NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Slice of Life / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter¹⁰ — Mandul.

Malvin mengajak Lastri bicara, ia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi.

“Kamu pasti kaget,” ujar Malvin pelan.

Lastri mengangguk. “Pantas saja tadi Pak Malvin meminta saya datang setelah magrib. Saat saya menolak, Anda bilang jangan khawatir. Jadi… penggerebekan tadi memang sudah Anda perhitungkan? Anda ingin menunjukkan sesuatu tentang Surya?”

“Benar, ini ulah Surya. Untungnya, saya sudah menempatkan orang-orang untuk memantau keadaan di setiap pelosok desa. Saat ada rencana menggerebek kita, saya sudah mengetahuinya lebih dulu dan bisa mencegahnya. Saya melakukan ini agar Surya paham, saya tidak takut pada cara hinanya.”

Lastri terdiam sejenak. Ia menatap lantai, lalu kembali mengangkat wajahnya. Tenang, tapi jelas sedang berpikir. “Saya memang sudah jadi targetnya,” ucapnya pelan.

Malvin mengangguk. “Iya, dan Surya tidak akan berhenti di situ.”

Lastri menghela napas pendek. “Sebenarnya, cara seperti ini bukan hal baru buat saya.”

“Itu sebabnya saya ingin kamu tahu,” lanjut Malvin. “Saya tidak akan membiarkan dia bermain sendirian, tapi saya juga tidak akan menahan mu kalau kamu ingin mundur.”

Lastri menggeleng. “Kalau saya mundur sekarang, dia akan menang. Bagi saya hanya satu yang penting. Meski warga bersikap tidak adil pada saya, jangan sampai mereka yang tak bersalah ikut terseret.”

“Itu juga prinsip saya,” jawab Malvin. “Mulai sekarang, semua kita buat terbuka. Tidak ada yang disembunyikan.”

Lastri mengangguk kecil. “Kalau begitu, kita satu jalan.”

Malvin tersenyum tipis.

Lastri berdiri dan membuka satu persatu rantangnya. “Ini makanannya, Pak. Sederhana, tapi mudah-mudahan Pak Malvin suka rasanya.”

“Justru itu yang saya suka,” jawab Malvin pelan, menatap Lastri dengan penuh arti. Wajah perempuan itu tetap terlihat cantik tanpa riasan apa pun.

Lastri tak menangkap arti tatapan pria itu, ia hanya tersenyum kecil. “Saya harus pulang, Pak.”

“Nanti Denis yang mengantar. Hati-hati di jalan, dan terima kasih makanannya. Pasti akan saya habiskan.”

Lastri berpamitan dan melangkah pergi keluar rumah. Di teras, Bu Yani menyapanya pelan.

“Neng Lastri… maaf ya soal tadi.”

Lastri tersenyum ringan. “Teu nanaon atuh, Bu. (Nggak apa-apa, Bu).”

Malam itu berlalu tenang.

Namun mulai besok, kerja nyata Lastri benar-benar dimulai.

Beberapa hari kemudian Kerja Lastri tidak datang dengan rapat besar, tidak pula diumumkan lewat pengeras suara balai desa. Ia berkerja perlahan, seperti akar yang mencari celah di tanah keras.

Dimulai dari parit kecil di ujung sawah. Parit itu selama bertahun-tahun hanya menjadi aliran air setengah mati—kadang kering, kadang meluap, tak pernah benar-benar berguna.

Pagi itu, tiga orang lelaki tua berdiri di sana membawa cangkul. Hanya kesepakatan singkat yang terucap malam sebelumnya di teras rumah Lastri.

“Kalau kita nunggu izin, airnya keburu habis,” kata Pak Wiryo waktu bertemu Lastri malam sebelumnya.

Jadi hari itu atas saran Lastri, parit akan digali ulang. Tidak sepenuhnya sempurna, tapi akhirnya aliran airnya hidup kembali.

Keesokan harinya, dua orang bergabung. Jumlah itu bertambah, dari tiga menjadi lima. Beberapa hari kemudian, mereka sudah belasan orang, dan tak satu pun dari mereka melapor ke kantor desa. Dan anehnya, tidak ada yang merasa bersalah.

Lastri tidak pernah menyebut dirinya penggerak. Ia tidak berdiri di depan, tidak memberi instruksi keras. Ia hanya hadir—mendengarkan keluhan, menghubungkan orang yang punya tenaga dengan yang punya kebutuhan.

Jika ada seseorang yang bertanya yang bertanya, program itu milik siapa.

Lastri hanya menjawab, “Punya kita semua.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah bagaimana terasa kuat.

