"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pernikahan Hamdan dan Susan, akhir nya terjadi juga. Semua itu karena desakan dari Ibu nya Hamdan yang sudah tidak sabar ingin memiliki cucu laki-laki. Sebenarnya, Hamdan tidak ingin menikahi janda itu. Ia hanya bermain-main saja dengan Susan.
Bagi Hamdan, diri nya yang sudah sukses dan juga tampan itu, lebih cocok jika menikah gadis muda dan juga cantik.
"Bu, Aku tidak mau menikahi Susan. Dia sudah janda." Ucap Hamdan saat itu.
"Ibu tidak peduli dengan status nya. Asal kan ia bisa memberi mu anak laki-laki, itu sudah cukup bagi Ibu. Belum tentu, jika kamu menikahi gadis pera-wan bisa memenuhi keinginan Ibu."
"Tapi, Bu. Aku tidak selera. Aku sudah bosan dengan nya."
"Hamdan! Kali ini dengarkan Ibu. Kalian cukup menikah siri saja. Jika memang nanti ia bisa memberikan Ibu anak laki-laki, pasti kamu juga yang akan senang."
"Lalu, kalau Susan malah melahirkan anak perempuan, bagaimana?"
"Ceraikan dia. Maka nya Ibu menyuruh mu untuk menikahi nya secara siri. Jadi, kalian tidak perlu ribet mengurus perceraian seperti dengan mantan istri mu dulu."
Hamdan terdiam. Bagus juga ide dari Ibu nya itu. Entah dari mana Ibu nya mendapatkan ide segar seperti itu. Bisa jadi, sejak tinggal di kota, pikiran ibu nya juga sudah sedikit lebih maju.
Hamdan pun tersenyum licik. Ide ini benar-benar sangat menguntungkan bagi nya. Jika ia menikahi Susan secara siri, ia juga masih bisa mencari gadis muda untuk dijadikan istri sah nya nanti. Kalau bisa, yang cantik, muda dan kaya raya. Supaya ia bisa santai dan menikmati hari-hari nya dengan indah.
"Baik lah, Bu. Aku setuju."
Dan akhirnya, di sana lah Hamdan malam itu. Di rumah milik Susan. Awal nya Susan tidak setuju di nikahi secara siri. Tapi, Hamdan sangat pintar dalam membujuk nya. Wanita itu, juga sudah mulai memiliki perasaan yang dalam pada Hamdan.
Apalagi melihat aset yang di miliki oleh Hamdan selama ini. Pasti lah ia akan sangat beruntung menjadi istri yang hanya diam di rumah untuk menikmati semua fasilitas yang ada.
Sungguh mereka berdua ternyata memiliki misi nya masing-masing. Tidak ada ketulusan di antara kedua nya. Entah sampai kapan, rumah tangga itu akan bertahan.
Malam pengantin Susan dan Hamdan, di habiskan dengan melakukan ritual malam pengantin. Hamdan dan Susan yang sudah mengerti, tidak lagi canggung dalam melakukan nya.
Hamdan sudah lama tidak mendapatkan sentuhan seorang wanita. Begitu juga dengan Susan. Malam itu, mereka sama-sama melampiaskan semua hasrat yang selama ini terpendam di dalam diri mereka.
******
Beberapa bulan pun berlalu. Hari perpisahan di sekolah nya Mentari, akan di adakan hari itu. Mentari sudah di rias dengan memakai pakaian adat.
Rima dan Seruni pun ikut melihat acara hari itu. Hanya dua anak nya yang tinggal bersama Bapak dan juga Ibu nya di rumah. Tadi, dia anak itu tidak mau pergi karena sibuk ingin bermain pancing ikan di halaman belakang bersama dengan kakek nya.
Jadi lah, hanya Seruni dan Rima saja yang ikut untuk memeriahkan hari nya Mentari.
