Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 35: Ikatan takdir [5]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Hari berikutnya berjalan seperti garis lurus yang dipaksakan tampak normal. Pagi, siang, sore—semuanya diisi dengan rutinitas yang sudah terlalu akrab bagi mereka. Namun di balik keteraturan itu, ada ketegangan halus yang tidak lagi menekan, melainkan menggantung, seperti udara sebelum hujan.
Di kelas, Zack duduk tenang, mencatat seperlunya, mengikuti penjelasan dosen tanpa kesulitan berarti. Tidak ada serangan sesak, tidak ada rasa tertekan mendadak. Justru ketenangan itulah yang terasa asing. Tubuhnya seperti berhenti melawan, memilih diam, seolah menunggu waktu yang lebih tepat untuk bereaksi. Ia tidak membicarakannya, tidak juga mengeluh. Ia hanya menyimpan sensasi itu, mengamatinya seperti seorang mahasiswa kedokteran mengamati gejala yang belum bisa diberi nama.
Sore hari, mereka kembali berkumpul di ruang bersama asrama. Suasananya cair, nyaris santai. Kale menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan desahan panjang, mengeluhkan tugas bisnis yang semakin tidak masuk akal. Hamu menimpali dengan keluhan versinya sendiri tentang kode yang menolak bekerja sama, lalu menutupnya dengan komentar setengah bercanda bahwa komputer setidaknya jujur kalau bermasalah. Saka, di lantai, sibuk memilah kain dan kertas, tangannya bergerak cepat namun rapi, seperti sedang menenangkan pikirannya sendiri.
Rakes duduk agak menyendiri, bersandar di kursi, memperhatikan semuanya tanpa banyak bicara. Amarah yang kemarin masih terasa menekan kini lebih terkendali, tapi bukan berarti hilang. Ia merasakannya sebagai bara yang ditahan, tidak dibiarkan padam, tapi juga tidak dibiarkan menyala. Keturunan Kartaswiraga itu masih ada, masih bereaksi, hanya saja kini ia memilih mengurungnya lebih dalam.
Zack berdiri, berjalan ke dapur kecil, mengambil air minum. Gerakannya terhenti sesaat. Ada sensasi aneh di dadanya, bukan sesak, melainkan seperti tarikan halus dari dalam, seolah sesuatu sedang mencoba mengingat jalannya sendiri. Ia meneguk air, menunggu sensasi itu berlalu. Dan seperti sebelumnya, ia mereda tanpa penjelasan.
Ia kembali ke ruang bersama dan duduk. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mendesak. Keheningan kecil itu justru terasa dewasa—sebuah kesepakatan diam bahwa tidak semua hal harus langsung diucapkan.
Beberapa saat kemudian, Kale memecah suasana dengan celetukan yang terlalu santai untuk konteks apa pun. “Gue kepikiran satu hal,” katanya sambil menatap langit-langit. “Kalau hidup kita ini film, genre-nya tuh campur aduk. Ada drama, ada misteri, tapi tetep ada komedi receh.”
Hamu mengangguk setuju. “Kalau nggak ada komedi, udah bubar dari kemarin.”
Saka tersenyum kecil. “Minimal biar masih waras.”
Zack ikut tersenyum, kali ini tanpa dipaksakan. Ada kelegaan kecil di dadanya, bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena ia tidak lagi sendirian di tengah ketidakpastian itu.
Malam kembali turun, lebih tenang dari sebelumnya. Rakes berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kampus yang menyala satu per satu. Amarah di dalam dirinya bergerak pelan, tidak lagi mendesak untuk dilepaskan. Ia tahu, selama ia masih berdiri di sana selama mereka masih bersama, ia bisa menahannya.
Untuk sekarang.
Dan di tengah malam yang tampak biasa itu, Zack berbaring dengan tenang, tidak ada kejadian apapun dan itu harapan mereka semua.
Justru karena itulah teror itu datang tanpa aba-aba.
Saka terbangun dengan napas tersangkut di tenggorokan. Dadanya naik turun cepat, seolah ia baru saja berlari jauh, padahal tubuhnya tidak bergerak sejengkal pun. Ruangan gelap, hanya cahaya lampu luar yang memantul samar di dinding. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa ini hanya sisa mimpi buruk.
Namun rasa itu tidak hilang.
Udara di kamar terasa lebih berat, lebih dingin, seakan ruang itu menyusut perlahan. Kulit lengannya merinding. Saka bangkit setengah duduk, jantungnya berdetak terlalu keras untuk malam yang sunyi. Pandangannya jatuh ke sudut kamar—dan di sanalah rasa itu semakin menguat. Tidak ada apa-apa yang terlihat jelas, tetapi ada tekanan, kehadiran yang tidak kasatmata namun nyata.
