NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah Kematian 3: Pohon Darah Bodhi

Lembah Kematian tidak pernah kehabisan cara untuk menyiksa mereka yang berani melangkah ke jantungnya.

Setelah selamat dari neraka hujan batu api, rombongan ekspedisi tiga keluarga besar—Lu, Qin, dan Lei—berpikir mereka akan menghadapi monster penjaga atau ilusi labirin. Namun, yang menyambut mereka adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari monster manapun: Zona tanpa Qi.

Mereka melangkah melewati sebuah batas tak terlihat yang memisahkan zona hujan magma dengan sebuah cekungan lembah yang sangat tenang. Terlalu tenang.

Seketika, langkah Lu Huang terhenti. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya. Zirah emasnya tiba-tiba terasa seberat gunung besi.

"Dantianku..." bisik Lu Huang, matanya membelalak ngeri.

Di sebelahnya, Lu Zhuxin jatuh berlutut, terengah-engah seolah-olah dia ditarik dari dalam air ke daratan tanpa udara. Pedang gioknya jatuh dari tangannya. "Qi... Qi-ku tidak merespons. Menjadi... padat."

Qin Chen, yang biasanya selalu mempertahankan keanggunannya, terpaksa menutup kipasnya dan menggunakan gagangnya sebagai tongkat penyangga. Wajahnya pucat pasi.

"Jangan paksa mengalirkan Qi," perintah Qin Chen dengan suara serak, memperingatkan para tetua Keluarga Qin yang mulai panik. "Ini adalah Formasi Penekan Ekstrem. Energi spiritual alam di sini sangat tipis, nyaris vakum. Formasi ini bekerja dengan prinsip osmosis terbalik; jika kalian mencoba mengeluarkan Qi, formasi ini akan menyedotnya secara paksa, menghancurkan meridian kalian."

Lei Zuan mendengus keras, menopang tubuhnya dengan tombak petirnya yang kini tidak lagi memercikkan kilat sedikit pun. "Apa yang menjaga tempat terkutuk ini?"

Mereka semua secara bersamaan mengangkat pandangan mereka ke tengah cekungan tersebut.

Di sana, tumbuh sebuah pohon yang keindahannya berbanding lurus dengan teror yang dipancarkannya.

Pohon itu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar dua puluh meter. Batangnya berwarna putih pucat, menyerupai tulang manusia yang dipoles. Daun-daunnya berbentuk seperti tetesan air mata, berwarna merah rubi yang memancarkan pendar cahaya yang berdenyut pelan, seirama dengan detak jantung.

Namun, yang membuat semua ahli Ranah Roh di sana gemetar bukan bentuknya, melainkan Aura-nya.

Tekanan yang dipancarkan pohon itu melampaui segala sesuatu yang pernah mereka rasakan. Itu bukan sekadar tekanan dari volume energi yang besar, melainkan perbedaan kualitas eksistensi. Itu adalah aura Hukum Alam yang telah dimatangkan.

"Ranah Kuno..." bisik anggota Keluarga Lei yang ikut dalam rombongan, suaranya bergetar penuh puji dan ngeri. "Satu ranah penuh di atas Ranah Roh. Ini adalah eksistensi yang bisa menciptakan domain sendiri."

Itu adalah Pohon Darah Bodhi.

Sebuah legenda di dunia alkimia. Daunnya bisa memperpanjang umur, batangnya bisa dibuat menjadi senjata pusaka, dan buahnya... buahnya adalah katalis untuk menembus belenggu dari Ranah Roh menuju Ranah Kuno.

Mata Lu Daimeng, yang berdiri di belakang rombongan Keluarga Qin, berputar. Keenam pupil hitamnya (Triple Pupil ganda) membedah struktur energi di sekitar pohon itu.

"Pohon ini hidup. Dan ia lapar," analisis Lu Daimeng dalam diam. "Akar-akarnya menyebar ke seluruh zona ini, bersembunyi di bawah tanah. Formasi penekan Qi ini bukan buatan manusia, ini adalah mekanisme pencernaan eksternal milik pohon ini. Ia membuat mangsanya lemas."

Dan yang paling penting, Lu Daimeng melihat benang-benang merah mikroskopis yang melayang di udara.