Acara hari itu, di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Lalu kata-kata sambutan dan tidak lama kemudian, anak-anak TK itu pun memperlihatkan aksi mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ada yang menyanyi, menari, fashion show dan masih banyak lagi. Hingga tiba lah saat Mentari maju untuk memperlihatkan aksi nya. Di tangan nya, ada sebuah buku gambar. Seruni dan Rima, tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh nya di depan sana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu." Ucap Menteri dengan semangat.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatu."
"Nama saya Mentari. Hari ini, saya akan membaca cerita untuk seseorang yang sangat saya sayangi. Nama nya Bu Seruni. Dia adalah Ibu saya."
Lalu tidak lama kemudian, Mentari pun langsung memperlihatkan sebuah gambar wajah Ibu nya. Seruni tampak tersenyum di dalam gambar itu.
Semua yang melihat gambar Menteri, begitu takjub karena gambar itu sangat lah indah. Walaupun hanya wajah nya Seruni yang ada di sana. Lalu kemudian, Menteri pun melanjutkan cerita nya tentang sang Ibu.
"Ibu adalah wanita yang sangat baik. Ibu tidak pernah marah. Ibu selalu senyum dan suka masak. Masakan Ibu enak. Maka nya banyak yang suka."
Sebuah gambar Seruni yang sedang memasak pun terlihat di gambar kedua. Tapi kali ini, sudah ada tangan dan badan. Tampak Seruni sedang tersenyum di depan banyak makanan.
"Saya sayang Ibu. Tapi, saya sedih kalau Ibu ikut sedih. Saya berharap, Ibu panjang umur dan menjadi Ibu saya untuk selama nya. Saya sayang Ibu. Kami semua, anak-anak Ibu, juga sayang Ibu."
Gambar terakhir memperlihatkan gambar Seruni dan juga ke empat anak-anak nya yang sedang tersenyum di atas mobil bak mereka yang baru di beli.
Seruni sungguh tidak menyangka jika Mentari mampu dan bisa menggambar semua itu dengan sangat indah. Ya walaupun gambar nya belum sempurna. Karena belum ada kaki yang terlihat.
Setelah Mentari selesai, semua nya pun bertepuk tangan. Mereka benar-benar bingung antara sedih ataupun bahagia karena melihat hasil karya Mentari.
Mentari yang sudah turun dari panggung, langsung berlari dan menghampiri Ibu dan juga kakak nya. Seruni dengan wajah nya yang basah, langsung menciumi wajah anak kedua nya itu tanpa henti.
"Tariiiii...."
"Bu, jangan sedih."
"Ibu terlalu bahagia...."
"Kalau Ibu bahagia, harus nya tertawa. Tari nggak suka lihat air mata Ibu."
"Iya, nak. Ibu tidak akan mengeluarkan air mata ini lagi. Akan Ibu simpan dia kembali." Ucap Seruni sambil menghapus air mata nya dengan tisu.
"Ini buat Ibu."
Menteri memberikan gambar tadi pada Seruni. Dari dekat, gambar itu bahkan lebih indah.
"Dari mana kamu punya ide seperti ini?"
"Dari Pak Restu. Pak Restu banyak mengajarkan Tari tentang apapun. Pak Restu juga baik."
"Oh, begitu. Syukurlah kalau kamu suka di ajar kan oleh nya."
Mereka bertiga kembali duduk dan menikmati acara selanjutnya. Karena setelah semua acara selesai, biasa nya akan ada acara makan-makan untuk para murid dan juga orang tua nya.
"Tari, selamat ya. Akhir nya kamu udah lulus Tk. Bapak bangga sama kamu."
Entah dari mana Pak Restu muncul dan langsung memberi selamat pada Mentari. Gadis kecil itu langsung menyalami tangan Pak Restu seperti biasa nya.
"Eh, Pak Restu. Terima kasih, Pak karena sudah mengajarkan Mentari. Ia semakin pintar."
"Saya hanya memberi sedikit ilmu pada nya. Bakat Mentari sudah ada sejak lahir. Apa jangan-jangan, anda juga memiliki bakat seperti Menteri, Bu Seruni?" Ucap Pak Restu sambil menatap wajah Seruni.
"Hah! Saya...."
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri