Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Hana... Kamu... Kamu kesini mau ngapain?" tanya Dzaki merasa gugup.
Hana tersenyum getir. Ia membuang muka sekilas, merasa jijik melihat dua pendosa di hadapanya kini. "Kamu nggak perlu tahu lagi urusanku, Dzaki! Lebih baik kamu urus saja gundikmu ini. Kalau bisa, bawa saja dia pergi dari sini. Mataku sakit melihat air mata buayanya!"
Dzaki hanya mampu memejamkan mata dalam-dalam. Dalam situasi seperti ini, tak mungkin ia berdiri di antara kedua wanita itu. Lalu, pandangan Dzaki jatuh pada Mona.
"Mon, aku kan sudah bilang sama kamu. Nanti aku pulang! Kamu nggak perlu susul aku jauh-jauh! Kasian bayinya," didepan Hana, secara terang-terangan Dzaki mengusap perut gundiknya itu.
Istri mana pun pasti tidak akan kuat melihatnya. Dada Hana bak tertusuk ribuan jarum, bahkan rasanya hampir meledak karena saking sesaknya.
"Jadi, pria tadi suaminya Hana? Dasar tidak tahu malu," geram Danish yang saat ini bergeming didepan pintu lift.
Mona mengusap sisa air matanya. Ia melirik Hana sekilas, seakan, dengan sikap sayang Dzaki kepadanya itu, sudah menjadi 1 point untuk meraih kemenangannya. "Rasain kamu, Hana... Gimana? Sakit 'kan melihat suamimu lebih memilihku?! Heh!" tawa batinnya.
Tiba-tiba...
"Hana, sudah... Ayo kita pergi!"
Hana tersentak ketika tanganya digenggam oleh Danish tanpa aba-aba. Namun ketika ia menatap mata itu, seolah Danish tengah berkata 'balaslah mereka!'
Danish menatap kearah Dzaki sekilas, "Mari Pak Dzaki, saya dan Hana duluan!"
Sembari mengeratkan genggaman tangan Danish, Hana beranjak mengikuti tarikan tangan pria tampan itu. Ia merasa puas, akhirnya dapat membalas suaminya.
Dzaki menegakan badanya. Entah mengapa, melihat Hana bersama pria lain, hatinya masih juga panas. Bahkan, Dzaki sampai mengepalkan tangan, matanya terhunus tajam ketika melihat pemilik Morez Group itu menggandeng tangan Istrinya penuh kepemilikan.
"Brengsek! Hana diam-diam juga berkhianat di belakangku... Awas saja mereka!" batinya dengan nafas terengah.
"Mas Dzaki, kamu mau kemana?" Mona menahan tangan suami sirinya, ketika langkah Dzaki ingin mengejar Istrinya.
Dzaki urungkan niatnya. Tanganya masih terkepal, hingga dirinya terpaksa membiarkan Hana masuk kedalam mobil Danish.
"Dzaki... Ayo kita pulang! Aku nggak mau ya, kamu lagi-lagi harus melihat Hana. Biarin aja jika dia memang sudah punya kekasih. Itu berarti... Hubungan kita akan berjalan tenang kedepanya," suara Mona melemah, namun hatinya merasa bahagia.
Sementara di dalam mobil, Danish membuka suara. "Jangan dalah paham dengan sikap saya tadi. Saya hanya ingin membantu kamu saja," katanya dengan suara dingin.
Hana menoleh sekilas. Tanpa di beri tahu pun, ia juga sudah paham akan hal itu. "Pak Danish tenang saja. Saya tahu akan hal itu. Terimakasih sudah membantu saya!"
Suasana mobil kembali hening.
*
*
Sementara di rumah sakit,
Bu Ana sejak tadi menimang Baby Keira, sebab bayi 2 bulan itu lagi-lagi menolak untuk meminum susu formulanya.
"Sayang... Cucu Oma yang cantik... Udah ya nangisnya. Nanti muka Keira merah semua, loh!" gumamnya sambil mengelap air mata Keira.
Bik Inem juga sejak tadi mengikuti Majikannya menimang, sambil memegangi tongkat infus Keira. "Bu... Kalau capek, sini biar saya saja yang gendong. Katanya tadi, Ibu mau telfon Den Danish?!"
Tapi, belum sampai Bu Ana menjawab, tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
Ceklek
"Assalamualaikum...."
"Walaikumsalam...." jawab Bu Ana dan Bik Inem bersama.
Senyum Bu Ana merekah kala melihat putranya datang membawa calon Ibu susu untuk cucunya-Keira.