"Sensor darah," simpulnya. "Pohon ini sangat sensitif terhadap darah segar. Setetes darah jatuh ke tanah, dan akar-akar Ranah Kuno itu akan mencabik-cabik seluruh orang di sini dalam hitungan detik."

Lu Daimeng mengalihkan pandangannya dari pohon itu ke arah punggung Lu Huang dan Lu Zhuxin.

Jari-jarinya berkedut. Niat membunuhnya hampir bocor.

Keluarga Lu saat ini sedang berlutut, lemah, tidak bisa menggunakan Qi. Ini adalah momen paling sempurna di dunia untuk mencabut nyawa mereka. Lu Daimeng hanya perlu memanggil Pedang Jiwa Surgawi dan memenggal kepala Lu Huang dari belakang.

Tapi otaknya yang rasional mendinginkan darah naganya.

"Jika aku memotong lehernya, darahnya akan menyembur. Pohon itu akan bangun. Kekuatanku setara Ranah Pembentukan Jiwa tahap 6. Aku tidak akan selamat dari amukan entitas Ranah Kuno. Belum saatnya."

Lu Daimeng memadamkan niat membunuhnya hingga benar-benar bersih.

Di depan, para tetua dan pemimpin keluarga menatap dahan pohon tersebut. Tergantung di sana, tersembunyi di antara daun-daun merah, terdapat puluhan buah seukuran kepalan tangan bayi. Warnanya merah pekat, memancarkan aroma manis yang membuat Dantian mereka bergejolak penuh hasrat.

"Buah Darah Bodhi..." Lu Huang bergumam, matanya dipenuhi keserakahan yang membutakan. Dia mencoba melangkah maju, tapi tubuhnya terlalu berat karena tidak ditopang oleh Qi. "Kita harus... mengambilnya."

"Mustahil," kata Qin Chen, napasnya berat. "Tidak ada yang bisa memanjat pohon itu. Jika kita memaksakan diri menggunakan Qi untuk melawan gravitasi formasi ini, kita akan mati sebelum menyentuh batangnya."

"Sialan? Apa kita hanya melihat buah ini saja tanpa mengambil?!" geram Lei Zuan.

Di tengah keputusasaan dan ketidakberdayaan para raksasa dunia kultivasi itu, sebuah suara langkah kaki yang santai dan berirama terdengar.

Tap. Tap. Tap.

Mereka semua menoleh dengan susah payah.

Lu Daimeng berjalan melewati mereka. Punggungnya tegap. Langkahnya ringan, seolah-olah dia sedang berjalan di taman depan rumahnya.

Dia tidak berlutut. Dia tidak membungkuk. Dia tidak terengah-engah.

"Bagaimana..." Lu Zhuxin terbelalak, matanya nyaris keluar dari rongganya. "Bagaimana kau bisa berjalan?!"

Lu Daimeng bahkan tidak melirik kakaknya. Dia terus berjalan mendekati Pohon Darah Bodhi.

Jawabannya sederhana bagi Lu Daimeng: Dia tidak memiliki Dantian. Dia tidak memiliki Qi.

Formasi penekan ini dirancang untuk menghukum energi spiritual, membebani kultivator berdasarkan jumlah Qi yang mereka miliki. Semakin tinggi tingkat kultivasi Qi seseorang, semakin berat tekanan yang mereka rasakan. Bagi formasi ini, Lu Daimeng adalah sebuah batu. Formasi itu tidak menganggapnya sebagai entitas spiritual, sehingga ia mengabaikannya.

Dan secara fisik? Tubuh Lu Daimeng telah dimodifikasi oleh Anti-Dao. Berat tubuhnya sendiri sudah sangat masif, tulang-tulangnya lebih keras dari baja. Berjalan tanpa Qi adalah hal yang biasa dia lakukan setiap detik dalam hidupnya.

Lu Daimeng sampai di bawah Pohon Darah Bodhi.

Dia melihat ke atas. Kemudian, dengan santai, dia meraih batang tulang pohon itu dan mulai memanjat.

Pohon itu tidak bereaksi. Selama kulitnya tidak dilukai dan darah tidak tumpah, pohon Ranah Kuno ini tidak peduli ada monyet tak berenergi yang memanjat dahan-dahannya.