Ia menelan ludah. Tangannya gemetar saat meraih ponsel, layar menyala, menerangi wajahnya yang pucat. Detik-detik terasa memanjang. Lalu terdengar suara.
Bukan suara keras. Bukan bisikan jelas. Lebih seperti gesekan halus di dalam kepala, nada yang tidak membentuk kata, tetapi sarat maksud. Saka memejamkan mata, mencoba menghalau, tetapi justru di situlah bayangan muncul— potongan gambar yang tidak utuh, garis-garis kasar seperti sketsa yang dipaksa hidup. Sumur tua. Air keruh. Batu-batu yang tersusun tidak rapi. Dan rasa ditarik ke bawah.
Napasnya tercekik.
Pintu kamar terbuka dengan cepat.
Lampu menyala. Cahaya mendadak itu membuat Saka terkejut, tubuhnya refleks meringkuk. Rakes berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, matanya langsung mengunci ke arah Saka. Amarah di dalam dirinya bergetak, tajam, nyaris lepas kendali, tetapi ia menahannya dengan susah payah.
“Apa yang lo liat?” tanya Rakes, suaranya rendah, terkontrol, tapi sarat tekanan.
Saka menggeleng cepat, napasnya masih kacau. “Gue… gue nggak tau. Dateng aja. Tiba-tiba.”
Hamu muncul di belakang Rakes, masih setengah mengantuk tapi langsung waspada. Kale menyusul, wajahnya serius, tidak ada sisa candaan. Zack berdiri paling belakang, diam, tetapi sorot matanya berubah begitu melihat kondisi Saka. Dadanya sendiri terasa ikut menegang, seolah tubuhnya merespons sebelum pikirannya sempat mengejar.
Rakes melangkah masuk, berjongkok di depan Saka, kali ini tidak menjaga jarak. Tangannya terangkat sebentar, lalu berhenti, memilih tidak menyentuh. Amarah Kartaswiraga di dalam dirinya meraung, menuntut dilepaskan, menuntut dibalas. Ia menahannya, menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap rasional.
“Dengerin gue,” katanya pelan tapi tegas. “Lo di sini. Sekarang. Aman.”
Saka mengangguk, meski matanya masih liar. Perlahan, napasnya mulai melambat. Tekanan di udara mereda sedikit, seperti sesuatu yang menjauh setelah memastikan kehadirannya dirasakan.
Kale menyilangkan tangan, rahangnya mengeras. “Ini bukan kebetulan,” katanya. “Pas semuanya mulai tenang, dia kena lagi.”
Hamu mengangguk pelan. “Kayak ngingetin.”
Zack tidak berkata apa-apa. Tangannya mengepal tanpa sadar. Di dalam dadanya, ada tarikan yang sama seperti sebelumnya—halus, dalam, dan tua. Ia menatap Saka, lalu ke arah Rakes. Untuk sesaat, ada kilatan pemahaman yang hampir muncul, lalu tenggelam lagi sebelum sempat diraih.
Rakes berdiri perlahan. Wajahnya kini dingin, fokus. Teror itu mungkin tidak menyentuhnya secara langsung, tetapi pesannya jelas. Ini bukan serangan acak. Ini tekanan. Peringatan. Dan Saka kembali dijadikan pintu masuk.
“Mulai malam ini,” ucap Rakes, nadanya tidak memberi ruang bantahan, “nggak ada yang sendirian.”
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bertanya.
Di kamar yang kembali terang itu, Saka duduk dengan lutut ditarik ke dada, masih gemetar, tetapi tidak lagi sendirian. Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang terjadi.
Namun bagi mereka, satu hal menjadi semakin jelas: apa pun yang bergerak di balik bayangan, ia belum selesai. Dan kali ini, ia memilih mengingatkan dengan cara yang paling kejam—menyentuh yang paling rentan, tepat saat mereka mulai lengah.
Tidak ada yang langsung kembali tidur setelah itu.
Malam seakan berhenti di satu titik, menggantung di antara rasa lega karena Saka masih baik-baik saja dan kegelisahan karena teror itu jelas bukan yang terakhir. Mereka berkumpul di ruang bersama, lampu dinyalakan penuh—bukan karena takut gelap, melainkan karena semua sepakat tidak ingin ada sudut yang dibiarkan sunyi.
Saka duduk di sofa dengan selimut disampirkan di bahunya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih fokus dibanding beberapa menit lalu. Tubuhnya perlahan kembali mengikuti ritmenya sendiri, meski rasa dingin belum sepenuhnya pergi. Ia tidak menangis, tidak juga histeris. Justru ketenangan itu yang membuat semua orang semakin waspada. Teror yang terlalu terstruktur jarang meninggalkan kepanikan mentah.
