NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKANAN DAN PILIHAN

Meja panjang berlapis putih.

Lampu gantung menyorot pelan, tidak terlalu terang.

Tiga sosok berpengaruh duduk menunggu Julian, siapa pun yang masuk terasa seperti orang yang selalu ingin menaklukkan dunia.

Julian masuk dengan jas hitam tipis.

Bukan sombong.

Bukan berlebihan.

Tetapi ia tahu setiap langkahnya… diperhitungkan.

“Akhirnya kita bertemu, Julian,” kata pria di ujung meja, senyum tipis tapi dingin.

“Kami sudah mendengar banyak hal.”

Julian duduk.

Ia menatap mereka satu per satu, santai tapi jeli.

Bukan gugup.

Bukan kagum.

Ia sadar: mereka bukan lawan di lintasan. Ini ujian lain.

Makanan datang perlahan.

Anggur diisi, namun tidak ada yang menenggelamkan percakapan.

Hanya udara berat dari ekspektasi.

“Anak muda,” kata pria kedua, lebih santai tapi tajam.

“Tidak banyak yang bisa membuat kami menunggu… dan tetap tenang.”

Julian tersenyum tipis.

“Tenang adalah bagian dari proses. Aku belajar dari lintasan… dan kehidupan.”

Mereka terdiam beberapa detik.

Tidak banyak yang mengerti maksud Julian, tapi rasa percaya diri itu… membuat orang gelisah.

Seorang wanita di ujung meja, manager besar Ducati, mencondongkan badan.

“Kami ingin tahu, Julian,” katanya lembut tapi pasti.

“Apakah kau akan mengikuti arus? Atau menentukan jalur sendiri?”

Julian menatap cangkir teh di depannya.

Ia bisa menjawab politis. Bisa mengiyakan semua permintaan mereka.

Tapi ia memilih… jujur.

“Aku akan menentukan jalanku sendiri,” katanya santai.

“Dan itu mungkin membuat beberapa orang tidak nyaman.”

Hening.

Lalu senyum tipis muncul dari pria pertama.

“Good. Kami menghargai itu… lebih dari yang kau kira.”

Julian menyadari sesuatu.

Dalam dunia yang selalu ingin mengatur langkahmu, kejujuran sederhana bisa menjadi senjata paling berbahaya.

Clara tiba-tiba mengirim pesan.

Aku ingin ikut makan malam lain kali… tapi kau tampak menangani semua dengan baik.

Julian tersenyum tipis.

Ia tidak membalas, hanya menaruh ponsel di saku.

Hari ini, ia tidak butuh pendamping.

Ia belajar menghadapi dunia dengan kepalanya sendiri.

Makan malam selesai tanpa drama besar.

Tidak ada kesepakatan.

Tidak ada kontrak.

Hanya satu pesan tersirat:

Julian Ashford bukan pembalap biasa,

ia bukan anak yang bisa diarahkan,

ia adalah pemain yang akan membuat orang lain menyesuaikan diri.

Di perjalanan pulang, Julian diam di kursi belakang mobil keluarga.

Supir menyalakan musik klasik perlahan.

Kaca gelap memantulkan lampu kota.

Julian menatap sendiri bayangannya di jendela.

Ia tersenyum kecil.

Bukan kemenangan balap.

Bukan gelar.

Tapi kemenangan yang paling sulit: menguasai hidupnya sendiri tanpa kompromi.

Malam itu, Julian kembali menulis jadwalnya.

Bukan jadwal latihan.

Bukan jadwal rapat.

Ini jadwal hidupnya sendiri: waktu untuk olahraga, keluarga, balapan, dan… Clara.

Semua dijaga seimbang.

Tanpa ada yang mengatur selain dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya…

Julian Ashford merasa bahwa dunia, bahkan yang paling ambisius sekalipun, tidak bisa lagi menekan jalannya.

.

.

.

Matahari London sore menembus jendela besar kantor Ducati.

Julian duduk di kursi depan, kaki bersilang, tangan di meja—bukan posisi sombong, tapi posisi siap menghadapi dunia.

