Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang tak terlihat
Hayo gimana bab satu tadi? Aku buat setting setelah Kanaya tujuh bulanan ya.Biar rada nyambung ceritanya ,kita lanjut lagi.Jangan lupa suscribe.like,koment dan share1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Dimas berdiri di sudut toko, matanya menyapu sekeliling dengan decak kagum yang tertahan. Ia tak menyangka jika mahasiswinya yang dulu tampak biasa saja di kelas, ternyata memiliki ketajaman bisnis yang luar biasa.
Ia memperhatikan bagaimana Zora bekerja. Gadis itu bergerak cekatan, beralih dari satu gulungan kain ke gulungan lain dengan penuh penguasaan. Saat menghadapi pembeli mancanegara, Zora berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, diselingi humor ringan yang membuat pelanggannya tertawa nyaman. Dimas terpaku. Ia baru menyadari betapa bersinarnya Zora sekarang.
Atau sebenarnya, Zora memang selalu bersinar, hanya saja selama ini pandangan Dimas terlalu sempit? Karena selama bertahun-tahun, matanya hanya terpaku pada satu pusat gravitasi: Kanaya.
Satu jam berlalu tanpa terasa. Dimas akhirnya memutuskan untuk berpamitan, terlebih ponselnya sudah bergetar berkali-kali menampilkan nama Bu Lastri—ibunya.
"Terima kasih untuk hari ini ya, Pak. Maaf kalau tadi Bapak sempat saya abaikan. Nurul sedang pergi bersama Kanaya, jadi saya agak keteteran hari ini," ucap Zora dengan nada menyesal.
Dimas tertegun sejenak mendengar satu nama lagi disebut. "Nurul? Apa dia gadis yang bersamamu saat pengajian kemarin?"
Ia ingat betul, saat acara tujuh bulanan Kanaya, ada seorang gadis lain yang setia mengapit Kanaya selain Zora.
"Iya, Pak. Itu Nurul."
"Kalian bertiga sepertinya punya hubungan yang sangat dekat," pancing Dimas, ingin tahu lebih dalam.
"Kami sudah seperti saudara, Pak," jawab Zora tulus.
Dimas mengangguk kecil, mencoba menekan rasa ingin tahunya yang tiba-tiba membuncah. "Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu. Mari, Zora."
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan."
Sesampainya di rumah, suasana hangat stasiun dan toko kain tadi seketika menguap, berganti dengan aroma minyak kayu putih dan kesuraman. Bu Lastri sudah menunggu di ruang tamu. Wajah wanita paruh baya itu tampak kuyu dengan kantung mata yang menghitam. Masalah yang menimpa Nesa jelas telah mencuri jam tidurnya.
"Bu, Dimas pulang," sapa Dimas lembut sambil meraih tangan ibunya dan menciumnya takzim.
"Kok lama sekali, Dim? Bukannya kamu berangkat dari pagi?" tanya Bu Lastri, suaranya terdengar serak dan letih.
"Iya, Bu. Tadi mampir ke toko kain sebentar."
Bu Lastri mengernyitkan dahi, menatap putranya dengan heran. "Mau apa kamu ke sana?"
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya mengantar teman saja," jawab Dimas singkat.
Ya sudah, makan dulu sana. Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu," ucap Bu Lastri, nada suaranya berubah serius namun tetap lembut.
"Ibu masak apa?" tanya Dimas. Jujur saja, perutnya sudah sejak tadi berteriak minta diisi. Sejak berangkat dari Jakarta pagi buta, belum ada satu pun makanan berat yang mampir ke lambungnya.
"Ibu masak sayur lodeh dan ikan bandeng kesukaanmu."
"Ada sambalnya juga tidak, Bu?" tanya Dimas sambil menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Ia melangkah menuju dapur kecil di sudut rumah, tempat sebuah meja makan kayu sederhana sudah dipenuhi hidangan yang menggugah selera.
"Ada di balik tudung saji itu," balas Bu Lastri singkat.
Wanita paruh baya itu mengambilkan segelas air putih untuk Dimas, lalu duduk tepat di hadapan putranya. Dimas mulai menyantap makan siangnya dengan lahap. Suapan demi suapan ikan bandeng dan kuah lodeh itu seolah menjadi penawar lelah setelah perjalanan panjang tadi.
"Jadi, apa yang ingin Ibu sampaikan?" tanya Dimas di sela kunyahannya.
Bu Lastri menarik napas panjang, menatap putranya dengan tatapan penuh harap. "Sebenarnya... melihat pernikahan Nesa kemarin, Ibu jadi terpikir sesuatu. Ibu juga ingin segera punya mantu, Dim."
"Uhukk! Uhukk!"