Di sore hari, halaman rumah Lastri sering dipenuhi orang. Bukan rapat resmi, lebih mirip obrolan panjang yang akhirnya menemukan arah. Seseorang mengeluh soal harga bibit yang makin mahal. Yang lain bicara tentang panen yang gagal karena air tak merata. Dari obrolan itu, muncul banyak gagasan. Mendirikan koperasi untuk menyediakan bibit, dan membeli langsung dari distributor kota.

“Apa program ini bisa jalan?” tanya seseorang ragu.

Lastri menoleh ke arah Malvin.

“Investasi ini sepenuhnya untuk perkembangan desa,” ujar Malvin tegas. “Soal biaya, jangan dipikirkan. Kalian cukup bekerja sama dengan Lastri dan mengikuti arahannya. Mengenai keamanan, saya yang bertanggung jawab. Jika terjadi apa pun, saya akan segera bertindak.”

Para warga terutama para petani, mengangguk patuh. Dan orang-orang percaya padanya, rasa hormat terhadap Lastri mulai tumbuh. Ia tak lagi dilihat sebagai perempuan sendirian dengan label masa lalunya, melainkan sebagai orang yang mereka percaya. Bagi mereka, selama sawah dan ladang berkembang, serta ada perlindungan yang dijanjikan Malvin maka itu sudah lebih dari cukup.

Bahkan pelatihan tani pun diadakan tanpa spanduk dan pengumuman resmi. Hanya tikar digelar di pinggir sawah, dan seorang penyuluh profesional datang. Orang-orang duduk bersila, mendengarkan. Tidak semua paham, tapi mereka mencoba.

Lastri ikut duduk di antara mereka, dia tidak berpura-pura paling tahu. Ketika tidak mengerti, ia bertanya. Sikap itu membuat yang lain berani ikut bertanya. Pelan-pelan, suasana berubah. Sawah yang biasanya sepi, kini ramai oleh diskusi kecil. Orang-orang tidak lagi hanya mengeluh tentang cuaca atau harga, tapi mulai bicara tentang solusi. Dan semua itu terjadi tanpa satu pun surat dari kantor desa.

Surya tahu, tentu saja. Laki-laki itu tidak diam saja setelah gagal menjatuhkan Lastri dan Malvin beberapa waktu lalu. Ada laporan-laporan kecil sampai ke telinganya. Tentang parit yang digali tanpa izin, tentang koperasi yang berjalan tanpa stempel. Tentang pelatihan yang tidak dilaporkan.

Namun Surya menunggu.

Ia yakin ini hanya euforia sesaat. Desa, pikirnya, tidak bisa bergerak lama tanpa restu. Administrasi akan menjerat mereka sendiri. Akan tetapi, yang tidak ia perhitungkan adalah satu hal... proyek ini tidak berdiri di atas kertas. Tapi berdiri di atas kebutuhan nyata.

Suatu sore, seorang ibu mendatangi Lastri dengan wajah cerah.

“Bibitnya bagus, Las. Alhamdulillah, panen lebih cepat,” katanya sambil tersenyum lebar.

Lastri hanya tersenyum kecil, ia tahu satu keberhasilan kecil tidak berarti apa-apa jika orang menjadi sombong karenanya.

Ia hanya menjawab, “Syukurlah.”

Di belakang mereka, Malvin berdiri sambil memperhatikan sawah. Tangannya terlipat di depan dada. Matanya menyapu aliran air di parit baru—lancar, tidak meluap dan bahkan tidak tersendat.

Koperasi bibit pun berjalan lebih baik dari dugaan. Tidak besar, tapi cukup. Setiap keputusan dibicarakan bersama. Tidak semua sepakat, tapi semua merasa didengar. Bahkan ada yang pernah mencoba memancing konflik—membandingkan dengan program desa yang dulu.

Lastri memotong pembicaraan itu dengan tenang. “Kita tidak sedang melawan siapa pun, kita hanya mengurus hidup kita sendiri.”

Kalimat itu menjadi semacam pegangan untuk semua orang.

Warga mulai terbiasa menyelesaikan masalah tanpa menunggu arahan. Jika ada kendala, mereka mendatangi Lastri, bukan kantor desa. Lastri memang pendamping proyek, tetapi itu bukan satu-satunya alasan dia dihargai, tapi ia mau mendengarkan pendapat mereka juga. Dan di desa yang terbiasa diperintah, didengarkan adalah hal yang langka.

Malvin semakin sering bertemu dan berbincang singkat dengan Lastri tentang laporan keuangan, risiko yang mungkin muncul, dan celah administratif yang bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk menjatuhkan mereka.

“Kalau nanti dipermasalahkan, tenang saja... kita punya catatan.”

Lastri mengangguk. “Saya tidak takut diperiksa.”

Malvin menatapnya lama. “Aku tahu.”