Di bawah sana, rahang para ahli Ranah Roh jatuh. Kejatuhan harga diri yang mutlak. Mereka, para dewa yang bisa terbang dan membelah gunung, kini harus berlutut di tanah dan menonton seorang monyet besar memanjat pohon keramat seperti petani memetik mangga.

Lu Daimeng duduk di dahan yang cukup tebal. Dia memetik satu Buah Darah Bodhi.

Buah itu hangat di telapak tangannya, berdenyut seperti jantung yang hidup.

"Buah ini tingkat Ranah Jiwa," gumam Lu Daimeng. "Belum matang tapi lumayan untuk mengganjal perut."

Bagi kultivator normal, Buah Darah Bodhi mengandung energi Yang dan Yin yang terlalu ekstrem. Jika dimakan mentah, energi itu akan meledakkan Dantian dan membakar meridian. Buah ini harus dibawa pulang, diekstraksi oleh Alkemis tingkat tinggi, dicampur dengan belasan bahan lainnya, dan dimurnikan dalam tungku selama beberapa hari atau mungkin beberapa bulan untuk dijadikan Pil Bodhi.

Lu Daimeng bukan kultivator konvensional pada umumnya, dari pada disebut kultivator Lu Daimeng lebih ke makhluk Evolusi.

Perutnya adalah tungku yang bisa menelan apapun tanpa perlu membuangnya. empat Anti-Dao di perutnya bisa mencerna besi, rancun, bahkan ruang.

Lu Daimeng mendekatkan buah itu ke mulutnya.

KREK. CROTT.

Dia menggigit buah itu hidup-hidup. Jus merah kental seperti darah menyembur, mewarnai bibir dan giginya.

Di bawah, Lu Zhuxin menjerit histeris. "TIDAAAK! APA YANG KAU LAKUKAN, ORANG GILA?! JIKA KAU MELEDAK! KAMI AKAN MATI JUGA TOLOL!"

Lu Huang meraung, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa sayang pada harta karun yang terbuang. "SAMPAH! KAU MERUSAK SUMBER DAYA! MUNTAHKAN ITU ATAU AKU AKAN MENGULITIMU NANTI!"

Lu Daimeng mengunyah pelan. Matanya bersinar ungu menatap ke bawah, langsung ke mata Lu Huang.

Gluk.

Dia menelannya bulat-bulat, beserta bijinya.

Keheningan melanda sesaat. Semua orang menunggu tubuh Lu Daimeng meledak menjadi kabut darah.

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Lu Daimeng mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Dia tidak meledak. Dia bahkan tidak bersendawa.

Hukum dunia kultivasi hancur berkeping-keping di depan mata mereka. Tubuh fisik macam apa yang bisa mentolerir energi mentah Ranah Kuno tanpa meledak?

"Sialan! Benar-benar belum matang. Rasanya... masam sekali," komentar Lu Daimeng dengan suara datarnya yang khas. "Seperti plum busuk."

Hinaan absolut terhadap harta langit dan bumi.

Lu Daimeng kemudian memetik tiga buah lagi.

"Ini lumayan setengah matang."

Dia melihat ke bawah, matanya memindai kelompok itu. Dia melihat Qin Chen yang sedang berlutut tapi masih mempertahankan tatapan tenangnya.

Lu Daimeng melempar satu buah ke bawah. Buah itu jatuh tepat di depan Qin Chen.

"Ambil itu Saudara Qin," panggil Lu Daimeng santai dari atas pohon. "Tangkap. Hadiah kecil karena tidak banyak bicara."

Qin Chen, meski kesulitan bernapas, segera memasukkan buah itu ke dalam cincin penyimpanannya dengan tangan gemetar. "Keluarga Qin... berhutang budi padamu, Saudara Lu."

Lu Daimeng memetik yang lain dan melemparkannya ke pangkuan Lei Zuan.

"Itu untuk mu Lei Zuan."

Lei Zuan mengamankan buah itu. Harga dirinya terluka menerima sedekah dari pria yang dulunya sampah di kotanya. tapi akal sehatnya berteriak kegirangan. "Hahaha. Terima kasih Daimeng!"

Lu Daimeng memegang satu buah terakhir di tangannya.

Dia menatap Lu Huang. Lu Huang menatap balik dengan mata memerah, menelan ludah, harga dirinya bertarung dengan keserakahannya. Jika Lu Daimeng memberikannya pada Keluarga Lu, itu akan sangat memalukan, tapi buah itu terlalu berharga.

