NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Sang Hakim yang Patah Hati

Kantor Sementara Orion Group. Pukul 20:00.

Raungan sirene serangan udara yang membelah langit malam tiba-tiba terhenti. seolah ada tangan raksasa yang mencabut kabel daya kota ini.

Kegelapan total yang menyelimuti distrik bisnis perlahan sirna. Lampu-lampu jalan kembali menyala berurutan. Layar digital raksasa di seberang jalan, yang sebelumnya dibajak oleh insignia Matahari Merah, kini kembali menayangkan iklan parfum desainer Prancis.

Di dalam ruang komando darurat, Angeline berdiri mematung di sudut ruangan, wajahnya pucat karena kebingungan dan ketakutan.

"Jay... apa yang terjadi?" tanya Angeline dengan suara bergetar. "Kenapa lampu menyala lagi? Apakah serangan terorisnya sudah selesai?"

Jay menoleh pada Leon dan Elena, memberikan isyarat mata yang tajam: Jaga bicara kalian. Istriku tidak boleh tahu.

Leon mengangguk hampir tak terlihat. Ia menekan earpiece-nya, lalu berbicara dengan nada formal seorang eksekutif perusahaan, bukan komandan militer.

"Nyonya Angeline," lapor Leon, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Sepertinya... 'kompetitor bisnis' kita mengalami masalah teknis yang fatal di server pusat mereka. Sistem mereka lumpuh total. Mereka menarik diri dari pasar secara permanen."

Jay menghela napas, aktingnya sempurna. "Syukurlah. Sepertinya tim IT kita berhasil menahan serangan siber mereka."

Elena, yang sedang menatap layar laptopnya, melompat kaget. "Tunggu! Ini bukan tim IT kita. Ada pihak ketiga yang masuk. Enkripsi level tinggi... ini..."

Elena menatap Jay, lalu melirik Angeline. Ia segera mengubah kalimatnya.

"...ini intervensi dari 'Kantor Pusat' keluarga kita di Eropa."

Angeline mengerutkan kening. "Kantor pusat? Maksudmu keluarga Jay yang di kampung itu?"

Jay mendekati istrinya, memegang bahunya dengan lembut. "Dengar, Angel. Keluargaku di luar negeri... mereka memang agak konservatif. Mereka tidak suka jika ada orang luar yang mengacau di wilayah yang mereka anggap 'aset keluarga'. Jadi, sepupuku yang bekerja sebagai pengacara senior turun tangan membereskan masalah hukum ini."

"Pengacara?" Angeline masih bingung, tapi penjelasan itu terdengar cukup logis.

Tepat saat itu, ponsel Jay bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor satelit privat.

Jay melihat layar ponselnya. Akbar Ares.

"Maaf, Sayang. Aku harus mengangkat ini. Ini... sepupu pengacara yang kumaksud," kata Jay.

Jay berjalan menjauh ke balkon, menutup pintu kaca agar Angeline tidak mendengar percakapan aslinya.

Setelah memastikan Angeline tidak bisa mendengar, suara Jay berubah dingin dan tajam.

"Kau terlambat, Akbar."

Suara di seberang sana terdengar tenang, baritone, dan mengandung otoritas aristokrat.

"Kau berhutang nyawa padaku, Jay. Jika aku tidak membekukan aset Darius dan mengancam Ivan, kota ini sudah jadi abu. Dan rahasiamu sebagai 'suami biasa' akan terbongkar."

Jay melirik ke dalam ruangan, melihat Angeline yang sedang ditenangkan oleh Leon.

"Kau benar," desis Jay pelan. "Angeline tidak boleh tahu sisi gelap keluarga kita. Dia tidak boleh tahu tentang Zero, Titan, atau perang ini."

"Cinta yang naif," komentar Akbar sinis namun elegan. "Temui aku. Sekarang. Di Café L’Amour, Distrik 3."

"Kafe?" alis Jay terangkat. "Sedang perang begini kau mengajak minum kopi?"

"Datang sendiri. Tinggalkan Leon dan si cerewet Elena. Aku sedang dalam suasana hati yang... hancur lebur."

Klik.

Jay kembali masuk ke ruangan. Wajahnya kembali menjadi wajah suami yang protektif.

"Angel, aku harus pergi sebentar. Sepupuku ingin bertemu untuk... tanda tangan dokumen perdamaian."

"Bahaya?" tanya Angeline cemas.

"Tidak. Dia cuma pengacara yang membosankan. Dia ingin memastikan aset keluarga aman," dusta Jay meyakinkan. "Kau tunggulah di sini bersama Leon. Jangan keluar sampai aku kembali."

Café L’Amour. Distrik 3.

Kafe itu didesain dengan nuansa pastel yang manis. Sangat kontras dengan dua pria berbahaya yang kini duduk berhadapan di sudut paling suram.

Di satu kursi, duduk seorang pria dengan setelan jas bespoke dari penjahit terbaik di London. Itu Akbar Ares.

Namun, aura dominannya hancur seketika karena ia sedang menatap secangkir latte dengan tatapan kosong dan menyedihkan.

Jay menarik kursi, duduk di hadapannya.

"Kau baru saja menghentikan invasi militer dalam lima menit," sapa Jay. "Tapi kau terlihat seperti remaja yang baru saja putus cinta."

Akbar mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, namun ada kesedihan mendalam di sana.

"Dia memblokirku, Jay," kata Akbar datar. "Dia memblokir seluruh kontak ku. WhatsApp, Instagram, bahkan LinkedIn."

"Siapa? Putri bangsawan Monaco?"