Di depannya, dua manajer senior Ducati menatapnya.

Bukan hanya menatap, tapi menimbang.

Setiap kata, setiap gerakan, mereka ingin tahu siapa Julian Ashford sebenarnya.

“Kami ingin kau ikut tes resmi,” kata pria pertama, nada serius tapi bukan menekan.

“Level MotoGP yang lebih tinggi. Satu tim. Satu motor. Dan media akan ada.”

Julian menatap jendela, membiarkan cahaya sore menerpa wajahnya.

Ia tahu ini bukan hanya soal motor.

Ini soal reputasi.

Ini soal tekanan dunia yang selalu ingin mengatur langkahnya.

“Aku paham,” jawab Julian santai, tapi tidak datar.

“Dan aku akan datang… dengan caraku sendiri.”

Mereka saling bertukar pandang, lalu salah satu wanita senior berkata:

“Bagus. Tapi kau harus sadar… di dunia ini, kecepatan saja tidak cukup. Kesabaran juga diuji. Dan hidupmu akan terlihat—oleh media, tim, bahkan keluarga.”

Julian tersenyum tipis.

“Ia bukan pertama kalinya,” katanya.

“Tapi aku masih ingin tetap bernapas sendiri, bukan dikejar oleh semua orang.”

Tes berlangsung keesokan harinya.

Julian mengenakan Ducati Panigale V4 yang telah di-set sesuai preferensinya.

Tidak ekstrem. Tidak agresif.

Motor dan tubuhnya harus bekerja sebagai satu kesatuan.

Lap pertama digunakan untuk “membaca” lintasan.

Bukan mengejar waktu.

Ia menyesuaikan posisi tubuh, posisi kaki, rem halus, throttle tipis—segala gerakan terasa natural, seperti tarian yang sudah ia hafal sejak reinkarnasi.

Di tikungan pertama, Julian menekuk tubuh dengan presisi.

Ia mengingat rasanya motor di kehidupan sebelumnya—Michael Chandra Dinata—di tikungan sempit, ban panas, tubuh lelah.

Ia mengambil teknik itu, tapi kali ini lebih sadar, lebih tenang.

Throttle dibuka perlahan, sedikit sliding di exit tikungan… dan kecepatan motor meningkat alami tanpa membuang grip.

Lap demi lap, beberapa orang yang hadir—tim Ducati, media, bahkan inspektur MotoGP—mulai diam.

Julian tidak terlihat agresif, tapi setiap garis, setiap pengereman, setiap akselerasi—tersusun rapi.

Ini bukan balapan. Ini pertunjukan skill seorang manusia yang mengerti batasnya, bukan sekadar mesin.

Sore itu, setelah tes selesai, Julian duduk sendiri di pit.

Keringat mengalir di pelipis. Napasnya stabil.

Motor dimatikan, tapi aura penguasaan tetap ada.

Ini bukan soal siapa tercepat.

Ini soal kontrol diri.

Ponsel bergetar. Clara.

Aku dengar tesnya…

Julian tersenyum tipis.

Ya. Tidak ada drama, tapi aku menikmatinya.

Beberapa detik kemudian balasan masuk:

Itu Julian yang aku kenal. Tetap… manusiawi.

Julian menatap ponselnya.

Ia tahu Clara bukan hanya melihatnya sebagai pembalap.

Ia melihat Julian sebagai manusia, bukan pahlawan atau legenda.

Malam itu, Julian kembali ke rumah Ashford.

Ia membuka kalender hidupnya: olahraga, latihan, balapan, waktu keluarga, dan waktu untuk Clara.

Semua seimbang. Tidak ada yang tertinggal.

Ia tersenyum kecil.

Dunia mungkin ingin menekan, media mungkin ingin mengguncangnya, tim mungkin ingin menuntutnya.

Tapi Julian Ashford telah memilih jalannya sendiri.

Dan jalannya… tidak akan terburu-buru.

Ia akan berjalan sambil menatap lintasan.

Ia akan bergerak sambil melihat hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!