Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Detak Jantung Ganda
Langkah Arlan terhenti tepat saat ia menginjakkan kaki di ambang pintu besi Sektor Logistik 04. Bau beton basah yang biasanya dingin kini berganti menjadi aroma amis logam yang hangat, serupa bau darah yang mulai mengental. Di sampingnya, Mira mencengkeram lengan jaket Arlan dengan sangat kuat, napasnya tersengal dalam ritme manual yang tidak stabil.
"Arlan, kau merasakannya?" bisik Mira. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu merkuri yang berkedip hijau-kebiruan.
"Temboknya," jawab Arlan pendek. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan dinding beton di sisi kirinya.
Seketika, Arlan menarik tangannya kembali. Permukaan itu tidak keras. Beton itu terasa lunak, memiliki tekstur seperti kulit manusia yang sedang demam, dan yang paling mengerikan—dinding itu berdenyut. Sebuah getaran ritmis yang masif merambat dari fondasi bangunan, masuk ke dalam telapak tangannya, dan seolah mencoba menyamakan detak jantung Arlan dengan frekuensi bangunan tersebut.
"Ini bukan sekadar distorsi visual seperti tahi lalat ibu yang berpindah posisi," gumam Arlan, suaranya parau. "Gedung ini benar-benar bernapas."
Dante bergerak ke depan, mengarahkan senter analognya ke sepanjang lorong. Cahaya senter itu menyingkap pemandangan yang membuat perut Arlan mual. Retakan-retakan di dinding tidak lagi memperlihatkan batu bata atau semen, melainkan jaringan serat perak yang berdenyut, menyerupai pembuluh darah raksasa yang sedang memompa cairan endotermik ke seluruh struktur bangunan.
"Jangan biarkan punggungmu menyentuh dinding," Dante memperingatkan. "Bangunan ini sedang dalam proses sinkronisasi dengan inti para Peniru. Ia akan menyerap panas tubuh apa pun yang menempel terlalu lama untuk mempercepat replikasi selulernya."
"Arlan! Tolong... di sini!"
Suara itu datang dari balik sebuah gundukan material yang tampak seperti tumpukan karpet, namun saat disinari, itu adalah tumpukan daging beton yang membengkak. Di sana, Pak Budi—tetangga Arlan yang sebelumnya terdengar melalui transmisi radio analog—tergeletak dengan posisi yang ganjil. Setengah dari kaki kanannya sudah tertanam masuk ke dalam lantai, seolah-olah semen itu adalah rawa yang sedang menelannya hidup-hidup.
Arlan berlari mendekat, mengabaikan rasa ngeri yang merayap di tengkuknya. "Pak Budi! Pegang tanganku!"
"Tidak bisa, Arlan... rasanya panas sekali," isak Pak Budi. Air matanya mengalir, namun warnanya tidak bening. Ada kilauan perak yang kental di sudut matanya. "Gedung ini... dia lapar. Dia terus memanggil namaku dari dalam dinding."
"Tahan sebentar, Pak!" Arlan mencoba menarik bahu Pak Budi, namun pria tua itu berteriak kesakitan.
"Jangan dipaksa, Arlan!" teriak Dante dari belakang. "Jaringannya sudah mulai menyatu. Jika kau menariknya sekarang, kau hanya akan merobek kulitnya. Kita harus mematikan respons biologis gedung ini terlebih dahulu."
Arlan berdiri, menatap sekeliling lorong yang kini mulai menyempit secara perlahan. Langit-langit gedung tampak merendah, seolah-olah bangunan raksasa ini sedang mencoba mengunyah mereka semua di dalam mulut betonnya. Hampa akustik di tempat itu menjadi begitu padat hingga suara teriakan Pak Budi terdengar seperti berasal dari bawah air.
"Dante, radio analognya! Cepat!" Arlan mengulurkan tangan.
Dante melemparkan tas radio itu. Arlan menangkapnya, jemarinya bergerak cepat mencari frekuensi statis yang ia gunakan untuk melakukan triangulasi sebelumnya. Ia tahu bahwa bangunan ini bereaksi terhadap perintah digital dari pusat penyalinan. Untuk menghentikannya, ia harus menyuntikkan gangguan analog yang tidak bisa diproses oleh sistem bangunan.
"Mira, bantu aku mencari titik sarafnya!" perintah Arlan.
Mira memejamkan mata, tangannya meraba udara, mencari anomali getaran di tengah kesunyian yang mencekam. "Di sana... tiga meter di depan Pak Budi. Ada denyutan yang lebih lambat. Itu pusat pompanya!"
Arlan berlari menuju titik yang ditunjuk Mira. Ia bisa merasakan lantai di bawah kakinya melunak, setiap langkahnya terasa berat seperti berjalan di atas daging mentah. Saat ia sampai, ia melihat sebuah tonjolan besar di dinding yang berdetak dengan ritme dua kali lebih cepat dari jantung manusia.
Simfoni Beton yang Gagal
Arlan menempelkan speaker radio analog itu tepat di atas tonjolan berdenyut tersebut. Ia memutar volume hingga maksimal. Suara statik yang tajam dan kasar meledak, memecah kesunyian hampa akustik yang menekan.