Rakes berdiri tak jauh darinya, kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Dari luar, ia tampak tenang. Namun di dalam, amarah keturunan Kartaswiraga bergerak liar, menghantam dinding kesadarannya berkali-kali. Naluri lamanya menuntut satu hal sederhana: membalas. Menarik sumber gangguan itu keluar dari bayangan dan mengakhirinya dengan cara paling langsung. Tetapi ia tahu, malam ini bukan tentang kekuatan. Ini tentang menahan diri.
Ia menarik napas panjang, memaksa pikirannya tetap jernih. Teror ini tidak datang untuk menghancurkan. Ia datang untuk menekan, untuk menguji batas, untuk melihat seberapa rapuh mereka ketika dibiarkan lengah. Dan yang paling berbahaya, ia memilih Saka karena tahu efeknya tidak berhenti pada satu orang.
Hamu duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar ke meja. Tatapannya tajam, berbeda dari sikap santainya sehari-hari. “Polanya makin jelas,” katanya pelan.
“Bukan acak, datangnya pas kondisi lagi turun.”
Kale mengangguk, rahangnya mengeras. “Dan selalu ke Saka. Kayak… dia titik yang paling gampang disentuh.”
Saka menunduk sedikit, jarinya mencengkeram ujung selimut.
“Gue nggak ngelakuin apa-apa,” katanya lirih, bukan defensif, lebih seperti kebingungan. “Gue bahkan lagi ngga mikir apa-apa.”
“Justru itu,” jawab Rakes cepat, sebelum yang lain sempat bicara. Suaranya datar, tapi tegas. “Mereka maksa masuk... wah, anjing lah. "
Zack berdiri menyandar di dinding, diam sejak tadi. Dadanya kembali terasa berat, bukan karena serangan, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut terusik. Saat Saka diteror, tubuhnya bereaksi. Bukan panik, bukan sakit—lebih seperti resonansi, getaran halus yang membuatnya sadar bahwa ini bukan hanya tentang satu orang.
Ia mengusap tengkuknya pelan, lalu akhirnya bersuara. “Waktu dia kena… rasanya kayak ada yang narik dari dalam. Bukan ke arah Saka, tapi ke arah yang sama.”
Semua mata beralih ke arahnya.
Rakes menatap Zack lebih lama dari biasanya. Ia tidak bertanya lebih jauh, tidak memancing detail. Ia hanya mencatat. Setiap reaksi kecil kini penting.
“Berarti ini nggak berdiri sendiri,” kata Kale pelan. “Apa pun yang nyentuh Saka, efeknya nyebar.”
Hening kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada yang menyangkal. Teror itu telah berubah bentuk—tidak lagi sekadar gangguan personal, melainkan tekanan yang menguji keterikatan di antara mereka.
Rakes akhirnya bergerak, duduk di kursi tepat di depan Saka. Jaraknya tidak dekat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi ke mana-mana.
“Lo nggak salah,” katanya singkat. “Dan lo ngga sendirian.”
Saka mengangguk, matanya berkaca, tetapi ia menahan dirinya. “Gue cuma capek,” katanya jujur. “Rasanya kayak baru mau napas, terus ditarik lagi.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan mana pun.
Rakes mengepalkan tangannya perlahan, lalu mengendurkannya lagi, berdenyut, tidak lagi liar, melainkan dingin dan terfokus.
Teror ini mulai ngelunjak, pikirnya.
Dan siapa pun yang berada di baliknya sudah melangkah terlalu dekat.
Malam terus berjalan, dan mereka tetap terjaga. Tidak ada rencana besar yang disusun. Tidak ada sumpah heroik. Hanya satu kesepakatan sunyi yang terbentuk dengan sendirinya: mulai sekarang, setiap gerak kecil akan diperhatikan, setiap perubahan akan dicatat, dan tidak ada lagi ruang untuk lengah.
Di luar, angin malam berembus pelan, seolah tidak tahu bahwa di dalam asrama itu, garis telah dilintasi.
Pagi itu tidak membawa kelegaan, justru menyisakan jejak kegelisahan yang merambat pelan, seperti kabut tipis yang menyusup tanpa suara. Teror yang semalam menekan Saka tidak berhenti di kamar asrama. Ia bergerak. Menyebar. Dan kali ini, sasarannya tidak lagi tunggal.
Di kampus, ritme berjalan seperti biasa—mahasiswa berlalu-lalang, kelas dimulai tepat waktu, suara tawa terdengar di lorong. Namun di balik semua itu, ada perubahan kecil yang nyaris tak terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan. Beberapa mahasiswa di prodi Saka tampak pucat, mudah terkejut oleh suara pintu tertutup, atau tiba-tiba terdiam di tengah percakapan seolah kehilangan kata. Bukan kepanikan massal, melainkan gangguan yang halus, terfragmentasi, tetapi konsisten.
