Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sophia Sakit
Pagi ini ada kegiatan ibu - ibu persit. Sofi tentu di libatkan dalam kegiatan itu karena dia juga pengurus, sebagai istri dari Letkol Jonathan Benjamin. Kegiatan pengobatan massal dan donor darah.
Di kegiatan ini Sofi melihat dokter Lia, dia memberi senyuman, namun tidak dibalas olehnya. Tetapi Sofi cuek saja. Prinsipnya kesenangan dan kebahagiaannya hanya suami dan anak - anak. Sedangkan kepada orang lain hanya berbuat baik saja. Kalau tidak di hormati mereka ya biasa saja alias cuek. Sofi kembali membantu, sampai di penghujung kegiatan ini, ketika Sofi mau mendonorkan darahnya yang melakukannya adalah dokter Lia.
"Selamat bertemu lagi orang kaya."
"Senang melihatmu dokter Lia."
"Kamu ngak takut saya bisa merusak nadi kamu?"
"Saya pikir kamu orang yang pintar, tidak mungkin di kegiatan sebesar ini, kamu mau menghancurkan hidupmu."
Dokter Lia langsung terdiam. Terlihat dari wajahnya yang murung. Sofi hanya mengamati, tiba - tiba hadir seorang petugas dari Palang Merah Indonesia yang mengambil ahli tugas ini, karena ini tugas mereka. Dengan malunya dokter Lia beranjak meninggalkan Sofi.
Selesai kegiatan. Sofi menuju ke ruangan Suaminya. Karena kegiatan ini berlangsung di aula pertemuan rumah sakit, dengan membawa banyak makanan dan jajan. Waktu pintu di ketuk dan terbuka terlihat wajah istrinya. Nathan langsung menghampiri dan memberi ciuman.
"Kamu baik - baik saja sayang???"
"Baik mas." Nathan mengendong istrinya dan Dia duduk di sofa sambil memangku istrinya.
"Mas, aku bawa makanan dan jajan, kita makan berdua ya." Nathan kembali mencium istrinya.
"Kamu tadi mendonorkan darah, kamu yang harus makan duluan."
"Ini banyak mas."
"Iya kita makan sama - sama."
Selesai makan bersama, Nathan membujuk istrinya untuk beristirahat. Di ambil bantal dan selimut yang biasa dia gunakan jika selesai operasi malam untuk beristirahat. Tidak sampai lima menit Sophia Abigail Stevanus istrinya sudah terlelap. Nathan menatap raut wajah istrinya. Dia membiarkannya tertidur dan Nathan melanjutkan pekerjaannya.
"Ria, ada istriku beristirahat di dalam, jika dia bangun sampaikan aku ada operasi pasien."
"Siap dokter."
Ria adalah tentara wanita yang ditempatkan diruangan kepala rumah sakit sebagai sekretarisnya. Sofi mengenal Ria dengan akrab. Dia sudah menganggap Ria seperti adeknya sendiri. Semua orang yang bekerja dengan suaminya dikenal olehnya.
Sampai sore Nathan mengoperasi pasien, selesai operasi kembali keruangan menjumpai istrinya baru juga bangun. Namun dia sangat berkeringat. Nathan langsung memeriksa istrinya. Denyut jantungnya lemah, suhu tubuhnya panas. Sofi tampak lemas. Akhirnya dia mengendong istrinya dan dibawa ke IGD. Disana langsung Nathan memberi tindakan dibantu oleh para ners. Sementara Ria sudah menyiapkan ruangan VIP untuk perawatan ibu kepala rumah sakit.
Nathan sudah menghubungi suster yang menjaga anak - anaknya agar sebentar akan di jemput ke rumah sakit karena mami mereka sedang opname. Ria kembali datang menjemput Liu dan Nael. Orangtua sofi dan mertuanya juga sudah dihubungi. Bahkan papi Marten dan mami Olive juga di Inggris juga dihubungi. Semua sangat kuatir. Karena tidak perna Sofi akan terbaring lemas begini.
Nael sudah menangis dia memeluk maminya tidur disamping maminya. Sedangkan Liu hanya tenang saja, namun dia juga memeluk maminya sambil mencium.
"Mami, are you oke now."
"a little my sweet heart."
"Liu love mami, sembuh ya."
" Siap sayangku."
Sofi mencium kedua anaknya. Nathan masih menunggu hasil lab dari istrinya. Sebagai dokter dari gejala - gejala dan kondisi tubuh Sofi Nathan sebagai dokter tahu apa yang istrinya derita, namun dia berusaha menepiskan jauh - jauh pikiran itu.
Kenyataan berkata lain, Sofi menderita kanker ginjal stadium satu. Nathan bergetar membaca hasil itu. Air matanya jatuh. Matanya melihat kearah istrinya dan kedua anaknya yang tertidur di tempat tidur lain. Aksi Nathan ini dilihat oleh Sofi yang sudah bangun.
"Mas, aku sakit apa???
"Sayang...." Nathan tidak tega, dia memeluk istrinya sangat erat dan menciumnya.
"Kamu pasti sembuh sayang. Kita akan lewati semuanya ini bersama - sama."
"Iya mas, adek sakit apa???"
"Kanker Ginjal stadium satu."
Semua keluarga kaget. Semua upaya dilakukan mengingat anak - anak mereka yang masih kecil. Akhirnya kedua orangtua Sofi pagi - pagi tiba di kota Makassar tempat tugas Nathan. Setelah berembuk, Sofi diterbangkan kembali ke Inggris bersama kedua anaknya. Nathan tetap ikut. Dia sudah mengajukan surat cuti.