kotak itu kembali dan menyodorkannya pelan ke arah Pak Han.

​"Maaf, Pak. Saya nggak bisa terima ini. Ini terlalu berlebihan."

​"Terima, Felicia. Ini bukan barang yang bisa dikembalikan," potong Pak Han cepat. Ia meraih tangan Felicia, mencoba memakaikan gelang itu secara paksa.

Felicia menarik tangannya dengan tegas. Ia menatap Pak Han lurus-lurus, tidak lagi dengan rasa sungkan, tapi dengan kejujuran.

​"Bapak gak perlu beliin saya barang-barang mewah kalau niat bapak mau bikin saya jatuh cinta," ucap Felicia tegas, membuat Pak Han tertegun di tempatnya.

​"Bukan saya nggak realistis, wanita memang suka hadiah, tapi nggak gini juga Pak. Ini saya rasanya kaya lagi disogok, bukan dirayu."

Suasana di meja itu mendadak hening. Pak Han terdiam dengan kotak merah yang masih terbuka di tangannya. Ia tampak seperti robot yang baru saja mengalami system crash karena logika transaksionalnya dipatahkan begitu saja.

​"Saya bukan barang produksi yang bisa Bapak beli hak eksklusifnya dengan materi," lanjut Felicia lebih lembut namun tetap menusuk.

"Kalau Bapak mau saya jadi istri Bapak karena cinta, bukan karena kontrak jabatan, harusnya Bapak kasih saya kasih sayang... bukan perhiasan mahal."

​Pak Han menghela napas panjang, pundaknya yang biasanya tegap kini sedikit merosot. Ia menunduk, menatap gelang itu dengan tatapan menyesal.

​"Maaf," gumam Pak Han pelan. "Saya... saya gak tahu cara lain. Teman-teman wanita seumuran saya biasanya selalu pamer perhiasan setiap kali mereka bertemu. Jadi, saya pikir kamu juga akan suka dengan perhiasan ini."

​Felicia tersenyum tipis, kali ini senyum tulus yang membuat jantung Pak Han mencelos.

"Bapak cukup jadi 'Manusia' saja di depan saya, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, simpan gelangnya. Kita sarapan, lalu ke kantor. Dan saya minta tolong, jangan potong gaji saya karena saya barusan berani menceramahi Bapak."

​Pak Han berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya meski telinganya memerah. "Gaji kamu tidak akan saya potong. Tapi sebagai hukumannya, nanti sore kita harus nge-date."

"Hah, nge date?"

Pak Han mengangguk, "saya baru ingat kalo kamu itu masih anak berusia dua puluhan. Pasti romantis dikepala kamu itu nonton bioskop, nonton konser musik, gitu kan?"

Felicia tertawa mendengar perkataan Pak Han barusan, "nah, itu bapak tahu!"

"Tapi saya sudah terlalu tua untuk itu, Fel."

Felicia menggeleng pasti, "biar awet muda, Pak. Katanya mau bikin saya jatuh cinta. Gimana sih?"

"Yasudah, terserah kamu lah. Saya ikut semua mau kamu. Asal kamu mau jadi istri saya." tegas Pak Han.

"Bener nih, Pak?" tanya Felicia antusias.

"Iya. Asal jangan minta hal-hal yang tidak masuk akal!"

"Siap, pak bos!"

...****************...

Setelah menyelesaikan semua laporan dan memastikan schedule Pak Han untuk besok sudah aman, Felicia segera merapikan barang-barangnya.

Sesuai janji tadi pagi, ia akan pergi nge date bersama Pak Han.

Sejujurnya, Felicia juga hanya wanita normal yang tidak bisa menolak pesona manajer tampan itu. Siapa sih, wanita yang tidak meleleh jika diajak menikah olehnya?

Tetapi, akal sehat Felicia bergerak lebih maju dibanding hatinya. Ia tidak mau begitu saja menyetujui permintaan itu meski Pak Han sudah mengatakan bahwa ia tidak akan menikah jika selain denga Felicia.

Aneh memang, tetapi itu yang sedang Felicia urai saat ini. Apakah niat Pak Han ingin menikahi Felicia karena pria itu benar - benar mencintainya, atau sekedar batu loncatan untuk naik jabatan saja?

Felicia tidak ingin dirinya menjadi janda di usia muda karena suatu hari Pak Han tiba-tiba menceraikannya setelah pria itu resmi menjadi direktur.

Jadi, agar hal tersebut tidak terjadi. Felicia akan melakukan beberapa test agar ia yakin bahwa menikahi pria matang itu tidak akan membuatnya menyesal.

Belum lagi, Felicia juga harus meminta restu orang tuanya terlebih dahulu. Pak Han memang terlihat sempurna, sih.

Tetapi dia warga negara asing, memiliki jarak usia yang jauh dengan Felicia, dan satu lagi, mereka baru saling mengenal kurang dari enam bulan.

Felicia mengetuk pintu ruangan Pak Han kemudian masuk setelah beberapa saat. Terlihat Pak Han masih sibuk dengan dokumen-dokumen tebal di mejanya.

Felicia mengerutkan dahi, "Bapak enggak ada meeting dadakan, kan?"

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!