Saka merasakannya sejak langkah pertama memasuki gedung fakultas. Udara terasa lebih padat, bukan secara fisik, melainkan secara emosional. Ia berjalan melewati papan pengumuman dan merasakan dadanya mengencang ringan, refleks yang kini terlalu akrab. Ketika ia menoleh, salah satu temannya berdiri terpaku di depan kaca, menatap pantulannya sendiri terlalu lama, wajahnya kosong.
“Sis, lo kenapa?” tanya Saka pelan.
Temannya Siska tersentak, seperti baru tersadar.
“Hah? Nggak… gue cuma… pusing dikit.”
Jawaban itu terdengar biasa, tetapi cara tangannya bergetar saat meraih tas tidak.
Saka tidak memaksa, hanya mengangguk dan melanjutkan langkah. Namun di dalam dirinya, alarm kecil menyala. Ini bukan kebetulan. Polanya sama, datang tanpa izin, pergi tanpa penjelasan, meninggalkan rasa lelah yang tidak wajar.
Di kelas, situasinya tidak jauh berbeda. Dosen mengajar seperti biasa, tetapi suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada candaan spontan, tidak ada celetukan ringan. Bahkan ketika dosen melontarkan pertanyaan, beberapa mahasiswa tampak ragu untuk menjawab, seolah kata-kata mereka tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Saka duduk diam, tangannya menggenggam pulpen lebih erat dari seharusnya. Ia merasakan tekanan halus di tengkuknya, bukan serangan langsung, melainkan gema. Seperti riak air yang menyebar dari satu titik pusat. Dan ia tahu, titik itu masih dirinya—atau sesuatu yang melekat padanya.
Di fakultas lain, Zack mengalami hal yang berbeda, tetapi sama mengganggunya. Saat praktikum, salah satu temannya tiba-tiba kehilangan fokus, menjatuhkan alat dengan tangan gemetar. Yang lain mengeluh mual tanpa sebab jelas. Tidak parah, tidak dramatis, tetapi cukup untuk mengganggu. Zack memperhatikan dengan naluri profesionalnya, mencatat reaksi-reaksi kecil itu dalam pikirannya.
Yang membuatnya gelisah adalah sensasi di dadanya yang muncul bersamaan. Setiap kali seseorang terlihat terdampak, tubuhnya merespons—ringan, dalam, seperti tarikan yang menyatukan titik-titik tak kasatmata itu menjadi satu garis. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi wajahnya mengeras, kesadarannya semakin tajam.
Rakes mengetahui penyebaran itu bukan dari laporan resmi, melainkan dari pola. Pesan singkat masuk satu per satu—keluhan aneh, rasa tidak nyaman, mimpi buruk yang sama-sama samar. Ia duduk di bangku taman kampus, menatap layar ponselnya dengan ekspresi tenang yang dipaksakan.
Amarah Polarios di dalam dirinya bereaksi keras, merayap naik dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Ini bukan lagi teror di asrama, tapi menyangkut nyawa semua orang.
Ia menutup ponsel, menarik napas panjang. Nalurinya menuntut tindakan cepat, tetapi ia tahu langkah ceroboh justru akan memperluas dampak. Teror seperti ini hidup dari reaksi. Dari ketakutan. Dari kepanikan yang menyebar lebih cepat daripada kesadaran.
Di sore hari, mereka kembali berkumpul. Kali ini, wajah-wajah mereka tidak sepenuhnya tegang, tetapi jelas waspada. Saka duduk dengan postur tegak, meski kelelahan tampak di bahunya. Zack berdiri di dekat jendela, memijat pelipisnya perlahan. Kale dan Hamu saling bertukar pandang tanpa perlu banyak kata.
“Ini udah nyentuh orang lain,” ujar Kale akhirnya, nadanya lebih serius dari biasanya. “Bukan cuma satu lingkaran.”
Hamu mengangguk. “Dan nggak acak. Deket sama Saka. Deket sama Zack.”
Saka menunduk sebentar, lalu mengangkat kepala. “Gue nggak ngerasa mereka diserang,” katanya pelan. “Lebih kayak… kecipratan.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Rakes berdiri, punggungnya lurus, wajahnya tenang dengan usaha keras. “Itu artinya kita telat sedikit,” katanya. “Tapi belum terlambat.”
Ia menatap satu per satu, memastikan mereka memahami tanpa perlu penjelasan panjang. Teror ini telah berubah fase. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia sedang mengukur seberapa jauh bisa menjalar sebelum dilawan.
Dan di luar sana, di antara teman-teman satu prodi yang mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres tetapi belum tahu harus menyebutnya apa, bayangan itu terus bergerak—tidak untuk menghancurkan sekaligus, melainkan untuk memastikan bahwa ketika mereka akhirnya sadar, ruang aman sudah tidak lagi utuh.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...