"Apa yang kau lakukan, Arlan?" tanya Dante sambil menahan dinding yang terus merapat.
"Memberikan gedung ini sakit kepala!" jawab Arlan tegas. "Dia tidak bisa menyalin suara ini. Ini adalah kebisingan murni!"
Seketika, gedung itu mengerang. Sebuah suara gesekan logam yang memekakkan telinga terdengar dari seluruh penjuru Sektor Logistik. Dinding yang tadinya hangat dan lunak mendadak mengejang. Jaringan pembuluh darah perak di permukaan beton mulai meredup warnanya, berubah menjadi abu-abu mati yang kaku.
"Berhasil! Tekanan di lantai berkurang!" Mira berseru.
Arlan segera kembali ke arah Pak Budi. Benar saja, material yang tadinya menelan kaki pria itu kini mulai mengeras dan retak, melepaskan cengkeramannya. Arlan menggunakan belati kurirnya untuk mencongkel sisa-sisa beton yang masih menempel di kulit Pak Budi.
"Ayo, Pak! Berdiri!" Arlan memapah Pak Budi yang lemas.
"Terima kasih, Nak... tapi... yang lain... banyak orang di bawah sana," bisik Pak Budi dengan suara yang hampir habis.
"Di bawah sana?" Arlan menatap lantai. "Maksud Bapak, ada lantai basement?"
"Bukan basement biasa," Dante menyela, wajahnya terlihat sangat gelap. "Jika Sektor Logistik ini sudah sampai pada tahap ini, artinya mereka sedang menggunakan manusia asli sebagai fondasi biologis untuk memperluas kota salinan. Mereka bukan hanya dipenjara, mereka sedang dijadikan nutrisi."
Dada Arlan terasa sesak. Martabat kemanusiaannya memberontak hebat. Ia teringat bagaimana ayahnya dulu selalu mengatakan bahwa rumah adalah tempat paling aman, namun kini, rumah-rumah di Lentera Hitam telah berubah menjadi pemangsa bagi pemiliknya sendiri.
"Kita tidak bisa meninggalkan mereka," ujar Arlan sambil menatap ke ujung lorong yang kini mulai terbuka kembali setelah mengalami paralisis lokal akibat suara radio.
"Arlan, kita punya waktu kurang dari lima menit sebelum sistem penyalinan melakukan reset dan mengabaikan gangguan radiomu," Dante memperingatkan. "Jika kita turun ke bawah, kita mungkin tidak akan pernah keluar lagi."
Arlan menatap telapak tangannya. Bekas luka bakar berbentuk kunci itu berdenyut dengan warna hitam yang semakin pekat, seolah memberinya peringatan sekaligus petunjuk. "Ayah tidak memberikan kunci ini padaku hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri, Dante. Jika kita membiarkan mereka menjadi bagian dari dinding ini, maka tidak ada lagi yang tersisa dari dunia nyata."
Mira melangkah maju, berdiri di samping Arlan. "Aku mendengar mereka, Arlan. Ribuan detak jantung di bawah kita. Mereka masih nyata. Mereka masih takut."
Arlan mengangguk mantap. "Kita turun sekarang."
Fondasi Bernyawa
Tangga menuju lantai bawah tidak lagi terbuat dari besi kokoh, melainkan material yang menyerupai tulang rawan yang licin. Arlan memimpin di depan, memapah Pak Budi dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam koin perak yang kini terasa sedingin es. Di belakangnya, Mira terus menutup telinga, mencoba menyaring kebisingan biologis yang semakin liar di bawah sana.
"Suhunya naik drastis," bisik Dante. Termometer manual di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang tidak wajar. "Ini bukan lagi endotermik yang menyerap panas, ini adalah area inkubasi. Bangunan ini sedang memasak sesuatu."
Saat mereka mencapai dasar tangga, Arlan tertegun. Ruangan itu bukan lagi sebuah gudang logistik. Seluruh dinding, langit-langit, hingga lantai tertutup oleh jaringan otot perak yang berdenyut kencang. Di dalam jaringan itu, puluhan manusia asli—tetangga Arlan dari Sektor Tujuh—tertanam seperti fosil di dalam dinding transparan. Mereka tidak mati; mata mereka terbuka, namun redup, dengan selang-selang organik yang menghubungkan nadi mereka langsung ke fondasi gedung.
"Ya Tuhan... Pak RT... Bu Salma..." Arlan menyebutkan nama-nama yang ia kenali. "Dante, mereka dijadikan baterai!"
"Bukan sekadar baterai, Arlan," Dante memeriksa salah satu kapsul dinding dengan wajah ngeri. "Mereka sedang 'diperas' memorinya. Rasa takut dan duka mereka adalah bahan bakar untuk memberikan 'tekstur' pada dunia salinan agar terlihat lebih nyata."
Salah satu warga, seorang pria muda yang dulu sering bermain catur dengan Arlan, menggerakkan jarinya yang sudah mulai berubah menjadi perak. "Arlan... dingin... cabut... selangnya..."
