Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE ENAM
BRAAKKK
Bastian menutup pintu mobil dengan keras membuat Siena yang baru saja masuk dan belum membenarkan posisi duduknya berjingkat kaget.
"Apa dia ingin merusak mobil ku?" gerutu Siena kesal seraya memandangi kearah Bastian yang berjalan cepat mengitari setengah badan mobil lalu masuk dan duduk dikursi kemudi.
"Apa kamu ini tukang pukul? Kenapa menutup pintu mobil saja harus pakai tenaga dalam. Bagaimana kalau-"
"Kenakan seatbelt anda nona". Potong Bastian tanpa menoleh menatap Siena dan mulai menyalakan mesin mobil nya.
"ck!" Siena berdecak sebal tapi juga menurut, ia segera memasangkan seatbeltnya lalu menyandarkan kasar punggung nya dikursi jok seraya melipat kedua tangannya didepan dada, pandangan matanya menatap lurus kedepan.
"Kamu ini baru pertama menjadi bodyguard tapi sudah membuatku kesal". Omel Siena
Tapi, Bastian tak menggubris nya. Perlahan ia mulai melajukan kendaraan roda empat itu pergi menjauh dari tempat parkir fakultas.
Merasa diabaikan, Siena pun menoleh.
"Dengar tidak?!"
"Saya dengar nona. Bukan maksud saya ingin membuat anda kesal, tapi saya hanya menjalankan tugas saya sesuai dengan perintah dari tuan Hartman". Sahut Bastian datar tanpa menoleh ke arah Siena dan tetap fokus pada jalanan.
"Ck!". Mendengar itu, Siena semakin berdecak kesal lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah luar jendela.
"Menjengkelkan sekali". Gerutu Siena lirih tapi masih bisa didengar oleh Bastian.
Pria itu melirik sebentar kearah Siena seraya mengulum senyum tipis setelah itu ia kembali fokus pada kemudi.
.
Keheningan menyelimuti kabin mobil. Hanya suara mesin yang berpadu dengan desiran angin dari pendingin udara. Siena masih setia menatap keluar jendela, rahangnya mengeras, jelas sedang menahan kekesalan.
Beberapa detik berlalu. Sampai tiba-tiba ponsel milik Siena yang ia simpan didalam tas berbunyi.
Tring.
Suara notifikasi ponsel memecah suasana hening itu. Siena refleks menurunkan tatapan, meraih ponselnya dari dalam tas. Nampak layar benda pipih itu menyala menampilkan notifikasi grup chat.
Girls Squad
nongkrong sore ini yuk, Sie. Café Opaline. Kita butuh kamu.
Alis Siena terangkat sebelah dan bibirnya refleks melengkung tipis.
Ia kembali membaca pesan-pesan berikutnya, jarinya menggulir layar ponsel itu dengan cepat. Ada foto secangkir kopi, ada emoji tertawa, ada ajakan yang jelas-jelas menggoda menurutnya.
Dengan cepat jari jemari lentiknya membalas chat tersebut sambil tersenyum.
Bastian menangkap gerakan kecil itu lewat sudut matanya. Tanpa menoleh, ia sudah bisa menebak apa yang akan nona muda nya itu lakukan.
Jangan remehkan seorang Bastian Asher Grayson, meskipun dia baru pertama kali bekerja sebagai bodyguard tapi insting nya lebih tajam dari itu.
"Nona kita hampir sampai di rumah". Ucap Bastian membuyarkan fokus Siena dari isi yang ada didalam ponsel nya.
Siena yang mendengar itu, sontak menoleh. "Putar balik, ke cafe Opaline". Ujar nya lalu kembali menunduk menatap layar ponselnya seolah tengah membaca pesan masuk yang baru saja dikirimkan oleh temannya.
"Tidak."
Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulut Bastian, datar tapi tegas.
Siena langsung mengangkat kepalanya, menoleh tajam kearah Bastian. Ia merasa harga dirinya seolah ditampar baru saja.
“Apa?” suaranya meninggi. “Kamu bilang apa barusan?”
“Saya bilang tidak, nona.” Bastian akhirnya melirik sekilas, tatapannya tenang tapi mengandung tekanan. “Agenda anda hari ini selesai. Kita langsung pulang.”
Siena terkekeh sinis. “Sejak kapan bodyguard punya hak mengatur jadwal hidup aku?”