Dimas tersedak seketika. Kuah lodeh yang gurih itu mendadak terasa menyumbat tenggorokannya. Dengan sigap, Bu Lastri menyodorkan gelas berisi air ke arah putranya.
"Pelan-pelan, Dim! Makan itu jangan sambil melamun."
"Kenapa Ibu tiba-tiba berpikiran begitu?" tanya Dimas setelah napasnya kembali teratur, matanya menatap sang ibu dengan heran.
Bu Lastri langsung mendelik tajam. "Maksudmu apa? Umurmu itu sudah tidak muda lagi, Dim. Ibu capek setiap hari jadi sasaran sindiran tetangga dan saudara. Masa dosen ganteng begini statusnya bujang lapuk?"
"Ya, tidak usah didengarkan, Bu. Biarkan saja mereka mau bicara apa," balas Dimas, mencoba bersikap masa bodoh meski hatinya sedikit terusik.
"Tidak bisa begitu! Pokoknya Ibu mau mantu secepatnya, Dim. Terserah kamu mau cari di mana. Di kampusmu juga boleh. Cari mahasiswi yang baik, sopan, dan cantik. Oke?"
Dimas menghela napas, meletakkan sendoknya. Selera makannya mendadak menguap. "Ya tidak bisa semudah itu, Bu. Mencari istri kok seperti mencari sayuran di pasar, mau yang instan saja."
"Habisnya kalau menunggu kamu yang bergerak, kelamaan! Keburu kamu jompo dan... ah, pokoknya nanti punyamu itu keburu tidak berfungsi!" cerocos Bu Lastri tanpa saringan. "Pokoknya, pikirkan omongan Ibu baik-baik. Ibu tidak mau tahu."
Setelah menjatuhkan "bom" yang cukup memalukan bagi Dimas, Bu Lastri bangkit dan meninggalkan putranya sendirian di dapur yang mendadak terasa sangat sepi.
**
Zora tengah berdiri di tepi trotoar saat matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang tampak kepayahan di seberang jalan. Rasa kemanusiaannya langsung terusik melihat banyaknya kantong belanjaan yang dibawa ibu tersebut.
Ia baru saja menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan jalanan aman, bermaksud menyeberang guna memberikan bantuan. Namun, tanpa ia sadari, ibu itu sudah melangkah lebih dulu ke aspal. Dari arah kiri, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi, raungannya memecah kebisingan jalanan.
"Ibu, awas!" teriak Zora histeris.
Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, Zora berlari secepat kilat. Ia menerjang tubuh ibu tersebut tepat sebelum motor itu menyambar.
Bugh!
Keduanya terguling keras ke atas trotoar. Napas Zora terasa terhenti sejenak saat tubuh sang ibu menindihnya. Rasa nyeri langsung menjalar, tapi fokusnya hanya satu: keselamatan orang di pelukannya.
"Ya Allah, Nak! Kamu tidak apa-apa?" tanya sang ibu dengan suara gemetar, wajahnya pucat pasi.
"I-iya, tidak apa-apa, Bu. Ibu bagaimana? Ada yang luka?" Zora mencoba mengatur napasnya yang tersengal.
Mata Zora seketika terbelalak melihat kaki sang ibu yang sudah membiru dan memar hebat. "Ya Allah, kaki Ibu luka! Saya antar ke rumah sakit sekarang juga ya, Bu," ucap Zora panik.
Namun, saat ia berusaha untuk bangkit, sebuah sengatan rasa sakit yang luar biasa menghujam kakinya sendiri. Zora meringis, pandangannya sedikit mengabur saat melihat darah mulai merembes banyak dari balik celananya. Rupanya, benturan tadi jauh lebih parah dari yang ia duga.
Di rumah sakit, keduanya langsung mendapat penanganan medis. Zora dinyatakan mengalami retak tulang dan kakinya harus dibalut gips agar posisinya tidak bergeser.
"Nak, Ibu jadi merasa bersalah sekali..." ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, menatap Zora yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Zora memaksakan sebuah senyum tipis untuk menenangkan wanita di depannya. "Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga musibah, yang penting Ibu selamat."
"Panggil saja Ibu Lastri. Itu nama Ibu," balasnya lembut sambil mengusap pipi Zora dengan kasih sayang seorang ibu. "Kamu gadis yang sangat baik, Nak. Siapa namamu?"
"Saya Zora, Bu."
"Zora? Nama yang cantik, secantik orangnya."
Bu Lastri tersenyum menatap Zora, namun di dalam hatinya, sebuah doa mulai terucap. Andai dia yang menjadi menantuku, aku pasti akan sangat bahagia. Gadis seberani ini... rasanya sangat cocok untuk Dimas.
Dan detik itu juga,nama yang disebut dalam doa tiba-tiba muncul.
"Pak Dimas?" ucap Zora kaget.
Bersambung....
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