Arlan mendekat, mencoba merobek jaringan yang menyelimuti pria itu. Namun, setiap kali ia menyentuh dinding, bangunan itu merespons dengan getaran yang menyakitkan. Langit-langit di atas mereka mulai mengeluarkan cairan kental yang berbau seperti cuka dan logam busuk.
"Jangan disentuh secara langsung!" teriak Mira. "Aku mendengar suara gedung ini berubah. Dia sedang marah! Dia merasa ada 'darah murni' yang mencoba mencuri makanannya!"
"Dante, berapa lama lagi sisa waktu kita?" Arlan berteriak di tengah suara gemuruh beton yang mulai bergerak.
"Dua menit! Setelah itu, sistem akan melakukan penghapusan total pada unit yang dianggap terkontaminasi!" Dante mulai memasang beberapa alat pemicu di pilar-pilar utama.
Arlan menatap orang-orang yang terjebak itu. Jika ia mencabut mereka satu per satu, mereka semua akan mati sebelum sempat keluar. Martabat kemanusiaannya berada di titik nadir; ia tidak bisa membiarkan mereka menjadi bagian dari arsitektur kepalsuan ini.
"Arlan, kita harus pergi! Gedung ini akan runtuh!" Mira menarik tangan Arlan.
"Tidak tanpa mereka!" Arlan memejamkan mata, memicu napas manual hingga detak jantungnya berpacu seirama dengan denyut nadi gedung. "Dante, pinjamkan pemantik apimu!"
"Untuk apa? Ini bukan api biasa, Arlan!"
"Gedung ini bernapas, artinya dia butuh sirkulasi!" Arlan merebut pemantik itu. Ia tidak membakar dinding, melainkan membakar ujung koin peraknya hingga logam itu membara merah.
Arlan kemudian menempelkan koin membara itu ke lubang kunci di telapak tangannya. Rasa sakit yang luar biasa menghujam syarafnya, namun ia menahannya. Ia memproyeksikan memori "api kebakaran Sektor Tujuh 2012" melalui koin tersebut ke dalam jaringan syaraf gedung.
Seketika, gedung itu bereaksi secara ekstrem. Karena bangunan ini adalah organisme yang menduplikasi memori, ia "percaya" bahwa dirinya sedang terbakar hebat. Jaringan otot perak yang menyelimuti warga mendadak mengejang dan melebar, mencoba melepaskan beban agar tidak ikut "hangus".
"Sekarang! Tarik mereka!" perintah Arlan sambil menahan pendarahan di tangannya.
Dante dan Mira bergerak cepat. Tanpa cengkeraman aktif dari gedung yang sedang mengalami halusinasi trauma, warga-warga itu berhasil ditarik keluar dari dinding. Meski lemas, mereka masih bernapas.
"Lari ke tangga! Cepat!" Arlan berteriak sambil memapah Pak Budi yang kembali sadar sepenuhnya.
Saat mereka mulai menanjak, gedung di belakang mereka mulai mencair. Beton-beton itu luruh seperti lilin yang kepanasan, mengeluarkan suara erangan yang menyerupai ribuan suara manusia yang digabungkan menjadi satu. Arlan bisa merasakan lantai yang ia pijak mulai menghilang, namun insting kurirnya menuntunnya melompat melewati celah-celah statis yang masih padat.
Tepat saat mereka melompat keluar dari pintu besi Sektor Logistik, sebuah ledakan sunyi terjadi. Seluruh bangunan itu mengempis, menyusut menjadi tumpukan material kelabu yang tidak berbentuk dalam hitungan detik. Hampa akustik pecah, dan suara angin malam yang asli kembali terdengar, membawa aroma tanah yang jujur.
Arlan terduduk di aspal, terengah-engah. Pak Budi dan beberapa warga lainnya terbaring di sekelilingnya, menangis pelan karena kembali merasakan dingin yang nyata, bukan panas inkubasi yang palsu.
"Kau gila, Arlan," Dante mengatur napasnya, menatap gedung yang sudah musnah itu. "Kau menggunakan memori kebakaran untuk menipu sistem biologis mereka. Itu strategi yang sangat berbahaya bagi mentalmu."
Arlan menatap telapak tangannya yang kini memiliki bekas luka baru di atas tanda kuncinya. "Mereka selamat, Dante. Itu satu-satunya hal yang nyata saat ini."
Mira mendekat, menyentuh bahu Arlan. "Tapi lihat... Pak Budi..."
Arlan menoleh. Pak Budi sedang menatap tangannya yang masih memiliki gumpalan perak yang menempel permanen di bawah kulitnya. Meski selamat, mereka tidak lagi sepenuhnya murni. Mereka membawa bekas luka dari dunia salinan.
"Ini baru permulaan," bisik Arlan. "Kita menyelamatkan tubuh mereka, tapi dunia ini masih memegang ingatan mereka. Kita harus menemukan cara untuk mengambilnya kembali."
Di kejauhan, lampu-lampu kota Lentera Hitam berkedip hijau-kebiruan, seolah menertawakan kemenangan kecil mereka. Arlan tahu, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai saat ia melihat air mata Pak Budi jatuh ke aspal—cairan yang kini berkilau perak di bawah cahaya bulan.