Beberapa warga mulai bertanya-tanya, berbisik di sudut-sudut warung. “Apa tidak apa-apa semua program berjalan tanpa ijin kades?” Ada ketakutan lama yang belum sepenuhnya hilang.

Lastri tidak menghapus ketakutan itu dengan janji, ia hanya menunjukkan hasil. Dengan bukti nyata seperti air mengalir di setiap parit sawah, bibit-bibit yang bagus tumbuh subur. Pelatihan tani berjalan dengan lancar, dan perut yang kenyang lebih meyakinkan daripada pidato Kades.

Pada suatu pagi Lastri berdiri di tepi sawah, memandang orang-orang bekerja. Hanya terdengar bunyi cangkul dan obrolan ringan dari para petani. Lastri tersenyum, bangga melihat hasil kerja para petani.

Malvin berdiri di sampingnya. “Kamu berhasil.”

Lastri menggeleng pelan, senyumnya tetap ada. “Bukan saya, kita semua yang berhasil.”

Malvin menatap wanita itu tanpa bisa mengalihkan pandangan. Mereka berdiri dalam diam, menyadari satu hal yang sama jika desa ini sedang berubah.

Perempuan ini benar-benar sangat berbeda dengan wanita-wanita kota. Kesederhanaannya bukan kelemahan, justru di sanalah letak kekuatannya.

Malvin benar-benar terjerat pesona janda desa kembang—Lastri. Perempuan yang berani, cerdas, dan berdiri dengan caranya sendiri.

Saat keduanya masih terdiam, menikmati kepuasan melihat proyek berjalan bersih dan rapi, tiba-tiba suara nyaring memecah udara.

“Dasar perempuan gatal dan tidak tahu diri! Sudah mandul, tujuh tahun menikah dengan Surya tidak bisa memberi anak. Sekarang berani menggoda laki-laki lain, padahal belum resmi cerai dari anakku!”

Teriakan itu penuh amarah dan hinaan.

Wanita paruh baya itu melangkah maju tanpa rasa malu, siapa lagi kalau bukan mantan ibu mertua Lastri.

Lastri menarik napas panjang, satu orang lagi yang sejak dulu terbiasa merendahkannya selama pernikahannya dengan Surya. Biasanya, mantan ibu mertuanya hanya berani menghina di dalam rumah, jauh dari pandangan orang lain demi menjaga nama baik sebagai seorang Ibu kandung dari kepala desa. Kini, wanita itu justru berkoar tanpa tahu tempat, tanpa peduli siapa saja yang menyaksikan.

1
anita
sinta biar di nikahi denis
Tiara Bella
mantap akhirnya ngaku dan langsung ditangkap polisi.....
Tiara Bella
viralin aja Lastri pak hadi biar kapok dia
Fia Ayu
Up lagi kak re,,,, 😁
Rere💫: Eh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
tambah ga sabar aja aku nunggu kelanjutannya Thor semangat ya nulis 💪🙏
vj'z tri
ow ow ow tanggung jawab Thor cerita nya seruuuu up nya double double hayoooo 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Kelen si bapake
Evi Lusiana
lah anak manja msuk desa,justru kau tk sebanding dgn wanita setangguh lastri
Astrid valleria.s.
woww makin seru ya thor...semangat thor..sambil ngopi dulu☕️
panjul man09
lastri tidak boleh tinggal terpisah dgn malvin ,bisa culik sama orang pak hadi dan surya
panjul man09
sejauh ini , ceritanya sangat menarik apalagi di awal2 , ringan tdk banyak konflik. tata bahasanya lumayan , harus sesuai kehidupan di desa ..
panjul man09
thor , suruh pulang kekota itu si fahira , terlalu banyak pemeran bikin pusing saja
juwita
kades sm angota DPR sm" bejat saling menutupi kebohongan mrk.
Tiara Bella
ceritanya bagus aku suka....
Tiara Bella
langsung tangkap aja tuh Hadi sama aja sm Surya kelakuannya....11 12....
Aidil Kenzie Zie
wah-wah ternyata banyak rahasia si Surya
Tiara Bella
sombong sh fahiranya jd disasarin jalannya wkwkwkkw....
Fia Ayu
Kaga usah di jodohin pak,, mereka emang dah jodoh😁
Shee_👚
semangat lastri kamu bisa, jangan jadi wanita lemah yang selalu diem walai di tindas, saat nya kamu buktikan bahwa wanita juga mampu berdiri di kaki sendiri dan bisa maju bersanding dengan laki-laki💪💪💪🥰
Shee_👚
berarti surya hanya jadi tumbal untuk menutupi aib hadi, surya di ancam atau karena balas budi secara hadi suka bantuin dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!