Lu Daimeng tersenyum. Senyum tipis yang mematikan.

Dia memasukkan buah itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya di depan wajah Lu Huang.

Wajah Lu Huang berubah menjadi ungu. Urat di lehernya seakan mau pecah.

Lu Daimeng memetik buah demi buah. Ada sekitar 40 buah di pohon itu. Lu Daimeng memakan sepuluh buah. Sepuluh buah energi Ranah Kuno yang dimakan layaknya camilan pasar.

Saat Lu Daimeng selesai mengunyah buah kesepuluh, dia mengambil bijinya dari dalam mulut, lalu menjentikkannya ke bawah dengan tenaga fisik murni.

Tak.

Biji keras itu menghantam tepat di tengah dahi Lu Huang. Tidak membunuh, tapi meninggalkan bekas merah yang menyakitkan.

"Itu jatahmu Lu Huang, hahahah," kata Lu Daimeng dingin. "Aku dengar kau suka berkebun, Tanamlah di halaman rumah. Mungkin dalam sepuluh ribu tahun, kalian bisa mencicipinya."

"Brttt" Beberapa orang keluarga Lei dan Qin, ingin tertawa tapi mereka menahan diri.

"LU DAIMENG!!!"

Lu Huang kehilangan akal sehatnya. Amarah membakar rasionalitasnya. Dia mengabaikan peringatan Qin Chen. Dia memaksa Dantiannya berputar, mencoba memanggil Qi Emas miliknya untuk melancarkan serangan jarak jauh.

Satu detik Qi itu muncul di telapak tangannya.

Detik berikutnya, Formasi Penekan Ekstrem bereaksi.

ZRRRTT!

"AAARGHH!"

Energi di tangan Lu Huang disedot paksa dengan brutal. Meridian di lengan kanannya sedit berbunyi 'krak' dari dalam. Lu Huang jatuh tertelungkup, muntah air liur dan empedu (dia sekuat tenaga menahan agar tidak muntah darah, karena jika darahnya menyentuh tanah, pohon itu akan membunuhnya).

Lu Daimeng menatap kakaknya yang menggeliat di tanah dengan tatapan apatis.

"Kebodohanmu itu penyakit turunan," ucapnya.

Namun, fokus Lu Daimeng segera beralih.

Di dalam perutnya, perang dunia sedang terjadi.

Sepuluh Buah Darah Bodhi bukanlah lelucon bahkan untuk monster sepertinya. Jumlah energi Yang dan Yin purba yang masuk ke lambungnya begitu masif hingga menekan keempat Singularitas Anti-Dao di sana hingga batas kritis.

Lu Daimeng menutup matanya. Dia mencengkeram dahan pohon kuat-kuat. Kulit di lengan dan wajahnya mulai retak, memancarkan cahaya merah darah dan hitam pekat secara bergantian.

Panas. Sangat panas.

Jantung Naga di kanannya berdetak secepat senapan mesin, memompa darah dengan kecepatan yang membuat urat-uratnya menonjol seperti cacing hitam di bawah kulit abu-abunya.

"Terlalu banyak," pikir Lu Daimeng, menggertakkan giginya. "Harus dipecah. Jika tidak, tubuh fisikku akan meleleh."

Dia memfokuskan Anti Dao Psikis di otaknya (yang berfungsi sebagai prosesor utama), memberikan perintah absolut ke Perutnya.

"Belah!"

Di dalam dimensi mikro di perutnya, keempat Anti Dao itu bergetar hebat. Mereka menyerap energi Bodhi hingga membesar, lalu karena tidak stabil, mereka mulai merobek diri mereka sendiri.

Rasa sakitnya membuat pandangan Lu Daimeng memutih. Membelah jiwa dan energi ketiadaan sama dengan di kuliti lalu sembuh lalu dikuliti lagi.

KRAK! KRAK! KRAK!

Di bawah, para kultivator bisa mendengar suara retakan yang bukan berasal dari kayu, melainkan dari dalam tubuh Lu Daimeng.

Gelombang energi hitam dan merah meledak dari pori-pori Lu Daimeng, menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi di atas pohon.

"Apa yang terjadi padanya?!" teriak seorang tetua Keluarga Lei, melindungi matanya dari cahaya menyilaukan itu.

