Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Syarat yang Mengejutkan
Gus Azkar menatap Rina yang masih menunduk. Ia bisa merasakan ada ketakutan dan keinginan besar untuk hidup mandiri di balik suara lembut gadis itu.
"Ustadz... apakah boleh saya meminta satu hal?" suara Rina memecah kesunyian. "Jika Ustadz memang ingin menikahi saya, apa boleh kita tinggal berdua saja? Maksud saya, tidak di dalam pesantren, tapi kita punya rumah sendiri. Dan... saya mau kerja sendiri untuk menafkahi diri saya sendiri."
Ayah Rina berdehem, mencoba menegur pelan. "Rina, kamu ini bicara apa? Gus Azkar itu putra Kyai, masa diajak tinggal di luar?"
Namun, Gus Azkar mengangkat tangannya pelan, mengisyaratkan agar Ayah Rina membiarkan putrinya bicara. Gus Azkar mencondongkan tubuhnya, menatap Rina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu ingin tinggal di luar, Rina? Dan kenapa kamu ingin bekerja sendiri? Apakah kamu merasa saya tidak mampu menafkahimu?" tanya Gus Azkar, suaranya tetap tenang namun berwibawa.
Rina meremas jemarinya yang tersembunyi di balik jilbab panjangnya. "Bukan begitu, Ustadz. Saya hanya... saya tidak terbiasa dengan kehidupan di dalam tembok besar itu. Saya takut tidak bisa menjadi 'Istri Gus' yang sempurna di mata orang-orang. Saya ingin kita memulai semuanya dari nol, tanpa embel-embel jabatan Ustadz di pesantren."
Rina menarik napas, lalu melanjutkan dengan mantap. "Saya ingin bekerja karena saya tidak ingin merepotkan Ustadz. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa mandiri."
Gus Azkar terdiam cukup lama, membuat suasana kembali tegang. Ia menyadari bahwa Rina bukan hanya gadis pendiam yang suka tidur di kelas; Rina memiliki prinsip yang kuat dan harga diri yang tinggi. Ia ingin dicintai sebagai Rina, bukan karena status sosialnya.
"Rina," Gus Azkar akhirnya bersuara. "Soal tempat tinggal, saya hargai keinginanmu. Memang benar, memulai rumah tangga di luar lingkungan pesantren mungkin akan membuatmu lebih nyaman untuk beradaptasi. Saya punya rumah kecil peninggalan kakek saya di pinggir desa ini, tidak jauh dari sini. Jika kamu mau, kita bisa tinggal di sana setelah menikah."
Mata Rina berbinar di balik cadarnya, ada rasa lega yang amat sangat.
"Namun soal nafkah," lanjut Gus Azkar dengan nada yang sedikit lebih tegas, "adalah kewajiban saya sebagai suami. Kamu boleh bekerja jika itu membuatmu bahagia, tapi bukan untuk menafkahi dirimu sendiri karena itu adalah tanggung jawab saya di hadapan Allah. Saya tidak akan membiarkan istri saya kelelahan menanggung beban hidup sendirian lagi."
Gus Azkar menatap orang tua Rina. "Bagaimana Bapak dan Ibu? Apakah kalian setuju jika setelah menikah, saya membawa Rina tinggal di rumah peninggalan kakek saya?"
Orang tua Rina mengangguk mantap. Mereka melihat ketegasan sekaligus kelembutan dalam diri Gus Azkar yang bersedia mengalah demi kenyamanan Rina.
Malam itu, sebuah kesepakatan besar telah dibuat.
Tanpa Rina sadari, Gus Azkar benar-benar membuktikan ucapannya bahwa ia akan menjaganya. Gus Azkar pun pulang dengan perasaan lega, namun ia tahu, badai besar akan datang besok pagi di pesantren.
Kabar ini pasti akan meledak. Bagaimana reaksi Ustadz Zidan yang juga mulai menaruh hati? Dan bagaimana wajah santri senior yang memfitnah Rina saat tahu bahwa gadis yang ia hina justru akan segera menjadi istri dari Gus yang paling mereka segani?
"Bersiaplah, Rina. Besok dunia pesantren akan tahu siapa calon istriku," batin Gus Azkar sambil memacu motornya menembus dinginnya malam.