“Sejak ayah anda membayar saya untuk memastikan anda selamat,” balas Bastian tanpa ragu. “Dan nongkrong dadakan bukan bagian dari itu.”
“Ini hanya ke café,” bantah Siena cepat. “Teman-teman aku ada di sana. Tempat umum, terang juga aman. Atau kamu takut?”
Kalimat terakhir itu seolah sengaja Siena lontarkan. Ia sandarkan lagu punggungnya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada, senyum menantangnya terpatri jelas diwajah cantiknya.
Bastian menghela napas pendek lewat hidung. “Saya tidak takut, nona. Saya hanya bekerja.”
“Oh, jadi kerja versi kamu itu merusak mood orang?” Siena mendengus. “Tapi, aku tidak butuh izin mu".
“Tetap tidak,” ulang Bastian, kali ini nadanya lebih tegas. “Instruksi tuan Hartmann jelas. Tidak ada agenda tambahan tanpa persetujuan.”
Siena tertawa kecil, “Kamu tau tidak apa yang paling aku benci?”
Bastian tidak menjawab, tapi Siena tetap melanjutkan ucapannya.
“Orang yang sok berkuasa hanya karena dapat mandat.” Ia memiringkan kepalanya menatap kearah Bastian. “Jangan lupa posisi kamu. Kamu itu bodyguard plus supir, bukan wali hidupku.”
Mendengar itu, urat rahang Bastian menegang tipis. Ia mengurangi kecepatan mobilnya, tapi belum juga berbelok.
“Dan jangan lupa juga, nona,” sahutnya dingin, “Selama saya bertanggung jawab atas keselamatan anda, saya tidak bisa membiarkan anda bertindak sesuka hati.”
Siena yang mendengar itu terdiam sesaat. Kalimat yang Bastian lontarkan berhasil mengenai sasaran.
Beberapa detik hening kembali menyusup, kali ini terasa lebih berat. Lampu merah memantul di kaca depan mobil.
Siena menggertakkan gigi, lalu mendesah kesal.
“Opaline hanya sepuluh menit dari sini,” kata Siena pelan, tapi jelas sekali keras kepala itu masih kentara. “Setelah itu kita pulang. Aku janji.”
Bastian tak langsung menjawab, ia menatap lurus ke depan. Lampu lalu lintas berubah hijau.
“Lima belas menit,” kata Bastian akhirnya. “Tidak lebih.”
Seketika Siena langsung menoleh, matanya berbinar penuh kemenangan. “Deal.”
“Tapi satu syarat,” sambung Bastian cepat.
Siena mendengus. “Apa lagi?”
“Saya ikut turun,” ucap Bastian. “Duduk di jarak pandang. Dan kalau saya bilang pulang, anda tidak boleh membantah.”
Siena tersenyum menyeringai seraya menaikkan sebelah alisnya. “Protektif sekali.”
“Profesional,” koreksi Bastian singkat, lalu dengan cepat membelokkan setir mobil ke arah café Opaline.
Siena tak lagi menyahut, ia kembali menunduk menatap layar ponselnya, mengetik cepat di grup chat.
On my way. Don’t miss me
Tanpa Siena sadari, Bastian meliriknya dari sudut matanya yang berbentuk almond. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk menangkap senyum tipis di bibir Siena. Senyum khas yang selalu muncul setiap kali ia merasa menang.
“Nona,” suara Bastian kembali terdengar, tenang namun jelas, “saya perlu mengingatkan bahwa kegiatan ini seharusnya tidak berlangsung lama.”
Siena mendengus pelan tanpa menoleh. “Aku hanya nongkrong sebentar. Minum kopi. Tidak akan mati, kan?”
“Yang saya pertimbangkan bukan kemungkinan anda mati,” balas Bastian cepat, “melainkan konsekuensi dari kelalaian.”
Mendengar itu, Siena akhirnya menoleh. “Sejak kapan minum kopi dianggap kelalaian?”
“Sejak dilakukan tanpa pemberitahuan, di tempat umum, dan bersama banyak orang,” jawab Bastian lugas.
“Terutama ketika anda seharusnya sudah berada di rumah satu jam ke depan.” Imbuhnya.
“Hah,” Siena menghela nafas kasar seraya memutar bola matanya jengah. “Kamu ini kaku sekali. Santai sedikit bisa, tidak?”
.
.
.
Jangan lupa dukungannya... Like, vote dan komen... Terima kasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut