"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Dinding yang Memiliki Telinga
Bab 32: Dinding yang Memiliki Telinga
Lampu neon di langit-langit Rumah Sakit Bhayangkara berpendar dengan cahaya putih yang dingin dan steril. Anindya duduk di kursi besi di samping ranjang ayahnya, matanya perih karena kurang tidur, namun ia menolak untuk memejamkan mata bahkan untuk sedetik pun. Di luar pintu kamar, dua personel kepolisian dari satuan Sabhara berjaga dengan senjata lengkap. Anindya kini bukan lagi warga sipil biasa; ia adalah "Saksi Mahkota" yang paling dijaga di seluruh negeri.
Di pergelangan tangan kirinya terdapat perban putih yang menutupi luka sayatan kaca, sementara pipinya masih tampak lebam keunguan. Namun, fokus Anindya hanya tertuju pada monitor jantung di samping ayahnya. Bunyi bip... bip... bip... yang teratur itu adalah satu-satunya musik yang menenangkan jiwanya saat ini.
"Nin..." suara parau Pak Rahardian memecah kesunyian malam.
Anindya segera berdiri dan menggenggam tangan ayahnya. "Ayah sudah sadar? Ada yang sakit? Nin panggilkan dokter ya?"
Pak Rahardian menggeleng lemah. Masker oksigennya sedikit berembun. "Kita... kita di mana? Satria... bagaimana dengan anak itu?"
Anindya terdiam sejenak. "Kita di rumah sakit polisi, Yah. Aman. Satria masih di ruang ICU, kondisinya stabil tapi belum sadar. Dia yang menyelamatkan kita, Yah."
Pak Rahardian menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. "Ayah tidak menyangka... anak Wijaya akan berbuat sejauh itu untuk kita. Hutang ini, Nin... rasanya semakin rumit."
"Jangan pikirkan hutang itu lagi, Yah. Fokuslah untuk sembuh. Nin sudah menyerahkan semua dokumen ke tim penyidik khusus. Besok, orang-orang dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) akan datang untuk memindahkan kita ke rumah aman."
Tepat pukul tiga pagi, saat suasana rumah sakit mencapai titik tersunyi, seorang perawat dengan masker dan penutup kepala rapat masuk ke dalam kamar untuk mengganti botol infus Pak Rahardian. Langkah kakinya sangat halus, hampir tak terdengar.
Anindya, yang instingnya sudah terasah selama delapan tahun menjadi pelayan yang selalu waspada terhadap suasana hati Nyonya Lastri, merasa ada yang aneh. Perawat itu tidak membawa nampan standar, dan gerakannya tampak terlalu terburu-buru.
"Suster, bukankah infus Ayah saya baru diganti dua jam lalu?" tanya Anindya dengan nada datar, namun tangannya sudah meraba tombol darurat di samping tempat tidur.
Perawat itu terhenti. Matanya yang terlihat di balik masker tampak berkilat tajam—bukan tatapan seorang tenaga medis yang lelah, melainkan tatapan predator. "Hanya pengecekan rutin, Nona. Ada instruksi baru dari dokter jaga."
"Siapa nama dokternya? Dan kenapa namamu tidak ada di papan tugas jaga malam ini?" Anindya berdiri, menghalangi perawat itu untuk mendekati selang infus ayahnya.
Perawat itu tidak menjawab. Ia justru merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah terisi cairan bening. Sebelum perawat itu bisa melangkah maju, Anindya menendang kursi besi di sampingnya ke arah kaki perawat tersebut dan menekan tombol darurat dengan keras.
"POLISI! TOLONG!" teriak Anindya.
Perawat itu mencoba menerjang Anindya, namun kedua polisi di luar pintu langsung mendobrak masuk. Terjadi pergulatan singkat sebelum akhirnya perawat gadungan itu berhasil diringkus dan tersungkur di lantai. Saat maskernya ditarik, Anindya tersentak.
Itu bukan orang asing. Itu adalah salah satu asisten pribadi kepercayaan Nyonya Lastri yang dulu sering bertugas mengawasi gudang alat.
"Katakan pada Nyonya-mu," desis Anindya sambil berdiri di depan ayahnya yang ketakutan. "Bahwa dinding rumah sakit ini mungkin punya telinga, tapi aku punya mata yang bisa melihat iblis di balik seragam malaikat sekalipun. Kalian tidak akan bisa menyentuh Ayahku lagi."
Setelah insiden itu, pengamanan diperketat tiga kali lipat. Anindya tidak lagi diizinkan sendirian. Pagi harinya, seorang wanita paruh baya dengan setelan formal yang rapi masuk ke ruangan. Dia adalah Ibu Ratna, perwakilan senior dari LPSK.
"Anindya, setelah kejadian semalam, kami memutuskan untuk memindahkan kalian ke Safe House di lokasi rahasia sekarang juga," ucap Ibu Ratna dengan nada serius. "Kasusmu ini sudah bukan lagi sekadar kasus korupsi. Ini sudah masuk ke ranah pembunuhan berencana dan terorisme domestik oleh pihak Wijaya Group."
"Saya siap, Bu. Tapi saya punya satu syarat," jawab Anindya.
"Apa itu?"
"Saya ingin bertemu dengan Satria sebelum pergi. Saya ingin memastikan dia benar-benar aman, atau dia hanya bagian dari sandiwara ini."
Ibu Ratna sempat ragu, namun akhirnya ia mengangguk. Dengan pengawalan ketat, Anindya dibawa ke lantai ICU. Melalui kaca transparan, ia melihat Satria yang terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Kepalanya diperban, dan wajahnya yang biasanya tampan kini penuh dengan memar.
Anindya menggunakan intercom untuk berbicara, meskipun ia tahu Satria tidak bisa mendengar.
"Satria... kunci loker yang kau berikan sudah ada di tanganku. Aku belum membukanya. Jika kau bangun, kau harus membukanya bersamaku di depan jaksa. Jika kau jujur, aku akan membantumu lepas dari jeratan ayahmu. Tapi jika kau berbohong... mawar hitam itu akan benar-benar menjadi tanda kematian bagi keluargamu."
Dalam perjalanan menuju Rumah Aman menggunakan mobil lapis baja, Anindya membuka laptop yang dipinjamkan oleh tim LPSK. Ia melihat berita di internet. Tuan Wijaya resmi ditahan, namun Nyonya Lastri dikabarkan "menghilang" dan tidak ditemukan di kediamannya.
"Dia sedang bersembunyi," gumam Anindya. "Dan wanita seperti dia tidak akan sembunyi tanpa membawa senjata."
Anindya kemudian membuka sebuah file yang sempat ia kirim ke email rahasianya sendiri sebelum kecelakaan. Itu adalah draf pembelaan yang ia susun sendiri.
Ia mulai mengetik sebuah surat terbuka untuk publik, yang akan dirilis oleh Clarissa malam ini. Surat itu tidak berisi kutipan hukum yang membosankan, melainkan berisi rincian "Menu Harian" seorang pelayan di rumah Wijaya yang dibandingkan dengan "Menu Korupsi" yang mereka makan setiap hari.
"Nin, kamu sedang apa?" tanya ayahnya yang duduk di sampingnya di dalam mobil.
"Nin sedang menanam benih, Yah," jawab Anindya sambil tersenyum tipis. "Benih kemarahan rakyat. Karena di negeri ini, hukum mungkin bisa dibeli, tapi kemarahan jutaan orang yang merasa tertindas adalah sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan seluruh emas milik Tuan Wijaya."
Mobil terus melaju menembus kabut pagi menuju kaki pegunungan. Anindya tahu, di tempat persembunyian nanti, ia akan menjalani hari-hari yang sunyi sebelum persidangan dimulai. Namun, kesunyian itu akan ia gunakan untuk mengasah pedang keadilannya.
Persidangan abad ini akan segera dimulai, dan Anindya siap untuk tidak hanya menjadi korban, tetapi menjadi hakim bagi masa lalunya sendiri.