"Dia meledak! Aku sudah bilang dia akan meledak!" seru Lu Zhuxin, sedikit nada lega dalam suaranya. "Anak Jalang sialan!!"

"Tidak!!..." Qin Chen menyipitkan mata, kipasnya bergetar di tangannya.

Di atas pohon, Lu Daimeng membuka matanya.

Ledakan energi itu tersedot kembali ke dalam tubuhnya dalam sekejap mata, menciptakan kevakuman udara.

Di dalam perutnya, formasi baru telah terbentuk.

Tujuh.

Tujuh Singularitas Anti-Dao hitam legam kini berputar dalam susunan rasi bintang Bintang Biduk (Big Dipper). Mereka saling tarik-menarik dalam gravitasi yang sempurna, menciptakan mesin reaktor energi ketiadaan yang stabilitas dan kapasitasnya melompat secara eksponensial.

Ditambah satu Singularitas Psikis di otaknya. Total delapan.

Aura Lu Daimeng berubah.

Jika sebelumnya tekanannya hanya terasa padat seperti batu, kini tekanannya terasa seperti jurang tak berdasar. Secara kuantitas energi (meskipun dia tidak menggunakan Qi), aura kekuatannya kini setara dengan kultivator di Ranah Jiwa Tahap 9 Puncak.

Dia telah menembus kemacetan pertumbuhannya dan melompat langsung ke ambang batas menujuh Ranah Roh hanya dengan memakan sepuluh buah. Keuntungan dari sistem jalan yang rakus dan tidak ortodoks.

Lu Daimeng memetik sisa 28 buah di pohon itu, memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan yang dia kalungkan di lehernya (menggunakan Niat Naga untuk membukanya), lalu melompat turun dari pohon.

DUM.

Dia mendarat dengan ringan.

Seorang Tetua Keluarga Lei dan seorang Tetua Keluarga Lu, melihat Lu Daimeng berhasil mengambil semua buah tanpa terluka, kehilangan kewarasan mereka karena keserakahan.

"Jika anak ini bisa, kita juga bisa dengan mengandalkan fisik murni!" pikir mereka serentak.

Keduanya melompat maju, memaksakan diri melawan gravitasi formasi tanpa menggunakan Qi, berlari ke arah pohon.

Lu Daimeng menatap mereka dari samping, matanya dingin. "Orang bodoh selalu mati lebih cepat karena meniru hal yang tidak mereka pahami."

Benar saja. Tubuh kedua tetua itu (meski berada di Ranah Jiwa). Saat mereka memegang batang pohon, duri-duri halus mikroskopis dari kulit pohon Bodhi menembus kulit tangan mereka.

Karena tubuh mereka lemah di bawah tekanan formasi, pori-pori mereka terbuka lebar.

Setetes darah... mengalir dari telapak tangan Tetua Lu. Darah itu menetes ke dahan pohon.

ZING.

Aura Ranah Kuno dari Pohon Darah Bodhi berubah dari pasif menjadi aktif.

Pohon itu hidup.

Akar-akar merah setajam tombak melesat dari bawah tanah dalam hitungan milidetik. Akar itu tidak menyerang semua orang, ia hanya menyerang sumber darah.

JLEB! JLEB! JLEB!

Belasan akar menembus perut, dada, dan kepala kedua Tetua itu. Mereka bahkan tidak sempat menjerit. Akar-akar itu berdenyut, menyedot seluruh darah, Qi, dan sumsum tulang mereka dalam tiga detik.

Dua ahli Ranah Jiwa Puncak berubah menjadi mumi kering, lalu hancur menjadi debu abu-abu.

Semua orang di sana membeku, menahan napas. Teror absolut mencengkeram jantung mereka. Jika mereka bergerak sembarangan, akar itu akan membunuh mereka.

Pohon itu kembali tenang setelah meminum darah.

Qin Chen memberi isyarat tangan perlahan kepada pasukannya: Mundur. Merangkak. Jangan buat suara. Jangan berdarah.

Ketiga keluarga besar itu, yang berisi para ahli ranah roh yang biasa terbang di langit, kini harus merangkak menggunakan perut dan siku mereka, menggeser tubuh mereka inci demi inci untuk keluar dari radius sensitif Pohon Bodhi.