Hana berjalan mendekat, tersenyum hangat sambil bersalaman sekilas pada Bik Inem dan Bu Ana. "Bu... Bagaimana kabar Keira?"
Sambil menatap cucunya sekilas, Bu Ana menjawab, "Ini, baru saja tidur lagi, Hana... Kamu bisa lihat sendiri 'kan, wajahnya aja sampai sembab."
Jemari Hana menyapu wajah kemerahan Keira akibat tangisanya tadi. Dalam dengkuran halus itu, sesekali mulit kecilnya sesegukan. Bulu lentik itu tampak lebih basah-Hana mengusapnya lembut.
"Sebentar, Saya tidurkan dulu...." kata Bu Ana sambil beranjak menuju ranjang.
Namun, baru saja badan Keira menyentuh kasur, tiba-tiba tangisanya kembali pecah.
Oek...! Oek....!!
"Eh, cup-cup sayang...." Bu Ana kembali lagi berniat untuk mengangkat tubuh Keira, namun lenganya ditahan oleh Hana.
Hana berkata lembut, "Bu... Biar saya saja, ya! Ibu pasti lelah 'kan? Mungkin Keira haus. Biar saya susui dulu."
Bu Ana mengangguk. Ia menarik tubuhnya menjauh, membiarkan Hana mengangkat tubuh Keira. "Sayang, kamu haus ya? Keira laper juga ya? Sebentar ya....."
Hana menatap kearah Danish sekilas, lalu kembali menatap Bu Ana. Seolah paham dengan tatapan gundah itu, Bu Ana lalu mendekat kearah putranya.
"Dan... Keluar, cepet!" bisik sang Ibu, mengangkat dagunya kearah pintu.
Danish menatap bingung. Ia bahkan sampai memegang bahunya ketika mendapat dorongan dari Ibunya. "Mah, apaan, sih? Aku kan mau lihat putriku! Lagian, aku nyium Keira aja belum, kok di suruh keluar?!" protesnya kesal.
Bu Ana menajamkan matanya, sambil berbisik, "Dan... Itu Hana mau susui Keira!"
Barulah Danish paham. Manggut-manggut. Setelah menatap Hana sekilas, ia berlalu keluar.
Dalam dekapan Hana, bayi mungil itu tiba-tiba saja berhenti menangis. Kedua mata Keira mengerjab, dan tak lama itu senyum merekah terlukis pada bibir mungilnya.
Hana menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Bik Inem pamit keluar, merasa segan melihat Hana akan menyusui. "Sayang, bismillah ya, Keira nenen...." bisiknya.
Bibir Bu Ana mengulas senyum lembut. Ia masih berdiri di depan pintu, menatap dalam kearah Hana, sosok wanita asing yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan cucnya. Kehadiran Hana bagaikan malaikat penyelamat bagi hidup Keira. Bayi mungil yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Jika teringat rumah tangga putranya, dada Bu Ana terasa sesak. Akibat keegoisan suaminya dulu perihal masalah bisnis, hingga putranya sendiri harus menjadi tumbal perjodohan antar dua perusahaan.
Danish beberapa kali sempat menolak, sebab saat itu dirinya sudah menjalin hubungan dengan salah seorang Dokter di rumah sakitnya, hampir 5 tahun lamanya.
Karena mendengar kabar Danish di jodohkan dengan putri Direktur Rumah Sakit, jadi wanita itu memutuskan keluar, dan kembali melanjutkan pendidikanya di LN.
Dan terjadilah pernikahan Danish dengan Ibu Keira, yakni Rani Almira.
Namun sebelum kepergian Rani dari rumah, sempat terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan Danish.
Sementara di luar, sosok tampan berusia 32 tahun itu sedang duduk termenung di kursi tunggu. Pertengkaran hebat antar ia dan sang Istri, kini bagaikan melodi usang yang berputar keruh dalam otaknya.
Di dalam kamar luas dan megah dengan interior mewah itu, suara Rani pecah, menggema kuat. "Aku nggak bisa terus-terusan seperti ini, Danish! Aku masih ingin bebas, nggak terikat dengan bayi itu!" tunjuknya kearah box bayi Keira. Sementara bocah mungil itu tengah asik menikmati mainan yang menggantung diatas boxnya. "Aku capek kaya gini terus! Badan aku jadi rusak, dan... Dan semua mimpi-mimpiku jadi model internasional harus gagal!"
Danish memejamkan mata dalam-dalam menahan emosinya yang juga siap meledak. Dadanya sudah kembang kempis, merasakan sesak yang kian menyergap.
"Kamu enak dapat bebas-"