"Bukan. Namanya Mia. Dia bekerja di sebuah bakery kecil di seberang kantor cabangku," Akbar menghela napas panjang. "Aku jatuh cinta padanya. Dia berbeda. Dia tidak peduli uangku. Dia bekerja keras, mandiri, dan... galak."

Jay mengangkat alis. "Lalu apa masalahnya?"

"Aku mencoba membantunya. Aku membeli gedung bakery tempat dia bekerja, memecat bosnya yang kasar, dan memberikan sertifikat gedung itu atas namanya. Aku ingin dia menjadi pemilik, bukan bawahan."

Jay menepuk dahinya. "Dan?"

"Dan dia melempar apron nya ke wajahku. Dia bilang aku 'tiran arogan yang berpikir uang bisa membeli harga diri'. Lalu dia kabur."

Jay menahan tawa. "Kau memang gila. Siapa yang menyatakan cinta dengan akuisisi properti?"

"Aku hanya ingin melindunginya!" bela Akbar.

"Coba kulihat fotonya," pinta Jay.

Akbar mengeluarkan ponselnya, membuka galeri. "Ini dia. Mia."

Jay melihat foto itu. Matanya membelalak.

Di foto itu, terlihat seorang wanita muda dengan rambut diikat ekor kuda, mengenakan seragam pembuat roti, wajahnya belepotan tepung. Tapi Jay mengenali fitur wajah itu. Mata itu. Hidung itu.

Itu versi muda dan lebih liar dari Angeline.

"Akbar..." suara Jay bergetar menahan tawa dan kaget. "Kau tahu siapa ini?"

"Mia. Hanya Mia. Dia tidak pernah menyebutkan nama belakangnya."

"Tentu saja dia tidak menyebutkannya," kata Jay sambil menyandarkan punggungnya. "Nama lengkapnya adalah Mia Severe."

Gelas kopi di tangan Akbar terlepas, jatuh ke meja, menumpahkan isinya.

"A-apa?" Akbar Ares, sang jenius yang tak tergoyahkan, gagap seketika. "Severe? Maksudmu... keluarga Severe?"

"Dia adik kandung istriku, Angeline," jelas Jay sambil menyeringai. "Mia kabur dari rumah lima tahun lalu. Dia membenci ayahnya, Demian Severe, karena Demian selalu mengontrol hidupnya dengan uang. Dia ingin hidup mandiri sebagai rakyat biasa."

Jay menatap sepupunya dengan tatapan kasihan.

"Dan kau... kau melakukan hal yang paling dia benci. Kau bersikap persis seperti ayahnya. Membeli gedung, mengatur hidupnya dengan uang. Pantas saja dia melempar apron ke wajahmu."

Akbar mematung. Wajahnya pucat pasi.

"Ya Tuhan," bisik Akbar ketakutan. "Aku... aku bertingkah seperti ayah mertuamu?"

"Persis," Jay mengangguk. "Selamat, Sepupu. Kau baru saja masuk daftar hitam wanita paling keras kepala di keluarga Severe."

Akbar menundukkan kepalanya ke meja, mengerang frustrasi.

"Dunia ini sempit sekali," gumam Akbar. "Jadi... kakak iparnya (kau) adalah Panglima Zero yang menyamar jadi sopir. Dan adiknya (Mia) adalah pewaris Severe yang menyamar jadi tukang roti. Dan aku... aku orang bodoh yang terjebak di tengah-tengahnya."

Jay tertawa pelan. "Keluarga kita memang penuh drama."

Akbar mengangkat kepalanya kembali. Tatapannya kembali tajam, naluri bisnisnya mengambil alih.

"Jay. Aku butuh bantuanmu."

"Untuk?"

"Dapatkan dia kembali untukku. Sebagai gantinya..." Akbar meletakkan sebuah flashdrive perak di atas meja.

"...aku akan memberimu ini. Data intelijen lengkap mengenai Keluarga Arkady. Bukti keterlibatan mereka dalam pembunuhan Edward Severe (kakek Angeline dan Mia). Dan akses penuh ke satelit Ares untuk melacak pergerakan musuhmu."

Jay mengambil flashdrive itu. "Kau menyogokku dengan data intelijen tingkat tinggi demi tips asmara?"

"Aku putus asa, Jay," kata Akbar serius. "Ajari aku cara mendekati Mia Severe tanpa membuatnya ingin membunuhku."

"Baiklah," Jay menyimpan data itu. "Pelajaran pertama: Lupakan kau seorang Ares. Jangan beli gedung. Jangan beli mobil."

"Lalu?"

"Datanglah padanya sebagai Akbar biasa. Minta maaf. Dan bawakan dia Cheeseburger."

"Cheeseburger?" Akbar bingung. "Makanan cepat saji itu?"

"Ya. Mia suka itu. Dulu Angeline sering cerita adiknya suka menyelinap keluar rumah cuma buat beli burger murah. Itu simbol kebebasannya."

Akbar mencatat di ponselnya dengan sangat tekun, seolah sedang mencatat kode peluncuran nuklir.

[Catatan Strategis: Operasi Cheeseburger. Target: Mia Severe. Tingkat Kesulitan: Sangat Sulit.]

Pertemuan itu berakhir. Jay berdiri.

"Terima kasih datanya, Akbar. Dengan ini, aku bisa menghancurkan Keluarga Arkady."

"Hancurkan mereka," kata Akbar dingin. "Mereka membunuh kakek dari wanita yang kucintai. Itu urusan pribadi sekarang."

Jay tersenyum tipis. "Selamat datang di keluarga, Sepupu."

Jay berjalan keluar kafe, meninggalkan Akbar yang sedang sibuk mencari lokasi gerai burger terdekat.

Di luar, langit malam tampak cerah. Bintang-bintang bersinar.

Jay menggenggam flashdrive di sakunya.

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!