Lu Daimeng tidak merangkak. Dia berjalan di belakang mereka dengan santai, mengawasi mereka seperti gembala yang mengawasi domba-domba yang ketakutan.

Mereka bergerak lambat. Sangat lambat.

Satu jam berlalu hanya untuk melewati radius lima ratus meter dari pohon mematikan itu.

Akhirnya, Qin Chen yang berada paling depan merasakan tekanan di dadanya menghilang. Udara kembali bisa dihirup dengan bebas. Qi di Dantiannya mulai berputar kembali.

"Kita keluar," bisik Qin Chen.

Lu Huang, yang masih memendam amarah tak terhingga dan penghinaan dari biji buah tadi, mempercepat rangkakannya. Begitu dia melewati batas tak terlihat dari Formasi Penekan Ekstrem, dia menarik napas dalam-dalam.

Wuuush.

Qi emas Ranah Roh Tahap 5 miliknya kembali. Kekuatannya kembali. Kesombongannya kembali.

Lu Huang perlahan berdiri. Dia membalikkan badannya, senyum buas dan penuh dendam terukir di wajahnya. Dia bersiap untuk mencabik-cabik Lu Daimeng yang sedang berjalan keluar.

Tapi Lu Daimeng tidak pernah menunggu musuhnya bersiap.

Itulah hukum pertama yang harus dia lakukan

Tepat di milidetik Lu Huang membalikkan badannya, tepat di titik batas formasi, Lu Daimeng menyerang. Tanpa peringatan. Tanpa kata-kata klise. Tanpa niat membunuh yang bocor sebelumnya.

Dari jarak sepuluh meter, Lu Daimeng menggunakan pedang jiwa surgawi, yang dilapisi oleh dark null.

BOOM!

Udara di belakang Lu Daimeng meledak. Tubuhnya melesat dengan kecepatan hipersonik, memecahkan batas suara.

Pedang hitam itu melesat mencoba menebas leher Lu Huang.

Mata Lu Huang melebar hingga batas maksimal. Serangan itu terlalu tiba-tiba. Keterkejutannya menunda refleksnya; dia bahkan belum sempat memadatkan pelindung Qi Emasnya.

Dia hanya bisa secara naluriah menyilangkan kedua lengan kekarnya di depan leher untuk menahan tebasan itu.

TRANGGG!

Suara benturan nyaring bergema, layaknya pedang beradu dengan balok besi padat, bukan daging.

Gelombang kejut dari benturan itu menerbangkan Lu Zhuxin dan beberapa tetua keluarga Lu di dekat mereka sejauh puluhan meter.

Lu Daimeng berhenti di titik tumbukan. Pedang hitamnya tertahan.

Lu Huang berdiri, kakinya terseret mundur sejauh lima meter, meninggalkan parit di tanah berbatu.

Keheningan yang mencekam menggantung di udara.

Semua orang menatap hasil dari benturan langsung antara Raksasa Keluarga Lu dan Raksasa Buangan.

Dari sela-sela baju zirahnya yang terbelah, setetes darah merah segar jatuh ke tanah berbatu.

Lengan kanan Lu Huang hanya tersayat sedikit. Luka itu tidak dalam, murni tertahan oleh kekokohan tubuh Ranah Roh Tahap 5 miliknya yang telah ditempa melampaui baja. Dia tidak menggunakan pelindung Qi, tapi fisik monsternya menolak untuk terpotong.

Meskipun lukanya kecil, fakta bahwa Lu Daimeng bisa menembus pertahanan fisik mentahnya membuat mata Lu Huang bergetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bukan hanya amarah yang dia rasakan saat melihat Lu Daimeng.

Itu adalah ketakutan.

Lu Daimeng menarik pedangnya perlahan. Ujung pedang hitam itu meneteskan darah merah segar Lu Huang.

"Tubuhmu tebal sekali," ucap Lu Daimeng, suaranya sangat pelan tapi membelah keheningan layaknya guntur.

"DAIMENG! BERANINYA KAU!!" Teriak Lu Huang.

sepuluh orang tetua keluarga Lu yang tersinya mengeluarkan artefak dan senjata mereka.

"DAIMENG KAMI AKAN MENGULITIMU HARI INI." Teriak Lu Zhuxin.

Ketegangan di mulut lembah itu mencapai titik didih, di mana satu helaan napas salah bisa memicu perang darah di antara mereka.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!